Januari 2009


Selasa (20/1) malam, saat mengantar istri untuk melahirkan di sebuah rumah sakit bersalian ibu dan anak di Kota Serang, saya bertemu dengan sepasang suami istri yang tampak kusam. Wajah mereka tidak secerah orang lain, yang saat itu juga tampak lalu lalang di rumah sakit bersalin ini.

Dengan langkah pelan-pelan, saya mendekati sepasang suami istri tersebut setelah sebelumnya saya mengantarkan istri masuk ruangan (alhamdulillah kamar VIP) untuk menginap karena besok pagi (Rabu, 21/1) harus menjalani operasi cesar. Sang suami, sebut saja namanya Ahmad, langsung menyambut saya dengan ramah meski wajahnya tetap murung. Sementara istrinya, sebut saja namanya Siti, juga ikut tersenyum dengan kedatangan saya yang tiba-tiba. Saat itu kami sempat  terlibat obrolan santai di halaman rumah sakit ini walaupun materi pembicarannya agak berat karena menyangkut kehidupan.

“Lagi nganter istri, Pak,” tanya Ahmad duluan dengan nada biasa. “Ya. Kalau bapak mau apa, mau mengantar istri melahirkan juga ya?” tanya saya saat melihat Siti memegang perutnya yang sudah tampak membesar. Perkiraan saya saat itu, usia kandungan Siti mungkin sudah jalan sembilan bulan karena wanita berkerudung ini terlihat sangat kelelahan.

Mendengar pertanyaan saya itu, Ahmad tidak langsung menjawab. Ia hanya melirik istrinya, sambil mengangguk pelan. Sementara Siti hanya tertunduk lesu. “Iya sih,” kata Ahmad dengan nada agak malu-malu.

“Emang, kalau melahirkan di sini (rumah sakit bersalin swasta), berapa ongkosnya? tanya Ahmad bersemangat.  Saya tidak kontan menjawab pertanyaan itu. Saya kembali mengingat-ngingat sodoran harga untuk bersalin rumah sakit swasta ini tiga hari sebelum saya mengantar istri untuk melahirkan. Saat itu, suster menyodorkan buku yang memuat daftar biaya persalinan yang variatif. “Ada yang kelas VIP, ada juga yang kelas biasa,” kata suster kepada saya, kala itu.

Saya lalu meminta rincian pembiayaan di atas buku yang dipegang suster tersebut dengan harapan biar tambah gamblang. Saat itu saya melihat bahwa kelas VIP harganya Rp 10 juta lebih, kelas biasa (kelas I dan II) di kisaran Rp 6 jutaan. “Tapi itu belum termasuk obat-obatan,” jelas suster. Lalu dia menyambung, “Kalau kelas VIP, satu kamar satu pasien. Ada tivi dan kulkas. Kelas biasa, satu kamar bisa disi oleh dua-tiga pasien.”

Saya sedikit terperangah mendengar jawaban sang suster yang jelita ini. “Jadi kalau dengan obat-obatan, total biayanya berapa,” tanya saya penasaran. “Ya sekitar Rp 16 jutaan untuk kelas VIP dan Rp 13 jutaan untuk kelas biasa,” jawab suster. Saya agak terkejut. Saya menundukkan muka, sambil mengamati angka-angka rupiah di atas buku yang saya pegang. Hati kecil saya bergetar. “Kok mahal banget ya,” ngebathin hati saya. Untuk menghindari keterkejutan saya itu, saya bolak-balik buku daftar harga persalinan itu dengan pura-pura membaca agar tidak terlihat saya resah. “Ya, sudah terima kasih, Sus,” kata saya sebelum pamit pulang.

“Kok melamun, Pak? Jadi berapa biayanya,” ucap Ahmad mengulangi pertanyaan sambil memegang pundak saya dan langsung membuyarkan ingatan saya perihal biaya persalinan di rumah sakit bersalin ini. “Oh…ya…ya…” jawab saya agak gugup.

