15-pemilu-41Saat panitia pengawas pemilu (Panwaslu), KPU, dan pemerintah tidak mampu menertibkan baliho raksasa bergambar calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Banten Andika Hazrumy, sekelompok mahasiswa dari KAMMI Banten, berani melawan arus. Aktivis mahasiswa itu menyegel baliho raksasa milik anak gubernur Ratu Atut Chosiyah itu karena tidak ada penertiban yang dilakukan oleh Panwaslu. Padahal jelas-jelas, baliho anak Gubernur Ratu Atut Chosiyah itu berada di zona larangan kampanye yaitu di jalur protokol di Kota Serang.

Namun sayang, aksi yang dilakukan pada Rabu (25/2/2009) atau 42 hari lagi menjelang pemungutan suara itu tidak berlanjut lebih serius lagi. Sebab baliho raksasa milik Hikmat Tomet (ayah Andika Hazrumy) tidak turut disegel. Padahal, baliho raksasa Hikmat Tomet juga melanggar etika kampanye karena sama-sama berada di jalur protokol.

Namun demikian, yang dilakukan oleh aktivis mahasiswa itu patut diapresiasi. Sebab baru kali ini, ada gerakan mahasiswa yang berani melakukan penyegelan terhadap baliho milik anak penguasa di Banten. Sebelumnya mana ada yang berani melakukan aksi senekat itu. Jangankan aktivis mahasiswa, Panwaslu saja tidak berani untuk menyentuh baliho milik Andika dan ayahnya, Hikmat Tomet. Ketidakberanian itu yang membuat lembaga pengawas pemilu itu mendapat cibiran keras dari masyarakat dan aktivis pro-demokrasi karena dinilai tidak punya nyali. Saat penertiban beberapa hari lalu, Panwaslu hanya menertibkan spanduk dan baliho milik caleg lain dan sama sekali tidak menyentuh baliho milik Andika dan Hikmat.

Jadi, yang dilakukan aktivis KAMMI itu merupakan bentuk akumulasi kekesalan karena ketidakberanian dan ketidakberdayaan Panwaslu menegakkan aturan kampanye. Seharusnya dari aksi mahasiswa itu, Panwaslu berpikir ulang dan malu. Malu karena ‘ditelanjangi’ aktivis di hadapan publik atas kemandulannya.

Kalau sampai aksi mahasiswa itu ternyata tidak menggerakkan Panwaslu untuk menertibkan baliho milik Andika dan Hikmat Tomet, maka cibiran masyarakat atas kinerja Panwaslu benar-benar adanya.

 

SEPERTI PANJAT PINANG

Mau tahu bagaimana detik per detik saat aksi penertiban baliho Andika berlangsung. Ceritanya begini. Setelah puas berorasi di depan Puspemkot Serang, beberapa aktivis berusaha mendekati baliho raksasa Andika yang tidak jauh dari Puspemkot Serang. Saking tingginya, mereka harus saling bantu. Mereka harus bergendong-gendongan satu dengan yang lainnya layaknya permainan panjat pinang di hari kemerdekaan Indonesia. Untungnya sih, tidak ada olinya sehingga tidak licin dan mahasiswa tidak berguguran jatuh.

Meski dengan sekuat tenaga, namun mereka tidak berhasil menyentuh gambar Andika. Sebab tiang penyangga baliho ini sangat tinggi. Meski sudah dipaksa beberapa kali, mereka tetap gagal menyentuh sampai atas karena mahasiswa yang ada di bawahnya sudah tidak kuat lagi menahan beban mahasiswa yang berada di atas. Lantaran sudah kelihatan capek, mereka pun dengan susah payah menempelkan karton bertuliskan, “Ini Pelanggaran Coy”  hanya di tiang penyangganya saja. Bukan di gambar Andika. Kartonnya pun terlihat sangat kecil bila dibandingkan dengan baliho Andika.

Gambar Andika di baliho yang tidak berhasil ditempelkan karton itu kalau seumpamanya bisa ngomong mungkin akan bilang kepada para mahasiswa yang ada di bawah, “Weee..Tidak Kena..Kan!!

 

Serang, 25/2/2009