SERANG-Verifikasi pemberkasan daftar calon anggota legislatif (caleg) sementara menjadi daftar caleg tetap (DCT) yang dilakukan KPU Banten kurang cermat sehingga lembaga penyelenggara Pemilu itu kecolongan. KPU Banten meloloskan salah satu caleg, Fauna Sukma Prayoga, yang terdaftar dalam dua parpol berbeda (PPP dan Partai Buruh) menjadi DCT.

Ketua Panwaslu Banten Ranthy Pancasasthy mengatakan, lolosnya satu nama di dua parpol menjadi DCT merupakan kelalaian KPU Banten saat melakukan verifikasi. “Seharusnya itu tidak terjadi, bila verifikasi dilakukan secermat mungkin,” katanya kepada Radar Banten, Kamis (20/11).

Kata Rantrhy, sebetulnya jauh-jauh hari KPU Banten sudah mengetahui bahwa Fauna Sukma Prayoga mengundurkan diri dari caleg PPP. “Namun anehnya, kenapa dia masih tetap diloloskan,” ujarnya.

Kata Ranthy, kelalaian yang dilakukan KPU Banten itu termasuk kelalaian besar sebab satu nama sudah ditetapkan lewat rapat pleno menjadi DCT di dua parpol berbeda. “Masyarakat dapat mempertanyakan kredibilitas anggota KPU Banten saat melakukan verifikasi. Kok, bisa satu nama lolos menjadi DCT di dua parpol berbeda,” ujarnya.

Ranthy menegaskan, dalam undang-undang tidak diperbolehkan satu nama menjadi caleg di dua parpol berbeda. Kata dia, kasus yang menimpa Fauna Sukma Prayoga itu harus dituntaskan sehingga tidak menimbulkan kerawanan yang lain. “KPU seharusnya sejak awal tegas dan cermat sehingga tidak memunculkan kasus seperti ini,” ujar mantan Ketua Panwas Keanggotaan DPRD Kota Serang ini.

Ranty juga menyarankan kepada KPU Banten agar kembali meneliti ulang hasil DCT sebab dikhawatirkan masih ada kasus serupa yang terjadi. “Kehati-hatian tetap harus diutamakan sebelum daftar nama caleg dicetak dalam surat suara. Sebab kalau sudah dicetak dalam surat suara, tentu untuk menghapusnya lebih memakan waktu dan teknis lebih lama lagi,” ujarnya. (alt)

tulisan ini diterbitkan Radar Banten, 21 Nov 2008