Ini tentang keluhan kelakuan oknum wartawan (OJ) yang saya denger langsung dari seorang guru pesantren. Kata guru ini, sangat menyesakkan ada wartawan yang meminta duit untuk kerja liputan kepada salah satu narasumber di salah satu institusi negara. “Persis di depan saya, si wartawan meminta ongkos kepada narasumber. Katanya buat liputan dan buat teman-temannya yang sudah menungu di luar,” ujar guru ini saat menceritakan kejadian itu kepada saya.

Narasumber yang terus diteken akhirnya memberikan amplop kepada si wartawan. Tapi si wartawan ini langsung marah-marah dan minta duit lagi sebab saat dia membuka amplopnya di depan narasumber, isinya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kontan saja narasumber kelabakan. Lalu dia memberikan tambahan lagi kepada si wartawan ini. Setelah merasa puas, si oknum pergi meninggalkan narasumber dengan senang.

“Saya heran, kok wartawan seperti itu,” ujar guru pesantren. Buru-buru saya membantah. “Itu bukan wartawan. Itu adalah oknum yang mengaku-mengaku sebagai wartawan,” ujar saya tanpa bermaksud membela korps wartawan. Sebab bagi saya, tanpa dibela pun korps wartawan tetap ada dan bersih. Sebab saya meyakini bahwa masyarakat dan sebagian pejabat sudah dapat membedakan mana wartawan yang benar dan mana oknum yang mengaku-ngaku sebagai wartawan. Yang saya maksud wartawan yang benar itu adalah wartawan yang bekerja di media dengan skala penerbitan yang jelas dan teratur.

“Oh gitu, ya,” kata guru pesantren ini mengercitkan dahi. “Perilaku mereka yang mengaku-ngaku sebagai wartawan itu yang membuat wartawan tercoreng. Bahkan ada wartawan senior yang mengaku risih dengan polah mereka,” kata saya lagi.

—-

Apa yang dialami narasumber dan guru pesantren di atas adalah realitas kekinian. Praktik pemerasan yang dilakukan oleh oknum wartawan sudah bukan barang baru lagi. Kita bahkan setiap hari selalu mendengar ada kepala sekolah, kades, lurah, camat, kepala dinas, anggota dewan yang “diperas” oleh oknum wartawan.

Lalu kenapa, pemerasan itu tidak bisa dihentikan? Setidaknya ada beberapa faktor. Pertama karena si narasumber secara tidak langsung ‘memelihara’ oknum wartawan. Itu karena mereka (para pejabat dan narasumber lainnya) tidak berani mengatakan, “Tidak untuk tidak memberikan amplop”.  Sebab semakin narasumber memenuhi keinginan si oknum wartawabn, maka semakin enak saja si oknum untuk menjadikan narasumber sebagai salah satu ATM-nya tiap minggu. Kalau sudah begitu, maka sangat sulit untuk memberangus oknum wartawan dari peredaran. Malah semakin subur karena terus dipupuk dengan pupuk yang bagus.

Pertanyaan berikutnya lagi, kenapa si narasumber tidak berani untuk tidak memberikan amplop. Ini pun sangat rumit dan absurd. Sebab kadangkala mereka berdalih, kasihan dan sebagainya. Tapi menurutku, narasumber sering memberikan amplop atau memelihara oknum karena jangan-jangan narasumber takut belangnya dibongkar oleh para oknum wartawan sebab bisa jadi oknum wartawan ini memegang ‘kartu’ si narasumber. Misalnya, si oknum memiliki bukti-bukti korupsi si narasumber sehingga bila narasumber tidak memberikan amplop, si oknum wartawan menggertak akan memberitakan di medianya. Meski hanya gertakan, tapi kebanyakan narasumber takut dan lebih memilih memberikan amplop untuk menjaga nama baiknya di depan publik. Praktik itulah yang menyuburkan wartawan tanpa surat kabar.

Faktor lainnya karena organisasi resmi wartawan, semodal PWI, belum menjalankan fungsinya dengan maksimal. PWI belum berani melakukan penertiban besar-besaran terhadap oknum wartawan yang meresahkan itu. Sebagai organisasi wartawan yang diakui pemerintah, kenapa PWI tidak melakukan penertiban? Pertanyaan itu layak dikemukakan, karena seharusnya PWI melakukan pembenahan internal dan memberikan sanksi tegas terhadap ulah yang mencoreng korps wartawan. Tapi pada kenyatanntya kenapa PWI diam dan tidak bergerak? Silakan Anda tanyakan langsung kepada PWI! Ada apa ini?

Selain PWI, memang ada organisasi wartawan idealis, yakni AJI. ALiansi Jurnalis Independen (AJI) ini sudah melakukan usaha-usaha untuk meredam amplopisasi. Salah satunya dengan mengampanyekan anti amplop bagi wartawan. Solusinya, AJI selalu mengeluarkan pernyataan sikap agar perusahaan media terus meningkatkan kesejahteraan wartawan sehingga wartawan tidak bergantung kepada amplop. Sebab bila kesejahteraan wartawan sudah terjamin, diyakini praktik amplop dapat diminimalisasi-meski masih sulit diberantas hilang.

Selain itu, suburnya oknum wartawan juga karena sulitnya mencari pekerjaan tetap. Nah mereka-mereka yang tidak memiliki skills untuk bekerja di berbagai perusahaan, akhirnya memilih menjadi wartawan jadi-jadian. Apalagi saat ini, untuk membuat kartu pers sangat mudah. Mudah sekali karena siapapun bisa membuat kartu pers.

