Maret 2009


1-okeee-kampanye-sby-masaAlun-alun Kota Serang, Jumat (27/3/2009), menjadi lautan massa biru. Mereka menyemut hingga ke luar Alun-alun. Sepanjang kemarin juga, lalu lintas Kota Serang nyaris lumpuh oleh lautan biru.

—————

Meski kampanye Partai Demokrat baru dimulai pukul 13.30 WIB, namun gelombang massa sudah mulai berdatangan sejak pukul 11.00 WIB. Mereka datang dengan menggunakan berbagai kendaraan roda empat dan roda dua. Sementara warga sekitar Alun-alun datang dengan berjalan kaki. Di antara massa, banyak ibu-ibu yang membawa serta anak-anaknya yang belum menjadi pemilih dalam pemilu. Anak-anak seumuran sekolah dasar itu pun mengenakan kaos Partai Demokrat sambil memegang atribut partai.

Hingga pukul 14.00 WIB, massa yang terdiri dari ibu-ibu dan kaum muda terus merangsek masuk ke dalam Alun-alun . Meski terik matahari menyengat, namun mereka tetap masuk untuk mendekati arena panggung utama. Saat itu mereka dihibur dengan grup band lokal. Yang menjadi MC kampanye kemarin adalah artis Andhara Early, Edwin dan Jody. Ketiganya tampil cukup baik membawakan acara.

Tiba-tiba, massa histeris sekira pukul 14.13 WIB. Ternyata di atas panggung ada grup band papan atas Indonesia, Ungu. Kehadiran Ungu mampu menyedot ribuan massa untuk tetap bertahan. Di atas panggung Ungu menyanyikan dua lagu hits mereka yang membuat massa berjingkrak-jingkrak. Setelah Ungu, giliran penyanyi dangdut Cici Faramida menghibur massa. Sama dengan Ungu, Cici juga membawakan dua lagu dangdut yang sudah sangat familiar di telinga massa. Ribuan massa langsung bergoyang seiring Cici melantunkan lagu-lagu hits.

Usai Cici, giliran Siti KDI yang tampil di atas panggung. Siti juga mampu membawa ribuan massa biru untuk bergoyang. Terlihat massa sangat menikmati kampanye ini karena bertaburan bintang. Tidak lama kemudian, Dewi Yull juga muncul di atas panggung. Berbeda dengan penyayi sebelumnya, Dewi membawakan ‘sholawat’ yang diikuti massa. Hal ini membuat suasana menjadi lebih teduh karena lantunan suara Dewi Yull yang merdu.

Panggung hiburan tidak berhenti sampai di situ saja. Massa terus disajikan artis-artis ternama. Puncaknya sekira pukul 14.50 WIB, Andra The Backbone muncul. Grup band yang digawangi Andra ini membawakan dua lagi hits mereka yang mampu menghipnotis massa untuk menyanyi bersama. Semua penampilan artis ini dibalut dengan warna biru, warna kebesaran Partai Demokrat.

Tepat pukul 15.00 WIB, mendadak panitia dan aparat keamanan supersibuk. Mereka terus berjaga-jaga di seputar panggung. Ah, ternyata Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat yang juga presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, tiba. SBY didampingi istrinya, Ny Ani Yudhoyono, anaknya, Edie Baskoro, salah satu ketua DPP Partai Demokrat Andi Mallarangeng, Menteri Pariwisata Jero Wecik, dan sejumlah pengurus teras DPP Partai Demokrat lain.

Sesampai di atas panggung, SBY sekira pukul 15.01 WIB, SBY langsung berorasi di hadapan ribuan massa. Sebelum mengucapkan salam, SBY beberapa kali melambaikan tangganya kepada massa yang disebut histeris. “Saya senang dan bangga di sini, karena melihat Serang menjadi menjadi biru yang sangat luas. Ini baik untuk kerja sama membangun bangsa yang lebih baik,” ujar SBY.

Kata SBY, pemerintah akan melanjutkan berbagai program pro rakyat yang sudah dirasakan manfaatnya. “Apakah kalian ingin program pro rakyat dilanjutkan?” tanya SBY. Kontan massa menjawab, “Setuju”. “Alhamdulillah,” sambung SBY. Kemudian massa berteriak, “Lanjutkan..lanjutkan..lanjutkan..” SBY mengangkat dua tangannya untuk meminta massa kembali tenang.

SBY mengatakan, salah satu program pro rakyat itu adalah bantuan langsung tunai (BLT), PNPM, dan program keluarga harapan (PKH). “Itu semua agar rakyat kita tidak susah lagi. Dana PNPM yang berjumlah Rp 322 miliar itu tolong dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk membangun desa,” harapnya.

