masjidannabawiHidup selaras dengan kehendak Allah itu ialah hidup yang penuh dengan ikhlas dan ihsan, tampil apa adanya, tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain, memiliki integritas serta menerima kenyataan yang telah ada, sekaligus berjuang penuh semangat meraih masa depan yang lebih baik. Saya menemukan, paling tidak, ada lima model pilihan hidup yang selaras dengan kehendak Allah. Kelima pilihan hidup ini terlahir dari pribadi utuh, yang telah menyeimbangkan kecerdasan jasmani (phisic quotient), kecerdasan rasio (intellectual quotient), kecerdasan emosi (emotional intelligence) dan kecerdasan spiritual (spiritual intelligence). Artinya, pribadi ini tidak lagi mementingkan pembinaan hanya salah satu dari fisik, pikiran, hati dan jiwa, melainkan keseluruhannya. Empat kemampuan manusia itu—fisik, pikiran, hati dan jiwa—pada saat puasa ini secara paralel dan simultan sedang menjalani pelatihan. Dengan puasa, fisik kita menjadi disiplin, pikiran kita menjadi bervisi, hati kita penuh rasa cinta dan jiwa kita menjadi bernurani. Inilah pribadi utuh yang saya menyebutnya ”insan shalih” (”manusia yang relevan”). Shalih bagi kehidupan di dunia ini, juga shalih bagi kehidupan di akhirat kelak. Shalih bagi kondisi tradisional, juga shalih bagi kemoderenan. Shalih ketika ia menjadi bawahan, juga shalih ketika menjadi bos. Shalih ketika ia menjadi gubernur, dan shalih ketika ia menjadi ibu tangga. Pendek kata, insan shalih adalah insan yang unggul di segala tempat dan zaman. Berdasarkan pribadi yang insan shalih itulah saya menemukan adanya lima pilihan hidup berikut ini.

Pertama, hidup yang mengalir berdasarkan ”suara hati” yang apa adanya, berdasarkan pengetahuan yang juga apa adanya. Alkisah Musa a.s. bertemu seorang penggembala yang sedang berdo’a: “Ya Allah, yang memilih siapa yang Kau kehendaki, di manakah Engkau supaya aku dapat menjadi hamba-Mu dan menjahit sepatumu dan menyisir rambut-Mu, supaya aku dapat mencuci baju-Mu dan membunuh kutu-Mu dan membawakan susu untuk-Mu, ya Allah, supaya aku dapat mencium tangan kecil-Mu dan memijat kaki kecil-Mu dan pada waktu tidur, menyapu kamar-Mu!” Saat si penggembala mengucapkan kata-kata cinta yang terdengar konyol itu, Musa mendengarnya. Lalu Musa bertanya, ”Kau  sedang berbicara dengan siapa?” Si penggembala menjawab, ”Yang menciptakan kita untuk menyaksikan bumi dan langit ini.” ”Apa!”, bentak Musa. ”Kamu begitu bejat. Kamu berbicara seperti orang kafir. Ocehan macam apa itu? Hujatan dan bid’ah! Jejali mulutmu dengan kapas”, lanjut Musa.

            Si penggembala merasa malu dan berkata, ”Hai Musa, kamu telah menutup mulutku dan telah membakar jiwaku dengan tobat.” Ia merobek bajunya dan menghela nafas panjang dan berjalan ke arah padang pasir melanjutkan perjalanan.       Tiba-tiba wahyu turun kepada Musa, dan Allah berkata, ”Musa, Aku mengutusmu untuk mempersatukan umat, bukan untuk memecah-belah. Kamu telah mengusir hamb-Ku dari-Ku. Sedapat mungkin, janganlah kamu memecah-belah. Hal yang paling Ku-benci adalah perceraian. Aku memberi cara bertindak yang khusus untuk setiap orang. Aku memberi cara pengungkapan yang unik untuk setiap orang. Aku tidak disucikan oleh pujian. Merekalah yang disucikan. Aku tidak melihat bahasa  atau perkataan. Aku melihat ruh batin dan perasaan. Aku memandang ke dalam hati untuk melihat betapa ucapan sederhana tidaklah rendah nilainya. Aku ingin menyala, menyala. Bergaulah dengan nyala itu. Sulutlah api cinta dalam jiwamu. Bakarlah pikiran dan ungkapan.”

            Kedua, menjalani hidup yang merupakan hasil integrasi antara pengetahuan yang dmilikinya dengan amal-praktek kesehariannya. Hampir semua dari kita melakukan perbuatan yang salah bukan karena kita tidak/belum mengetahuinya. Perbuatan-perbuatan salah dan melanggar yang kita lakukan, disadari oleh kita sendiri dan diketahui oleh kita sendiri bahwa perbuatan tersebut memang salah. Tetapi kenapa kita cenderung untuk terus melakukan dan mengulangi perbuatan salah tersebut? Di sinilah karenanya setiap kita perlu berjuang. Berjuang melawan keinginan diri sendiri yang cenderung salah dan melanggar itu. Pada saat kita telah bertekad akan hanya melakukan perbuatan yang benar dan lurus, ada bagian dari diri kita yang juga mengajak kita untuk melakukan yang sebaliknya. Pada saat semacam itulah hati dan akal kita mesti difungsikan. Akal telah mengetahui bahwa perbuatan itu salah dan melanggar, lalu apa gunanya pengetahuan akal jika perbuatan yang diketahui salah dan melanggar itu tetap diperbuat oleh diri kita. ”Tidaklah seseorang disebut âlim (cendekiawan) hingga ia melaksanakan pengetahuan yang dimilikinya”, tegas Imam al-Ghazali.