Serang, 20/11/09

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang,
Piagam ini dari Muhammad saw, berlaku bagi golongan mukminin dan muslimin dari etnis Quraisy dan Yatsrib serta kelompok-kelompok yang turut bekerja sama dan berjuang bersama-sama mereka.
1. Bahwa mereka adalah bangsa (umat) yang satu dari umat manusia;
2. Golongan migran dari etnis Quraisy sesuai adat kebiasaan mereka, saling bahu-membahu membayar diat di kalangan mereka serta membayar tebusan tawanan secara baik dan adil di antara mukminin;
3. Bani ‘Auf sesuai adat kebiasaan mereka, saling bahu-membahu membayar diat di kalangan mereka serta membayar tebusan tawanan secara baik dan adil di antara mukminin;
4. Bani Sa’idah sesuai adat kebiasaan mereka, saling bahu-membahu membayar diat di kalangan mereka serta membayar tebusan tawanan secara baik dan adil di antara mukminin;
5. Banu Harits sesuai adat kebiasaan mereka, saling bahu-membahu membayar diat di kalangan mereka serta membayar tebusan tawanan secara baik dan adil di antara mukminin;
6. Banu Jusyam sesuai adat kebiasaan mereka, saling bahu-membahu membayar diat di kalangan mereka serta membayar tebusan tawanan secara baik dan adil di antara mukminin;
7. Banu Najjar sesuai adat kebiasaan mereka, saling bahu-membahu membayar diat di kalangan mereka serta membayar tebusan tawanan secara baik dan adil di antara mukminin;
8. Banu ‘Amr ibn ‘Auf sesuai adat kebiasaan mereka, saling bahu-membahu membayar diat di kalangan mereka serta membayar tebusan tawanan secara baik dan adil di antara mukminin;
9. Banu Nabit sesuai adat kebiasaan mereka, saling bahu-membahu membayar diat di kalangan mereka serta membayar tebusan tawanan secara baik dan adil di antara mukminin;
10. Banu ‘Aus sesuai adat kebiasaan mereka, saling bahu-membahu membayar diat di kalangan mereka serta membayar tebusan tawanan secara baik dan adil di antara mukminin;
11. Orang-orang beriman tidak boleh membiarkan seseorang di antara mereka yang tengah berat menanggung beban utang dan beban keluarga yang harus diberi nafkah, namun hendaknya mambantu secara baik penyelesaian tebusan atau diat;
12. Seorang beriman tidak boleh membuat persekutuan atau aliansi dengan keluarga mukmin lainnya, tanpa persetujuan yang lainnya;
13. Orang-orang yang beriman yang komitmen dengan keimanannya (taqwa) harus menentang orang di antara mereka yang mencari atau menuntut sesuatu secara dzalim, jahat, melakukan permusuhan atau kerusakan di kalangan orang-orang beriman. Kekuatan mereka bersama-sama dalam melawannya, sekalipun ia adalah keluarga di antara mereka;
14. Orang yang beriman tidak boleh membunuh orang beriman lainnya karena (alasan telah membunuh)orang kafir. Ia juga tidak boleh membantu orang kafir untuk (melawan) orang beriman;
15. Perlindungan atau jaminan Allah itu satu, yakni terhadap sesama tetangga dekat dan orang-orang yang lemah di antara mereka. karena orang-orang beriman adalah penolong atau pembela terhadap sesama;
16. Orang-orang Yahudi beserta pemeluknya berhak mendapat pertolongan dan santunan tanpa ada penganiayaan, sepanjang tidak berbuat zalim atau menentang komitmen;
17. Perdamaian orang-orang beriman adalah satu. Seorang di antara mereka tidak boleh membuat perdamaian tanpa ikut serta yang lainnya di dalam suatu pertempuran (jihad) fi sabilillah, kecuali atas dasar kesamaan dan keadilan di antara mereka;
18. Setiap pasukan yang berperang dalam barisan kita harus saling bekerja sama satu dengan yang lainnya;
19. Orang-orang beriman membalas pembunuh orang beriman lain dalam pertempuran fi sabilillah. Orang-orang beriman yang selalu komitmen dengan keimanan(taqwa)nya berada pada petunjuk yang terbaik dan lurus;
20. Bahwasanya orang musyrik Madinah, dilarang melindungi harta dan jiwa orang musyrik Quraisy serta tidak boleh bercampur tangan melawan orang-orang beriman;
21. Bahwasanya siapa yang membunuh orang beriman dengan cukup bukti atas perbuatannya, harus dihukum bunuh, kecuali wali si terbunuh rela –menerima diat–. Semua orang beriman harus bersatu dalam menghukumnya;
22. Bahwasanya, tidak diperkenankan bagi orang yang beriman yang mengakui Piagam (shahi‘fat) ini dan beriman kepada Allah dan hari akhir, menolong pelaku kejahatan dan tidak pula membelanya. Siapa yang memberi bantuan atau menyediakan tempat tinggal bagi para pelanggar itu, mendapat kutukan dan kemurkaan Allah di hari kiamat dan tidak ada suatu penyesalan dan tebusan yang dapat diterima dari padanya;
23. Apabila kamu sekalian berselisih tentang suatu perkara, penyelesaiannya dikembalikan kepada Allah swt dan Muhammad saw;
24. Yahudi bersama-sama dengan kaum muslimin memikul biaya selama mereka mengadakan pertempuran;
25. Yahudi Banu ‘Auf sebangsa dengan orang-orang beriman. Bagi Yahudi agama mereka, bagi muslimin demikian juga. Kebebasan semacam ini juga bagi para pengikut mereka, kecuali bagi yang dzalim dan jahat. Hal yang demikian yang akan merusak diri dan keluarganya;
26. Yahudi Bani Najjar diperlakukan sebagimana Bani ‘Auf;
27. Yahudi Bani Harits juga diperlakukan sebagimana Bani ‘Auf;
28. Yahudi Bani Sa’idah juga diperlakukan sebagimana Bani ‘Auf;
29. Yahudi Bani Jusyam juga diperlakukan sebagimana Bani ‘Auf;
30. Yahudi Bani ‘Aus juga diperlakukan sebagimana Bani ‘Auf;
31. Yahudi Bani Sa’labah juga diperlakukan sebagimana Bani ‘Auf, kecuali jika mereka dzalim dan khianat, maka hukumannya hanya berlaku bagi dirinya beserta keluarganya;
32. Etnis Jafnah dari Tsa’labah diperlakukan sama sebagimana Bani Tsa’labah;
33. Bani Syuthaibah diperlakukan sama dengan Bani ’Auf. Kebaikan itu tidak sama dengan kejahatan;
34. Para pengikut Tsa’labah diperlakukan sama seperti Tsa’labah;
35. Kerabat Yahudi di luar Madinah diperlakukan sama seperti mereka yang ada di Madinah;
36. Bahwasanya tidak dibenarkan seorangpun ke luar (untuk berperang), kecuali seizin Muhammad saw. Ia tidak boleh dihalangi (menuntut balas) atas luka (yang dibuat orang lain). Siapa yang berbuat jahat, balasan kejahatan itu menimpa diri dan kelaurganya, kecuali jika ia teraniaya. Sungguh Allah telah membenarkan (ketentuan) ini;
37. Orang Yahudi ada biaya, begitu pula kaum muslimin. Mereka saling bantu membantu dalam menghadapi musuh masyarakat di bawah Piagam (shahifat) ini. Mereka saling memberi saran/nasehat serta memenuhi janji lawan. Seseorang tidak menanggung hukuman atas kesalahan sekuktunya, sehingga pembelaan diberikan kepada pihat teraniaya;
38. Orang-orang Yahudi bersama-sama kaum muslimin memikul biaya selama pertempuran;
39. Kota Yatsrib (Madinah) merupakan tanah “haram” (suci yang dihormati) bagi warga di bawah panji piagam ini;
40. Orang-orang yang mendapat jaminan diperlakukan seperti diri penjamin, sepanjang tidak bertindak merugikan dan tidak berkhianat;
41. Jaminan hanya bisa diberikan atas se-izin ahlinya;
42. Jika terdapat perselisihan di antara komponen pengikut Piagam ini yang dikhawatirkan menimbulkan bahaya, penyelesaiannya dikembalikan kepada Allah swt. Allah Tuhan Yang Maha memelihara dan memendang baik isi Piagam ini;
43. Bahwasanya tidak ada jaminan (perlindungan) bagi Quraisy Makkah beserta pengikutnya;
44. Para pendukung Piagam ini saling bantu membantu dalam menghadapi penyerangan atas tanah Yatsrib (Madinah);
45. Jika para pendukung Piagam ini diajak damai, kemudian memenuhi perdamaian serta melaksanakannya, maka perdamaian itu harus dijunjung tinggi. Karena itu, jika orang-orang beriman diajak damai seperti itu, wajib dipenuhi, kecuali terhadap oarang yang menyerang agama. Setiap orang wajib menunaikan tugas dan kewajiban masing-masing;
46. Yahudi Bani ‘Aus beserta pengikutnya memiliki hak dan kewajiban seperti komponen lain pendukukng Piagam ini. Kebaikan itu tidak sama dengan kejahatan. Setiap person bertanggung jawab atas tindakannya. Allah membenarkan dan memandang baik atas Piagam ini;
47. Piagam ini tidak diproyeksikan untuk membela orang yang dzalim dan khianat. Semua orang bisa bepergian (keluar rumah) secara aman serta berdomisili di kota Yatsrib (Madinah) secara damai pula. Hal ini, terkecuali bagi mereka yang dzlim dan khianat. Allah swt-lah pelindung orang yang berbuat kebajikan dan taqwa.

