poster caleg

poster caleg

 Pertarungan antarcaleg DPRD Provinsi Banten di masing-masing daerah pemilihan (dapil) di kabupaten/kota di Banten diwarnai pertarungan antara muka-muka lama. Namun ada segelintir santri yang juga ikut nimbrung.

–AHMAD LUTFI—

Pertarungan sengit tampaknya terjadi di daerah pemilihan Kabupaten/Kota Serang. Di daerah pemilihan Banten I ini ada nama-nama seperti KH Mas’a Toyib (PKS), Eten Hilman (PAN), Ubaidillah Kabier (PKB), SM Hartono dan Aden Abdul Khaliq (Golkar), E Hafadzah (PPP), Mahyar Musa (Demokrat), dan Ahmad Tsauqi Ma’ruf (PKNU). Nama terakhir yang disebut adalah putera KH Ma’ruf Amin, Ketua Komisi Fatwa  MUI Pusat yang berasal dari Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang. 
Nama Ahmad Tsauqi, adalah nama baru di pentas politik di Banten. Selama ini, dia tercatat sebagai pengelola pondok pesantren di Tanara. Munculnya Ahmad Tsauqi seolah-seolah munculnya sosok santri ‘kelas baru’ di pentas politik. Dia pun berusaha mencari peruntungan dengan menjadi caleg DPRD Banten.
Tentu tidak mudah bagi Tsauqi untuk merebut simpatik pemilih. Sebab dia harus berhadapan dengan sosok muka-muka lama dan beberapa pengusaha yang juga menjadi caleg untuk daerah pemilihan Kabupaten/Kota Serang. Tengok saja, misalnya, ada KH Mas’a Toyib, SM Hartono, E Hafadzah. Mereka ini adalah muka-muka lama karena masih menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Serang. Selain itu ada juga nama pengusaha seperti Eten Hilman yang akan menjadi pesaing Tsauqi. Eten dan Aden Abdul Khaliq (Golkar) tentu memiliki kekuatan finansial yang sangat besar karena keduanya dikenal sebagai pengusaha sukses.
Selain Tsauqi, sosok yang juga besar dari kalangan pesantren adalah Ubaidillah Kabier (PKB). Dia adalah putera kH Kabier, pimpinan pondok pesantren di Kecamatan Petir, Kabupaten Serang. Dalam sejarahnya, KH Kabier termasuk sosok yang disegani di Banten. Namun berbeda dengan Tsauqi, Ubaidilah Kabier sudah merasakan ‘nikmatnya’ duduk di kursi parlemen. Sebab saat ini dia menjadi anggota DPRD Kabupaten Serang dari PKB. Lama lain yang juga layak disebut adalah Laode Asrarudin (Golkar). Laode juga adalah alumnus Pesantren Gontor, Jawa Timur. Saat ini, dia masih tercatat sebagai anggota DPRD Banten. Jadi, meski dari kalangan pesantren, namun Ubaidillah Kabier dan Laode bukan wajah baru. Keduanya adalah muka lama.
Sementara di daerah pemilihan Cilegon, tampaknya pertarungan tidak begitu sengit. Di sini, ada Irfan Maulidi (Ketua DPW PKS Banten), ada Anda Suhandoyono (PAN), Amin Mahtum (PKB), Ahmad Rusdi Arif (Golkar), Faozin Ali (PPP), Sabdo Waluyo (PDIP), dan sebagainya. Nama Faozin Ali, adalah sosok yang sempat menjabat sebagai Pjs Ketua DPW PPP Banten meski hanya empat hari. Saat itu, dia menggantikan posisi Dimyati Natasukusumah yang dinonaktifkan DPP PPP.
Di daerah pemilihan Lebak, pertarungan juga akan diwarnai dengan muka-muka lama. Ada Sanuji Pentamarta (PKS), H Anda (PKB), HM Sukira (PDIP), dan sebagainya. Sama dengan daerah pemilihan lain, pertarungan di Lebak juga tetap akan mengandalkan kekuatan jaringan. Sedangkan di daerah pemilihan Pandeglang pertarungan akan terjadi antara Toni Fatoni Mukson (PKB), HM Acang (Golkar), Yayat Supriyatna (PPP), Adang Sopandi (PDIP), dan sebagainya. Munculnya nama Acang, sebelumnya sempat menjadi pertanyaan sejumlah pihak. Sebab saat ini Acang masih mendekam di tahanan karena kesandung dugaan suap kasus pinjaman daerah pemkab Pandeglang di Bank Jabar Banten cabang Pandeglang.
Munculnya sosok santri baru dalam pentas politik di Banten tidak menjadi jaminan mereka akan dipilih oleh masyarakat pemilih. Sebab saat ini faktor keturunan tidak lagi menjadi penentu orang untuk menentukan pilihan politiknya. Masyarakat pemilih simpel saja, yaitu pragmatis praktis. Sementara sosok caleg baru yang dari pesantren, tentu akan kebingungan menghadapi realitas ini. Hal ini tentu menyulitkan mereka eksis selain mengandalkan kepasrahan.
Pertarungan sengit di semua dapil tetap akan dikuasai oleh muka-muka lama dan sebagian wajah baru yang didukung oleh kekuatan finansial. Muka-muka lama itu pun makin intensif melakukan pertemuan dengan masyarakat karena sebelumnya sudah memiliki basis massa. Jadi masih sangat sulit mengharapkan caleg yang pure pesantren mentas dalam politik lokal sekalipun.

