(Tulisan ini didedikasikan untuk kemerdekaan dan kedamaian (freedom and pecae)

 

 

Sejak pasukan Israel membombardir jalur Gaza, Palestina, sepekan lalu hingga kemarin (Minggu, 4/1), aksi solidaritas tumbuhkembang. Di belahan dunia-mulai dari Eropa, Afrika, Asia, hingga Timur-tengah-seluruh lapisan masyarakat dari berbagai ras dan agama mengutuk Israel. Mereka mendesak kepada PBB agar mengeluarkan resolusi untuk menekan Israel agar menghentikan serangan ke Gaza. Sebab akibat serangan itu, ratusan (hampir menembus angka 500) warga Palestina-kebanyakan anak-anak-tewas. Serangan Israel ini juga dinilai sebagai real terrorist yang sangat membahayakan bagi kemanusiaan di muka bumi.

Israel membombardir Gaza tentu tanpa sebab. Dipastikan negara Yahudi itu mendapat sokongan kuat dari sekutu terdekatnya, Amerika Serikat dan Inggris. Nyatanya, dua negara itu yang menggagalkan resolusi PBB untuk memberikan sanksi kepada Israel.

Tingkah Amerika tentu membuat kita terluka melebihi dari luka apa pun. Sebab, saat berlangsung pemilihan presiden Amerika pada akhir 2008, hampir seluruh masyarakat Indonesia mendukung kandidat Barack Obama. Alasannya sangat simple. Obama pernah sekolah di Menteng, Jakarta. Obama juga dekat dengan kalangan Islam karena ayahnya, Husein Obama, adalah seorang muslim asal Kenya.

Saat Obama terpilih sebagai presiden Amerika, Indonesia langsung menyambut gembira. Ada harapan baru bahwa Amerika di bawah kepemimpinan Obama akan membawa perubahan, terutama hubungan antara Barat dengan dunia Islam. Tapi apa yang terjadi? Diluar dugaan. Obama tidak dapat menghentikan serangan Israel. Obama malah terkesan membiarkan serangan biadab Israel tersebut yang akan berdampak makin buruknya hubungan Barat dengan dunia Islam. Hal itu yang membuat harapan besar kepada Obama pun sirna seiring sikap Obama yang tidak berpihak kepada perdamaian di Palestina.

Jadi, sudah kita lupakan saja Obama. Jangan lagi menaruh harapan kepada presiden muda itu. Sangat tidak etis menaruh harapan, sementara Obama sendiri malah memalingkan muka dari kita. Bahkan Obama pun terkesan mendukung serangan Israel ke Gaza.

Kita harus belajar untuk mandiri dan tidak tergantung kepada Amerika. Kita selesaikan konflik di Palestina dengan pendekatan kemanusiaan selama kita sanggup. Menggalang dana kemanusiaan, mendesak dunia dan PBB untuk berperan lebih aktif untuk menekan Israel harus terus dilakukan. Dukungan dunia lebih penting daripada dukungan Obama dan amerikanya.  

Selama dunia masih ada, selama itu juga masih ada harapan baru lahir di jalur Gaza. Dan harapan bisa datang dari mana saja. Kita membela Gaza, bukan karena ideologis dan emosi keagamaan. Kita mendukung Gaza karena ada pembantaian di sana. Pembantaian umat manusia dengan dasar apa pun sangat tidak dibenarkan. Dalam ajaran agama, membunuh orang tanpa sebab adalah perbuatan keji yang harus dicegah. Dan selama kita sanggup untuk mencegah-lewat apa pun-maka terus saja kita berjuang dengan kemampuan dan kesanggupan masing-masing. Jadi, persoalan Gaza adalah persoalan kemanusiaan. Selamat berjuang, berjuang, dan berjuang. (*)