Jumat, tanggal 8 bulan 8 tahun 2008, 12 parpol mendeklarasikan pasangan Bakal Calon Walikota/Wakil Walikota Tangerang Wahidin Halim-Arief Wismansyah.Deklarasi dihadiri ribuan massa yang penuh sesak dengan yel-yel kemenangan. Setelah deklarasi, pasangan ini mendaftar ke KPU Kota Tangerang. Sementara pada bagian lain, di hari yang sama, PKS juga unjuk gigi. Parpol bernomor 8 ini juga mendaftarkan Bonie Mufidjar-Diedi Farid Wajdy sebagai pasangan bakal calon walikota/wakil walikota ke KPU Kota Tangerang. Bila Wahidin-Arief diusung 12 parpol, Bonnie-Diedi hanya diusung parpol tunggal yaitu PKS, sebuah parpol yang punya mesin politik cukup baik.

Namun tulisan ini hanya ingin mengulas fenomena Wahidin dengan 12 parpolnya. Kenapa Wahidin menggandeng Arief Wismansyah, Direktur Sari Asih Grup? Bukankah Wahidin diusung 12 parpol? Lalu di mana tokoh-tokoh politik di 12 parpol pengusung? Kenapa mereka tidak berani unjuk kemampuan untuk mendampingi Wahidin? Bukankah tokoh politik yang tersebar di 12 parpol pengusung memiliki peluang yang sangat besar ketimbang seorang Arief?.

Sederet pertanyaan itu muncul saat penulis membaca berita di berbagai media massa saat deklarasai pasangan ini, Jumat (8/8). Penulis tergoda untuk menulis lantaran ada persoalan menarik yang menyertai dipilihnya Arief Wismansyah sebagai pendamping Wahidin.

Selama ini, penulis tidak mengenal sama sekali sosok Arief secara detil. Penulis hanya mengenal Arief sebagai pengusaha muda yang sukses. Itu pun dari pemberitaan sebelumnya di media massa. Hingga kemarin, tidak ada catatan buruk yang menyertai langkah Arief dalam berbisnis.

Dipilihnya Arief sebagai pendamping Wahidin menurut penulis ada beberapa faktor penting yang menyertai. Namun faktor yang sangat dominan adalah faktor praktis-pragmatis.

Disebut praktis-pragmatis karena untuk menghindari perpecahan di antara parpol pengusung. Bayangkan, ada 12 parpol yang mengusung Wahidin. Bila ada satu parpol yang mengajukan kader atau pengurus menjadi pendamping Wahidin, tentu akan membuat parpol pengusung yang lain ‘iri’. Hal itu yang akan membuat perpecahan dan tidak kondusif di antara parpol pengusung. Menyadari hal itu, sejak jauh-jauh hari parpol pengusung akhirnya menyerahkan sepenuhnya kepada Wahidn untuk menentukan pilihan.

Wahidin diberi kebebasan menentukan sikap. Dan sikap yang diambil Wahidin pun sangat cermat dengan memerhatikan psikologis 12 parpol pengusung. Wahidin tahu bila memilih kader atau pengurus parpol pengusung sebagai pendamping akan membuat yang lain marah besar. Ini tentu tidak menguntungkan bagi Wahidin secara politik. Lantaran itu akhirnya Wahidin memilih jalan moderat, memilih Arief Wismansyah. Dalam kasus ini, ijtihad politik Wahidin layak diacungkan jempol.

Namun dipilihnya Arief Wismansyah juga tidak seutuhnya pilihan Wahidin. Menurut penulis, ada juga peran parpol atau pihak ketiga yang menjadi penyambung antara Wahidin-Arief. Peran-peran ini yang disebut sebagai lobi politik yang kelak harus dibayar dengan pertaruhan integritas calon.

Tidak ingin pecah gara-gara parpol iri dan tidak ingin rugi secara politik adalah pilihan-pilihan politik yang bersifat praktis-pragmatis. Sikap ini kadang diperlukan dalam kondisi yang sulit untuk menghadapi pesta demokrasi lima tahunan. Sikap ini kadang diperlukan untuk menjaga harmonisasi di antara parpol pengusung.

Namun sikap praktis-pragmatis tentu harus dibayar mahal secara finansial. Setidaknya, Arief tidak langsung lepas tangan setelah namanya diusung menjadi pendamping Arief. Arief tentu harus mengeluarkan cost lebih besar lagi untuk menghadapi Pilkada. Penulis tidak tahu apakah ada juga cost untuk 12 parpol pengusung. Kalau yang terakhir ini, ada tentu beban cost politik bertambah. Itulah realitas politik yang harus dihadapi pengusaha muda saat terjun dalam dunia lain, dunia politik yang penuh dengan jungkir balik.

 

PELAJARAN KAUM MUDA

Munculnya Arief di pentas politik Kota Tangerang dapat menjadi pembelajaran mahapenting bagi kaum muda di Banten. Tidak semua kaum muda dapat mudah melenggang dalam Pilkada atau juga Pemilu. Kaum muda hanya dapat berjalan mulus maju bila didukng oleh kekuatan finansial yang besar. Kecerdasan, tampang, atau popularitas, tidak cukup untuk mengantarkan kaum muda ke pentas Pilkada atau Pemilu sekalipun. Jadi, rumusan sederhananya, bila ingin sukses dalam pentas politik harus kaya dulu, harus punya finansial dulu. Tanpa punya modal mahapenting itu, jangan mimpi bisa bersaing. Sebab tidak ada sesuatu yang gratis dalam dunia politik. Semuanya harus dibayar dengan mahal.

Lalu, bagaimana menjadi kaya? Tentu harus berbisnis dan menjadi pengusaha dulu. Sebab tidak ada orang yang kaya mendadak tanpa proses pahit. Terpaan proses menjadi pengusaha juga dapat dijadikan modal untuk kepemimpinan kelak bila terpilih.

Wahidin adalah sosok birokrat. Arief sosok muda yang dikenal sebagai pengusaha sukses. Keduanya tidak dikenal lewat aktivitas politik. Keduanya lebih banyak dikenal lewat aktivitas masing-masing sebagai pribadi-pribadi.

Apakah duet ini cukup ampuh untuk menyihir masyarakat Kota Tangerang untuk memilih Wahidin-Arief? Tidak mudah menjawabnya. Namun di tengah pertanyaan itu, ada keuntungan politik yang sebenarnya dapat diambil oleh PKS. (*)

 

**Tulisan ini dibuat sebelum Pilkada Kota Tangerang berlangsung.

##Tulisan ini pernah dimuat di Radar Banten