1-perdagangan-wanita-8-okeeeeeeeeeLagi-lagi Banten punya cerita hot! Setelah di Cilegon ada penari striptis di sebuah tempat hiburan malam yang melibatkan anak baru gede (ABG), kini giliran Kota Serang yang digegerkan dengan jaringan prostitusi yang melibatkan para pelajar putri. Jaringan ini membidik berbagai kalangan sebagai pelanggan tetap. Pelanggannya tidak hanya masyarakat umum tapi juga kalangan lain yang memiliki banyak duit.

Tarifnya memang lumayan agak mahal. Sekali kencan, pelanggan harus merogoh kocek sebesar Rp 500 ribu-1 juta selama kencan setengah jam. Jaringan ini dikoordinatori oleh seorang mami, yang bernama Mami Yeti Nurhayati, yang masih belia karena masih berumur 21 tahun. Weleh-weleh, kecil-kecil ternyata sudah jadi germo!

Beruntung jaringan seks ini akhirnya tebongkar pada Selasa (23/2) lalu. Polres Serang, Banten, berhasil mengamankan sang germo yang masih belia dan tiga pelajar yang menjadi pekerja seks komersial (PSK) yang melayani para pelanggan. Para pelajar ini ada yang masih duduk di bangku SLTP ada juga yang duduk di bangku SLTA.

Menurut penuturan sang mami di hadapan penyidik polres Serang, para pelanggan dapat memesan ABG hanya lewat handphone. Bila disepakati, sang mami akan mengantarkan beberapa ABG untuk dipilih sang pelanggan. Tapi sebelum itu, pelanggan harus membayar booking dulu sebagai tanda jadi berkencan. Kata mami, sudah melakoni bisnis esek-esek ini selama dua bulan lebih. Dia terpaksa menjalani bisnis basah ini untuk menghidupi keluarga.

Lalu bagaimana dengan sang pelajar yang menjadi jaringan sang mami? Kata mami, biasanya mereka menggunakan uang hasil kencannya itu untuk bersenang-senang. “Ya dipake jajan dan belanja,” ujar mami di hadapan penyidik polres Serang.

 

 

 

PELANGGAN ANGGOTA DEWAN

Tiga pelajar yang menjadi PSK yang masuk jaringan Mami Yeti adalah HS (18), IS (17), dan EN (14). Ketiganya juga memiliki pacar. Tapi keluarga maupun pacar tidak mengetahui profesi sampingan ketiganya.

Menurut keterangan Satuan Reserse Polres Serang, penjual ABG-ABG itu, Yeti Nurhayati (21) tinggal di Krramatwatu, Kabupaten Serang. Dia baru menjalankan perannya sebagai “Mami” ABG-ABG ini sejak dua bulan lalu.

Yeti meneruskan bisnis suaminya, Cecep alias Iwan, asal kawasan Benggala Masjid, Kelurahan Cipare, Kota Serang, yang telah berlangsung tahunan. Cecep alias Iwan telah ditangkap Polda Metro Jaya. Dia menjadi tersangka kasus perdagangan manusia untuk dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial (PSK) di kawasan Kalijodo, Jakarta Utara. 

Diperkirakan, Papi Iwan memiliki anak asuh berjumlah puluhan. Usianya, mulai dari anak-anak yang masih duduk di bangku SMP sampai anak kuliahan di wilayah Serang.

Diperkuat penuturan anggota Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Serang yang melakukan penyamaran ketika kasus ini terungkap pada Selasa (24/2). “Waktu saya transaksi dengan Mami lewat SMS (sort massage service), dia mengaku bisa menyediakan anak-anak ABG sampai kuliahan. Tapi saya minta yang usia SMP dan SMA,” katanya yang enggan namanya dikorankan.

Mengingat Mami Yeti memiliki anak usia 1,5 tahun dan 5 bulan, dia menjalankan kembali bisnis suaminya untuk mencukupi kebutuhan hidup. Mami Yeti tidak sulit memperdagangkan ABG untuk dijadikan PSK lantaran mereka saling kenal ketika Papi Iwan belum dipenjara.

Aturan yang diterapkan Mami Yeti tak beda jauh dengan Papi Iwan. Bagi anak-anak asuhnya yang masih duduk di bangku SMP dan SMA, “jam kerja” diberlakukan mulai pukul 15.00 hingga pukul 21.00. “Ya, biar orangtuanya tidak tahu,” kata Mami Yeti di ruang PPA Satreskrim Polres Serang.

