Februari 2009


1-perdagangan-wanita-8-okeeeeeeeeeLagi-lagi Banten punya cerita hot! Setelah di Cilegon ada penari striptis di sebuah tempat hiburan malam yang melibatkan anak baru gede (ABG), kini giliran Kota Serang yang digegerkan dengan jaringan prostitusi yang melibatkan para pelajar putri. Jaringan ini membidik berbagai kalangan sebagai pelanggan tetap. Pelanggannya tidak hanya masyarakat umum tapi juga kalangan lain yang memiliki banyak duit.

Tarifnya memang lumayan agak mahal. Sekali kencan, pelanggan harus merogoh kocek sebesar Rp 500 ribu-1 juta selama kencan setengah jam. Jaringan ini dikoordinatori oleh seorang mami, yang bernama Mami Yeti Nurhayati, yang masih belia karena masih berumur 21 tahun. Weleh-weleh, kecil-kecil ternyata sudah jadi germo!

Beruntung jaringan seks ini akhirnya tebongkar pada Selasa (23/2) lalu. Polres Serang, Banten, berhasil mengamankan sang germo yang masih belia dan tiga pelajar yang menjadi pekerja seks komersial (PSK) yang melayani para pelanggan. Para pelajar ini ada yang masih duduk di bangku SLTP ada juga yang duduk di bangku SLTA.

Menurut penuturan sang mami di hadapan penyidik polres Serang, para pelanggan dapat memesan ABG hanya lewat handphone. Bila disepakati, sang mami akan mengantarkan beberapa ABG untuk dipilih sang pelanggan. Tapi sebelum itu, pelanggan harus membayar booking dulu sebagai tanda jadi berkencan. Kata mami, sudah melakoni bisnis esek-esek ini selama dua bulan lebih. Dia terpaksa menjalani bisnis basah ini untuk menghidupi keluarga.

Lalu bagaimana dengan sang pelajar yang menjadi jaringan sang mami? Kata mami, biasanya mereka menggunakan uang hasil kencannya itu untuk bersenang-senang. “Ya dipake jajan dan belanja,” ujar mami di hadapan penyidik polres Serang.

 

 

 

PELANGGAN ANGGOTA DEWAN

Tiga pelajar yang menjadi PSK yang masuk jaringan Mami Yeti adalah HS (18), IS (17), dan EN (14). Ketiganya juga memiliki pacar. Tapi keluarga maupun pacar tidak mengetahui profesi sampingan ketiganya.

Menurut keterangan Satuan Reserse Polres Serang, penjual ABG-ABG itu, Yeti Nurhayati (21) tinggal di Krramatwatu, Kabupaten Serang. Dia baru menjalankan perannya sebagai “Mami” ABG-ABG ini sejak dua bulan lalu.

Yeti meneruskan bisnis suaminya, Cecep alias Iwan, asal kawasan Benggala Masjid, Kelurahan Cipare, Kota Serang, yang telah berlangsung tahunan. Cecep alias Iwan telah ditangkap Polda Metro Jaya. Dia menjadi tersangka kasus perdagangan manusia untuk dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial (PSK) di kawasan Kalijodo, Jakarta Utara. 

Diperkirakan, Papi Iwan memiliki anak asuh berjumlah puluhan. Usianya, mulai dari anak-anak yang masih duduk di bangku SMP sampai anak kuliahan di wilayah Serang.

Diperkuat penuturan anggota Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Serang yang melakukan penyamaran ketika kasus ini terungkap pada Selasa (24/2). “Waktu saya transaksi dengan Mami lewat SMS (sort massage service), dia mengaku bisa menyediakan anak-anak ABG sampai kuliahan. Tapi saya minta yang usia SMP dan SMA,” katanya yang enggan namanya dikorankan.

Mengingat Mami Yeti memiliki anak usia 1,5 tahun dan 5 bulan, dia menjalankan kembali bisnis suaminya untuk mencukupi kebutuhan hidup. Mami Yeti tidak sulit memperdagangkan ABG untuk dijadikan PSK lantaran mereka saling kenal ketika Papi Iwan belum dipenjara.

Aturan yang diterapkan Mami Yeti tak beda jauh dengan Papi Iwan. Bagi anak-anak asuhnya yang masih duduk di bangku SMP dan SMA, “jam kerja” diberlakukan mulai pukul 15.00 hingga pukul 21.00. “Ya, biar orangtuanya tidak tahu,” kata Mami Yeti di ruang PPA Satreskrim Polres Serang.

Semenjak ditahan di sel Mapolres Serang, pada Jumat (27/2), Mami Yeti masih diperkenankan menyusui anaknya. Ini memang atas izin Kasat Reskrim Polres Serang Ajun Komisaris Polisi Sofwan Hermanto. Dia memberikan waktu untuk menyusui anaknya mulai pukul 11.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB.