Hidup selaras dengan kehendak Allah adalah hidup yang dijalani sesuai dengan apa yang diketahui sebagai baik, maka kita melakukannya, dan apa yang diketahui sebagai buruk, maka kita menghindarinya. Terlebih apabila kita telah mengajak orang lain untuk melakukan perbuatan baik, tapi kita sendiri tidak melakukannya, maka kekuatan pengubah bagi orang lain nyaris tidak ada. Bahkan orang lain yang menjadi objek ajakan kita lambat-laun akan mengejek dan mengembalikan ajakan baik itu kepada kita sendiri. Ajakan (dakwah) yang efektif justru dengan cara melakukan perbuatan baik, sebelum—tanpa—mengajak orang lain berbuat baik. Perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang merupakan perintah yang tak terbantahkan bagi orang lain yang terkait dengannya. Karena itu, jika Anda ingin mengubah orang lain agar berbuat baik, maka lakukanlah oleh diri Anda dahulu, niscaya orang lain pun akan dengan mudah mengubah perilakunya. Inilah cara hidup yang disebut ”from inside to outside” (”dari dalam ke luar”). Cara hidup inilah yang dikategorikan hidup sejati, terhindar dari kepalsuan, dan omong kosong.

Ketiga, menjalani hidup yang menghindari dan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang jelas-jelas tidak ada manfaatnya bagi diri kita dan juga bagi siapa pun. Kita mesti bisa memilih—karena ini bagian dari kebebasan yang diberkati oleh Tuhan kepada kita—tindakan apa yang mendatangkan manfaat bagi kita, dan tindakan apa yang samasekali tidak bermanfaat bagi kita dan orang lain. Setiap perbuatan yang akan kita lakukan hendaknya dipertanyakan secara memadai akan manfaat yang dihasilkan, baik secara pribadi, sosial maupun spiritual. Jika dimungkinkan akan adanya manfaat yang bisa diperoleh dari perbuatan yang akan kita lakukan itu, maka lakukanlah. Salah satu ciri yang mudah ditangkap, apakah perbuatan tersebut merusak perjalanan kecerdasan emosi dan spiritual kita atau tidak, adalah adanya penyesalan yang kita rasakan setelah melakukan perbuatan-perbuatan tersebut. Misalnya, penyesalan akan telah terbuangnya waktu dan energi, penyesalan yang mendatangkan akan adanya rasa takut terhadap akibat buruk dari yang kita lakukan, juga penyesalan akan adanya penilaian buruk orang lain terhadap kita. Karena itu, hindarilah perbuatan-perbuatan yang tidak memberikan manfaat bagi keberadaan hidup kita. Sikap dan perilaku semacam ini sekaligus juga akan memberikan ketenangan batin dan kesehatan jasmani.

            Keempat, hidup selaras dengan kehendak Allah itu adalah hidup yang tidak mengambil keuntungan dari kelemahan, keburukan dan musibah yang menimpa orang lain. Kita menghindari sikap dan perilaku yang mengambil keuntungan dari kesalahan orang lain, selama kesalahan itu bersifat manusiawi. Pedoman yang kita anut adalah, tidak ada satu pun manusia yang serba hebat di segala bidang. Karena itu, kesalahan dan kelemahan yang sifatnya manusiawi, mestinya semua orang memaafkannya, karena hal itu bisa terjadi pada semua orang. Artinya, kesalahan dan kelemahan manusiawi itu juga sangat mungkin terjadi pada kita. Maka, janganlah senang, apalagi mem-blow up dan menggembar-gemborkan kepada setiap orang jika ditemukan kesalahan dan kelemahan manusiawi pada orang lain. Orang yang hidup selaras dengan kehendak Allah tidak akan merasa hebat dan unggul jika menemukan kesalahan dan kelemahan yang sifatnya manusiawi pada orang lain. Demikian juga, ia tidak akan merasa sangat bersalah dan menyesali secara berlebihan jika dirinya terperosok ke dalam kesalahan dan kelemahan yang sifatnya manusiawi.

            Kelima, menjalani hidup yang menerima kenyataan yang telah terjadi (taqdîr) dan mengusahakan yang lebih baik terhadap sesuatu yang akan datang (ikhtiyâr). Inilah sikap hidup yang, di satu sisi, menerima ketentuan Allah, dan di sisi lain, menjalankan kebebasan pribadi yang telah diberkati Allah kepada kita. Sikap menerima taqdir adalah salah satu sikap dan perilaku yang sangat bermanfaat bagi pengembangan kehidupan ke depan—selain juga sebagai bagian dari keimanan yang kita anut. Di sinilah kita bisa memulai perjalanan menempuh proses menjadi cerdas emosi dan spiritual. Start-nya bermula dari kekuatan dan keadaan yang telah ada. Dan ke depan misi kita adalah mencari sesuatu yang lebih baik dari yang pernah kita peroleh.

            Lima pilihan hidup di atas itulah yang bisa saya tafsirkan sebagai hidup selaras dengan kehendak Allah, dan menjadi karakter bagi seorang insan shalih. Seseorang yang telah memilih dan menentukan kelima pilihan hidupnya itu, maka ia telah meretas dari kualitas insan shalih menuju kualitas insan kamil. Kualitas insan kamil adalah kualitas pribadi yang telah menyelesaikan persoalan dirinya dengan dirinya sendiri, persoalan dirinya dengan diri orang lain, dan persoalan dirinya dengan Tuhannya. Wallahu a’lam.

 

Sumber; Hasil Wawancara dengan M Wahyuni Nafis, MA (dosen Univ Paramadina)