Semenjak ditahan di sel Mapolres Serang, pada Jumat (27/2), Mami Yeti masih diperkenankan menyusui anaknya. Ini memang atas izin Kasat Reskrim Polres Serang Ajun Komisaris Polisi Sofwan Hermanto. Dia memberikan waktu untuk menyusui anaknya mulai pukul 11.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB.

Jam kerja bagi anak-anak SMP dan SMA yang diasuh Mami Yeti itu berlaku pula bagi pelanggannya. Pria hidung belang yang tidak hanya dari masyarakat biasa tidak bisa membooking mereka sebelum kewajibannya sebagai siswi-siswi SMP dan SMA selesai dilakukan.

Jam kerja sejak pukul 15.00 hingga pukul 21.00 itu juga untuk mengelabui pacar-pacar mereka yang tidak mengetahui jika ABG-ABG itu telah diperdagangkan oleh Mami Yeti untuk melayani pria hidung belang.

Hal itu berdasarkan pengakuan EN (14) yang masih tercatat sebagai siswi sebuah SMP swasta di Kota Serang, IS (17) yang masih menjadi siswi sebuah SMA swasta di Kota Serang, dan HS (18), juga siswi SMA swasta di Serang, kepada penyidik.

“Ketika diperiksa, mereka bekerja mulai jam tiga sore setelah pulang sekolah, sampai jam sembian malam agar tidak dicurigai orangtuanya. Mereka juga punya pacar, tapi (pacarnya- red) tidak tahu kalau mereka menjadi PSK,” kata Inspektur Polisi Dua Herlia Hartarani, Kanit PPA Satreskrim Polres Serang. Dikatakannya, EN, IS, dan HS telah dipulangkan ke rumah orangtua mereka masing-masing.

Dari ketiga korban ini, EN merupakan anak asuh Mami Yeti yang paling gress. Di tangan Mami Yeti, EN baru melayani 3 pelanggannya.

Seperti HS yang sedikit lebih lama menjadi PSK ABG, EN nekat terjun ke dunia prostitusi karena didorong faktor ekonomi keluarganya. Anak seusianya yang ingin memakai pakaian, sepatu, dan handphone bagus dan mahal tidak menolak ketika diajak IS dan HS untuk menjadi PSK. Terlebih, keperawanan EN telah direnggut pacarnya.

“Jadi, perekrutannya tidak langsung dilakukan Mami Yeti. EN diajak IS. Kata IS, daripada melayani pacar dan tidak dapat duit, tidak ada salahnya melayani orang lain tapi dapat duit,” terang Herlia.

Menurut Herlia, di antara 3 anak buah Mami Yeti itu, IS yang paling banyak jam terbangnya. Merasakan enaknya uang, membuat siswi kelas 2 SMA ini beberapa minggu tidak masuk sekolah.

Dengan pelayanannya yang lebih dibanding HS dan EN, IS kerap mendapatkan tarif tambahan dari pelanggannya yang tak jarang dari kalangan anggota dewan.

“Dia pernah diajak ke Jakarta oleh anggota dewan, kami tidak tahu dari dewan mana. IS bisa dapat tarif tambahan di luar tarif yang ditentukan Mami Yeti sebesar Rp 500 ribu kalau pelanggannya puas,” ujar Herlia.

Dari penuturan IS, pilihan hidupnya itu didasari oleh kondisi keluarganya. IS merupakan anak pertama dari 3 bersaudara dari sebuah keluarga broken home.

Bapak-ibunya telah bercerai. IS dan kedua adiknya ikut orangtua laki-laki yang pengangguran, sementara ibu kandungnya telah dinikahi oleh seorang pria yang juga pengangguran. Karenanya, IS menjadi tulang punggung bapak dan kedua adik kandungnya. Untuk melancarkan profesi gandanya, IS hidup seorang diri dengan menyewa sebuah kamar kos di Lingkungan Rau, Kota Serang.

 

(tulisan ini dilengkapi dari Radar Banten edisi cetak, 28 Februari 2009)

Foto-foto: Yan Cikal/Radar Banten

 

 

 

          

 

 

About these ads