SBY juga menyambung, “Saat ini kita juga sedang dilanda bencana. Saya baru saja

“Di masa krisis, Indonesia termasuk negara yang kuat karena masih tetap bertahan. Ini semuanya karena semata-mata karena berkat kerja sama kita semua. Selain itu, negara kita juga makin aman karena kerusuhan dapat diminimalisasi. Apakah kalian ingin, keamanan ini dipertahankan,” ucap SBY. Lagi-lagi massa menjawab, “Ya. Lanjutkan.”

SBY juga menyinggung prestasi pemerintahannya dalam memberantas korupsi. Kata SBY, selama pemerintahannya berhasil memberantas kasus-kasus korupsi yang merugikan keuangan negara. “Apakah kalian ingin pemberantasan korupsi dilanjutkan? Ujar SBY. Massa menjawab, “Ya”. “Apakah kalian ingin ekonomi buruk lagi,” Tanya SBY lagi. “Massa menjawab, “tidak”.

PARIWISATA BANTEN

Di akhir orasinya, SBY menyinggung Banten. Kata dia, pariwisata di Banten sangat menjanjikan. “Jumlah wisatawan di Banten dari tahun ke tahun terus meningkat. Ini tentu membanggakan,” ujarnya seraya menyebutkan salah satu tempat wisata di Banten adalah Tanjung Lesung dan Ujung Kulon.

Agar massa tidak jenuh mendengarkan orasi, SBY lalu mengajak Ungu untuk duet menyanyi. “Sekarang kita nyanyi dulu, sebelum orasi saya dilanjutkan,” kata SBY. Saat itu, bersama Ungu, SBY menyanyikan lagu “Demokrat”. Usai nyanyi, SBY melanjutkan orasi politiknya. Sama dengan orasi di awal-awal, SBY lebih banyak memuji keberhasilan pemerintah.

Mendekati berakhirnya waktu kampanye, SBY lalu mengajak Andra The Backbone untuk duet bersama untuk menyanyikan lagu, “Sempurna”. Usai menyanyi itu sekira pukul 15.23 WIB, SBY menyudahi orasi politiknya. “Sekali saya mengucapkan terima kasih. Sampaikan salam saya kepada keluarga di rumah. Sekali lagi saya mengagumi Banten. Terima kasih,” tutup SBY.

Usai pidato, SBY lalu langsung pulang. Massa yang berjubel di Alun-alun pun perlahan-lahan ikut bubar. Massa yang keluar Alun-alun dan menyemut di jalan-jalan utama membuat Kota Serang lumpuh. (*)

Serang, 12 hari lagi pemungutan suara pemilu 2009.

foto: yan cikal/radarbanten

Wawancara Imajiner dengan Sultan Ageng Tirtayasa

 

Perubahan Tidak Ditentukan Oleh Muda Atau Tua

 

Pengantar:

Hari pencontrengan Pemilu 2009 sudah di depan mata. Terhitung sejak Jumat (20/3), hari pencontrengan 9 April 2009, tinggal 20 hari lagi. Nah, sambil menunggu hari bersejarah itu, saya berhasil menemui salah satu sultan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa. Saya pun melakukan wawancara imajiner. Berikut petikannya:

 

Bagaimana prediksi Sultan di hari pencontrengan nanti?

Sultan: Bagaimanapun juga pesta demokrasi lima tahunan itu harus berlangsung aman, jujur, dan demokratis. Nah, saya kira di Banten, pemilu dapat berlangsung sukses. Sebab masyarakat di sini sudah pada dewasa dan tidak terlalu pusing dengan siapa pemenangnya. Yang penting bagi masyarakat, datang ke TPS, dan contreng. Siapa yang mereka pilih, mereka yang punya pilihan. Dan itu alamiah.

 

Sultan yakin pemilu berlangsung demokratis di Banten?

Sultan: Harus itu. KPU sebagai penyelenggara pemilu harus dapat menjamin bahwa pelaksanaan pemilu di Banten berlangsung aman dan jujur. Itu tanggung jawab KPU. Jangan sampai KPU-lantaran ditekan kekuasaan-mau memanipulasi dan menggelembungkan suara untuk memenangkan salah satu atau beberapa calon gara-gara yang bersangkutan dekat dengan kekuasaan atau famili dari penguasa. Jika itu yang terjadi, jelas bahwa KPU mencederai demokrasi.

Islam sudah sangat jelas mengajarkan kepada kita semua agar kita dapat berbuat adil kepada semua orang, termasuk kepada calon. Jadi, berbuat adillah kepada semua orang agar tidak ada yang disakiti. Kepada lima orang KPU provinsi dan KPU kabupaten/kota, saya titip kepada anda semua agar dapat melaksanakan pemilu dengan adil, jujur, dan demokratis.