Jam kerja bagi anak-anak SMP dan SMA yang diasuh Mami Yeti itu berlaku pula bagi pelanggannya. Pria hidung belang yang tidak hanya dari masyarakat biasa tidak bisa membooking mereka sebelum kewajibannya sebagai siswi-siswi SMP dan SMA selesai dilakukan.

Jam kerja sejak pukul 15.00 hingga pukul 21.00 itu juga untuk mengelabui pacar-pacar mereka yang tidak mengetahui jika ABG-ABG itu telah diperdagangkan oleh Mami Yeti untuk melayani pria hidung belang.

Hal itu berdasarkan pengakuan EN (14) yang masih tercatat sebagai siswi sebuah SMP swasta di Kota Serang, IS (17) yang masih menjadi siswi sebuah SMA swasta di Kota Serang, dan HS (18), juga siswi SMA swasta di Serang, kepada penyidik.

“Ketika diperiksa, mereka bekerja mulai jam tiga sore setelah pulang sekolah, sampai jam sembian malam agar tidak dicurigai orangtuanya. Mereka juga punya pacar, tapi (pacarnya- red) tidak tahu kalau mereka menjadi PSK,” kata Inspektur Polisi Dua Herlia Hartarani, Kanit PPA Satreskrim Polres Serang. Dikatakannya, EN, IS, dan HS telah dipulangkan ke rumah orangtua mereka masing-masing.

Dari ketiga korban ini, EN merupakan anak asuh Mami Yeti yang paling gress. Di tangan Mami Yeti, EN baru melayani 3 pelanggannya.

Seperti HS yang sedikit lebih lama menjadi PSK ABG, EN nekat terjun ke dunia prostitusi karena didorong faktor ekonomi keluarganya. Anak seusianya yang ingin memakai pakaian, sepatu, dan handphone bagus dan mahal tidak menolak ketika diajak IS dan HS untuk menjadi PSK. Terlebih, keperawanan EN telah direnggut pacarnya.

“Jadi, perekrutannya tidak langsung dilakukan Mami Yeti. EN diajak IS. Kata IS, daripada melayani pacar dan tidak dapat duit, tidak ada salahnya melayani orang lain tapi dapat duit,” terang Herlia.

Menurut Herlia, di antara 3 anak buah Mami Yeti itu, IS yang paling banyak jam terbangnya. Merasakan enaknya uang, membuat siswi kelas 2 SMA ini beberapa minggu tidak masuk sekolah.

Dengan pelayanannya yang lebih dibanding HS dan EN, IS kerap mendapatkan tarif tambahan dari pelanggannya yang tak jarang dari kalangan anggota dewan.

“Dia pernah diajak ke Jakarta oleh anggota dewan, kami tidak tahu dari dewan mana. IS bisa dapat tarif tambahan di luar tarif yang ditentukan Mami Yeti sebesar Rp 500 ribu kalau pelanggannya puas,” ujar Herlia.

Dari penuturan IS, pilihan hidupnya itu didasari oleh kondisi keluarganya. IS merupakan anak pertama dari 3 bersaudara dari sebuah keluarga broken home.

Bapak-ibunya telah bercerai. IS dan kedua adiknya ikut orangtua laki-laki yang pengangguran, sementara ibu kandungnya telah dinikahi oleh seorang pria yang juga pengangguran. Karenanya, IS menjadi tulang punggung bapak dan kedua adik kandungnya. Untuk melancarkan profesi gandanya, IS hidup seorang diri dengan menyewa sebuah kamar kos di Lingkungan Rau, Kota Serang.

 

(tulisan ini dilengkapi dari Radar Banten edisi cetak, 28 Februari 2009)

Foto-foto: Yan Cikal/Radar Banten

 

 

 

          

 

 

Iklan

15-pemilu-41Saat panitia pengawas pemilu (Panwaslu), KPU, dan pemerintah tidak mampu menertibkan baliho raksasa bergambar calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Banten Andika Hazrumy, sekelompok mahasiswa dari KAMMI Banten, berani melawan arus. Aktivis mahasiswa itu menyegel baliho raksasa milik anak gubernur Ratu Atut Chosiyah itu karena tidak ada penertiban yang dilakukan oleh Panwaslu. Padahal jelas-jelas, baliho anak Gubernur Ratu Atut Chosiyah itu berada di zona larangan kampanye yaitu di jalur protokol di Kota Serang.

Namun sayang, aksi yang dilakukan pada Rabu (25/2/2009) atau 42 hari lagi menjelang pemungutan suara itu tidak berlanjut lebih serius lagi. Sebab baliho raksasa milik Hikmat Tomet (ayah Andika Hazrumy) tidak turut disegel. Padahal, baliho raksasa Hikmat Tomet juga melanggar etika kampanye karena sama-sama berada di jalur protokol.

