Sebagai salah satu negeri tempat lahirnya peradaban besar tertua di dunia, Mesir mempunyai banyak situs bersejarah. Hampir di setiap kota di negara berpenduduk 75 juta jiwa itu mempunyai peninggalan peradaban kuno
   Mesir sangat beruntung mempunyai banyak tempat eksotik yang selalu jadi jujukan para pelancong. Tak perlu jauh-jauh. Di Kairo, ibu kota Mesir, banyak terdapat situs menarik. Untuk wisata religi, misalnya, peziarah bisa berkunjung ke kawasan Hay Syafey, bagian kota lama Kairo. Di sana ada makam Imam Syafi’i, imam besar yang menjadi mazhab bagi banyak umat Islam di Indonesia, bahkan kawasan Asia Tenggara.
   Di dalam kompleks makam, ada sebuah cetakan tapak kaki di batu yang dipercaya merupakan tapak kaki Rasulullah Muhammad. Cetakan ini didatangkan langsung dari Arab Saudi. ’’Memang tidak bisa dipastikan, namun dipercaya merupakan jejak Rasul,’’ kata  Syamsul Alam, staf Kedutaan Besar RI di Kairo.
   Suasana makam Imam Syafi’i itu mirip kompleks makam Sunan Ampel Surabaya. Kendati tak dipungut biaya sama sekali, peziarah harus siap membawa uang receh dalam jumlah banyak. Sebab, di sana banyak pedagang kaki lima, pengemis, serta juru kunci makam yang selalu mensyaratkan sedekah bagi pengunjung. Paling tidak, harus menyiapkan pecahan kecil sekitar 20 pound (sekitar Rp 50 ribu).
    Tak jauh dari makam Imam Syafi’i, ada lagi tempat menarik. Yakni Qal’ah Salahudin atau Salahudin Citadel (Benteng Salahudin). Benteng ini didirikan oleh Sultan Saladin, salah satu sultan besar di era Perang Salib. Kabarnya, Saladin memilih sebuah gunung, membelah, memotong, dan mendirikan benteng seluas 10 hektare  di atasnya pada 1183.
    Benteng ini letaknya sangat strategis. Dari tempat ketinggiannya, seluruh Kairo dapat terlihat. Saat ini, di dalam kompleks benteng juga terdapat dua masjid besar, bekas istana kerajaan, dan pusat pemerintahan. Selain itu juga monumen militer Mesir untuk mengenang kemenangan perang melawan Israel pada 1973.
  Tidak tanggung-tanggung, Mesir memajang semua arsenalnya ketika berupaya merebut kembali Gurun Sinai tersebut. Jadi, di dalam monumen (dalam benteng), dipajang pula empat pesawat Sukhoi, empat pesawat pemburu, kapal amfibi, dan puluhan artileri yang dipakai dalam perang Yom Kippur atau juga disebut Perang Ramadan itu. Bisa dibayangkan betapa luasnya benteng tersebut.
    Selain itu, benteng tersebut juga pernah menjadi pusat pemerintahan dan pusat kerajaan. Raja Faruk, raja terakhir Mesir yang digulingkan oleh Gamal Abdul Nasser pada 1952, juga mempunyai istana di dalam benteng. Selain monumen militer, yang menarik adalah masjid Mohamad Ali. Semua tembok dan lantainya dilapisi oleh alabaster, sejenis marmer. Berkonstruksi model Ottoman (Turki), masjid yang dibangun pada 1830 tersebut dibuat sangat megah dan tinggi. Tinggi bangunannya saja 52 meter, sementara kedua menaranya menjulang setinggi 84 meter. 
   Karena benteng tempat masjid itu berdiri sudah setinggi 30 meter, maka  dari seluruh penjuru Kairo, masjid dan menaranya pasti terlihat. Bagian yang paling mencuri perhatian dari bagunan itu adalah sekujur marmer yang menempel di tembok.. ’’Ada yang bilang bahwa marmer tersebut dicungkil oleh Mohammad Ali dari Piramida Chevren. Terus marmernya ditempelkan di sekujur tembok masjid,’’ kata Syamsul Alam.