 

Bagaimana dengan wajah-wajah calon (caleg dan calon anggota DPD asal Banten),Sultan punya tanggapan?

Sultan: Sangat variatif. Calon itu ada yang masih muda, segar-segar, dan tampak polos. Tapi ada juga yang muka-muka lama (yang pernah menjabat anggota dewan-red). Nah muka-muka lama ini yang masih ingin menjadi wakil rakyat. Mereka seharusnya sih ngaca dulu, apakah pada periode sebelumnya sudah melakukan perbaikan terhadap kehidupan dan perekonomian rakyat. Kalau tidak, kan lebih baik tidak mencalonkan diri lagi. Harus legawa mundur karena telah gagal mengemban amanah. Tapi kenyataannya mereka masih tetap saja nyalon tanpa ada evaluasi diri, ya saya tidak dapat mencegahnya. Itu hak politik mereka yang juga harus saya hormati. Biarkan saja rakyat yang menentukan. Toh, rakyat Banten sekarang sudah melek, sudah pada tahu, siapa yang layak dipilih dan mana yang tidak. Pilihan cerdas ini yang akan menentukan nasib Banten ke depan.

Sementara kepada calon-calon yang masih muda, energik, saya kira ini hal yang bagus. Mereka sudah berani untuk mencalonkan diri dan bertarung di kelas pemilu. Sebuah pertarungan yang sengit dan tentu saja sarat dengan intrik. Tapi ingat, jangan gara-gara muda, lalu Anda percaya dapat membawa perubahan bagi Banten. Tidak semudah itu. Perubahan tidak ditentukan oleh muda atau tua. Perubahan di Banten harus dilaksanakan secara simultan dan berproses. Oleh karena itu calon-calon muda, Anda tetap saja harus lebih banyak belajar lagi. Belajar mengenai kearifan, belajar mengenai tatakrama, dan belajar bagaimana caranya mensejahterakan rakyat. Anda dapat belajar dari mana saja, termasuk dari para pemimpin kebantenan masa lalu. Bukankah, sejarah itu dapat menjadi tempat berkaca untuk menata langkah lebih efisien dan berarti.

 

Sultan yakin, mereka mampu membawa perubahan?

Sultan: Ya, itu tadi. Perubahan tidak dapat dilakukan dengan grasak-grusuk. Perubahan dapat dilakukan dengan berproses. Metaformosis itu perlu waktu yang juga tampaknya agak melelahkan. Dan saya berharap perubahan di Banten berjalan normal dan baik sehingga tidak ada rakyat yang dikorbankan.

Harapan saya, caleg-caleg Banten yang manggung untuk DPRD kabupaten/kota, DPRD provinsi, dan DPR RI dapat membawa Banten lebih baik, lebih mencerahkan, dan kalau bisa dapat menjadikan Banten sebagai pusat peradaban dalam berbagai aspek, sebagaimana masa-masa keemasan kesultanan Banten lalu.(*)

wawancara berakhir subuh. Saya lalu mencium tanganya untuk pamit pulang. Saat itu saya mencium aroma harum semerbak. Sultan hanya mengangguk.

(Kesultanan Banten berawal ketika Kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke daerah barat. Pada tahun 1524/1525, Sunan Gunung Jati bersama pasukan Demak merebut pelabuhan Banten dari kerajaan Sunda, dan mendirikan Kesultanan Banten yang berafiliasi ke Demak. Menurut sumber Portugis, sebelumnya Banten merupakan salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda selain pelabuhan Pontang, Cigede, Tamgara (Tangerang), Sunda Kalapa dan Cimanuk.

Anak dari Sunan Gunung Jati (Hasanudin) menikah dengan seorang putri dari Sultan Trenggono dan melahirkan dua orang anak. Anak yang pertama bernama Maulana Yusuf. Sedangkan anak kedua menikah dengan anak dari Ratu Kali Nyamat dan menjadi Penguasa Jepara.

Terjadi perebutan kekuasaan setelah Maulana Yusuf wafat (1570). Pangeran Jepara merasa berkuasa atas Kerajaan Banten daripada anak Maulana Yusuf yang bernama Maulana Muhammad karena Maulana Muhammad masih terlalu muda. Akhirnya Kerajaan Jepara menyerang Kerajaan Banten. Perang ini dimenangkan oleh Kerajaan Banten karena dibantu oleh para ulama.

Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Fatah Abdulfatah atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu Pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat. Wilayah kekuasaannya meliputi sisa kerajaan Sunda yang tidak direbut kesultanan Mataram dan serta wilayah yang sekarang menjadi provinsi Lampung. Piagam Bojong menunjukkan bahwa tahun 1500 hingga 1800 Masehi Lampung dikuasai oleh kesultanan Banten.

 

 

HAPUS

Kesultanan Banten dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. Pada tahun itu, Sultan Muhamad Syafiuddin dilucuti dan dipaksa turun takhta oleh Thomas Stamford Raffles. Tragedi ini menjadi klimaks dari penghancuran Surasowan oleh Gubernur-Jenderal Belanda, Herman William Daendels tahun 1808.

Pemimpin Kesultanan Banten

      Sunan Gunung Jati

      Sultan Maulana Hasanudin 1552 – 1570

      Maulana Yusuf 1570 – 1580

      Maulana Muhammad 1585 – 1590

     

Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir 1605 – 1640 (dianugerahi gelar tersebut pada tahun 1048 H (1638) oleh Syarif Zaid, Syarif Makkah saat itu.

      Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad 1640 – 1650

      Sultan Ageng Tirtayasa 1651-1680

      Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) 1683 – 1687

      Abdul Fadhl / Sultan Yahya (1687-1690)

      Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733)

      Muhammad Syifa Zainul Ar / Sultan Arifin (1750-1752)

      Muhammad Wasi Zainifin (1733-1750)

      Syarifuddin Artu Wakilul Alimin (1752-1753)

      Muhammad Arif Zainul Asyikin (1753-1773)

      Abul Mafakir Muhammad Aliyuddin (1773-1799)

      Muhyiddin Zainush Sholihin (1799-1801)

      Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802)

      Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803)

      Aliyuddin II (1803-1808)

      Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809)

      Muhammad Syafiuddin (1809-1813)

      Muhammad Rafiuddin (1813-1820)

 

 

Tulisan ini dilengkapi dari Harian Kompas, Senin, 22 Desember 2003, “Memimpikan Takhta Kesultanan Banten,” dalam Wikipedia.com

 

 

 

 

 

 imag0117Pada, Selasa (17/3), Himpaudi Kabupaten Serang kerja bareng dengan Mizan, Dar!Mizan, Rumah Buku Lutfi, Alfamart, dan Radar Banten menggelar seminar nasional, “Menjadi Guru Kreatif,” di Gedung PSBB MAN 2 Serang. Acara diikuti-berdasarkan data yang masuk-sekitar 684 guru yang berasal dari Serang, Cipocok Jaya, Cilegon, Menes, Malingping, Rangkasbitung, Tangerang. Bahkan ada dua peserta yang berasal dari Jakarta. Mereka adalah guru PAUD, TK, SLTP, SLTA, dan mahasiswa. Dari ratusan peserta itu, tampak juga hadir Anizir Ali Murad, SE, MM, purek III Universitas Serang, sebagai peserta. “Saya memang tertarik dengan seminar ini,” ujar Anizir saat mendaftar.

Seminar ini menghadirkan pembicara Andi Yudha Asfandiyar (Picupacu Kreativitas dan penulis buku anak-anak) serta Siti Ma’rifah, MM (praktisi pendidikan). Andi membuat ratusan tenaga pendidik yang hadir di aula PSBB MAN 2 Serang itu terpukau. Para peserta tidak mau meninggalkan bangku meski sempat mati lampu. Andi mampu ‘menyihir’ peserta dengan keahliannya memberikan materi tanpa membosankan dan tidak menjenuhkan. Dalam paparannya itu, Andi juga banyak menyelipkan adegan mendongeng yang membuat peserta geer-geeran. Dalam paparannya, Andi banyak mengupas tentang kreativitas anak dan pentingnya kreativitas guru dan orangtua.

Nah, bagi guru yang kebetulan tidak sempat hadir, berikut ini saya cuplikan materi Andi Yudha. Semoga bermanfaat.

 

————-

Ingin jadi idola anak?

 Berkomunikasilah dengan “dunia”

 Anak-Anak Kita

 

 :Andi Yudha Asfandiyar

 

Bismillahirrahmanirrahim

 

Sampai detik ini komunikasi merupakan kebutuhan manusia untuk mempertahankan eksistensinya. Segala informasi, ilmu, hikmah, penemuan dan sebagainya, menjadi bermakna serta bermanfaat setelah dikomunikasikan.

Dalam pendidikan anak-anak, faktor yang satu ini (komunikasi) amat berpengaruh. Mengapa  demikian? karena  pola pikir, pengalaman, cara pandang anak amat berbeda dengan kita orang dewasa. Banyak sekali orang dewasa kesulitan untuk bisa masuk “dunia” mereka.