“Biayanya sih kata suster beda-beda Pak. Kalau kelas VIP sekira Rp 16 jutaan dan kelas biasa Rp 13 jutaan,” jawab saya pelan sambil memandangi wajah Ahmad dan istrinya. Saat itu, saya melihat jelas bahwa wajah Ahmad dan istrinya tidak bersemangat mendengar jawaban yang keluar dari mulut saya. Tampaknya mereka berharap agar jawaban saya dapat memuaskan hati mereka berdua. Namun tampaknya tidak. Jawaban polos saya itu malah membuat mereka tambah murung, sedih, dan tidak berkata apa-apa. Suasana pun seketika hening, meski di ruang tunggu banyak orang yang lalu lalang membeli obat-obatan yang harganya mencapai ratusan ribu rupiah.

Ahmad dan Siti hanya saling pandang. “Oh…” lirih sang Ahmad yang juga diikuti oleh sang istri. “Terima kasih ya, Pak,” kata Siti kepada saya sambil memegang tangan suaminya erat-erat untuk mengajak pulang. Ada perasaan getir di hati mereka mendengar jawaban saya itu. Saya pun tidak dapat mencegah mereka untuk pulang. Padahal saat itu saya ingin mengobrol lebih panjang lagi. Namun mereka sudah beranjak pulang dengan berjalan kaki. Saya juga melihat Ahmad menuntun istrinya dengan sangat hati-hati. Sesekali terdengar, sang istri batuk-batuk. Hingga sampai di gerbang pintu rumah sakit, pasangan suami istri ini pun tidak terlihat lagi. Entah naik apa mereka untuk pulang ke rumah.

Hilang dari pandangan saya, membuat saya masih penasaran dengan pasangan suami istri itu. Lalu saya menghampiri salah satu satpam rumah sakit swasta ini yang kebetulan sedari tadi hadir mendengarkan pembicaraan kami bertiga. “Pak kalau yang tadi, pasangan suami istri itu memang rutin periksa kandungan di sini,” tanya saya. “Saya tidak tahu, tapi sepanjang saya tugas di sini belum pernah lihat pasangan suami istri itu,” jawab satpam. “Oh, gitu, ya sudah terima kasih Pak.”

Rabu (21/1), sekira pukul 09.48 WIB alhamdulillah istri saya melahirkan dengan selamat lewat cesar. Bayinya perempuan dengan berat 2,9 kilo dengan panjang 49 cm. “Alhamdulillah,” ucap saya berulang-ulang. Tidak lama kemudian, saya dipanggil suster untuk menemui bayi saya di ruangan bayi yang sangat bersih. Ubin dan temboknya warna putih. Saya langsung dipersilakan masuk dengan terlebih dulu memakai baju khusus. “Silakan diazanin,” kata suster ramah. Saya pun dengan antusias melantunkan azan di telinga kanan dan kiri sang bayi perempuan saya ini. Usai azan, saya langsung berdoa kepada Allah SWT agar bayi ini dijadikan anak yang sholehah. “amin,” ucap hati saya berulang kali.

Sabtu (24/1) sekira pukul 10.00 WIB, saya yang tidur di rumah mendapat SMS dari istri yang mengabarkan boleh pulang ke rumah. Saya pun langsung menuju ke rumah sakit bersama Syawla, anak pertama saya.  Setelah ketemu dengan istri, saya berusaha menegaskan isi SMS itu. “Ya, boleh pulang kok sekarang,” kata istri saya. “Ya, sudah” jawab saya. Lalu saya keluar ruangan sebentar untuk mengajak Syawla yang minta jajan. Belum sampai di kantin rumah sakit ini, saya mendapat SMS kembali dari istri. “Yah, disuruh ke kasir. Cepetan,” tulis istri lewat SMS.  Setelah usai mengantar Syawla membeli cokelat, saya menuju lokasi kasir. Saya menemui sang kasir dan mengatakan bahwa istri saya mau pulang dan saya disuruh ke kasir. “Silakan tunggu dulu, Pak. Nanti juga dipanggil,” kata sang kasir.