Muhammad Saw

Catatan: saya berterimakasih kepada Prof Dr Afif Muhammad (UIN Bandung) yang telah menerjemahkan teks piagam ini secara utuh dan mengizinkan untuk mengkopinya.

Waktu aku duduk di bangku MI Daarul Ma’arif Kampung Gondrong Petir, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, aku diajar oleh sosok guru yang sangat bersahaja. Namanya H Syamlawi.

Meski sudah tua, guru yang satu ini tetap bersemangat untuk mengajar kelas kami (ada sekitar 30 siswa). Kenangan yang paling aku ingat bersama beliau adalah ciri khasnya yaitu mendongeng di kelas. Kalau beliau kedapatan giliran masuk kelas siang hari dan siswa sudah mengantuk, maka beliau menggantikan pelajarannya dengan mendongeng. Beliau akan mendongeng dengan lugas sambil duduk di atas kursi dengan bahasa betawi yang kental. Saat mendongeng, meski mimik wajahnya terlihat kelelahan, namun suaranya tetap terdengar. Kami sekelas pun menikmati aluran cerita yang disampaikan guru yang selalu berpeci hitam ini.

Dongeng yang diceritakan adalah seputar sejarah nabi, rasul, sahabat, tentang surga dan tentang neraka. Kami sebagai siswanya selalu senang mendengarkan dongeng sang guru ini. Kami sekelas tdak pernah bosan untuk mendengarkan dongengnya. Setiap kali, setiap masuk, kami memang memimpikan diajarkan oleh beliau. Tentu saja untuk mendengarkan dongeng. Dan setahuku, dari sekian guru di MI Daarul Ma’arif, hanya beliau satu-satunya guru yang pandai bercerita. Tidak aneh bila kala itu, beliau dikenal sebagai guru pendongeng yang amat masyhur di kampung kami.

Kenangan lain yang saat ini masih aku ingat adalah beliau setiap kali mengajar selalu menggunakan sepeda besar (ontel). Sepeda itu dikayuhnya dari tempat tinggalnya di Kampung Gondrong Udik ke Petir-kira-kira 10 kiloan lebih. Setibanya di sekolah, ontel itu disandarkan di bawah pohon yang berada di halaman sekolah. Kami yang berada di kelas, selalu memerhatikan kehadiran beliau dengan hati gembira. Hatiku pun selalu bergetar, betapa ikhlas dan sederhananya guru yang satu ini.

Setelah mendongeng, di antara kami ada satu siswa yang berkeliling untuk memungut uang seikhlasnya kepada kami. Kami pun dengan senang hati memberikan uang tersebut. Ada yang Rp 50 perak, Rp 100 perak, dan Rp 150 perak. Saat itu, jumlah itu sudah cukup besar. Setelah uang terkumpul lalu kami berikan kepada guru pendongeng ini untuk membeli rokok dan kopi. Tentu kami sangat ikhlas, senang, dan tidak terbebani. Bahkan-kalaupun ada uang lebih-kami selalu sempatkan untuk membantu beliau.

Selama mengajar, beliau tidak pernah mengeluh dan tidak pernah merasa capek. Hatinya selalu riang dan tersenyum saat menyapa kelas kami. Beliau adalah sosok guru yang sangat ikhlas karena sudah mengabdi lebih dari 20 tahun di sekolah kami dengan gaji yang enggak naik-naik.

Beliau tinggal di rumah yang sangat sederhana namun sangat adem dan sejuk. Rumahnya tidak terlalu besar dan berdinding triplek setengah batu. Di sekitar rumahnya, tumbuh pohon rambutan, pohon jamblang, dan poho mangga.

Kini, orang-orang sekampung kami kehilangan setelah beliau pergi untuk selamanya. Aku pun sangat menyesal karena saat beliau pergi untuk selamanya aku masih di rantau. Aku tidak kesampaian untuk menjenguk di kala beliau sakit dan bertakziah. Sesalku seumur hidup.

Selamat jalan guru pendongeng. Doaku terus mengalir bak samudra.

*mengenang almarhum H Syamlawi.

