hpPembantu sekarang, sangat berbeda dengan pembantu  dulu. Pembantu sekarang sudah makin gaya dan tidak kalah dengan anak sang majikan. Pembantu sekarang juga sudah berani tampil beda. Mereka kerap kali mendandani penampilan  dengan modis, bahkan lebih modis daripada anak sang majikan.
Bila dulu mereka gagap menggunakan handphone, kini sudah tidak lagi. Mereka sudah tidak asing lagi dengan kecanggihan telepon genggam. Mereka sudah sangat mahir memencet nomor-nomor di handphone. Mereka juga sudah piawai bermain games di handphone mereka masing-masing. Mungkin bagi mereka, menjadi pembantu bukan berarti harus kuno dan gagap teknologi. Sebaliknya menjadi pembantu juga bisa berpenampilan sama dengan majikan atau anak majikan. Bahkan kalau bisa lebih modis dan lebih keren.
Kamis (5/2/2009), saya baru saja mendapatkan pembantu baru setelah pembantu lama saya tidak lagi bekerja. Pembantu baru saya ini, asli orang Serang yang berasal dari Kecamatan Taktakan. Dia tinggal di sebuah desa yang sangat jauh dari pusat kota. Desanya berada menjorok ke dalam. Perlu waktu lama untuk sampai ke desanya karena menempuh jalan-jalan sempit.
Kali pertama masuk, saya menyangka bahwa pembantu saya yang bernama Yati ini, sama dengan pembantu saya  sebelumnya yang berpenampilan biasa-biasa dan tidak memiliki handphone. Hingga pukul 10.00 WIB,  dugaan saya masih benar karena tidak ada tanda-tanda ‘aneh’ pada pembantu baru saya ini. Namun sekira pukul 14.00 WIB, saya dibuat lumayan terkejut. Tiba-tiba ada handphone berdering dengan nada dering sebuah lagu pop. Suaranya sangat merdu karena menggunakan polyponic.
Setelah saya cari-cari, ternyata deringnya bukan  berasal dari handphone  istri saya.  Aha,  ternyata suara dering itu berasal dari saku celana pembantu saya. Dia pun langsung mengambil  handphone di balik saku celananya tidak jauh istri saya duduk. Selanjutnya bisa ditebak. Pembantu saya ini pun langsung mengobrol  dengan ‘lawan mainnya’ di balik telepon genggamnya. Tampak sekali, pembantu saya ini tidak lagi canggung-canggung menggunakan handphone. Bahkan dia  sangat asik dan menikmati pembicaraan di handphone. Selain itu, sambil menelepon sang pembantu saya ini juga terus melanjutkan menyapu lantai ruang tamu. Jadinya, dia menyapu sambil bertelepon ria. Dia juga tidak memerhatikan pekerjaannya karena terlihat konsen sekali menelepon. Entah siapa yang menelepon. Tapi perkiraan saya, pastinya pacarnya. Sebab dari nada bicaranya, pelan dan sangat ramah, seolah-olah tidak mau menyakiti.  Saya hanya geleng-geleng kepala saja. “Luar biasa,” ujar bathin saya.
————-

Selepas magrib, istri saya mendekati saya. “Yah, si Yati itu handphone- nya bagus lo. Seperti punya Adul (adik istri-red),” ujar istri saya. Saya hanya tersenyum saja. “Masa sih mah”.  Dalam hati, ternyata bukan saya saja yang memerhatikan perilaku pembantu saya ini. Istri saya juga diam-diam tampaknya memerhatikan juga tingkah pembantu barunya ini.
Handphone yang dimiliki Adul bermerek Nokia dengan harga di atas Rp 1 jutaan lebih. Berarti, handphone yang  digenggam pembantu saya juga seharga Rp 1 jutaan lebih. Tentu harga ini,  jauh lebih mahal dari hanphone yang dimiliki  istri saya. Sebab istri saya hanya memegang handphone Esia dengan harga Rp 500.000. Istri saya kemudian melanjutkan, “Hebat ya sekarang. Pembantu sudah punya hape.” Lagi-lagi saya mengangguk. “Yah, begitulah,” ujar saya.
Saya memang belum ngomong langsung dengan para pembantu ini, mengenai kegemaran mereka mengoleksi handphone. Apakah karena ingin mengikuti tren agar tampil lebih modis atau karena handphone sudah bukan barang mewah  lagi. Artinya, siapa pun dapat memiliki barang ini yang sebelumnya dianggap sangat luks (mewah) sehingga orang berpikir ulang untuk memilikinya karena harganya selangit.

—-

Pembantu yang punya handphone ternyata tidak hanya berlaku pada pembantu saya saja. Pembantu-pembantu  tetangga saya dan warga di komplek saya tinggal pun (di Jalan Lingkar Selatan, Ciracas, Kota Serang) ternyata semuanya sudah memiliki handphone dengan berbagai merek. Ada Nokia, Sony Ericsson, Samsung, LG, dan sebagainya. Hal itu saya buktikan dengan mata saya sendiri. Sebab kalau saya sedang jalan sore-sore bersama dengan anak pertama saya, Syawla, saya menemukan ‘gerombolan’ pembantu sedang memamerkan handphone mereka. Satu sama lain, saling menunjukkan barang bawaan mereka. Meski tiap hari, namun mereka tidak bosan-bosan untuk saling ‘unjuk  gigi.’ Mereka memamerkan kepunyaanmya itu  pada saat mereka sedang berkumpul sambil mengajak main anak majikan yang masih kecil.  Kalau sudah berkumpul, biasanya mereka lupa dengan tugas mereka yang tengah menjaga anak. Nyatanya, saat si pembantu sedang asik bermain handphone, si anak majikan malah sudah kemana tahu perginya. Kalau sudah begini, biasanya si pembantu yang nantinya kelabakan mencari anak asuhnya ini.
Oh ya,  kalau sudah menelepon, mereka sampai menghabiskan waktu berjam-jam lo. Maklum saja, saat ini sudah ada tarif menelepon murah hingga berjam-jam. Paket hemat ini yang benar-benar dimanfatkan para pembantu rumah tangga.
Mengenai hal ini, tetangga saya sempat gusar karena menemukan pembantunya menelepon hingga berjam-jam lamanya dan mengabaikan tugas. Tetangga saya ini, tampaknya merasa tidak enak dengan warga lainnya karena pembantunya menelepon dengan suara keras hingga waktu lama. Si tetangga saya ini hanya bersungut-sungut saja. Mungkin itu yang bisa dilakukan tuan rumah, saat menyaksikan sang pembantu menikmati telepon genggam. Kalau dimarahi, biasanya si pembantu akan ngambek. Ujung-ujungnya  tidak akan masuk kerja dan akhirnya berhenti. Daripada berhenti, ya sudah lebih baik dibiarkan saja. Sebab sangat sulit untuk mencari pembantu yang benar-benar bisa cocok.
Sekarang kita balik. Bagaimana bila kita yang menjadi pembantu? Apakah kita akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan pembantu-pembantu sekarang?