“Rasul diutus dengan “bahasa” kaumnya… (QS. Ibrahim: 4)

“Kumudahkan Al-Quran dengan “bahasa” mu… agar mudah dimengerti/diterima. (QS. Ad-Dukhan:58)

 

 

Fakta-Fakta Menarik

* Usia 0-12 tahun, merupakan usia perkembangan otak anak yang penting, bahkan mencapai 80% (Benjamin Spock)

* Usia anak 0-12 tahun perlu intensif dirangsang otaknya, baik otak kiri maupun otak kanannya.

* Usia 0-12 tahun tersebut, merupakan masa penentu kepribadian anak.

* 60-90% potensi kreatif terdapat dan digunakan optimal pada usia tersebut.

* Curiousity (keingintahuan) anak-anak itu tinggi.

* Anak-anak cenderung belajar dari apa yang dilihat, diraba, didengar, dilakukan dan sebagainya.

* Cara anak-anak belajar biasanya efektif melalui pendekatan VISUAL (gambar), AUDITORIAL (Pendengaran), dan KINESTETIKAL (gerak).

* Anak-anak cenderung aktif, dinamis, imajinatif, kreatif, dan ekspresif.

* Dunia anak-anak berbeda dengan dunia orang dewasa.

* Each  one is different, each one is special, each  one is beautiful.

* “Didiklah anak-anakmu karena mereka dilahirkan untuk satu waktu yang  bukan waktumu” (HR. Bukhari-Muslim)

* Pendidikan paling efektif adalah melalui CONTOH/USWAH/TELADAN.

 

 “Tuhanku, karuniakanlah kepadaku anak

yang termasuk orang-orang yang shalih” (QS 26:83)

 

———-

 

                          Bagaimana sih Berkomunikasi dengan Anak Itu?

 

1. Berbicara dengan sepenuh hati dan jelas.

2. Fokuskan perhatian anda pada anak tersebut (tentang keinginannya, problemnya, perasaannya dan lain-lain.

3. Bersikaplah ramah dan bersahabat (untuk memperoleh kepercayaan).

4. Hindari prasangka negatif pada anak tersebut.

5. Hindari memotong pembicaraan.

6. Dengarlah secara aktif (not only hearing, but also listening).

7. Berikan informasi yang benar (tak dibuat-buat, dilebih-lebihkan infonya) tetapi cara menyajikannya boleh dilebih-lebihkan.

8. Perhatikan  isyarat non-verbal mereka (bahasa tubuh, mimik muka dsb).

9. Berbuatlah jujur terhadap anak.

10. Hargai apa yang ia perbuat walaupun remeh atau kecil.

11. Dongeng/Cerita tentang sebuah kisah (apapun itu), dan ceritakan dengan sungguh-sungguh pasti menarik perhatian mereka.

12. Berbicaralah dengan mereka secara sederhana dan tidak berbelit-belit dan sesuai kemampuan akalnya.

13. Perhatikan bahwa setiap anak itu berbeda-beda karakternya.

14. Betutur kata lemah-lembut penuh kasih sayang.

15. Ajari dan latih mereka dengan contoh-contoh praktis (bukan teori dan verbal saja).

16. Berkomunikasilah dengan mereka seperti teman.

17. Berikan pujian walaupun hanya sekadar perbuatan sepele.

18. Ketika bertemu tampakkanlah wajah yang ramah dan hangat.

19. Jangan segan-segan memberi usapan dan elusan di kepala mereka

20. Berlakulah seperti anak-anak ketika bermain bersama-sama.

21. Usahakan memberi dorongan semangat kepada anak untuk maju.

22. Bersabarlah dengan tingkah laku mereka, pertanyaan-pertanyaan aneh mereka, celetukan mereka dll.

23. Ketika bertemu, sapalah mereka lebih dahulu.

24. Hindari hukuman yang bersifat fisik.

25. Apabila terpaksa harus menghukum, usahakan tidak disertai rasa marah dan pukulan  hanya sebagai peringatan serta bagian tubuh yang tidak membahayakan.

26. Anggap apa yang mereka ucapkan dan ungkapkan seperti apa yang kita terima dari orang dewasa.

27. Hindari sikap menilai dahulu segala yang dilakukan anak, tetapi amati dan perhatikan dahulu dengan cermat.

28. Apabila ada pertanyaan mereka yang belum bisa kita jawab, jangan berpura-pura tahu atau berbohong, lebih baik berjanji untuk mencari tahu.