Gondrong petir, 2009

Partai Demokrat dapat dipastikan akan menguasai kursi di DPRD Banten. Dari 85 kursi di DPRD Banten, Partai Demokrat merebut 18 kursi. Perolehan kursi hasil Pemilu 2009 ini melonjak tajam bila dibandingkan perolehan kursi Pemilu 2004 yang hanya 8 kursi. Posisi kedua ditempati Partai Golkar yang meraih 13 kursi. Jumlah ini tentu merosot dibandingkan dengan perolehan kursi hasil Pemilu 2004 lalu sebanyak 16 kursi. Sementara PKS berada di urutan ketiga dengan perolehan 11 kursi (sama dengan hasil Pemilu 2004), disusul PDIP 10 kursi (naik satu kursi dibandingkan Pemilu 2004 yang 9 kursi), Hanura 6 kursi (pendatang baru), Gerindra 5 kursi (pendatang baru), PPP 5 kursi (merosot dari kursi hasil Pemilu 2004 yang berjumlah 8), PKB 5 kursi (sama dengan hasil Pemilu 2004), PBB 3 kursi (sama dengan hasil Pemilu 2004). Lalu ada PKPB 2 kursi, PAN 2 kursi (merosot dari hasil Pemilu 2004 yang berjumlah 4 kursi), PBR 1 kursi, PDS 1 kursi (turun dari kursi hasil Pemilu 2004 yang 2 kursi), PKNU 1 kursi (pendatang baru), PPNUI 1 kursi (sama dengan hasil Pemilu 2004), dan PPD 1 kursi. Partai Demokrat meraih kursi terbanyak di dapil Banten III (Kabupaten Tangerang). Di dapil ini, partai yang didirikan SBY ini menggondol 8 kursi, PKS 4 kursi, PDIP 4 kursi, Golkar 3 kursi, Hanura dan Gerindra masing-masing dua kursi. Sementara PPP, PAN, PKPB, PKB, PBB, PDS, PPNUI, dan PKNU masing-masing 1 kursi. Selain di Kabupaten Tangerang, Demokrat juga meraih kursi terbanyak di dapil Banten IV (Kota Tangerang) sebanyak 3 kursi yang mengalahkan perolehan kursi PKS, Golkar (masing-masing 2 kursi). Di dapil Banten I (Kota dan Kabupaten Serang) Demokrat juga meraih 3 kursi. Di dapil ini, Golkar juga menyabet 3 kursi. Di dapil Banten V (Lebak) Demokrat menyabet 2 kursi serta di dapil Banten III (Cilegon) dan Banten VI (Pandeglang) masing-masing 1 kursi. Sementara Partai Golkar menyabet kursi terbanyak di dapil Banten I (Kabupaten/Kota Serang) sebanyak 3 kursi. Sementara di Dapil Banten III (Kabupaten Tangerang) 3 kursi, dapil Banten IV (Kota Tangerang) sebanyak 2 kursi, dapil Banten V (Lebak) 2 kursi, dapil Banten VI (Pandeglang) 2 kursi, dan dapil Banten II (Cilegon) satu kursi. (selengkapnya lihat grafis). Sama dengan komposisi DPRD kabupaten/kota, wajah-wajah baru juga akan menghiasi wajah DPRD Banten (meskipun ada sebagian dari mereka sebelumnya anggota DPRD di kabupaten/kota). Dari 85 kursi, hampir 80 persen adalah wajah-wajah baru. Wajah-wajah baru ini ada yang berasal dari kalangan pengusaha, ketua parpol, mantan Ketua Panwaslu Banten, dan sebagainya. Yang mengejutkan juga, terdakwa dugaan suap pinjaman daerah Pemkab Pandeglang HM Acang dari PPP juga dipastikan lolos. Acang berhasil meraih suara signifikan di dapil Banten VI (Pandeglang). Selain terdakwa dugaan korupsi lolos, ada kakak beradik yang juga lolos meski beda partai. Mereka adalah Rahmat Syis Abdulgani (PKB) dan Ali Nurdin (PKNU), keduanya berasal dari Tangerang. Sementara caleg dari keluarga Gubernur Ratu Atut Chosiyah yang lolos adalah Ratu Tatu Chasanah. (*)

Wajah DPRD Banten hasil pemilu 2009 memang diwarnai wajah-wajah baru. Mereka sebagian besar pengusaha. Hanya sebagian kecil yang benar-benar politikus ulung. Berdasarkan data yang dihimpun Radar Banten, dari 85 anggota DPRD Banten terpilih itu hampir setengahnya (50%) adalah para pengusaha di berbagai bidang, namun lebih banyak kontraktor. Mereka ikut terpilih dalam pemilu 2009, karena memang sebelumnya sudah diprediksi. Sebagai pengusaha, mereka umumnya menempati posisi strategis antara lain direktur dan direktur utama. Nama-nama mereka pun sebagian sudah akrab di telinga masyarakat.
Sementara dari sisi gender, dari 85 anggota dewan terpilih itu, sebanyak 15 berjenis kelamin perempuan. Jumlah ini mengalami kenaikan fantastis dari pemilu 2004 yang hanya mengantarakan 5 perempuan di DPRD Banten. Dari 15 perempuan itu, paling banyak disumbang oleh Partai Demokrat sebanyak 4 orang yakni, Inayah (Kota Cilegon), Sherisada Manaf (Kabupaten Tangerang), Rina BP Rachmadi (Kabupaten Tangerang), dan Herdayanti (Kota Tangerang). Perwakilan dari Partai Golkar yakni Else Atmasari (Serang) dan Ratu Tatu Chasanah (Pandeglang). Dari PDIP ada dua, Indah Rusmiati (Kabupaten Tangerang) dan Sri Hartati (Kota Tangerang), di PKS ada Ei Nurul Khotimah (Serang) dan Siti Saidah Silalahi (Kabupaten Tangerang). Sementara di PPP ada juga 2 perwakilan perempuan yakni Muflikhah (Serang) dan Tati Hartati (Lebak), PAN ada Elis Susilawati (Serang)), Partai Hanura ada Suprapti (Kabupaten Tangerang).
Sedangkan dari jenjang pendidikan, 85 anggota DPRD Banten terpilih ini umumnya memang sarjana (SI) dan pascasarjana (S2). Bahkan ada satu-tiga yang lulusan dari kampus di luar negeri. Hanya sebagian kecil saja di antara mereka yang tamatan SLTA dan sederajat. Namun tingginya jenjang pendidikan mereka tidak membuat jaminan bahwa mereka mampu untuk berbuat. Pendidikan itu tidak selamanya menjadi jaminan.

