kpu1Mengenaskan. Terhitung sejak hari ini (Senin, 16/2/2009), pemungutan suara Pemilu 2009 tinggal 52 hari lagi. Namun hingga kemarin Minggu (15/2), masih banyak masyarakat Banten yang belum ‘melek’ tata cara pemungutan suara. Namun Komisi Pemilihan Umum atau KPU mengklaim sudah gencar melaksanakan sosialisasi pemungutan suara kepada masyarakat.

 Berikut ini beberapa petikan warga yang berhasil kami temui di kabupaten/kota di Provinsi Banten di berbagai lokasi berbeda. Muhidin (26), warga Suralaya, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, mengaku belum paham mengenai tata cara baru yang diterapkan KPU dengan sistem contreng. “Bagaimana saya mau tahu tata caranya kalau tidak pernah ada sosialisasi di lingkungan saya,” ujarnya, Minggu (15/1). Muhidin juga menegaskan, hingga saat ini tahapan-tahapan pemilu dan nama-nama caleg tidak pernah diketahui. “Kalau soal memilih, ya gimana nanti saja,” katanya.

Begitupun kata warga di Pandeglang. Menurut mereka, pemungutan suara Pemilu 2009 masih dengan cara dicoblos sebagaimana pemilu sebelumnya. “Pemilu biasa saja. Tetapi saya tidak tahu kapan pencoblosan dilaksanakan. Mungkin kalau sudah dekat petugas dari kelurahan memberitahukan informasinya. Saya juga pernah melihat dan mendengar secara langsung pemberitahuan dari pemerintah atau KPU,” terang Ahmad, tukang ojek yang mangkal di Pasar Pandeglang.

Saat ditanya apakah sudah tahu teknis pemungutan suara? Ahmad (38) menerangkan, tata cara pemilihan sama saja dengan tahun sebelumnya yakni kertas suara dicoblos menggunakan paku. Ia juga mengaku belum mempunyai pilihan yang cocok. “Ya dicoblos saja Pak pakai paku. Kemudian kertasnya dilipat lagi dan dimasukkan ke kotak suara. Untuk caleg saya belum punya pilihan. Biarkan saja, bila ada yang ngasih uang, ya diambil uangnya saja. Soal mencoblos urusan nanti,” ujarnya.

Di Lebak, masyarakat yang berdomisili di daerah terpencil, juga masih banyak yang belum mengetahui tata cara pemungutan suara yang baru. Sebagian besar dari mereka, masih menganggap bahwa pemilu nanti dilakukan dengan cara pencoblosan. “Hingga sekarang, kami tahunya dicoblos,” ujar Saniah, warga Kampung Jugul, Desa Sukamekarsari, Kecamatan Kalanganyar.

Tidak hanya di Kalanganyar, warga di Kampung Bojong, Desa/Kecamatan Lebak Gedong, juga banyak yang belum mengetahuinya. “Saya belum tahu, kalau pemilu nanti pemilihannya dengan cara dicontreng. Karena hingga kini belum ada pengumuman dan sosialisasi dari pemerintah,” kata Nursid, warga Kampung Bojong.

Hal serupa dialami warga yang tinggal di perkotaan. Di Kota Tangerang, ternyata masih banyak warga Kota Tangerang yang mengaku tidak tahu pemungutan suara karena belum ada sosialisasi dari KPU. Hasan (58), warga Kelurahan Kunciran, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang mengatakan, jangankan cara memilih, kapan akan digelar pemilu juga belum tahu.

Hal senada juga diungkapkan Suherman (55), warga Komplek LP Kelurahan Babakan, Kota Tangerang. Ia mengatakan, jika ada perubahan untuk pemilihan, pihak terkait harusnya segera memberikan informasi kepada warga.”Saya pernah dengar, katanya pemilu nanti cara memilihnya berbeda, tapi persisnya seperti apa saya juga kurang paham,” ungkapnya.

            Bagaimana dengan kalangan pelajar dan mahasiswa yang merupakan para pemilih pemula? Meskipun termasuk kalangan terdidik, tapi faktanya tingkat pemahaman mereka tidak jauh berbeda dengan para orang tua.

            Seno Anhardianto (18), mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur mengaku belum tahu cara memilih yang benar. Ia beralasan Pemilu 2009 merupakan pengalaman pertamanya berpartisipasi dalam pesta demokrasi lima tahunan tersebut. “Saya tahunya dengan cara mencoblos di TPS,” ujarnya polos.

            Hal senada diungkapkan Ade Amey (19) warga Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang. Ia mengaku hanya tahu cara mencoblos seperti yang pernah dialaminya pada pilkada Kota Tangerang beberapa waktu lalu. “Wah kalau ada aturan baru saya belum tahu,”ujar Ade.

Warga di Kota Serang juga sama. Usman, misalnya. Lelaki yang berprofesi sebagai sales di salah satu perusahaan otomotif di Kota Serang ini mengaku, tak terlalu paham tentang pencontrengan untuk memilih yang benar. “Saya masih bingung, kalau kita nyontreng di lambang parpol bukan di caleg, suaranya buat siapa,” tutur Usman.Dia juga mengaku belum tahu siapa caleg yang akan dipilihnya nanti. Menurutnya, banyaknya parpol dan besarnya surat suara justru membuat bingung.

Muhtador (67), warga asal Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, juga mengaku masih bingung dengan sistem pemilu tahun ini kendati sudah pernah mengikuti sosialisasi. “Melihat ukuran kertas yang di dalamnya banyak nama calon dan harus dicontreng, terus terang saja bingung,” katanya. Kendati mengaku bingung, Muhtador mengaku tetap akan mengikuti pemilu yang tinggal dua bulan. “Ikut sih ikut tapi soal sah atau tidaknya saya tidak tahu,” ungkapnya.

Beno, Ketua RT Tambak, Desa Tambak, Kecamatan Kibin, mengungkapkan hal yang sama. Menurut dia, pada sosialisasi yang pernah dilakukan oleh pihak desa masih banyak ditemukan warga yang bingung. “Rata-rata warga yang masih bingung adalah lansia (lanjut usia-red) dan warga yang berpendidikannya rendah,” ungkapnya.

 

(Tulisan ini juga dilengkapi dari data liputan wartawan Radar Banten)