Namun demikian, yang dilakukan oleh aktivis mahasiswa itu patut diapresiasi. Sebab baru kali ini, ada gerakan mahasiswa yang berani melakukan penyegelan terhadap baliho milik anak penguasa di Banten. Sebelumnya mana ada yang berani melakukan aksi senekat itu. Jangankan aktivis mahasiswa, Panwaslu saja tidak berani untuk menyentuh baliho milik Andika dan ayahnya, Hikmat Tomet. Ketidakberanian itu yang membuat lembaga pengawas pemilu itu mendapat cibiran keras dari masyarakat dan aktivis pro-demokrasi karena dinilai tidak punya nyali. Saat penertiban beberapa hari lalu, Panwaslu hanya menertibkan spanduk dan baliho milik caleg lain dan sama sekali tidak menyentuh baliho milik Andika dan Hikmat.

Jadi, yang dilakukan aktivis KAMMI itu merupakan bentuk akumulasi kekesalan karena ketidakberanian dan ketidakberdayaan Panwaslu menegakkan aturan kampanye. Seharusnya dari aksi mahasiswa itu, Panwaslu berpikir ulang dan malu. Malu karena ‘ditelanjangi’ aktivis di hadapan publik atas kemandulannya.

Kalau sampai aksi mahasiswa itu ternyata tidak menggerakkan Panwaslu untuk menertibkan baliho milik Andika dan Hikmat Tomet, maka cibiran masyarakat atas kinerja Panwaslu benar-benar adanya.

 

SEPERTI PANJAT PINANG

Mau tahu bagaimana detik per detik saat aksi penertiban baliho Andika berlangsung. Ceritanya begini. Setelah puas berorasi di depan Puspemkot Serang, beberapa aktivis berusaha mendekati baliho raksasa Andika yang tidak jauh dari Puspemkot Serang. Saking tingginya, mereka harus saling bantu. Mereka harus bergendong-gendongan satu dengan yang lainnya layaknya permainan panjat pinang di hari kemerdekaan Indonesia. Untungnya sih, tidak ada olinya sehingga tidak licin dan mahasiswa tidak berguguran jatuh.

Meski dengan sekuat tenaga, namun mereka tidak berhasil menyentuh gambar Andika. Sebab tiang penyangga baliho ini sangat tinggi. Meski sudah dipaksa beberapa kali, mereka tetap gagal menyentuh sampai atas karena mahasiswa yang ada di bawahnya sudah tidak kuat lagi menahan beban mahasiswa yang berada di atas. Lantaran sudah kelihatan capek, mereka pun dengan susah payah menempelkan karton bertuliskan, “Ini Pelanggaran Coy”  hanya di tiang penyangganya saja. Bukan di gambar Andika. Kartonnya pun terlihat sangat kecil bila dibandingkan dengan baliho Andika.

Gambar Andika di baliho yang tidak berhasil ditempelkan karton itu kalau seumpamanya bisa ngomong mungkin akan bilang kepada para mahasiswa yang ada di bawah, “Weee..Tidak Kena..Kan!!

 