Tidak lama kemudian, saya dipanggil untuk maju ke depan kaca kasir. Saya disodorkan kuitansi dan rincian pembiayaan selama empat hari persalinan. “Biayanya Rp 15.841.000,” kata kasir. Saya langsung was-was karena khawatir uang tidak mencukupi. Benar saja. Ternyata uang yang saya bawa di dalam tas kecil tidak cukup. Saya cuma membawa uang Rp 15.500.000. “ya, terima kasih suster, nanti saya kembali lagi ke sini,” kata saya terburu-buru kembali ke kamar tempat istri menginap. “Mah, uangnya kurang. Mamah, masih ada tidak,” Lalu istri saya sibuk membuka tas satu per satu dan beberapa amplop pemberian teman saya yang datang menjenguk. “Nih ada Rp 400 ribu.” Tanpa banyak bicara lagi, saya ambil uang yang disodorkan istri saya itu. Saya bergegas ke kasir dan memberikan uang sejumlah yang diminta, Rp 15.841.000. Akhirnya sekitar pukul 13.00 WIB, saya, istri, Syawla, dan bayi pun diperbolehkan pulang setelah melunasi biaya persalinan yang jumlahnya puluhan juta itu. Dalam hati, saya sangat bersyukur karena punya mertua yang baik yang mau membantu biaya persalinan selama di rumah sakit. Tanpa bantuan dari mertua itu, rasanya sangat sulit saya harus membayar biaya persalinan hingga Rp 15.841.000. Sebab gaji bulanan saya hanya cukup untuk membayar kreditan rumah, kreditan springbed, beli susu Syawla dan makan sehari-hari. “Alhamdulillah.”

 

_____

 

Sesampai di rumah dan hingga saat ini, saya tidak habis pikir, segitu mahalkah biaya melahirkan di rumah sakit swasta di Kota Serang. Bagaimana dengan Ahmad-Siti, pasangan suami istri yang saya temui sesaat sebelum istri saya melahirkan. Bagaimana nasib ribuan warga yang juga kurang beruntung. Saya yakin, mereka tidak akan sanggup untuk membayar biaya persalinan ini. Mereka akan memilih dukun beranak di kampung-kampung yang biayanya tidak melangit meski harus menanggung risiko cukup besar, antara hidup dan mati. Seolah-olah ada pameo, ‘Orang Miskin Dilarang Bersalin di RS Swasta.”

Di sela-sela waktu bekerja, saya pun masih mencari kabar, Ahmad dan Siti. Sebab saya penasaran saja dengan kabar mereka, yang saya kenal sangat sederhana namun tetap bersahaja.

Saat saya melintas di salah satu jalan perkampungan di Serang, saya melihat warga berkerumun di sebuah rumah sederhana. Kerumunan itu tidak menarik saya untuk berhenti, karena ada bendera kuning di pohon di dekat rumah sederhana tersebut. “Ada yang meninggal,” ucap bathin saya. Sepintas saya melihat, di sela-sela kerumunan itu tampak Ahmad dengan wajah sembab. Dia pun terlihat masih sesungukan menangis dan tampak sangat berduka. Namun kali ini Ahmad yang memakai peci warna hitam tidak lagi ditemani Siti, istri tercintanya. Saya ingin sekali menghampiri dan menanyakan kabar. Namun saya tidak sempat karena dikejar tugas dari kantor. Apa yang sebenarnya terjadi?

 

 

Serang, Rabu (28/1/2009), pukul 22.30 WIB.

 

 

 

Menjelang akhir Januari 2009 ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa berbau politik. Lembaga milik umat ini telah mengeluarkan fatwa tegas bahwa golput (tidak memilih dalam pemilu dengan kesadaran sendiri) adalah haram. MUI mengarahkan agar umat tetap mencontreng dalam pemilu untuk memilih caleg yang baik.

Kontan, fatwa itu pun ditanggapi beragam. Berbagai komentar dari para pengamat politik dan akademisi keluar untuk menanggapi fatwa MUI ini. Ada yang sependapat ada juga yang menentang. Bagaimana menurut kalian?

