Tidak ada yang mudah dalam hidup ini. Semuanya harus jamsostekdiperjuangkan dengan penuh kesabaran, termasuk untuk mendapatkan sekadar rupiah. Banyak pengalaman menegaskan kesabaran itu.

Saya baru saja mengurus klaim Jamsostek di cabang Serang karena istri melahirkan lewat cesar. Untuk mengurus klaim itu, saya ‘dipaksa’ harus bolak-balik ke rumah sakit untuk mengurus persyaratan administrasi. Ceritanya, di hari pertama mengurus klaim, saya mendatangi kantor Jamsostek yang diterima oleh salah satu staf. Oleh staf ini, berkas klaim saya diverifikasi (diteliti) yang akhirnya dinyatakan kurang lengkap karena resume medis dari rumah sakit bersalin-tempat istri saya melahirkan-dianggap tidak jelas. “Bapak harus ke rumah sakit, minta resume medis yang jelas,” kata staf Jamsostek ini. Saya hanya mengangguk karena memang baru kali ini dalam hidup saya mengurus klaim Jamsostek.

Hari itu juga, saya langsung ke rumah sakit bersalin. Saya disuruh menemui dokter yang mengoperasi istri saya untuk meminta penjelasan  mengenai resume medis cesar. Sesampainya di rumah sakit, ternyata saya gagal menemui sang dokter perempuan ini. “Kebetulan dokter tidak ada hari ini. Adanya malam hari. Jadi saya urus resume medis, besok baru dapat diambil,” kata suster  yang menemui saya.

 Esok harinya, saya kembali ke rumah sakit untuk meminta resume medis seperti yang telah dijanjikan suster. Alhamdulillah, resume medis sudah selesai ditandatangai dokter kandungan yang menyesar istri saya. Dengan syukur dalam-dalam, hari itu juga saya bergegas ke kantor Jamsostek lagi untuk mengurus klaim dengan harapan resume medis terpenuhi sebagai persyaratan. Sesampainya di meja staf Jamsostek, lagi-lagi saya disuruh kembali lagi ke rumah sakit. “Waduh, masih kurang jelas nih resume medisnya. Harusnya dijelaskan, kenapa istri bapak dicesar? Apakah emergency atau bukan. Jadi tolong dilengkapi lagi ya,” ujar sang staf Jamsostek sambil  menyodorkan kembali map yang berisi berbagai lembar kertas yang sudah saya susun sebagai persyaratan klaim.

Lantaran agak lelah, saya menunda untuk ke rumah sakit. Saya agak malas untuk mengurus klaim Jamsostek karena memang persyaratannya sangat ketat. Lalu saya bilang ke istri, agar tidak usah mengurus Jamsostek. Istri saya malah bilang harus diusahain. Mendapat sedikit angin motivasi itu, saya kembali untuk mengurus klaim. Lagi-lagi saya harus ke rumah sakit untuk meminta penjelasan resume medis. “Sus, tolong dong resume medisnya yang jelas dan lengkap ya. Sebab resume medis ini ditolak oleh Jamsostek kalau tidak signifikan,” pinta saya saat berada di depan suster rumah sakit yang mengurus resume medis. Sang suster agak bengong atas permintaan saya itu. “Oh gitu, ya sudah nanti saya kasih tau dokternya,” kata suster.

Seperti biasa, sang suster pun bilang resume medisnya tidak dapat langsung selesai. Harus menunggu selama satu hari. Saya pun mengiyakan hal itu. Setelah menunggu satu hari, saya mengambil resume medis di rumah sakit bersalin ini. Setelah itu, langsung saya bawa ke kantor Jamsostek untuk memenuhi persyaratan yang sejak awal masih kurang. Sang staf Jamsostek yang menerima saya, kembali memeriksa resume medis. “Oh…” desisnya. “Ya, sudah sekarang saya buatkan tanda terimanya. Jamsostek hanya bisa bayar Rp 500.000,” jelasnya. Terus terang, saya agak shock mendengar jawaban itu. Sebab selama persalinan istri, saya harus merogoh kocek sendiri sebesar Rp 15.851.000! Saya langsung keluar setelah pamit sebelumnya kepada staf Jamsostek. Keluar dari ruangan Jamsostek, terasa badan yang sudah sangat lelah ini mau jatuh karena lunglai. Saya masih berpikir, apakah akan tetap mencairkan klaim Jamsostek atau tidak. Setelah berpikir seminggu lebih, saya datang lagi ke Jamsostek untuk mengurus kembali surat terima klaim dan pengantar pencairan di bank yang ditunjuk Jamsostek. Saya harus mengantre kurang lebih 1 jam untuk mendapatkan surat ini. Setelah itu saya bergegas ke bank. Di sini ternyata sudah ada 20 orang yang tengah mengantre untuk mencairkan klaim dari Jamsostek. Saya antre sejak pukul 13.35 WIB dan baru dipanggil untuk pencairan pukul 15.15 WIB. Alhamdulillah.

 

Serang, 11/2/2009, pukul 22.35 WIB