Serang, 25/2/2009

1-bus-dibakar-masa-17Senin (23/2), dua tragedi maut terjadi dua daerah berbeda. Yang pertama di Kota Serang, Bantan, dan yang kedua Kediri, Jawa Timur. Tragedi di Banten terjadi pukul 14.15 WIB yang menewaskan satu pelajar SMPN 1 Curug dan mencederai satu siswa lagi. Korban meninggal adalah Suci Fadilah (14) dan korban luka adalah Siti Hindun (15). Korban tewas saat berboncengan (menggunakan Honda Vario) dengan Siti Hindun mau memfotocopi tugas dari sekolah mereka di depan Gedung DPRD BAnten di Jalan Syeikh Nawawi, Curug, Kota Serang. Saat di tengah perjalanan itu, tiba-tiba bus Asli Prima dari belakang menabrak kendaraan yang ditumpangi korban hingga terseret puluhan meter dari jalan raya. Korban tewas di lokasi kejadian sementara Siti Hindun saat dibawa ke rumah sakit umum daerah Serang dalam keadaan kritis. Massa yang kesal, membakar bus Arimbi. Beruntung para penumpangnya sudah keluar duluan sebelum terpanggang di bara api. Sementara tragedi kedua terjadi di Kediri, Jawa Timur. Kereta api menabrak kendaraan sarat penumpang dan menewaskan tujuh korban tewas, yang kesemuanya adalah penumpang bus. Sungguh tragis memang maut di Senin siang itu. Tapi itulah kejadiannya yang seharusnya membuat kesadaran baru kita tentang keselamatan berkendaraan di jalanan. — Maut, rezeki, jodoh, memang rahasia Allah SWT, yang maha perkasa. Sebagai manusia kita hanya menjalani hidup di muka bumi dengan pasrah (Islam). Namun demikian, pasrah bukan berarti kita tidak bisa berikhtiar. Pasrah dalam pandangan Islam adalah kepasrahan yang tetap rasional dan butuh kerja keras serta perjuangan. Dalam konteks itulah sebenarnya, sekalipun maut dapat kita hindari meski tetap kuasanya ada di tangan Allah. Salah satu ikhtiar untuk menghindari maut, misalnya, saat berkendaraan di jalanan kita harus menaati rambu lalu lintas dan mengenakan helm keselamatan (bagi pengendara motor). Menjaga keselamatan diri dan keluarga juga salah satu spirit Islam. Kita tidak boleh memasrahkan diri dengan tidak melakukan apa-apa. Sekali lagi, jaga keselamatan diri dengan berbagai upaya yang memungkinkan kita terhindar dari kejadian maut yang berakibat fata. Korban tewas Suci Fadilah (14) dan korban luka Siti Hindun, kecelakaan maut di Serang, saat mengendarai motor memang tidak menggunakan helm dan jaket tebal. Padahal, bila keduanya memakai helm, jaket pengaman, mungkin ceritanya akan berbeda dengan saat kejadian itu. Begitu juga sebaliknya. Bila sopir bus Asli Prima, Ujang MT, tidak membawa kendaraannya ugal-ugalan, mungkin cerita juga akan berbalik. Menurut keterangan warga sekitar lokasi, laju kendaraan yang dikendarai oleh sopir bus memang dalam keadaan ngebut. Padahal kalau sang sopir bus dapat menahan emosi dan tidak ngebut, sekali lagi cerita akan berbeda. Tidak kalah berbeda juga bila sopir angkutan umum dan masinis kereta api dapat menaati rambu lalu lintas masing-masing, kecelakan maut di Kediri saya yakin juga dapat dihindari. Upaya-upaya ihtiar itu yang tidak ada dalam dua peristiwa mengenaskan tersebut. Nah, itulah yang saya maksud bahwa maut sebenarnya dapat dihindari semaksimal mungkin dengan upaya keras. Namun demikian, tetap apa pun keputusannya tetap ada pada keputusan Allah SWT. Kita hanya berusaha, dan Allah jua yang menentukan. Itulah yang saya pahami sebagai ihtiar hidup yang selaras dengan kehendak Sang Pencipta. Tidak ada yang dapat dihindari bila Sang Pencipta sudah berkehendak. Serang, 24/2/2009. Pukul 10.00 WIB

Pemilu 2009 di Banten, memang sangat berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Pada pemilu kali ini, banyak dipenuhi oleh calon anggota legislatif (caleg) yang merupakan pasangan suami-istri (pasutri). Munculnya pasutri dalam pentas politik di Banten tentu sesuatu yang baru, unik, sekaligus menunjukkan bahwa syahwat kekuasaan mereka masih sangat tinggi. Sebelumnya, tidak pernah ditemukan ada caleg pasutri di Banten meski era reformasi sudah bergulir sejak 1998.

Kita memang tidak dapat menyalahkan mereka karena itu hak politik mereka yang dijamin oleh undang-undang. Mungkin saja, mereka punya mimpi besar. Misalnya, ingin hidup bersama tidak hanya di rumah tapi juga lewat politik. Nah, ini kan pasutri yang setia kan….?

Dalam penelusuran data, pasangan suami istri yang menjadi caleg DPR dan DPRD kabupaten/kota di Banten antara lain Jazuli-Mamah Marhamah (keduanya maju dari PDIP), Andhika Hazrumy-Adde Rossi Chaerunnisa, Ahmad Sauqi-Siti Maalihatul Masnu’ah (dari PKNU), dan Dimyati Natakusumah-Irna Narulita (PPP). Mungkin, masih ada caleg lain yang tidak saya ketahui. Mungkin jumlahnya bisa di atas puluhan.

Andika yang merupakan anak Gubernur Atut Chosiyah maju sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sementara istrinya, Adde Rossi menjadi caleg DPRD Kota Serang. Jazuli adalah caleg DPRD Banten dari daerah pemilihan Lebak dan istrinya, Mamah Marhamah caleg DPRD Kota Serang dari daerah pemilihan Kecamatan Serang.

Sementara Ahmad Sauqi adalah caleg DPRD Banten nomor urut satu dan istrinya, Maalihatul Masnu’ah adalah caleg DPRD Kabupaten Serang, juga nomor urut satu. Sedangkan Dimyati Natakusumah adalah caleg DPR RI dari daerah pemilihan Lebak dan Pandeglang sementara istrinya, Irna Narulita, juga caleg DPR RI dari daerah pemilihan yang sama dengan sang suami.  Dimyati selain sebagai ketua DPW PPP Banten juga masih tercatat sebagai bupati Pandeglang.

 

===========

Caleg pasangan suami istri ini pun ternyata bukan sembarangan pasangan. Mereka adalah para pentolan parpol atau yang punya akses dengan petinggi parpol karena kedekatan atau kroni. Karena itu, mereka menempati di nomor urut kecil (nomor urut atas) dalam daftar caleg tetap.

