Orang bijak sering bilang, kalau kita kerja, maka kerja-lah dengan baik dan sungguh-sungguh. Selesaikan semua tugas sampai selesai sehingga ‘bos’ kita pun senang. Kalau ‘bos’ sudah senang tentu kita juga senang karena dapat memberikan yang terbaik bagi perusahaan atau lembaga tempat kita bekerja.
Namun fakta di lapangan, ternyata tidak semua orang dapat bekerja dengan baik. Tidak semua orang dapat menikmati pekerjaan yang dilakoni dengan senang hati dan tersenyum. Banyak di antara kita-bahkan kadangkala kita sendiri-yang bekerja dengan sering diwarnai berbagai rengekan atau juga keluhan yang membuat pekerjaan kita pun tidak maksimal.
Pada Senin (2/2/2009), saya berkunjung ke salah lembaga vertikal di Kota Serang. Lembaga ini terbilang baru dibentuk sebagai ikutan lahirnya Kota Serang yang terpisah dari Kabupaten Serang. Saya menemui beberapa anggota dan ketua lembaga vertikal yang bertugas menyelenggarakan pemilu ini. Di situ kami banyak  mengobrol mengenai kesiapan pemilu di Kota Serang. Obrolannya pun mengalir apa adanya.
Namun obrolan di siang hari itu, ada terselip beberapa nada  keluhan para anggota. Mereka mengeluhkan kondisi kantor yang tidak representatif sebagai lembaga penyelenggara pemilu. Mereka merasa bekerja tidak nyaman karena keterbatasan fasilitas.
Salah satu fasilitas yang membuat mereka tidak dapat bekerja maksimal karena mereka tidak memiliki ruangan bekerja. Ruang kerja mereka digabung menjadi satu. Jadi, lima anggota lembaga vertikal ini, ditempatkan dalam satu ruangan ukuran 5×4 meter. Di ruangan itu, mereka duduk saling berhadapan bila masuk kantor. Selain itu, tembok ruangan mereka pun basah karena tetesan air hujan yang masuk ke dalam ruangan lantaran gentengnya mengalami kebocoran. Lama-kelamaan, tembok ruangan mereka menjadi makin hijau karena berlumut. Memang, tampak terkesan jorok dan agak menjijikkan.
Mereka pun mengeluhkan karena tidak memiliki ruangan untuk menyimpan berbagai logistik pemilu. Sebab ruangan yang ada telah penuh . Memang, lima anggota dan para staf ini ditempatkan di satu ruangan dalam satu bangunan yang sudah ditempati lembaga vertikal lainnya yang sudah lama terlebih dulu tinggal.

___
Tulisan ini, tentu tidak akan mengulas panjang lebar mengenai kondisi para anggota lembaga vertikal di atas. Tulisan ini hanya ingin menggugah, apakah diperkenankan kita mengeluh dalam menuntaskan pekerjaan karena  tidak memiliki fasilitas yang memadai. Padahal orang bijak bilang, kita harus bekerja maksimal dan sungguh-sungguh.
Mengeluh dan mengeluh. Itu adalah sifat manusia yang paling utama, selain masih ada sifat lahiriyah yang lain. Dalam sebuah ayat dalam Al quran Allah SWT secata meyakinkan menegaskan bahwa “Manusia itu dilahirkan dalam keadaan berkeluh kesah”. Dari ayat itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada manusia yang tidak mengeluh. Jangankan kita yang bekerja di lembaga atau perusahaan biasa saja, sekelas presiden, ketua KPK, anggota DPR, anggota DPRD, dan yang lainnya juga sering mengeluh. Bahkan  beberapa waktu lalu, presiden dan ketua KPK juga mengeluhkan gaji mereka yang tidak pernah naik.
Jadi, sangat jelas, mengeluh adalah sebuah realitas kehidupan manusia yang tidak dapat dihindarkan. Kita tidak dapat mengelak dari sifat mengeluh dan berkeluh kesah. Sebaliknya, keluhan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita. Sebab kalau manusia hidup tanpa ada keluhan, dia bukan manusia sejati. Dia bukan manusia yang sesungguh-sungguhnya manusia yang dilahirkan di muka bumi untuk menjadi pemimpin. Sebaliknya, keluhan itu adalah ‘jatidiri’ yang tersembunyi kemanusiaan.
Hanya saja memang persoalannya adalah, bagaimana kita mengelola keluhan itu menjadi energi positif yang tidak menganggau kinerja kita. Kita harus mampu mengendalikan keluhan menjadi sesuatu yang tidak merugikan kita dan orang lain, tapi keluhan itu diarahkan menjadi sesuatu yang dapat menjadi modal besar untuk bangkit. Lalu, bagaimana caranya?
Tentu banyak orang yang sudah memiliki siasat untuk menangani keluhan. Sebab masing-masing orang punya potensi yang berbeda-beda untuk menangani keluhan mereka  masing-masing. Hanya saja, saya ingin menagatakan bahwa dalam Islam, kita sangat dianjurkan untuk bersikap pasrah. Seba kata Al Islam itu sendiri adalah pasrah. Nah, menyikapi berbagai keluhan di tempat kita bekerja, sebaiknya memang dengan cara pasrah yang diajarkan sesuai dengan semangat kepasrahan dalam Islam. Bagaimana itu? Kepasrahan dalam Islam adalah sikap yang proaktif, bukan sifat yang menungggu (pasif) dan menerima apa adanya tanpa ada usaha dan ikhtiar. Kepasrahan dalam Islam adalah sikap untuk dapat menerima keadaan dengan lapang dada dan kebesaran hati  tetap mengandalkan ikhtiar maksimal. Kepasrahan dalam Islam bila dikelola dengan baik pun akan menjadi energi positif yang dapat mengatasi keluhan dalam melakoni pekerjaan kita. Berani mencoba?