Selasa (20/1) malam, saat mengantar istri untuk melahirkan di sebuah rumah sakit bersalian ibu dan anak di Kota Serang, saya bertemu dengan sepasang suami istri yang tampak kusam. Wajah mereka tidak secerah orang lain, yang saat itu juga tampak lalu lalang di rumah sakit bersalin ini.

Dengan langkah pelan-pelan, saya mendekati sepasang suami istri tersebut setelah sebelumnya saya mengantarkan istri masuk ruangan (alhamdulillah kamar VIP) untuk menginap karena besok pagi (Rabu, 21/1) harus menjalani operasi cesar. Sang suami, sebut saja namanya Ahmad, langsung menyambut saya dengan ramah meski wajahnya tetap murung. Sementara istrinya, sebut saja namanya Siti, juga ikut tersenyum dengan kedatangan saya yang tiba-tiba. Saat itu kami sempat  terlibat obrolan santai di halaman rumah sakit ini walaupun materi pembicarannya agak berat karena menyangkut kehidupan.

“Lagi nganter istri, Pak,” tanya Ahmad duluan dengan nada biasa. “Ya. Kalau bapak mau apa, mau mengantar istri melahirkan juga ya?” tanya saya saat melihat Siti memegang perutnya yang sudah tampak membesar. Perkiraan saya saat itu, usia kandungan Siti mungkin sudah jalan sembilan bulan karena wanita berkerudung ini terlihat sangat kelelahan.

Mendengar pertanyaan saya itu, Ahmad tidak langsung menjawab. Ia hanya melirik istrinya, sambil mengangguk pelan. Sementara Siti hanya tertunduk lesu. “Iya sih,” kata Ahmad dengan nada agak malu-malu.

“Emang, kalau melahirkan di sini (rumah sakit bersalin swasta), berapa ongkosnya? tanya Ahmad bersemangat.  Saya tidak kontan menjawab pertanyaan itu. Saya kembali mengingat-ngingat sodoran harga untuk bersalin rumah sakit swasta ini tiga hari sebelum saya mengantar istri untuk melahirkan. Saat itu, suster menyodorkan buku yang memuat daftar biaya persalinan yang variatif. “Ada yang kelas VIP, ada juga yang kelas biasa,” kata suster kepada saya, kala itu.

Saya lalu meminta rincian pembiayaan di atas buku yang dipegang suster tersebut dengan harapan biar tambah gamblang. Saat itu saya melihat bahwa kelas VIP harganya Rp 10 juta lebih, kelas biasa (kelas I dan II) di kisaran Rp 6 jutaan. “Tapi itu belum termasuk obat-obatan,” jelas suster. Lalu dia menyambung, “Kalau kelas VIP, satu kamar satu pasien. Ada tivi dan kulkas. Kelas biasa, satu kamar bisa disi oleh dua-tiga pasien.”

Saya sedikit terperangah mendengar jawaban sang suster yang jelita ini. “Jadi kalau dengan obat-obatan, total biayanya berapa,” tanya saya penasaran. “Ya sekitar Rp 16 jutaan untuk kelas VIP dan Rp 13 jutaan untuk kelas biasa,” jawab suster. Saya agak terkejut. Saya menundukkan muka, sambil mengamati angka-angka rupiah di atas buku yang saya pegang. Hati kecil saya bergetar. “Kok mahal banget ya,” ngebathin hati saya. Untuk menghindari keterkejutan saya itu, saya bolak-balik buku daftar harga persalinan itu dengan pura-pura membaca agar tidak terlihat saya resah. “Ya, sudah terima kasih, Sus,” kata saya sebelum pamit pulang.

“Kok melamun, Pak? Jadi berapa biayanya,” ucap Ahmad mengulangi pertanyaan sambil memegang pundak saya dan langsung membuyarkan ingatan saya perihal biaya persalinan di rumah sakit bersalin ini. “Oh…ya…ya…” jawab saya agak gugup.

“Biayanya sih kata suster beda-beda Pak. Kalau kelas VIP sekira Rp 16 jutaan dan kelas biasa Rp 13 jutaan,” jawab saya pelan sambil memandangi wajah Ahmad dan istrinya. Saat itu, saya melihat jelas bahwa wajah Ahmad dan istrinya tidak bersemangat mendengar jawaban yang keluar dari mulut saya. Tampaknya mereka berharap agar jawaban saya dapat memuaskan hati mereka berdua. Namun tampaknya tidak. Jawaban polos saya itu malah membuat mereka tambah murung, sedih, dan tidak berkata apa-apa. Suasana pun seketika hening, meski di ruang tunggu banyak orang yang lalu lalang membeli obat-obatan yang harganya mencapai ratusan ribu rupiah.

Ahmad dan Siti hanya saling pandang. “Oh…” lirih sang Ahmad yang juga diikuti oleh sang istri. “Terima kasih ya, Pak,” kata Siti kepada saya sambil memegang tangan suaminya erat-erat untuk mengajak pulang. Ada perasaan getir di hati mereka mendengar jawaban saya itu. Saya pun tidak dapat mencegah mereka untuk pulang. Padahal saat itu saya ingin mengobrol lebih panjang lagi. Namun mereka sudah beranjak pulang dengan berjalan kaki. Saya juga melihat Ahmad menuntun istrinya dengan sangat hati-hati. Sesekali terdengar, sang istri batuk-batuk. Hingga sampai di gerbang pintu rumah sakit, pasangan suami istri ini pun tidak terlihat lagi. Entah naik apa mereka untuk pulang ke rumah.