 Jazuli (caleg DPRD Banten dari PDIP) misalnya. Ia merupakan kader baru di PDIP karena sebelumnya dia adalah kader PBR.  Bahkan Jazuli pernah menjabat sebagai Ketua DPW PBR Banten. Meskipun baru di PDIP, namun Jazuli langsung memegang posisi kunci. Dia dipilih menjadi sekretaris DPC PDIP Kota Serang dalam rakercabsus PDIP di kantor DPD PDIP Banten di Jalan Lingkar Selatan, Ciracas, Kota Serang. Diduga, Jazuli terpilih sebagai pengurus teras di partai berlambang banteng moncong putih karena kedekatannya dengan Ketua DPP PDIP Banten, Jayeng Rana, sebab keduanya berteman akrab selama menjadi anggota DPRD Banten hasil Pemilu 2004.

Adde Rossi Chaerunnisa, apa lagi. Dia adalah menantu Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Di DPD Partai Golkar, Adde juga memegang jabatan penting. Sementara di organisasi Perempuan Golkar Kota Serang, Adde menduduki jabatan sebagai ketua.

Begitupun dengan Ahmad Sauqi. Sekilas, tentu sosok ini figur baru dalam pentas politik di Banten karena memang sebelumnya tidak punya trah politik. Namun melihat sosok ayahnya yaitu Ketua Fatwa Komisi MUI Pusat KH Ma’ruf Amin, sosok Sauqi bukan sembarangan pemuda. Meski baru menapaki karir politik sebagai ketua DPC PKNU Kabupaten Serang, namun Sauqi layak diperhitungkan. Bahkan diprediksi Sauqi dan istrinya, akan banyak mendapatkan suara. Sebab pasutri ini, beberapa kali bertemu menggelar pertemuan dengan masyarakat dan kalangan masyarakat dihadiri oleh ayahnya. Mengandalkan kharisma ayahnya itu, Sauqi menatap optimis berkarir di politik.

Tapi, tetap saja pilihan ada di tangan masyarakat bukan karena caleg pasutri. Karena memang rakyatlah yang memiliki suara dan kedaulatan. Siapa memilih siapa, kita lihat saja nanti.

 

Serang, 20/2/2009 atau 48 hari lagi pemungutan suara pemilu legislative, 9 April 2009.

masjidannabawiHidup selaras dengan kehendak Allah itu ialah hidup yang penuh dengan ikhlas dan ihsan, tampil apa adanya, tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain, memiliki integritas serta menerima kenyataan yang telah ada, sekaligus berjuang penuh semangat meraih masa depan yang lebih baik. Saya menemukan, paling tidak, ada lima model pilihan hidup yang selaras dengan kehendak Allah. Kelima pilihan hidup ini terlahir dari pribadi utuh, yang telah menyeimbangkan kecerdasan jasmani (phisic quotient), kecerdasan rasio (intellectual quotient), kecerdasan emosi (emotional intelligence) dan kecerdasan spiritual (spiritual intelligence). Artinya, pribadi ini tidak lagi mementingkan pembinaan hanya salah satu dari fisik, pikiran, hati dan jiwa, melainkan keseluruhannya. Empat kemampuan manusia itu—fisik, pikiran, hati dan jiwa—pada saat puasa ini secara paralel dan simultan sedang menjalani pelatihan. Dengan puasa, fisik kita menjadi disiplin, pikiran kita menjadi bervisi, hati kita penuh rasa cinta dan jiwa kita menjadi bernurani. Inilah pribadi utuh yang saya menyebutnya ”insan shalih” (”manusia yang relevan”). Shalih bagi kehidupan di dunia ini, juga shalih bagi kehidupan di akhirat kelak. Shalih bagi kondisi tradisional, juga shalih bagi kemoderenan. Shalih ketika ia menjadi bawahan, juga shalih ketika menjadi bos. Shalih ketika ia menjadi gubernur, dan shalih ketika ia menjadi ibu tangga. Pendek kata, insan shalih adalah insan yang unggul di segala tempat dan zaman. Berdasarkan pribadi yang insan shalih itulah saya menemukan adanya lima pilihan hidup berikut ini.

Pertama, hidup yang mengalir berdasarkan ”suara hati” yang apa adanya, berdasarkan pengetahuan yang juga apa adanya. Alkisah Musa a.s. bertemu seorang penggembala yang sedang berdo’a: “Ya Allah, yang memilih siapa yang Kau kehendaki, di manakah Engkau supaya aku dapat menjadi hamba-Mu dan menjahit sepatumu dan menyisir rambut-Mu, supaya aku dapat mencuci baju-Mu dan membunuh kutu-Mu dan membawakan susu untuk-Mu, ya Allah, supaya aku dapat mencium tangan kecil-Mu dan memijat kaki kecil-Mu dan pada waktu tidur, menyapu kamar-Mu!” Saat si penggembala mengucapkan kata-kata cinta yang terdengar konyol itu, Musa mendengarnya. Lalu Musa bertanya, ”Kau  sedang berbicara dengan siapa?” Si penggembala menjawab, ”Yang menciptakan kita untuk menyaksikan bumi dan langit ini.” ”Apa!”, bentak Musa. ”Kamu begitu bejat. Kamu berbicara seperti orang kafir. Ocehan macam apa itu? Hujatan dan bid’ah! Jejali mulutmu dengan kapas”, lanjut Musa.