Kalau menurut saya sih, fatwa haram golput itu terlalu berlebihan dan tidak akan berpengaruh banyak. Sebab, umumnya masyarakat yang memilih golput kalangan menengah ke atas yang kadangkala cuek dengan MUI. Fatwa haram golput ini pun tidak serta merta dapat meningkatkan partisipasi pemilih muslim dalam pemilu. Tentunya, masih banyak masyarakat muslim yang akan tetap memilih golput sebagai pilihan politiknya. Dengan demikian, fatwa haram golput ini tidak akan dihiraukan, bahkan dicuekin. Kalau sudah begitu, di mana reputasi MUI sebagai lembaga tempat berkumpulnya para ulama? Di mana integritas MUI sebagai lembaga umat? Oh..

 

JANGAN BERNILAI TEOLOGIS

 Saya memang dapat memahami fatwa haram golput oleh MUI sebagai langkah agar caleg muslim terpilih. Terlepas dari strategis atau tidaknya langkah itu, tapi menurut saya sebaiknya fatwa haram golput itu jangan bernilai teologis sehingga kalau ada orang yang memilih golput seolah-olah hukumnya dosa. Fatwa haram golput sebaiknya bernilai sosial saja dan tidak berkaitan dengan dosa. Jadi, jika yang golput dinilai berdosa dan kurang islami berdasarkan fatwa MUI itu, maka fatwa itu telah menjadi saingan agama. Sebab menurut agama, orang yang baik itu bukan karena golput atau tidak tapi karena beriman kepada Allah SWT, rasul, hari akhir, dan beramal saleh. (*)

 

 

 

 

termehek-mehek3Setiap saban malam minggu dan malam senin, pemirsa televisi disuguhkan tayangan anyar (baca: baru) yang mengaduk-aduk perasaan. Tayangan itu adalah Termehek-mehek di TransTV yang ditayangkan mulai pukul 18.15-19.00 WIB. Kabarnya, tayangan ini memiliki rating tertinggi dengan tayangan serupa di banyak televisi kita.

Setiap episodenya, Termehek-mehek selalu menayangkan kisah-kisah pencarian orang, baik itu orangtua, suami/istri, teman, bekas pacar, saudara, dan sebagainya. Alur ceritanya pun menarik dan membuat pemirsa penasaran. Dan yang lebih penting dari itu semua, tayangan ini mampu mengaduk-aduk perasaan pemirsa di depan televisi. Inilah tayangan infotainment yang mampu meledak-ledakkan emosi pemirsa.

Namun tulisan ini tidak akan membahas kelebihan Termehek-mehek. Tulisan ini hanya ingin mengutarakan kegelisahan sebagai salah satu penikmat televisi. Sejak tayangan itu tayang, saya selalu memerhatikan setiap rumah di sekitar lokasi saya tinggal. Hampir semua rumah menyetel TransTV untuk menyaksikan Termehek-mehek hingga tuntas, tepat pukul 19.00 WIB.

Yang menggelisahkan adalah dari tayangan itu adalah Termehek-mehek dimulai saat azan Magrib berkumandang, yakni sekitar pukul 18.17 WIB. Saat azan berkumandang mengalun merdu, kita masih duduk manis di depan televisi. Bukannya berangkat ke kamar mandi untuk berwudhu dan segera ke masjid atau musola untuk melaksanakan salat magrib, kita malah menanti tayangan Termehek-mehek. Kita masih dibuat penasaran oleh cerita Termehek-mehek, karena sebelumnya tayangan ini sempat diiklankan yang memunculkan kepenasaran karena yang diiklankan saat konflik membuncah.

Suara azan tidak mampu mengalahkan kita untuk bergerak segera menghadap Allah Yang Maha Perkasa. Ternyata, sihir Termehek-mehek malah lebih kuat untuk menahan kita duduk di depan televisi. Apakah saat ini memang telah terjadi krisis spiritual? Atau memang televisi (atau tepatnya produser acara) yang secara diam-diam sengaja membius kita untuk melalaikan kewajiban kita kepada Sang Khalik?. Wallahualamu Bis Showab

 

Serang, 18/1/2009, pukul 20.00 WIB.

