Secara umum wartawan dapat diartikan sebagai  pemberita atau orang yang memberi kabar berita kepada khalayak ramai. Berita yang dikabarkan tentu saja peristiwa yang layak diketahui publik lewat media massa cetak maupun elektronik

Dalam dunia Islam, sebetulnya dunia kewartawanan sudah tidak asing lagi. Sebab dalam Islam, spirit dunia kewartawanan sudah dikenal sebelum dunia barat mengenal seluk beluk dunia kewartawanan. Mau buktinya? Ini dia faktanya, bahwa dalam diri setiap rasul yang kita kenal itu ada spirit kewartawanan. Sebab tugas utama rasul sebagai penyampai kabar (baca: wahyu Allah) kepada manusia. Tugas ini yang menyerupai  tugas wartawan yang menyamapaikan berita kepada khalayak. Hanya saja teknis dan metodenya yang berbeda. Dengan demikian, ada benang merah antara tugas kerasulan dengan dunia wartawan.

Dalam sejarah dunia Islam klasik, juga ada sahabat yang bernama Zaid bin Tsabit. Zaid adalah seorang tokoh yang diangkat menjadi sekretaris Nabi Muhammad SAW. Saat itu, tugas utama Zaid adalah menulis wahyu di pelepah kurma, di bekas tulang-tulang hewan, bebatuan, dan berbagai benda tumpul yang dapat ditulis. Zaid diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk menulis wahyu (baca; Alquran) karena banyak penghafal Alquran yang gugur di medan pertempuran saat berjihad melawan kaum Quraisy. Dikhawatirkan bila wahyu tidak ditulis, Alquran akan lenyap dalam pandangan kasat mata kaum muslim. Meski Allah sudah secara tegas akan menjaga Alquran namun usaha menuliskan wahyu merupakan ijtihad yang luar biasa pada saat itu.

Kegiatan tulis menulis Zaid bin Tsabit adalah kegiatan jurnalistik karena terkait dengan dunia tulis-menulis. Dunia tulis-menulis tentu saja dekat dengan dunia kewartawanan. Kepandaian yang dimiliki Zaid seharusnya dapat dijadikan modal dasar bagi kita yang ingin menggeluti dunia wartawan.