            Si penggembala merasa malu dan berkata, ”Hai Musa, kamu telah menutup mulutku dan telah membakar jiwaku dengan tobat.” Ia merobek bajunya dan menghela nafas panjang dan berjalan ke arah padang pasir melanjutkan perjalanan.       Tiba-tiba wahyu turun kepada Musa, dan Allah berkata, ”Musa, Aku mengutusmu untuk mempersatukan umat, bukan untuk memecah-belah. Kamu telah mengusir hamb-Ku dari-Ku. Sedapat mungkin, janganlah kamu memecah-belah. Hal yang paling Ku-benci adalah perceraian. Aku memberi cara bertindak yang khusus untuk setiap orang. Aku memberi cara pengungkapan yang unik untuk setiap orang. Aku tidak disucikan oleh pujian. Merekalah yang disucikan. Aku tidak melihat bahasa  atau perkataan. Aku melihat ruh batin dan perasaan. Aku memandang ke dalam hati untuk melihat betapa ucapan sederhana tidaklah rendah nilainya. Aku ingin menyala, menyala. Bergaulah dengan nyala itu. Sulutlah api cinta dalam jiwamu. Bakarlah pikiran dan ungkapan.”

            Kedua, menjalani hidup yang merupakan hasil integrasi antara pengetahuan yang dmilikinya dengan amal-praktek kesehariannya. Hampir semua dari kita melakukan perbuatan yang salah bukan karena kita tidak/belum mengetahuinya. Perbuatan-perbuatan salah dan melanggar yang kita lakukan, disadari oleh kita sendiri dan diketahui oleh kita sendiri bahwa perbuatan tersebut memang salah. Tetapi kenapa kita cenderung untuk terus melakukan dan mengulangi perbuatan salah tersebut? Di sinilah karenanya setiap kita perlu berjuang. Berjuang melawan keinginan diri sendiri yang cenderung salah dan melanggar itu. Pada saat kita telah bertekad akan hanya melakukan perbuatan yang benar dan lurus, ada bagian dari diri kita yang juga mengajak kita untuk melakukan yang sebaliknya. Pada saat semacam itulah hati dan akal kita mesti difungsikan. Akal telah mengetahui bahwa perbuatan itu salah dan melanggar, lalu apa gunanya pengetahuan akal jika perbuatan yang diketahui salah dan melanggar itu tetap diperbuat oleh diri kita. ”Tidaklah seseorang disebut âlim (cendekiawan) hingga ia melaksanakan pengetahuan yang dimilikinya”, tegas Imam al-Ghazali.

Hidup selaras dengan kehendak Allah adalah hidup yang dijalani sesuai dengan apa yang diketahui sebagai baik, maka kita melakukannya, dan apa yang diketahui sebagai buruk, maka kita menghindarinya. Terlebih apabila kita telah mengajak orang lain untuk melakukan perbuatan baik, tapi kita sendiri tidak melakukannya, maka kekuatan pengubah bagi orang lain nyaris tidak ada. Bahkan orang lain yang menjadi objek ajakan kita lambat-laun akan mengejek dan mengembalikan ajakan baik itu kepada kita sendiri. Ajakan (dakwah) yang efektif justru dengan cara melakukan perbuatan baik, sebelum—tanpa—mengajak orang lain berbuat baik. Perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang merupakan perintah yang tak terbantahkan bagi orang lain yang terkait dengannya. Karena itu, jika Anda ingin mengubah orang lain agar berbuat baik, maka lakukanlah oleh diri Anda dahulu, niscaya orang lain pun akan dengan mudah mengubah perilakunya. Inilah cara hidup yang disebut ”from inside to outside” (”dari dalam ke luar”). Cara hidup inilah yang dikategorikan hidup sejati, terhindar dari kepalsuan, dan omong kosong.