   Cerita pembangunan masjid itu juga menarik. Pada 1825, Mohammad Ali, raja Mesir saat itu, merasa terancam dengan banyaknya kepala suku di negaranya. Ali khawatir sewaktu-waktu suku-suku tersebut bisa memberontak. Karena itu, berdalih menggelar jamuan makan malam, Mohammad Ali mengundang 520 kepala suku tersebut. Usai makan, mereka dibiarkan pulang. Namun, menjelang keluar benteng, pintunya ditutup, dan ratusan penembak jitu keluar dari atas genteng dan membunuh ke 520 kepala suku tersebut.
   Setelah peristiwa yang dikenal sebagai “pembantaian di dalam benteng” itu, Mohammad Ali merasa menyesal. Maka, untuk mengurangi beban dosanya, Mohammad Ali membangun masjid megah tersebut.
   Untruk mengelilingi benteng Salahudin, sebaiknya pelancong menyediakan hari khusus. Mengelilingi lahan seluas 10 hektare tentu saja membuat kaki pegel. Namun, tetap saja benteng Salahudin menjadi tempat yang paling banyak dikunjungi setelah piramid.   ’’Yang paling banyak adalah wisatawan asing, terutama dari Asia. Jumlahnya 2 juta orang per tahun,’’ tutur Nasheem.
    Namun, bukan berarti berwisata di Benteng Salahudin itu tak ada kekurangannya. Kesan Jawa Pos, petugas Mesir yang berjaga di benteng itu lebih banyak melarang daripada memberikan informasi atau saran. Selain itu, para petugasnya lebih suka memasang tampang seram daripada senyum ramah. ’’La, la, la, No photo,’’ bentak seorang petugas yang berdiri di istana kerajaan di dalam benteng saat tahu Jawa Pos membawea kamera.
    Begitu pula di museum militer. Para petugas di sana lebih sibuk melarang ini-itu, kemudian berdiri memelototi pengunjung, ketimbang memberikan penjelasan dengan ramah. Terkesan, petugas di sana memandang wisatawan lebih sebagai orang yang akan merusak barang-barang di museum. Bukan tamu yang harus dilayani. Memotret boleh, tapi untuk masuk dengan membawa kamera ke dalam areal museum harus membayar lagi lima pound (Rp 10 ribu).
    Ketika saya tanyakan Nasheem, kenapa sudah bayar di pintu masuk benteng tapi harus bayar lagi bila bawa kamera ke museum, Nasheem hanya tertawa. ’’Itu memang sudah aturannya,’’ ucapnya. Rupanya, Nasheem sendiri juga tak mengetahui kenapa aturan itu dibuat.
   Soal ticketing pun juga agak janggal. Perbedaan harga tiket masuk antara orang Mesir dan orang asing pun juga mencolok. Ada tiga harga tiket. Untuk orang Mesir cukup bayar dua pound (sekitar Rp 4 ribu), pelajar asing dibanderol 30 pound (Rp 60 ribu), sedang turis asing ditarik 60 pound (Rp 120 ribu).
   Nasheem mengakui, pemerintahnya sengaja membuat regulasi seperti itu sebagai bagian dari peningkatan kesejahteraan. ’’Anda tahu sendiri kan, bahwa gaji pegawai negeri di sini sangat terbatas,’’ tuturnya. Standar gaji pegawai di Mesir memang kecil. Antara 500 pound sampai dengan 1.500 pound per bulan. Makanya, tak heran apabila sopir taksi di sini sebagian besar merupakan pekerjaan sambilan. Tak jarang, orang bergelar S2 pun menjadi sopir taksi, karena pendapatan dari pekerjaannya terlalu mepet.
  Namun, saya tetap kurang bisa menerima perbedaan tarif semencolok seperti saat masuk Benteng Salahuddn. Antara Rp 4 ribu dengan Rp 120 ribu. Bangsa Mesir terkesan lebih memprioritaskan bangsanya sendiri dibandingkan orang asing. Di restoran, misalnya, beberapa kali saya yang pesan dulu harus “kalah cepat” dengan tamu orang Mesir yang datang  belakangan. (*)

sumber Jawa Pos, Jumat (6/2)