29. Seringlah mengajak anak-anak ke tempat yang banyak orang (pasar,pameran, pengajian dll).

30. Sering-seringlah mengucap kalimat-kalimat thoyyibah dalam kegiatan sehari-hari, lebih-lebih bila di depan mereka.

31. Kenalkan sejak dini, mereka dengan kesenian walaupun kita bukan seniman.

32. Kenalilah siapa teman-teman anak-anak itu.

33. Jangan terlalu sayang bila ingin memberi mereka hadiah (bukan harganya tapi nilai hubungan batinnya).

34. Biasakan kepada anak-anak untuk bertanya (budaya bertanya).

35. Berkomunikasilah kepada mereka melalui frame mereka (anak-anak) bukan frame kita (orang dewasa).

36. Jangan segan-segan memaafkan kekhilafan mereka, tapi juga jangan membiarkan mereka seenaknya.

37. Kenalilah dan pahami hobi, kesukaan, apa yang ia tonton, dengar, baca dan lain-lain agar kita lebih mudah “masuk” ke dunia mereka.

38. Jangan segan-segan minta maaf pada mereka ketika lupa, bersalah dsb.

39. Biasakan memberi mereka hadiah yang tak berbentuk materi. (uang, makanan, dsb).

40. Tak ada cara lain kita harus sabar disertai doa dalam mendidik anak-anak.

 

 

                                                                                             

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                            

 1-tng-pemilu-bawa-anak-1Tumben-tumbenan, ujang murah senyum

sebelumnya, boro-boro dia mau senyum

Tapi kali ini, dia lain. Seneng banget

Pas ditanya, ternyata dia malah melengos

“ah mau tau aja lu.”

Begitu katanya, kepada orang yang menegurnya

Eh,,tiba-tiba ujang meradang pait, padahal sebelumnya kan seneng

Begitu-begitu, hari-hari ujang menyambut kampanye

 

AL

;serang, 16/3/2009, kampanye terbuka hari pertama pemilu 2009

 

————-

 

YANG ADA MAUNYA

 

Jalan-jalan di serang pun berwarna-warni

Ada ijo, merah, kuning, biru, cokelat, abu-abu, dan lain-lain

warna-warni itu terus bergerak, berlarian, tanpa sungkan

Menghampiri orang-orang yang berjejer di pinggir jalan

Sambil melempar senyum, warna-warni itu makin terang banget

Apalagi saat ada usaha menerangkan warna ke depan

“jrenggggggggggg…”

si orang di pinggir jalan, sebagian jadi geli. Geli sendiri

sebagian biasa saja

sebagin lagi, masa bodoh

ada juga yang malu-malu kucing,

ada juga yang sebagian lagi antusias menyambut warna-warni

itulah potret. Potret tingkah pola politikus kita

terang hanya pada saatnya, terang pada saat ada maunya

Pas, udah jadi, rakyat dilupakan, dan tetap dijadikan alas kaki

 

AL

;serang, 16/3/2009, kampanye terbuka hari pertama pemilu 2009

 

merebut simpatik di area terlarang

;pemilu 2009

merebut simpatik di area terlarang
“Ah, harus itu….”
merebut simpatik di area terlarang
“Siapa lagi yang berani turunkan gue”
merebut simpatik di area terlarang
‘Tuh….kan bisa”

========
AMPLOP

suatu hari, aku diundang caleg
“Lut, jangan lupa ya, hadir hari ini. Ada pertemuan kiai”
Begitu bunyi, SMS yang dikirimkan kepadaku
Aku bergegas. Siapkan diri, karena tak mau mengecewakan teman
Sampai di lokasi, kulihat ratusan kiai telah berkumpul
Di tengah-tengah, ada sang calon memaparkan visi dan misi
Di sela-sela kesibukan, kumelihat, panitia memberikan amplop
Pada kerumunan orang-orang

Serang, 10/3/2009/ 3o hari menjelang pemungutan suara.

————–

KESIBUKAN CALEG (1)
menjelang, pemilihan
semua caleg mendadak sibuk. Sibuk banget.
di mana-mana, bagi duit. Bagi stiker. Bagi spanduk. Bagi buku. Bagi visi-misi. Bagi dooprize, dll

=========

KESIBUKAN CALEG (1)
mendadak, kawan aku yang satu ini jadi sering jadi pembicara
sebelumnya, tidak ada yang kenal..
tiba-tiba nongol di forum ilmiah, tentu sebuah prestasi
prestasi, menanam pilihan kepada peserta

kpu2Bila Anda, kebetulan lewat di jalur-jalur protokol di Kota Serang, Provinsi Banten (tulisan ini dibuat pada 9 Maret 2009 atau 31 hari menjelang pemilu 2009) Anda akan menemukan sesuatu yang baru. Baliho caleg DPR RI dari Golkar yang juga suami Gubernur Atut Chosiyah, Hikmat Tomet dan anaknya, Andika Hazrumy, tidak lagi sendirian. Setidaknya, Hikmat dan Andika tidak lagi kesepian karena ada ‘teman baru’ yang menemaninya di jalur protokol.

