Susilo Bambang Yudhoyono atau yang akrab disapa SBY tumbang, Kamis (5/2/2009) di Kota Serang tepatnya di Jalan Lingkar Selatan, Ciracas, Kota Serang. SBY tumbang lantaran diterpa hujan dan angin deras yang belakangan ini terus menerus menerpa Kota Serang. Baru satu hari kemudian, SBY itu ‘diselamatkan’ setelah tergeletak di tanah terbuka yang berdekatan dengan SDN Cikulur, Kota Serang.
Tumbangnya SBY ini membuat orang-orang prihatin dan was-was. “Kalau memasang baliho raksasa, harus hati-hati dan harus kuat. Jangan sembarangan dong, nanti malah membahayakan warga sekitar,” ujar salah satu warga saat saya temui, satu hari setelah SBY itu roboh. Warga ini melanjutkan, “Untung waktu robohnya tidak ada warga di sekitar lokasi kejadian.”
Ehm, ternyata yang roboh itu adalah baliho raksasa bergambar SBY yang latarbelakangnya gambar partai yang didirikan SBY, Partai Demokrat. DI baliho raksasa itu, gambar SBY sedang melambaikan tangan mengenakan baju warga kebiru-biruan. Di belakangnya, tampak sekali partai yang didirikan SBY. Memang tidak ada nada kampanye di baliho tersebut, sebab hanya bertuliskan, “Susilo Bambang Yudhoyono”. Namun menjelang pemilu legislatif dan pemilu presiden, orang sudah mafhum dengan maksud baliho raksasa ini.
Baliho bergambar SBY itu memang memang terbilang sangat besar, berukuran lebih dari 10X7 meter yang dipasang para pendukung SBY. Mungkin dalam perkiraan saya, baliho ini terbesar di Kota Serang. Sebab saya belum menemukan lagi ada baliho sebesar baliho bergambar SBY ini. Meski sangat besar, namun baliho ini ternyata hanya dipasang dengan bambu seadanya dan ditopang dengan bambu juga. Padahal untuk memasang baliho sebesar itu perlu tiang ekstrakuat sehingga membuat ‘SBY’ seharusnya nyaman berada di Kota Serang.
Setelah baliho ini roboh, tidak lantas diangkat dari tanah. Setidaknya saya masih melihat baliho ini masih tergeletak di tanah hingga Jumat (6/2) pagi. Baru pada Jumat (6/2), baliho raksasa ini sudah ‘dievakuasi’ oleh para pendukungnya. Hingga Senin (9/2), belum ada tanda-tanda baliho raksasa ini akan dipasang ulang. Barangkali, para pemasang masih memikirkan cara jitu untuk menempatkan baliho SBY ini sehingga tidak terulang kejadian serupa.
Robohnya baliho raksasa SBY ini ternyata bukan dianggap fenomena biasa saja. Nyatanya, sejumlah warga setempat membicarakan robohnya baliho ini dengan nada serius dan ada juga sambil  becanda. Tentu saja, obrolan mereka itu dikaitkan dengan pemilu presiden yang akan digelar Juli mendatang lantaran SBY-yang kini masih menjabat sebagai presiden- pun ikut mencalonkan diri sebagai capres. Bagaimana menurut kalian?