Tekanan dunia internasional agar Israel menghentikan agresi di Jalur Gaza, Palestina, diindikasikan membawa hasil. Memasuki hari kedua belas penyerbuan Israel, Rabu (7/1), Israel menyatakan mulai mempertimbangkan usul gencatan senjata dari berbagai pihak.

 Bahkan, sebagai langkah awal, Israel menghentikan serangan di Gaza selama tiga jam setiap hari mulai kemarin. Keputusan yang mereka sebut ’’koridor kemanusiaan’’ itu dilakukan untuk memberi kesempatan kepada bantuan kemanusiaan agar bisa masuk ke Gaza.

 ’’Jeda itu dilakukan mulai pukul 13.00 sampai 16.00 waktu setempat (18.00–21.00 WIB) untuk memberi kesempatan bagi warga memperoleh persediaan makanan, bahan bakar, obat, dan bantuan lainnya,’’ kata Juru Bicara Militer Israel Avital Liebovich.

 Hamas juga menerima langkah jeda perang oleh Israel. Wakil pemimpin Hamas Moussa Abu Marzouk menyatakan, selama tiga jam itu, pihaknya tidak akan meluncurkan roket atau serangan apa pun ke Israel. ’’Kami menghormati jeda tiga jam itu,’’ ujarnya kepada stasiun TV Al Arabiya.

 Israel juga sedang mempertimbangkan usul gencatan senjata yang diajukan Mesir dan Prancis. Tidak banyak rincian resmi yang dikeluarkan tentang isi proposal damai tersebut.

 Namun, sumber dari para diplomat mengungkapkan, usul itu berkisar tentang tuntutan Israel untuk menghentikan serangan roket ke Israel Selatan dan menghentikan penyelundupan senjata oleh Hamas dari Mesir ke Gaza. Sedangkan Hamas menyatakan perjanjian gencatan senjata harus termasuk penghentian blokade Israel di Jalur Gaza.

 Dalam rencana itu juga diserukan gencatan senjata secepatnya agar bantuan bisa masuk ke Jalur Gaza. Juga, segera diadakan pembicaraan antara Hamas dengan Israel tentang keamanan perbatasan.

 Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice menyambut baik proposal Prancis dan Mesir dengan menyatakan bahwa AS senang dan ingin memuji rencana tersebut. Duta Besar Israel untuk PBB Gabriela Shalev tidak mengungkapkan apakah Israel akan menerima proposal tersebut. Namun, dia menyatakan akan mempertimbangkannya dengan ’’sangat, sangat serius’’.

 Di lain pihak, juru bicara resmi pemerintah Palestina menyatakan bahwa delegasi kelompok Hamas menemui Presiden Mesir Husni Mubarak untuk membahas proposal tersebut. (*)

 

sumber radarbanten