TERDAKWA TERPILIH
Salah satu yang unik dari komposisi keanggotaan DPRD Banten kelak adalah terpilihnya salah satu terdakwa dugaan suap pinjaman daerah Pemkab Pandeglang, HM Acang (Golkar). Acang yang saat ini sudah divonis bebas dan sempat mendekam di tahanan meraih suara signifikan dan dipastikan melenggang mulus ke parlemen.
Selain terdakwa yang lolos, ada juga anggota dewan terpilih yang sebelumnya hanya ibu rumah tangga biasa. Di ranah ini, ada Elis S (PAN). Elis adalah istri Ade Muchlas Syarief (anggota DPRD Banten periode 2004-2009 dari PAN). Ade pada pemilu 2009 tidak mencalonkan diri lagi, hanya istrinya yang ikut mencalonkan diri dan terpilih. Selama ini, Elis memang ibu rumah tangga. Selain Elis, ada Herdayanti, istri Herri Rumawantine, anggota DPRD Kota Tangerang. Sama dengan Elis, aktivitas keseharian Herdayanti juga adalah ibu rumah tangga.(*)

Mengenang masa kanak-kanak di kampung halaman bukanlah pikiran yang sia-sia. Bernostalgia dengan masa lalu itu bukan untuk mengenang kisah yang meninabobokan kita terjerambab karena tidak mau bergerak lantaran saking asiknya menikmati kenangan masa kecil yang indah. Sebaliknya, masa anak-anak yang riang di kampung itu dapat menyadarkan kita tentang ‘akar’, dari mana kita berpijak sebelumnya.
Mengenang dan belajar pada masa lalu itu yang dicoba dieksplorasi oleh Akhmad Fikri dalam buku terbarunya, “Negeri Kong Draman (Cerita-cerita Puitis Kampung Halaman untuk Indonesia)” yang diterbitkan Matapena (grup LKiS Jogjakarta) bekerja sama dengan Bale Sastra Kecapi, Jakarta. Buku yang berupa kumpulan puisi ini (ada 72 puisi) ditulis dengan latar belakang masa kanak-kanak penulis di sebuah kampung di pinggiran Betawi, Kampung Gondrong Petir, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang. Hampir 99 persen, puisi ini ditulis Fikri sepanjang 2009. Mungkin ini salah satu buku kumpulan puisi yang ditulis dengan latar belakang empirik kehidupan Betawi dengan bahasa yang lugas dan renyah dalam waktu yang singkat.
Meski berlatar belakang masa anak-anak bukan berarti puisi yang ditulis Fikri kekanak-kanakan dan kehilangan pesan-pesan universalnya. Pesan-pesan universal itu tetap sangat menonjol dalam setiap puisi Fikri di dalam buku ini, misalnya agar kita mencintai ibu, menghormati orangtua, rajin belajar, rajin mengaji, berbaikan dengan tetangga, tidak iri dengan tetangga, dan sebagainya.
Buku ini ingin mengajak dan menyadarkan kita semua untuk kembali kepada ‘akar’ tradisi tempat di mana kita awalnya berada. Fikri memandang pentingnya pencarian ‘akar’ tradisi ini untuk dapat diolah menjadi sebuah ciri khas yang dapat menopang sebuah bangsa dengan multikulturisme. Tanpa ‘akar’ bagaimana mungkin sebuah bangsa dapat berdiri dengan tegak dan bermartabat.
Dengan puitis, Fikri mengilustrasikan filsafat akar. Akarlah yang mengantarkan saripati yang dibutuhkan pohon untuk tumbuh, berbunga dan brbuah. Akar pula yang memperkokoh pohon agar tidak mudah goyah diterjang badai angin. Semakin kuat akar menjalar mencari dan menemukan saripati bumi, semakin kokoh pula pohon menyembulkan batang dan lekukan rantingnya. Pohon tanpa akar akan kesulitan bertahan hidup. Seperti pohon benalu, penumpang gelap yang hidup dari kerja keras pohon induk namun nasibnya tetap saja sebagai benalu. Ia hidup dari mencuri saripati sebelum akhirnya disingkirkan petani. (hlm vii)
Di banyak halaman buku ini Fikri-yang juga Direktur LKiS Jogjakarta- memang lebih banyak mengisahkan masa kecil penulis di kampung halamannya. Ingatan Fikri tentang masa kanak-kanak-sebagaimana tercermin dalam setiap puisinya ini- di kampung halamannya masih direkam kuat dalam benak sanubari. Setiap puisi yang ditulis tentang kampung halamannya memiliki ruh ‘keakaran’ yang dapat membuat kita terdecak. Radhar Panca Dahana, dalam epilognya, menyebut, Fikri seakan-akan membuat sebuah tangga yang menjorok ke bawah, kita diajak turun untuk mendapatkan dunia di mana manusia bukan cuma bertetangga dengan alam, tapi hidup bersama bahkan menyatukan iramanya. Tidak ada ketegangan antara pikiran, hati, dan nafsu manusia dengan semua fenomena dan isi alam; dengan bebek, sawah, lumpur, hingga kontol moneng, atau itil layu.
Jangan berprasangka buruk dulu. Di negeri engkong Draman, biji buah (jambu mete) yang nongol dan enak kalau digoreng atau dibakar itu namanya kontol moneng. Sedang itil layu sebenarnya hanya nama lain dari daun putri malu yang bila disentil layu. (hal. 87)
Lebih dari itu, salah satu kekhasan buku ini, ditulis dengan alur bahasa yang familiar di telinga masyarakat Betawi. Membaca buku ini, kadang-kadang membuat kita tersenyum lebar (kalau yang tidak kuat bisa tertawa menahan geli) karena di dalamnya ada kekonyolan, keluguan, dan kecerdikan masyarakat Betawi.
Fikri, mungkin salah satu penyair, yang tidak bermazhab karena puisinya mengalir apa adanya, tanpa mau terikat dengan diksi kesusastraan modern. Sebaliknya, di buku ini, Fikri banyak menggunakan diksi kebetawian yang hampir punah. Misalnya, dia menulis tentang itil layu, kontol moneng, peler kejepit, uluk-uluk, dibel, belok, dan sebagainya.
Membaca buku ini, kita juga diajak untuk menyelami dunia betawi yang tragis seperti salahsatu pantun yang ditulis Fikri,
zaman sekarang orang betawi
makin ke pinggir kecebur kali
tanah sepetak jadi rebutan
salah siapa kurang didikan

Kemudian ada puisi yang berjudul betawi punya nasib,

seperti kubilang pada abang
berbilang-bilang sawah berganti rumah
beberapa dari mereka pindah-pindah
makin minggir terus ke pinggir dulunya di tengah

Selain kisah tragik tentang Betawi, di dalam buku ini kita juga menemukan banyak permainan tradisional Betawi yang dieksplor penulis seperti petak umpat, main pletokan, tendang sambuk, tradisi ngubek, dan sebagainya. Jadi, membaca buku ini seakan-akan kita kembali kepada masa Betawi yang adem, tentram, dan riang. Sebuah masa di mana, masyarakatnya masih guyub, egaliter, dalam nuansa kampong.
Di atas kelebihannya itu, tentu saja buku ini juga menyimpan beberapa kelemahan. Meski demikian, kelemahan ini tidak mengurangi rasa nikmat saat membaca buku ini apalagi bagi pembaca yang punya pengalaman bersama penulis saat kecil lalu di sebuah kampung halaman.

