BOKS MESIRKAPAL pesiar MS Aquarium yang kami tumpangi berjalan perlahan menyusuri Sungai Nil yang membelah Kota Kairo. Berangkat sekitar pukul 19.30, dari dek kapal bangunan-bangunan bertingkat modern di tepi sungai itu terlihat indah. Beraneka lampunya memantulkan bayangan di sungai terpanjang di dunia itu (6.650 kilometer).
Suasana di kabin kapal tak kalah meriah. Malam itu, lebih dari setengah jam Fauzi, sang penari di kapal, harus memutar tubuhnya. Rok lebar berangka kayu seberat 40 kilogram berbentuk lingkaran itu seolah bernyawa. Awalnya memang perlahan. Bertumpu pada kaki kanan, dia terus berputar. Bahkan, dalam kecepatan tinggi.
Fauzi kemudian mengangkat satu sisi rok berbentuk lingkaran ke atas. Pemandangan yang tersaji mengundang decak kagum. Seperti manusia yang berputar di antara dua kepungan jamur raksasa. Penonton yang kebanyakan turis dari Jepang pun bertepuk tangan.
Tari At-tanoura (tarian darwish) berputar memang memesona. Melalui gerakannya, Fauzi bercerita tentang perjalanan hidup Maulana Jalaluddin Rumi, sufi besar Turki abad ke-13 yang juga pendiri ordo darwish berputar.
Memulai gerakan memutarnya dengan perlahan, Fauzi bercerita mengenai Rumi yang mula-mula “hanya” seorang ahli hukum fikih di Konya. Fauzi mulai bergerak cepat ketika Rumi bertemu Syams’i Tabriz, seorang mistikus pengembara yang kemudian menjadi “kekasih spiritualnya”.
Dengan indahnya Fauzi menggambarkan saat-saat berkembangnya Rumi menjadi mistikus dengan berputar seraya membawa empat rebana sekaligus. Dengan masih berputar pula, Fauzi memainkan rebana itu seperti sedang trance.
Berpuisi dan menari, itulah hari-hari Jalaluddin Rumi ketika menjadi mistikus. Fauzi kemudian terus berputar lebih cepat, lebih cepat, dengan tangan dan kepala menengadah seperti berdoa, dan dengan sebuah sentakan keras dan irama musik mengentak, Fauzi tiba-tiba berhenti. Penonton juga tersentak. Seperti ikut naik mobil kecepatan tinggi tiba-tiba mobil direm mendadak.
Setelah menari itu, peluh membasahi sekujur tubuh Fauzi. Meski berputar lebih dari setengah jam, kesimbangannya tak terlihat goyah. ’’Kuncinya ada pada poros kaki. Dengan berputar tepat, kepala dan kaki membentuk satu poros, maka tidak akan pusing,’’ ucap Fauzi  ketika ditemui usai pentas.
’’Juga jangan sering-sering berkedip bila menari. Nanti tambah pusing,’’ tambahnya membuka sebagian rahasia bagaimana teknik menari darwish yang baik.
Pertunjukan live show menyusuri Sungai Nil belum berakhir. Yang membuat geleng-geleng kepala, usai tari sufi yang begitu mistis dan menggugah spiritual, pertunjukan selanjutnya malam itu adalah raqsah syarqiyyah. Arti harafiahnya adalah “tari timur”, namun nama populernya adalah tari perut.
Seorang penari bertubuh sintal dengan pakaian minim keluar. Diiringi musik gambus yang mendayu, wanita itu kemudian menggoyangkan bagian perutnya. Meski masih kalah seronok dibanding goyang ngebor atau sederet goyang lain di Indonesia, tari perut adalah tarian yang mengandalkan sensualitas.
Sang penari pun mendatangi penonton dan berharap dapat saweran alias tip. Saya tak habis mengerti, mengapa tari sufi yang suci dan agung disandingkan head to head dengan tari perut. ’’Siapa namanya?’’ bisik saya ke Ahmad, pemain seruling yang kebetulan duduk dekat saya.
’’Randa. Dia sudah janda. Mengapa, tertarik?’’ goda Ahmad. Saya menggeleng dan kemudian tertawa dalam hati mengingat namanya cocok dengan statusnya. Sebab, kalau di Jawa, kata rondo artinya wanita yang sudah janda.