Baliho Hikmat dan Andika, kini sudah ditemani oleh baliho raksasa bergambar Darmayanto (caleg DPR RI dari PAN nomor urut 4) dan baliho raksasa Ketua Umum DPP Golkar Jusuf Kalla. Baliho raksasa milik Darmayanto dan Jusuf Kalla ini, baru dipasang beberapa hari lalu, namun keduanya sudah mampu menyedot perhatian publik Banten. Tentu saja, target mereka secara politis agar menjadi perhatian publik, sudah kesampaian. Misi itu telah benar-benar berhasil.

Boleh jadi, munculnya dua baliho raksasa itu makin menegaskan bahwa surat edaran KPU Banten yang menegaskan bahwa jalur protokol dilarang ada atribut kampanye benar-benar diabaikan. SE KPU Banten itu benar-benar dianggap angin lalu dan dianggap tidak ada artinya apa-apa. Padahal sangat jelas, SE itu ditujukan kepada semua peserta pemilu agar tidak memasang media kampanye di jalur protokol. Jadi, Betapa ruginya menjadi anggota KPU Banten yang kebijakannya sama sekali tidak dihormati oleh peserta pemilu 2009. Tragis memang….

Atribut kampanye bergambar Darmayanto dipasang di Jalan Jenderal Ahmad Yani, dekat perempatan Ciceri, yang juga tidak jauh terdapat baliho raksasa milik Hikmat Tomet dan Andika.  Sementara atribut kampanye bergambar Jusuf Kalla tiba-tiba muncul di Jalan Veteran, dekat Kantor BNI cabang Serang, yang juga tidak jauh dari baliho raksasa Hikmat Tomet.

Selain di jalur protokol, ternyata di sepanjang pohon di Alun-alun Serang juga mulai bermunculan kembali atribut kampanye dengan ukuran kecil. Atribut itu dipasang dengan cara dipaku di pohon-pohon yang mengelilingi Alun-alun. Sementara atribut kampanye bergambar Toyib Fanani (PAN) dipasang di tanah bahu jalan dengan menggunakan kayu pendek.

Sebelumnya, Panwaslu Banten dan Satpol PP Banten telah melakukan penertiban semua jenis atribut kampanye di jalur protokol. Namun penertiban kali pertama itu, memang tidak menyentuh semua atribut kampanye. Saat penertiban itu berlangsung, atribut milik Hikmat Tomet  dan Andika Hazrumy (calon Dewan Perwakilan Daerah [DPD]) tidak turut ditertibkan. Dua baliho yang jelas-jelas berada di jalur protokol ini, sama sekali tidak disentuh oleh Panwaslu dan Satpol PP. Takut? Saya tidak tahu jawabannya.

Nah, mungkin karena itu, akhirnya caleg lain (seperti Darmayanto-mungkin juga akan disusul oleh caleg lainnya), berani memasang baliho raksasa di jalur terlarang. Itu karena mereka bisa berdalih, “Tuh, baliho Hikmat dan Andika aja tidak ditertibkan kok.”

 

KETIDAKTEGASAN

Fenomena kembali maraknya atribut kampanye di jalur protokol Kota Serang dipicu oleh satu hal saja. Yaitu tidak ada ketegasan dari pihak berwajib-Panwaslu dan Satpol PP-untuk mengambil langkah tegas mengamankan SE KPU Banten. Panwaslu dan Satpol PP terkesan diskriminatif dalam melakukan penertiban media kampanye sehingga memunculkan ketidakpercayaan publik dan juga caleg.

Diskriminasi sikap itu yang menjadikan, caleg lain juga punya pikiran nakal. “Saya akan memasang baliho raksasa di jalur protokol karena letaknya sangat strategis. Pasti baliho saya tidak akan diturunkan. Kalau memang diturunkan, saya akan protes keras kalau bisa lapor polisi bahwa saya diperlakukan tidak adil. Nyatanya ada baliho Hikmat dan Andika yang juga tidak ditertibkan dari dulu.” Begitu kira-kira dalih para caleg yang memasang atribut kampanye di jalur protokol.

Kalau seandainya, Panwaslu dan Satpol PP tegas sejak awal SE KPU Banten diteken (dalam arti kata menertibkan semua atribut kampanye) tentu tidak ada lagi yang berani memasang media kampanye di zona terlarang.