——-

Judul Buku : Negeri Kong Draman (Cerita-cerita Puitis Kampung
Halaman untuk Indonesia)
Penulis : Akhmad Fikri AF
Penerbit : Matapena (LKiS) bekerjasama dengan Bale Sastra Kecapi
Halaman : 96 hlm (+ xiii)
Cetakan : I, Mei 2009
Harga : Rp 16.500

INGIN JADI NARASUMBER

Sebuah lembaga pendidikan di Serang mengadakan seminar regional dengan menghadirkan pembicara dari kalangan pemerintah, DPRD, dan pengamat politik setempat di hotel bintang empat. Agar dketahui oleh masyarakat luas maka panitia memasang iklan pengumuman di media.
Satu hari menjelang pelaksanaan panitia seminar dibuat kelimpungan. Mereka kedatangan salah satu tokoh yang menurut panitia dikenal sebagai jawara beserta pengawalnya. Kedatangan jawara kita ini tidak pernah diduga sebelumnya oleh para panitia yang terdiri dari kalangan kampus. ”Kami sangat terkejut dengan kedatangan dia (jawara-red),” kata salah satu panitia.
Belum kaget keterkejutan panitia, jawara kita ini yang juga seorang pengusaha meminta dijadikan sebagai salah satu pembicara yang bergandengan dengan pembicara lain. Sontak, permintaan jawara kita ini membuat panitia kelabakan. ”Saat itu kita berpikir bagaimana bila dia menjadi pembicara padahal dalam undangan dan iklan yang sudah disebar tidak menyebutkan dia sebagai pembicara,” tandas panitia.
Sempat terjadi dialog antara jawara kita ini dengan panitia. Jawara kita ngotot agar dijadikan sebagai narasumber karena berhak untuk ngomong tema yang diusung oleh panitia. Sementara panitia tetap bertahan tidak menyertakan jawara dalam seminar tersebut. Namun entah karena apa, akhirnya permintaan jawara kita ini dikabulkan oleh panitia. ”Daripada jadi repot, ya sudah kita biarkan dia jadi pembicara,” kata panitia dengan enteng.

—-

KETIKA JADI NARASUMBER
Bagaimana ketika jawara kita ini menjadi narasumber dalam forum resmi yang dihadiri oleh kalangan akademisi, LSM, tokoh masyarakat, dan pers. Tentu banyak cerita unik dan menggelitik. Menjadi narasumber dalam forum ilmiah mungkin suatu kebanggaan bagi jawara kita ini. Oleh karena itu, kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh jawara kita ini. Dia datang tepat waktu namun dengan penampilan yang berbeda dengan pembicara lain.
Kalau pembicara lain datang dengan pakaian biasa dan tanpa pengawal, maka jawara kita yang satu ini datang dengan pakaian keren dan tentu saja dikawal. Pakaiannya necis dan berdasi. Tidak lupa di tangan kanan memegang map. Penampilannya saat itu mirip dengan sosok pejabat yang ingin memberikan sambutan resmi. Penampilan jawara kita ini membuat para peserta seminar terbelalak. ”Kayak udah jadi walikota saja,” celetuk salah satu wartawan lokal yang kebetulan meliput acara.
Memang pas. Tema yang dibicarakan dalam seminar itu memang terkait dengan pembentukan Kota Serang yang terpisah dengan Kabupaten Serang. Meski masih lama, namun sejumlah orang sudah mulai bergerilya mencari simpati. Barangkali itu yang membuat jawara kita ini juga memanfaatkan momen seminar untuk mencari hati karena disebut-sebut jawara kita ini juga ngebet ingin jadi walikota.
Saat giliran ngomong dalam forum, jawara kita ini malah mengenalkan satu per satu pembicara yang berada di sebelah kanan dan kirinya. ”Inilah dia tokoh-tokoh pembentukan kota Serang, silakan berdiri,” ujar jawara.
Para pembicara yang berada di depan tidak menyangka akan mendapat ’instruksi’ mendadak. Dengan mesem-mesem malu, satu per satu pembicara berdiri di hadapan peserta seminar mengikuti apa yang dikatakan jawara kita ini. Sementara peserta diskusi juga geleng-geleng kepala sambil menahan mesem.
————-

TERLALU MENGGEBU-GEBU

H Sagaf Usman dikenal sebagai tokoh masyarakat Banten yang disegani. Banyak orang menyebut beliau sebagai jawara karena sikap dan pendiriannya yang tegas. Ngomongnya pun blak-blakan tanpa tedeng aling-aling. Kalau sudah mengeritik, langsung kepada sasaran tembaknya. ”Beliau adalah potret orang Banten asli,” komentar salah satu wartawan senior di Banten.
Sebagai salah satu tokoh yang juga anggota DPD, Sagaf seringkali mendapat undangan untuk menjadi pembicara baik dalam forum ilmiah maupun dalam forum informal. Dalam forum-forum itu, ’kejawaraan’ Sagaf selalu tampak. Bicaranya menggebu-gebu dan memompa semangat peserta.
Suatu ketika Sagaf menjadi pembicara seminar tentang Kota Serang. Selain Sagaf, pembicara lainnya adalah mantan Menko Perekonomian yang asli wong Banten, Dorodjatun Kuntjojakti dan Rektor Untirta Prof Yoyo Mulyana. Dalam forum itu, Sagaf banyak mengemukakan berbagai kebijakan pemerintah pusat yang tidak berpihak kepada Banten, salah satunya soal sodetan Kali Ciliwung-Cisadane. ”Kalau sodetan itu terealisir, maka Banten akan tenggelam. Karena itu sejak awal saya sudah menolak,” terangnya.
Kritikannya tidak hanya sampai di situ. Mantan Ketua PCNU Tangerang ini juga mengupas berbagai kebijakan lain yang dinilai kurang cocok. Bicaranya keras dan menggebu-gebu sehingga seringkali mendapat tepuk tangan dari para peserta forum. Ketika pukul menunjukkan sekira pukul 11.45, tiba-tiba Sagaf langsung terdiam. Tubuhnya lunglai. Mik yang dipegangnya jatuh ke lantai. Para pembicara dan moderator memberikan pertolongan dengan cara memijit-mijit sekujur tubuh Sagaf. Setelah itu panitia membawa Sagaf ke rumah sakit terdekat. Namun terlambat, sebelum sampai ke rumah sakit Sagaf sudah meninggal. ”Kita kehilangan tokoh Banten yang kharismatik,” begitu komentar para kepala daerah di Banten.