Sejak zaman Fir’aun ribuan tahun lalu, Sungai Nil selalu membawa berkah kepada warga yang menghuni sekitarnya. Kapal pesiar itu menjadi salah satu contohnya. Dengan tiket seharga 100 pound Mesir (sekitar Rp 200 ribu), perjalanan menyusuri sungai sepanjang 10 kilometer dalam waktu dua jam itu tergolong mahal. Fasilitas yang didapat hanya makan malam ala kadarnya dan itu tadi, live show dua sajian tarian “batin” yang berbeda arah tersebut.
Namun, kapal berkapasitas 200 penumpang itu tak pernah sepi. Paling sepi, dua per tiga kursinya selalu terisi. ’’Bahkan, harus reservasi dulu sehari sebelumnya bila pada puncak musim liburan,’’ kata staf bidang penerangan sosial budaya KBRI Mesir Amir Syarif.
Padahal, ada tujuh kapal yang melayani pesiar di Sungai Nil tersebut. Setiap hari kapal itu membuka dua kali pelayaran. Yang pertama pukul 19.30 hingga pukul 21.30. Sedangkan “kloter” berikutnya pukul 22.00 hingga pukul 24.00. Karena hanya berlayar malam hari, konsep hiburan yang diterapkan di kabin kapal memang bersifat “hiburan malam”.
Bagi pelancong yang berkantong tipis, masih ada alternatif. Mereka bisa memilih puluhan kapal kecil yang mau melayani pelayaran selama satu jam dengan tarih 20 pound (sekitar Rp 40 ribu) per orang.
Meski relatif mahal, kapal-kapal pesiar itu selalu menjadi jujukan para turis. Namun, yang terbanyak tentu saja turis asing. Senin (2/2) lalu, saat saya naik kapal tersebut, yang dominan adalah rombongan turis dari Jepang. Mereka menyewa satu lantai khusus di kapal tiga tingkat itu (lantai dua untuk ruang makan dan pertunjukan, sedangkan lantai paling atas adalah dek).
Menurut penuturan seorang staf lokal KBRI, banyak pejabat Indonesia yang saat berkunjung ke Kairo mem-booking kapal tersebut. Seperti pada 2004, seorang menteri membawa rombongan pengusaha dan mem-booking satu kapal.
’’Sebagai tambahan, kalau live show sehari-hari hanya seorang penari, khusus malam itu langsung tiga penari. Sangat meriah suasananya,’’ kata staf lokal yang menolak disebutkan namanya.
Bagi warga Kota Kairo, kawasan sekitar Sungai Nil juga menjadi tempat favorit untuk melepas lelah. Seperti Jalan Garden Hill yang setiap hari menjadi tongkrongan anak muda. Ada yang berfoto-foto di patung singa jembatan Dokki (baca: Do’i). Banyak juga yang sekadar melewatkan malam di sepanjang pinggiran sungai.
Dengan penerangan yang temaram, pinggiran Sungai Nil memang tampak romantis. Memang tak ada kafe seperti di negara-negara maju. Tapi, banyak penjual teh atau kopi “gendong”. Mereka hanya bermodalkan setermos air panas dan teh celup. Untuk seteguk teh harganya satu pound, sementara untuk kopi satu setengah pound.
Meski Mesir agak sekuler, tetap saja ada semacam polisi dari unit susila yang selalu berjaga dan mondar-mandir. Tujuannya memastikan pasangan-pasangan yang ada di sana tidak kebablasan memadu kasih di muka umum.
Penjagaan makin diperketat (terutama di jembatan Dokki) pada saat Juni-Juli. Bahkan, melibatkan tentara. ’’Tepat pada saat pengumuman hasil ujian sekolah,’’ kata Amir Syarif.
Takut ada remaja yang kebablasan merayakan kelulusan? Ternyata bukan. Tapi, karena tiap tahun selalu ada siswa bunuh diri dengan terjun dari jembatan Dokki ke Sungai Nil. Jumlahnya pun tak main-main. Lebih dari 10 kasus tiap tahun. Mereka umumnya para pelajar yang nilai hasil akhir ujiannya jelek. ’’Di Mesir, nilai jelek saat kelas tiga SMA berarti tak bisa kuliah,’’ kata Amir. (*)

 

sumber:Radar Banten