Ketiga, menjalani hidup yang menghindari dan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang jelas-jelas tidak ada manfaatnya bagi diri kita dan juga bagi siapa pun. Kita mesti bisa memilih—karena ini bagian dari kebebasan yang diberkati oleh Tuhan kepada kita—tindakan apa yang mendatangkan manfaat bagi kita, dan tindakan apa yang samasekali tidak bermanfaat bagi kita dan orang lain. Setiap perbuatan yang akan kita lakukan hendaknya dipertanyakan secara memadai akan manfaat yang dihasilkan, baik secara pribadi, sosial maupun spiritual. Jika dimungkinkan akan adanya manfaat yang bisa diperoleh dari perbuatan yang akan kita lakukan itu, maka lakukanlah. Salah satu ciri yang mudah ditangkap, apakah perbuatan tersebut merusak perjalanan kecerdasan emosi dan spiritual kita atau tidak, adalah adanya penyesalan yang kita rasakan setelah melakukan perbuatan-perbuatan tersebut. Misalnya, penyesalan akan telah terbuangnya waktu dan energi, penyesalan yang mendatangkan akan adanya rasa takut terhadap akibat buruk dari yang kita lakukan, juga penyesalan akan adanya penilaian buruk orang lain terhadap kita. Karena itu, hindarilah perbuatan-perbuatan yang tidak memberikan manfaat bagi keberadaan hidup kita. Sikap dan perilaku semacam ini sekaligus juga akan memberikan ketenangan batin dan kesehatan jasmani.

            Keempat, hidup selaras dengan kehendak Allah itu adalah hidup yang tidak mengambil keuntungan dari kelemahan, keburukan dan musibah yang menimpa orang lain. Kita menghindari sikap dan perilaku yang mengambil keuntungan dari kesalahan orang lain, selama kesalahan itu bersifat manusiawi. Pedoman yang kita anut adalah, tidak ada satu pun manusia yang serba hebat di segala bidang. Karena itu, kesalahan dan kelemahan yang sifatnya manusiawi, mestinya semua orang memaafkannya, karena hal itu bisa terjadi pada semua orang. Artinya, kesalahan dan kelemahan manusiawi itu juga sangat mungkin terjadi pada kita. Maka, janganlah senang, apalagi mem-blow up dan menggembar-gemborkan kepada setiap orang jika ditemukan kesalahan dan kelemahan manusiawi pada orang lain. Orang yang hidup selaras dengan kehendak Allah tidak akan merasa hebat dan unggul jika menemukan kesalahan dan kelemahan yang sifatnya manusiawi pada orang lain. Demikian juga, ia tidak akan merasa sangat bersalah dan menyesali secara berlebihan jika dirinya terperosok ke dalam kesalahan dan kelemahan yang sifatnya manusiawi.

            Kelima, menjalani hidup yang menerima kenyataan yang telah terjadi (taqdîr) dan mengusahakan yang lebih baik terhadap sesuatu yang akan datang (ikhtiyâr). Inilah sikap hidup yang, di satu sisi, menerima ketentuan Allah, dan di sisi lain, menjalankan kebebasan pribadi yang telah diberkati Allah kepada kita. Sikap menerima taqdir adalah salah satu sikap dan perilaku yang sangat bermanfaat bagi pengembangan kehidupan ke depan—selain juga sebagai bagian dari keimanan yang kita anut. Di sinilah kita bisa memulai perjalanan menempuh proses menjadi cerdas emosi dan spiritual. Start-nya bermula dari kekuatan dan keadaan yang telah ada. Dan ke depan misi kita adalah mencari sesuatu yang lebih baik dari yang pernah kita peroleh.

            Lima pilihan hidup di atas itulah yang bisa saya tafsirkan sebagai hidup selaras dengan kehendak Allah, dan menjadi karakter bagi seorang insan shalih. Seseorang yang telah memilih dan menentukan kelima pilihan hidupnya itu, maka ia telah meretas dari kualitas insan shalih menuju kualitas insan kamil. Kualitas insan kamil adalah kualitas pribadi yang telah menyelesaikan persoalan dirinya dengan dirinya sendiri, persoalan dirinya dengan diri orang lain, dan persoalan dirinya dengan Tuhannya. Wallahu a’lam.

 

Sumber; Hasil Wawancara dengan M Wahyuni Nafis, MA (dosen Univ Paramadina)

 

Lagi, Banten digegerkan oleh video mesum. Kali ini, video tarian wanita tanpa busana (striptis) beredar di Kota Cilegon. Penarinya dua wanita di bawah umur yang diduga bekerja di sebuah tempat hiburan malam di kota baja tersebut.

Video berdurasi 1 menit 8 detik itu sejak Kamis (19/2/2009) ternyata sudah dimiliki warga melalui handphone. Berdasarkan gambar itu, dua wanita belia menari tanpa sehelai benang pun. Mereka melenggak-lenggok di atas meja sebuah ruang karaoke diiringi dentuman house musik. Aksi itu tampak disaksikan dan diabadikan menggunakan handphone oleh dua lelaki tak dikenal.

Diduga striptis dilakukan di sebuah ruangan karaoke tempat hiburan malam pada pertengahan Januari 2009 lalu. Penarinya adalah dua bar girl yaitu berinisial Ant (16), warga Kota Cilegon, dan My (15), warga Kabupaten Pandeglang.

Kapolres Cilegon Ajun Komisaris Besar Polisi Dwi Gunawan saat dikonfirmasi pada Kamis (19/2) membenarkan hal itu. Dia bahkan mengatakan, pihaknya telah menangkap dua penari striptis bersama mami bar girl yang menyuruh keduanya menari, Siti Khodijah.