 

 

Kemahaperkasaan Tuhan kembali terjadi. Kapal Airbus 320 milik Amerika Serikat terjatuh ke sungai Hudson, Kamis (15/1), gara-gara menabrak seekor burung. Beruntung, 155 penumpang dan awak pesawat yang nyemplung ke sungai beku itu selamat.

Pesawat ini nyemplung ke Sungai Hudson yang membeku, tidak jauh dari pusat kota Manhattan yang padat gedung-gedung tinggi. Meski tidak ada korban jiwa, ada satu penumpang yang patah kaki penumpang mengalami cedera kecil.

US Airways nomor penerbangan 1549 itu lepas landas dari Bandara LaGuardia, New York, menuju ke Charlotte, North Carolina, pukul 15.26, Kamis (15/1) waktu setempat atau sekitar pukul 05.26, Jumat dini hari (16/1) WIB. Setelah satu menit terbang, pilot melaporkan adanya ’’serangan burung terhadap dua mesin’’  dan meminta izin untuk kembali ke darat. Tapi, upaya pilot itu diurungkan dan dia memilih mendaratkan pesawatnya ke Sungai Hudson.

Keputusan tersebut ternyata tepat. Permukaan Sungai Hudson yang saat itu bersuhu 1 derajat celsius mampu mencegah benturan keras ke bodi pesawat. Selain itu, dalam hitungan menit, perahu karet tim SAR dan paramedis New York datang melakukan pertolongan. Meskipun shock, penumpang pesawat US Airways hanya merasa kedinginan dan mereka bersyukur semua bisa selamat.

Dari peristiwa itu dapat diambil hikmahnya bahwa manusia yang memiliki teknologi secanggih apa pun tidak ada artinya melawan kekuasaan Tuhan. Oleh karena itu sangat tidak pantas bila kita sombong atas pengetahuan yang kita miliki. Sejatinya manusia itu, harus selalu rendah hati karena ilmu yang kita miliki sangat kecil, tidak seberapa bila dibandingkan dengan kekuasaan Tuhan. Ilmu pengetahuan yang kita miliki ibarat setetes air di lautan yang sangat luas. Subhanallah. (*)US-US-AIRWAYS-PA

 

 

Militer Israel menuai buah dari sikap brutalnya di Jalur Gaza. Menghabisi nyawa hingga hampir seribu jiwa tanpa pandang bulu, menggunakan cara-cara anarkis dan cuek melanggar hukum perang internasional memancing kedongkolan PBB dan organisasi kemanusiaan dunia. Selasa (13/1), para pejabat senior PBB dan berbagai organisasi kemanusiaan dunia meminta didirikan lembaga independen untuk menyelidiki kasus kejahatan perang internasional yang telah diperbuat serdadu Israel selama invasi ke Gaza.

Salah satu yang paling menyayat hati dari sekian bentuk kebiadaban Israel adalah penembakan terhadap sekitar 110 warga sipil Palestina yang meringkuk dalam satu rumah di Zeitun, dekat Kota Gaza pada 4 Januari lalu. Setidaknya 40 jiwa tewas kala itu. Lainnya, secara brutal, serdadu Israel memberondongkan peluru ke sekolah PBB di Gaza. Sekitar 30 lebih tewas. Kebanyakan anak-anak dan perempuan. ’’Memang seharusnya ada investigasi terhadap setiap tindakan yang melanggar hukum internasional,’’ kata John Ging, kepala badan PBB untuk pengungsi Palestina di Gaza seperti dilansir Guardian.

Beberapa contoh pelanggaran militer Israel di Gaza yang berhasil dipungut sejumlah organisasi kemanusiaan antara lain; menggunakan senjata-senjata berbahaya yang mengancam keamanan warga sipil, menggunakan senjata terlarang seperti bom phosphorus, memasang keluarga Palestina sebagai tameng, menyerang fasilitas medis dan menewaskan setidaknya 12 pegawai ambulans dan membunuh sejumlah besar anggota polisi yang tak punya peran militer.