—————

INGATKAN KPU
Sama halnya H Sagaf Usman, KH Muhtadi Dimyati juga dikenal sebagai salah satu tokoh masyarakat Banten yang dihormati. Keilmuannya tidak diragukan lagi. Murid-muridnya tersebar di berbagai pelosok Banten. Lantaran kharismatiknya itu, KH Muhtadi menduduki sebagai ketua dewan syuro DPW PKB Banten.
Pada saat Pilkada Gubernur/Wakil Gubernur Banten 2006, KH Muhtadi menjadi salah satu tokoh penting. Saat itu, anak Abuya Dimyati ini, mati-matian membela Muhtar Mandala agar diusung sebagai calon gubernur dari PKB karena sudah melalai mekanisme penjaringan di PKB. Saat mendaftar pasangan calon gubernur-wakil gubernur di KPU Banten, KH Muhtadi pun mengantarkan pasangan Muhtar Mandala-Suryana. Namun, belakangan KPU Banten malah menetapkan pasangan yang sah diusung oleh PKB adalah pasangan Irsjad Djuwaeli-Mas A Daniri. Keputusan KPU berdasarkan keputusan dari DPP PKB yang memutuskan pasangan calon gubernur/wakil gubernur dari PKB adalah Irsjad-Daniri.
Merasa dizolimi, beberapa kali KH Muhtadi dan para pendukungnya menggelar aksi unjuk rasa di KPU Banten. Dalam orasinya, KH Muhtadi meminta agar KPU taat kepada aturan dan mengesahkan pasangan Muhtar-Suryana. KPU bergeming, dan tidak mengindahkan pernyataan KH Muhtadi.
Suatu saat, KH Muhtadi dan massanya datang lagi ke KPU. Setelah berorasi, KH Muhtadi dan beberapa orang dipersilakan menghadap KPU. Saat itulah, ’kejawaraann’ Muhtadi keluar. DI hadapan para anggota KPU, KH Muhtadi menggertak. Ngomongannya keras dan menyitir beberapa ayat al quran. Suasana di dalam ruangan KPU yang juga disaksikan pers mendadak hening. Tidak ada satu pun suara yang keluar kecuali suara KH Muhtadi. Suaranya lantang dan keras sehingga orang yang mendengarkan saat itu, merasa tidak sanggup membantah apalagi menyetop ucapan kiai kita ini. Setelah puas menumpahkan unek-uneknya, KH Muhtadi langsung ngeloyor pulang yang diikuti para pendukungnya dengan santai. Sementara di dalam ruangan KPU masih terasa mencekam. ”Wah itu sih tadi macan-nya yang keluar,” komentar wartwan lokal yang menyaksikan adegan itu.

—————-
TAK MAU SERAHKAN STNK

Sejak mal berdiri di kota Serang, saat itu masyarakat berduyun-duyun datang. Ada yang sekadar jalan-jalan, belanja, atau cuma ingin tahu yang namanya mal. Maklum, mal yang dibangun di atas lahan bangunan bersejarah ini, satu-satunya pusat perbelanjaan lengkap di Serang.
Tak terkecuali jawara. Jawara kita pun rupanya ingin mencicipi yang namanya mal. Seperti pengunjung lainnya, jawara kita ini membawa anaknya. Setelah berjam-jam di mal, saatnya jawara kita ini pulang.
Saat melintasi pintu parkir yang dikelola Secure Parking, jawara kita diminta agar menunjukkan karcis dan STNK motornya oleh penjaga parkir. Namun jawara kita ini hanya menyerahkan karcis tanpa STNK.. ”Masa sih mesti menyerahkan STNK,” ucapnya lantang. Sementara si penjaga parkir tetap ngotot agar STNK ditunjukan. ”Saya hanya menjalankan tugas,” begitu katanya.
Sempat terjadi perdebatan sengit antara keduanya yang menyebabkan antrean motor di belakang makin panjang. Lantaran terus didesak, akhirnya jawara kita ini mau juga menyerahkan STNK-nya dengan cara membanting ke meja si tukang parkir. Si tukang parkir hanya diam. Setelah mengambil kembali STNK-nya, jawara kita ini langsung pulang dengan terus menggerutu. Sementara anaknya yang dibonceng di belakang hanya tersenyum.

——————-

NYEROBOT ANTREAN

Suatu ketika terjadi antrean panjang motor di salah satu POM Bensin di bilangan Ciracas, Serang. Para pengendara antre sebab bensin saat itu langka. Di tengah antrean itu, tiba-tiba salah satu pengunjung langsung mendekati petugas SPBU dan meminta agar motornya diisi bensin. Si penjaga SPBU meminta agar pengunjung yang satu ini antre. Namun si pengunjung ini tidak mau dan tetap agar dilayani duluan.
Karena tidak mau ada keributan, akhirnya si penjaga SPBU melayani permintaan pengunjung yang satu ini. Sementara di belakang antrean, warga hanya bisa bersungut-sungut. ”Mentang-mentang jawara maunya enak sendiri, ”kata salah satu pengendara yang sedang antre. ”Biarin sajalah,” timpal temannya.

—————

GAK BISA BACA
Alangkah senangnya jawara kita masuk koran, sebab baru kali ini masuk koran. Yang terpampang di koran bukan hanya kegiatan si jawara saja, namun juga foto jawara kita ini dipasang. Sehingga, kampung halamannya geger karena ada orang kampung yang masuk koran.
Saking senangnya, si jawara kita ini ingin berbagi kebahagiaan dengan sopir pribadinya yang juga dikenal sebagai jawara. Badannya tinggi tegap. ”Tuh, urang masuk koran. Baca tah (Tuh, saya masuk koran, baca tuh-red),” kata jawara kita kepada sopirnya sambil memberikan koran.
Tidak mau malu-maluin, juragannya si sopir langsung mengambil koran tersebut. Namun hanya bisa memelototnya saja. ”Urang teu bisa baca bah (saya tidak bisa baca, Pak-red),” kata si sopir dengan polos. Mendapat jawaban seperti itu, jawara kita tersenyumm saja. ”Uh, maneh mah badan doang badag tapi teu bisa baca (Kamu maha badan saja besar tapi gak bisa baca-red),” kata si jawara sambil berlalu.

—————
LIGAINDONESIA

Seperti mayoritas orang Indonesia, jawara juga senang dengan liga Indonesia. Hampir tipa hari, jawara kita ini tidak melewatkan pertandingan Liga Indonesia. Namun, entah kenapa pada suatu ketika jawara kita ini tidak sempat nonton. Karena penasaran, kahirnya si jawara kita ini mencari informasi kepada tetangganya yang kebetulan melihat pertandingan antara Persib Bandung dengan Persija. ”Tadi bola apa lawsan apa,” kata jawara kita. Jawab temannya, ”Persib Bandung lawan Persija.” ”Oh….” timpal jawara kita. ”Terus mana yang menang Persib atau Bandung,” tanya jawara kita dengan rasa penasaran. Temannya ini hanya melotot dan geleng-geleng kepala saja.