CALEG KERABAT

Selain itu salah satu fakta yang juga tak terbantahkan dalam penyusunan daftar caleg Pemilu 2009 adalah masih banyak yang berdasarkan jalur kekerabatan. Hampir di setiap parpol, caleg yang didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum  (KPU) provinsi dan KPU kabupaten/kota memiliki tali kekeluargaan dengan ketua parpol. Mereka menempati nomor urut jadi yang membuka peluang besar bagi mereka untuk duduk di kursi legislatif.
Penelusuran saya, ada beberapa caleg memang memiliki tali kekerabatan dengan ketua parpol atau dekat dengan kekuasaan. Di DPW PPP Banten, misalnya. Partai berlambang ka’bah ini mengusung Irna Narulita untuk caleg DPR RI. Saat ini Irna adalah istri Ketua DPW PPP Banten Dimyati Natakusumah yang juga Bupati Pandeglang.
Di Serang antara lain ada Hikmat Tomet, yang tidak lain adalah suami Gubernur Ratu Atut Chosiyah. Hikmat merupakan caleg DPR RI nomor urut satu dari Partai Golkar dari daerah pemilihan Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon.
Selain itu masih ada Adde Khairunnisa, caleg untuk DPRD Kota Serang, yang tidak lain adalah menantu Gubernur Ratu Atut Chosiyah. Ade menempati nomor urut satu untuk daerah pemilihan Cipocok Jaya. Sementara suami Adde yaitu Andhika Hazrumy yang merupakan anak Gubernur Ratu Atut Chosiyah mencalonkan diri sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Saat ini, Andhika merupakan salah satu calon DPD yang getol menyosialisasikan diri kepada masyarakat.
Caleg yang berasal dari keluarga kepala daerah juga masih terlihat. Salah satunya adalah Zaki Iskandar dan Tb Iman Ariyadi, keduanya caleg untuk DPR RI dari Partai Golkar. Zaki merupakan anak Bupati Tangerang Ismet Iskandar yang dicalonkan dari daerah pemilihan Tangerang. Sementara Iman Ariyadi adalah anak Walikota Cilegon Tb Aat Syafa’at yang dicalonkan dari daerah pemilihan Kabupaten Serang, Kota Serang, dan Kota Cilegon. Iman berada di nomor urut dua di bawah Hikmat Tomet.  Lalu bagaimana persaingan antar santri dengan caleg kerabat? Siapa berpeluang? Lihat saja nanti. (*)