Hilang dari pandangan saya, membuat saya masih penasaran dengan pasangan suami istri itu. Lalu saya menghampiri salah satu satpam rumah sakit swasta ini yang kebetulan sedari tadi hadir mendengarkan pembicaraan kami bertiga. “Pak kalau yang tadi, pasangan suami istri itu memang rutin periksa kandungan di sini,” tanya saya. “Saya tidak tahu, tapi sepanjang saya tugas di sini belum pernah lihat pasangan suami istri itu,” jawab satpam. “Oh, gitu, ya sudah terima kasih Pak.”

Rabu (21/1), sekira pukul 09.48 WIB alhamdulillah istri saya melahirkan dengan selamat lewat cesar. Bayinya perempuan dengan berat 2,9 kilo dengan panjang 49 cm. “Alhamdulillah,” ucap saya berulang-ulang. Tidak lama kemudian, saya dipanggil suster untuk menemui bayi saya di ruangan bayi yang sangat bersih. Ubin dan temboknya warna putih. Saya langsung dipersilakan masuk dengan terlebih dulu memakai baju khusus. “Silakan diazanin,” kata suster ramah. Saya pun dengan antusias melantunkan azan di telinga kanan dan kiri sang bayi perempuan saya ini. Usai azan, saya langsung berdoa kepada Allah SWT agar bayi ini dijadikan anak yang sholehah. “amin,” ucap hati saya berulang kali.

Sabtu (24/1) sekira pukul 10.00 WIB, saya yang tidur di rumah mendapat SMS dari istri yang mengabarkan boleh pulang ke rumah. Saya pun langsung menuju ke rumah sakit bersama Syawla, anak pertama saya.  Setelah ketemu dengan istri, saya berusaha menegaskan isi SMS itu. “Ya, boleh pulang kok sekarang,” kata istri saya. “Ya, sudah” jawab saya. Lalu saya keluar ruangan sebentar untuk mengajak Syawla yang minta jajan. Belum sampai di kantin rumah sakit ini, saya mendapat SMS kembali dari istri. “Yah, disuruh ke kasir. Cepetan,” tulis istri lewat SMS.  Setelah usai mengantar Syawla membeli cokelat, saya menuju lokasi kasir. Saya menemui sang kasir dan mengatakan bahwa istri saya mau pulang dan saya disuruh ke kasir. “Silakan tunggu dulu, Pak. Nanti juga dipanggil,” kata sang kasir.

Tidak lama kemudian, saya dipanggil untuk maju ke depan kaca kasir. Saya disodorkan kuitansi dan rincian pembiayaan selama empat hari persalinan. “Biayanya Rp 15.841.000,” kata kasir. Saya langsung was-was karena khawatir uang tidak mencukupi. Benar saja. Ternyata uang yang saya bawa di dalam tas kecil tidak cukup. Saya cuma membawa uang Rp 15.500.000. “ya, terima kasih suster, nanti saya kembali lagi ke sini,” kata saya terburu-buru kembali ke kamar tempat istri menginap. “Mah, uangnya kurang. Mamah, masih ada tidak,” Lalu istri saya sibuk membuka tas satu per satu dan beberapa amplop pemberian teman saya yang datang menjenguk. “Nih ada Rp 400 ribu.” Tanpa banyak bicara lagi, saya ambil uang yang disodorkan istri saya itu. Saya bergegas ke kasir dan memberikan uang sejumlah yang diminta, Rp 15.841.000. Akhirnya sekitar pukul 13.00 WIB, saya, istri, Syawla, dan bayi pun diperbolehkan pulang setelah melunasi biaya persalinan yang jumlahnya puluhan juta itu. Dalam hati, saya sangat bersyukur karena punya mertua yang baik yang mau membantu biaya persalinan selama di rumah sakit. Tanpa bantuan dari mertua itu, rasanya sangat sulit saya harus membayar biaya persalinan hingga Rp 15.841.000. Sebab gaji bulanan saya hanya cukup untuk membayar kreditan rumah, kreditan springbed, beli susu Syawla dan makan sehari-hari. “Alhamdulillah.”

 

_____

 

Sesampai di rumah dan hingga saat ini, saya tidak habis pikir, segitu mahalkah biaya melahirkan di rumah sakit swasta di Kota Serang. Bagaimana dengan Ahmad-Siti, pasangan suami istri yang saya temui sesaat sebelum istri saya melahirkan. Bagaimana nasib ribuan warga yang juga kurang beruntung. Saya yakin, mereka tidak akan sanggup untuk membayar biaya persalinan ini. Mereka akan memilih dukun beranak di kampung-kampung yang biayanya tidak melangit meski harus menanggung risiko cukup besar, antara hidup dan mati. Seolah-olah ada pameo, ‘Orang Miskin Dilarang Bersalin di RS Swasta.”

Di sela-sela waktu bekerja, saya pun masih mencari kabar, Ahmad dan Siti. Sebab saya penasaran saja dengan kabar mereka, yang saya kenal sangat sederhana namun tetap bersahaja.

Saat saya melintas di salah satu jalan perkampungan di Serang, saya melihat warga berkerumun di sebuah rumah sederhana. Kerumunan itu tidak menarik saya untuk berhenti, karena ada bendera kuning di pohon di dekat rumah sederhana tersebut. “Ada yang meninggal,” ucap bathin saya. Sepintas saya melihat, di sela-sela kerumunan itu tampak Ahmad dengan wajah sembab. Dia pun terlihat masih sesungukan menangis dan tampak sangat berduka. Namun kali ini Ahmad yang memakai peci warna hitam tidak lagi ditemani Siti, istri tercintanya. Saya ingin sekali menghampiri dan menanyakan kabar. Namun saya tidak sempat karena dikejar tugas dari kantor. Apa yang sebenarnya terjadi?

 

 

Serang, Rabu (28/1/2009), pukul 22.30 WIB.