Amnesty Internasional (AI) mengatakan, memberondongkan senjata ke warga sipil dan dan meledakkan bom di pemukiman penduduk jelas adalah sebuah kejahatan perang paling besar. ’’Mereka secara ekstrim menggunakan peluru canggih yang menembak sasaran dengan tepat dan melemparkan bom ke rumah warga yang mereka tahu didalamnya ada anak-anak dan perempuan. Ini sangat sangat melanggar hukum internasional,’’ kata Donatella Rovera, penyidik AI di Israel.

Bagaimana pendapat kalian?

1-atribut-parpol-di-tertibkanSenin (12/1), tim gabungan penertiban yang terdiri dari anggota Panwaslu Banten, Satpol PP Banten, dan aparat kepolisian menertibkan atribut kampanye di jalur-jalur protokol Kota Serang. Dari hasil penyisiran, tim mengamankan puluhan atribut kampanye milik parpol, caleg dan beberapa poster calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Namun ada yang kurang sedap dalam penertiban itu. Sebab baliho raksasa bergambar Andik Hazrumy, calon DPD yang juga anak gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, tidak disentuh. Baliho raksasa Andika yang berada persis di dekat Alun-alun dan Jalan Ahmad Yani (jalan ini masuk jalan protokol yang dilarang pemasangan atribut kampanye) dibiarkan masih berdiri tegak. Selain baliho raksasa Andika, masih ada satu lagi baliho raksasa yang juga dibiarkan masih berdiri kokoh yaitu spanduk raksasa bergambar bapak Andika, Hikmat Tomet. Hikmat adalah caleg DPR RI nomor urut satu dari Partai Golkar.

Usai penertiban kira-kira pukul 16.40 WIB, beberapa kalangan mulai dari kalangan parpol, aktivis LSM, akademisi, dan sebagian warga yang peduli langsung mengirimkan SMS kepada saya. Mereka menilai masih berdirinya baliho raksasa bergambar wajah bapak dan anak itu tentu menimbulkan kecemburuan dan melukai rasa keadilan. “Kenapa masih ada diskriminasi dalam politik di Banten?” tulis salah satu SMS yang dikirimkan kepada saya, Senin (12/1) sore. Masih banyak SMS senada yang mempertanyakan ketegasan Panwaslu. Nah?

Kata ayam, lagi populer-populernya di keluarga kami. Yang ngucapin, tentu anak saya, Syawla El R (3,3). Anak pertama saya itu, kerapkali mengucapkan lafal ayam saat mencandai saya-juga mamahnya- dan teman-teman seusianya saat bermain di sekeliling rumah.

Di mana dia mendapatkan lafal itu. Ah, ternyata anak perempuan saya itu nonton acara Happy Family yang tayang di TransTV saban malam minggu dan malam senin. Syawla kalau nonton tivi, kadang ditemani sama om-nya atau mamahnya. Tapi, sering juga dia nonton sendirian dan tertawa geli saat mamahnya lagi istirahat di kamar.

Di acara itu, ada Ruben Onsu yang menjadi host-nya. Di sela-sela menjahili bintang tamunya, biasanya Ruben juga dijahili oleh si bintang tamu. Saat dijahili itu, Ruben sering kaget dan latahan. Dan kata-kata yang keluar dari mulut Ruben adalah, “Ayamm…ayam..ayamm.. eh ayam…”. Sejak itu, anak saya yang akan punya adik ini, pun mengucapkan kata-kata ayam, tentu saja dengan gayanya yang centil dan menggemaskan. Kadang ia sambil ruben-dalammenjatuhkan diri ke lantai (berguling maksudnya) untuk menirukan gaya Ruben yang kadangkala juga terjatuh karena kesandung saat dijahili sang bintang di tivi. Kalau lagi main sama teman-temannya, Syawla mencandai dengan kata-kata ayam itu yang juga diikuti oleh teman-temannya. Masih untung kata ayam…(*)

 

Minggu (11/1/2009) malam, pukul 21.45 WIB

 

 

 

 

 

Laman Berikutnya »