—————

INGIN NGOMONG
Siapa bilang jawara tidak berani tampil di forum ilmiah bersama dengan tokoh sekaliber dirut PT Krakatau Steel. Fakta membuktikan dalam forum diskusi yang digagas oleh salah satu media lokal, beberapa jawara berebutan ingin tampil mengemukakan pertanyaan dan pernyataan dalam sesi tanya jawab. Hal ini tentu saja membuat moderator bingung. ”Pertanyaan langsung saja, tak usah bertele-tele,” ujar moderator mengingatkan para penanya.
Namun, imbanuan moderator tidak digubrir. Para penanya tetap mengeluarkan pernyataan ;panjang-panjang sehingga watktu diskusi tinngal menghitung menit. ”Waktu diskusi kita tinggal lima belas menit lagi,” ucap moderator. Meski demikian, jawara kita tetap ingin mengajukan pertanyaan kepada dirut Krakatau Steel dan Ketua Dewan Pengembangan Sumber Daya Manusia Banten yang menjadi pembicara tanpa menghiraukan waktu yang tersisa. Sementara dirut KS dan para pembicara yang lain hanya tersenyum simpul saja mendapati berbagai pertanyaan dari peserta. ”Waktu kita sudah habis, tapi kita persilakan pembicara untuk menanggapi,” kata moderator. Tidak kurang dari beberapa menit saja, para pembicara menjawab pertanyaan. ”Walah-walah pertanyan panjang sekali kok jawabnya sedikit ya,” sahut jawara kita.

——————
KELUARKAN JURUS
Jawara kita yang satu ini lain dari yang lain. Selain memiliki kanuragan, yang diperolehnya sejak kecil, jawara kita ini juga mengabdi pada salah satu perguruan tinggi di Serang. Jawara kita ini mampu menunjukkan dirinya sebagai salah satu akademikus yang berhasil.
Mengobrol dengan jawara kita ini tentu banyak pengetahuan yang didapat. Tidak aneh, bila banyak orang yang ingin mengobrol dengannya. Namun bagi yang pertama ingin mengobrol dengan jawara kita ini, pasti punya pengalaman menarik. Salah satunya, Kang Hafidz.
Suatu ketika Kang Hafid ingin menemui jawara kita ini sedang ngobrol dengan orang lain. Kang Hafid ingin ikut nimbrung karena sudah lama ingin ketemu dengan jawara kita ini. Ketika sedang mengobrol itu, bahu jawara kita ini dicolek oleh Hafid yang datang dari arah belakang. Maksud Kang Hafid inging bersalaman dan cepat akrab. Saat itu juga, jawara kita langsung mengeluarkan jurus. Kang Hafid bengong dan tidak tahu harus berbuat apa. ”Eittthh…saha iue,” kata jawara kita dengan repleks.

——————–

DEMO

Pada saat pelaksanaan Pemilu 2004, suhu politik lokal meningkat naik. Kantor KPU Serang menjdi salah satu tempat langganan pendemo. Suatu waktu, lembaga penyelenggara pemilu itu didemo oleh salah satu massa pendukung parpol karena tidak puas dengan keputusan KPU. Massa terus merangsek memasuki ruangan KPU.
Salah satu perwakilan massa yang juga dikenal dengan jawara langsung nyerocos di hadapan anggota KPU yang bersedia menemui pendemo. ”Mana nu namanya Arief (M Arief Ikbal, salah satu anggota KPU Serang), urang pengin ketemu,” katanya dengan nada lantang di hadapan anggota KPU salah satunya Arief Ikbal. Mendapati itu, Arief hanya tersenyum. Setelah itu, perwakilan massa dipersilakan masuk untuk menyampaikan aspirasi
Saat dialog itu, ketua KPU Serang menyilakan Arief untuk ngomong. Si jawara yang tadi ngomong lantang di hadapan Arief tersentak. Ternyata yang namanya Arief-Ketua Pokja Pencalonan- adalah orang yang tadi diluar dicari-carinya. Jawara kita ini hanya tahu bahwa Arief itu adalah Oboy, karena panggilan sehari-hari Arief adalam Oboy.

——————-

TAKUT DENGAN PHOTO

Pada Pilkada Serang 2005, rumah Ketua Pokja Pencalonan M Arief Ikbal didatangi para pendukung salah satu kandidat. Di antara tamu tak diundang itu ada sebagian jawara. Arief yang kebetulan berada di rumah mempersilakan tamu masuk ke dalam ruangan. Sementara istri Arief tampak khawatir.
Dialog antara Arief dengan para pendukung berlangsung sengit dan panas hingga beberapa menit. Ketika sedang memanas itu, mata salah satu jawara melirik photo yang terpampang di dinding ruangan tamu Arief. ”Eta photo saha,” kata jawara. Arief menjawab, ’bapak urang.” Mengetahui bahwa photo yang tertempel adalah photo bapaknya Arief, omongoan jawara mulai pelan dan mulai sopan. ”Oh, bapak tah. Ustad kite kuh,” kata jawara. Arief memang anak salah satu tokoh masyarakat Banten yang juga Ketua Umum MUI Banten, Prof KH Wahab Afif yang giat berdakwah.

———————

DISAMAKAN

Salah satu universitas di Serang statusnya meningkat menjadi disamakan. Para pimpinanan universitas, akademisi, merayakan peningkatan status itu dengan cara menggelar syukuran. Dalam acara itu juga dihadiri oleh ketua kurator (dewan penyantun). Kebetulan saat itu ketua kuratornya adalah salah satu tokoh jawara.
Rangkaian acara dimulai dengan diawali oleh kata sambutan oleh salah satu petinggi universitas. ”Saat ini adalah hari yang paling berbahagia karena status universitas kita sudah disamakan, kta bangga dengan status disamakan ini,” katanya dengan bangga. Peserta yang hadir sesekali tepuk tangan.
Setelah pimpinan universitas selesai memberikan sambutan, tiba saatnya ketua kurator memberikan sambutan. Dengan nada lantang, jawara ini berujar, ”Naon-naonan dia, universitas disamakeun pake bangga sagala. Emang teu aya kursi tah. Sono cokot kursi di rumah urang, loba. (apa-apan kamu, universitas pakai samak [tikar pandan] bangga. Emangnya tidak ada kursi. Sana, ambil kursi di rumah saya, banyak),” katanya. Peserta yang hadir terdiam.

;serang, april 2009