Dikatakannya, karena masih di bawah umur, kedua penari striptis itu kini sudah dilimpahkan ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Banten. “Kalau maminya ditahan di sini (Mapolres Cilegon- red),” ungkap Dwi sebagaimana dikutip Radar Banten, Kamis (19/2).

Menurut Dwi, motif kedua pelaku ini karena faktor ekonomi. Di mana, keduanya dibayar sebesar Rp 500 ribu oleh dua orang warga Jakarta yang kini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). “Dua lelaki warga Jakarta bayar kepada Ant dan My Rp 500 ribu untuk menari. Tontonan adegan itu dilakukan atas rujukan Siti Khodijah sang mami bar girl New LM,” tegasnya.

Hingga kini, lanjutnya, pihaknya masih melakukan penyelidikan terhadap para pelaku. Bahkan, dua berkas kasus tersebut sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Cilegon.

Menyoal kasus tersebut, Dwi menduga jika kasus video striptis itu di luar sepengetahuan manajemen New LM karena disinyalir ada orang yang sengaja ingin membuat video ini, namun menggunakan tempat hiburan lain.

 

sumber: Radar Banten

 

kpu4Akhirnya. Terjawab sudah berbagai keresahan masyarakat mengenai suara sah pemilu 2009. Itu karena Komisi Pemilihan Umum atau KPU mengeluarkan peraturan baru mengenai penandaan suara sah melalui Peraturan KPU No 03/2009. Peraturan baru ini merevisi dan melengkapi Peraturan KPU No 35/2008 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Pemungutan dan Penghitungan Suara.

Peraturan KPU No 03/2009 ini salah satunya melengkapi penandaan suara sah yang sebelumnya diatur dalam Peraturan KPU No 35/2008. Di dalam Peraturan KPU No 35/2008 pasal 41, suara dianggap sah bila pemilih mencontreng dengan lengkap atau mencentang surat suara satu kali.  Nah, di peraturan yang baru yaitu Peraturan KPU No 03/2009  suara sah tidak hanya dengan tanda contreng atau centang. Suara juga dianggap sah bila pemilih menandai surat suara dengan coretan garis datar (__), tanda silang (X), coblos, atau contreng yang tidak lengkap (/). Jadi bila penyelenggara pemilu di bawah (KPPS-red) menemukan ada surat suara yang ditandai dengan coretan garis datar, tercoblos, tanda silang, atau contreng yang tidak lengkap, maka itu dianggap sah.

Peraturan KPU No 03/2009 ini memang punya semangat yang baik. Semangatnya yaitu untuk menyelamatkan suara rakyat. Sebab bila tidak diantisipasi dengan peraturan yang baru, akan banyak suara rakyat yang hilang gara-gara kita tidak benar dalam mencontreng surat suara. Oleh karena itu, perlu ada peraturan baru yang menegaskan suara sah tidak hanya dicontreng tapi juga dengan cara lain. Dan itu tercantum dalam

Agus Supriyatna, Ketua Pokja Pemungutan dan Penghitungan Suara KPU Provinsi Banten, mengatakan, peraturan baru ini harus segera disosialisaikan kepada para penyelenggara di tingkat bawah mulai dari kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS), panitia pemungutan suara (PPS), dan panitia pemilihan kecamatan (PPK) untuk dijadikan pedoman. “Itu penting agar tidak terjadi kesalahpahaman,” tandasnya seraya mengingatkan agar semua penyelenggara pemilu bersikap netral dan professional.

 

 

MANDAT SAKSI

Mengenai saksi pemungutan dan penghitungan suara, Agus mengatakan, harus mendapatkan mandat dari parpol. Sementara saksi calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) harus mendapatkan mandat dari calon DPD bersangkutan, bukan dari tim sukses. “Surat mandat itu harus diterima oleh Ketua KPPS satu hari sebelum pemungutan suara dilaksanakan. Jadi, kalau pemungutan suara dilaksanakan 9 April, maka surat mandat harus diserahkan kepada ketua KPPS pada 8 April,” ujarnya.

Agus mengatakan, bila ada surat mandat yang tidak ditandatangani pengurus inti parpol dan tidak ditandatangani calon DPD (bagi saksi calon DPD), KPPS dapat menolak. “Surat mandat yang diterima oleh KPPS adalah surat mandat yang prosedural,” ujarnya.

Diakui Agus, saksi di masing-masing tempat pemungutan suara (TPS) ini membludak karena jumlah parpol peserta pemilu ada 34 parpol dan 64 calon anggota DPD asal Banten. “Kalau memang semuanya mengirimkan saksi, tentu terlihat sangat banyak. Para saksi ini ditempatkan di dalam TPS, begitu juga dengan panwas berada di dalam TPS,” ujarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Laman Berikutnya »