Sepanjang Jumat (31/1) saya menemukan satu fenomena yang saling terkait satu sama lain mengenai pluralisme dan indahnya kebersamaan. Yang pertama pada pukul 09.30 WIB, saya dan anak saya, Syawla, tengah berteduh di halte bus yang berada di depan pusat perbelanjaan terbesar di Kota Serang. Selama 15 menit berteduh, mata saya langsung tertuju pada dua bangunan gereja besar yang letaknya persis sekali di samping pusat perbelanjaan ini. Selama saya memandangi tempat ibadah itu, pikiran saya langsung menarik kesimpulan. Inilah pluralisme yang sesungguhnya!

Dari fakta itu, harus diakui bahwa pluralisme ternyata sudah bersemayam dalam kehidupan warga masyarakat Kota Serang. Mereka sudah dapat hidup untuk saling menghargai perbedaan. Betapa tidak, tidak jauh dari dua bangunan gereja yang letaknya di pusat kota ini, ada Masjid Agung Serang, yang namanya Masjid Agung As-Tsauroh. Letaknya pun sekira 100 meter dari dua bangunan gereja ini. Sama dengan dua gereja ini, masjid agung Serang pun merupakan bangunan tua yang memiliki seni arsitektur.

Selain itu, berdekatan dengan masjid agung ini masih ada lagi satu bangunan gereja yaitu gereja yang letaknya hanya lima meter dari halaman masjid agung. Gereja ini pun terbilang sangat besar dan selalu ramai pada saat perayaan Natal. Masyarakat Kota Serang tidak merasa terusik apalagi terganggu dengan berdekatannya bangunan tempat-tempat ibadah tersebut.

Usai dari halte, saya berangkat ke took pakaian anak-anak di bilangan Royal, Kota Serang, untuk membeli popok dan bantal buat anak kedua saya, Kafa. Saat mau pulang setelah usai berbelanja, saya juga menyaksikan fenomena yang sama maknanya dengan  yang pertama. Di depan, toko pakaian anak-anak ini saya melihat pemandangan yang sangat teduh dan menyejukkan hati. Seorang ibu yang memakai busana muslimah (kerudung dan pakaian lengan panjang) menyapa sang pemilik toko pakaian yang saya yakini bukan beragam Islam. Sebab pemilik toko ini adalah pasangan suami istri yang bermata sipit (china). Dan setiap saya berbelanja di took ini pada pagi hari, saya selalu  masih mencium aroma kemenyan seperti yang dibakar di vihara-vihara. “Mau kemana ci,” kata ibu berkerudung ini dengan sopan kepada si pemilik toko yang kelihatan menggandeng anak perempuan sekira umur 9 tahunan. “Iya, nih mau ke sekolah,” kata si enci dengan tidak kalah sopannya. Setelah saling sapa, keduanya terlibat obrolan hangat. Saya melihat  keduanya tampak akrab dan sesekali melemparkan senyum selama perbincangan berlangsung. Perkiraan saya, mereka mengobrol lebih dari 10 menitan. “Saya mengantar anak dulu ya Bu, sudah siang nih,” kata si enci kepada ibu berkerudung ini lagi. Tidak lama kemudian si enci dan anaknya pun naik becak untuk menuju sekolah anaknya, SD Penabur.

Kejadian ketiga yang juga terkait dengan kejadian pertama dan kedua adalah saat saya tengah berada di rumah sekira pukul 13.00 WIB. Saat itu, datang tukang service AC, sebut saja namanya Ahong. Sama dengan si enci, si Ahong inipun saya yakini bukan pemeluk Islam. Sebab si Ahong juga memiliki mata yang sipit dan berkulit putih kekuning-kuningan. Ternyata benar tebakan saya, si Ahong memang mengaku beragama Konghutcu. Saya menyilakan si Ahong dan anak buahnya datang ke rumah saya saat dua hari yang lalu, saya ketemu Ahong usai membersihkan AC kantor tempat saya bekerja.

Di rumah saya, si Ahong mengenakan pakaian sederhana. Saat anak buahnya-yang rata-rata pribumi Serang-mengerjakan perbaikan AC kamar tidur saya, saya mengobrol dengan si Ahong di ruang tamu. Saat saya menanyakan ‘usia’ menjalani bisnis servis AC, dia menjawab sudah hampir 30 tahun. “Kita sudah menjalani bisnis ini sejak 1976,” tandasnya.

Waktu 30 tahun bukan waktu yang pendek. Itu adalah waktu yang sangat panjang. Selama itu, si Ahong mengaku tidak pernah mengalami kesulitan ataupun hambatan menjalani roda bisnisnya. Dia juga mengaku tidak pernah menerima intimidasi dari kelompok pribumi, yang tentu mayoritas beragama Islam. “Hampir semua pelanggan kita beragama Islam kok. Mulai dari Rangkas, Pandeglang, Cilegon, Tangerang, dan Serang sendiri,” imbuhnya. Selama mengobrol itu, Ahong menggunakan kata-kata, ‘kita’ untuk menyebut dirinya.

 

——

 

Kejadian-kejadian yang saya alami itu makin meyakinkan saya bahwa kita bisa hidup bersama. Kita dapat menciptakan kedamaian di bumi ini meski kita berbeda keyakinan, berbeda ras, dan berbeda warna kulit. Kita dapat menghadirkan agama yang sejuk di tengah kehidupan kita tanpa harus saling mencaci maki. Kita juga dapat menghadirkan sikap yang ramah dan toleran dengan orang yang berbeda keyakinan dengan kita tanpa harus ikut membakar tempat ibadah yang kita anggap salah.

Hidup bersama itu memang benar-benar indah. Tidak ada kekerasan. Tidak ada diskriminasi dan tidak ada pelecehan atas nama agama. Juga tidak ada kecurigaan. Yang ada hanyalah saling sapa, saling berbagi, dan saling menghormati satu sama lain. Inilah potret sosial yang sebenarnya diajarkan Islam kepada kita semua. Saya dapat membayangkan kalau kita dapat hidup bersama, alangkah indahnya menjalani kehidupan ini dengan menembus batas-batas keagamaan karena merasa terjamin. Peace.