Jadi ke depan, kita tentu akan masih menyaksikan makin banyak caleg lain yang akan memasang baliho di jalur terlarang yang ujung-ujungnya Kota Serang akan terlihat sumpek dan kumuh. Ke depan kita juga akan menyaksikan bahwa yang kuat itu benar-benar dapat menaklukkan rimba perpolitikan local. Dan,  kita juga akan menyaksikan bahwa Panwaslu makin tidak bertaring lagi.. Wallahualamu bis showab.

 

 

Serang, 9/3/2009.pukul 23.45 wib

Pengalaman pertama masuk sekolah merupakan kenangan yang tidak akan terlupakan dalam hidup saya. Kali pertama saya masuk sekolah ke MI Daarul Ma’arif, Kampung Gondrong Petir, Kelurahan Petir, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, ada beberapa kenangan manis yang sampai saat ini masih terekam baik di ingatan saya. Dan saya tidak mungkin melupakan pengalaman itu. Kenangan pertama, saya kenal baik dengan semua guru yang saya anggap menginspirasi perjalanan hidup saya berikutnya. Mereka antara lain Ahmad Chotib, Mukhtarom, Asnawi, Bu Kamal, H Samlawi, H Abdul Majid, H Saduni (kepala sekolah).

Hanya saja memang, ada kenangan yang mendalam terhadap pribadi Pak Ahmad Chotib dan Mukhtarom. Dua guru ini yang paling berkesan karena keduanya sangat baik. Hampir mata pelajaran yang dipegang oleh dua guru ini, nilai saya selalu memuaskan. Itu karena mungkin, saya menyenangi mata pelajaran yang mereka ajarkan. Atau memang karena saya senang dengan gaya belajar mereka. Entahlah. Yang jelas, saat saya belajar dengan keduanya, enjoy saja. Yang juga tak bisa saya lupakan kenangan dengan Pak Muhktarom adalah, beliau sangat pandai membuat gambar-gambar (karikatur). Setiap kali, beliau membuat karikatur itu, saya sangat menikmati coretan pulpennya di atas kertas.

Guru lain yang layak saya sebutkan karena keteladanannya adalah H Samlawi. Meski sudah tua saat itu, guru yang satu ini tetap bersemangat untuk mengajar kelas kami. Dan kenangan yang paling saya ingat bersama Samlawi adalah ciri khasnya yaitu mendongeng di kelas. Kalau guru yang satu ini kedapatan giliran masuk kelas siang hari dan siswa sudah mengantuk, maka Samlawi menggantikan pelajarannya dengan mendongeng. Dia akan mendongeng dengan lugas sambil duduk di atas kursi. Saat mendongeng, meski mimik wajahnya terlihat kelelahan, namun suaranya tetap terdengar. Kami sekelas pun sangat menikmati aluran cerita yang disampaikan guru yang selalu berpeci hitam ini.

Dongeng yang diceritakan adalah dongeng seputar sejarah nabi, rasul, serta sahabat. Kami sebagai siswanya selalu senang mendengarkan dongeng sang guru ini. Kami sekelas tdak pernah bosan untuk mendengarkan dongengnya. Setiap kali, setiap masuk, kami memang memimpikan diajarkan oleh beliau. Tentu saja untuk mendengarkan dongeng. Dan setahu saya, dari sekian guru di MI Daarul Ma’arif, hanya Samlawi satu-satunya guru yang bisa mendongeng. Tidak aneh bila kala itu, beliau dikenal sebagai guru pendongeng yang amat masyhur.

Kenangan lain yang saat ini saya ingat adalah beliau setiap kali mengajar selalu menggunakan sepeda besar (ontel). Sepeda itu dikayuhnya dari tempat tinggalnya di Kampung Gondrong Udik ke Petir-kira-kira 5 kiloan lebih. Setibanya di sekolah, ontel itu disandarkan di bawah pohon yang berada di halaman sekolah. Kami yang berada di kelas, selalu memerhatikan kehadiran H Samlawi dengan senang. Hati saya pun selalu bergetar, betapa ikhlas dan sederhananya guru satu ini.

Oha ya, tak lupa setelah mendongeng, di antara kami ada satu siswa yang berkeliling untuk memungut uang seikhlasnya kepada kami. Kami pun dengan senang hati memberikan uang tersebut. Ada yang Rp 50 perak, Rp 100 perak, dan Rp 500 perak. Saat itu, jumlah itu sudah cukup besar. Uang itu pun kami berikan kepada guru pendongeng ini. Tenti kami sangat ikhlas, senang, dan tidak terbebani. Bahkan-kalaupun ada uang lebih-kami selalu sempatkan untuk membantu guru yang satu ini.

Selain H Samlawi, masih ada lagi guru yang juga layak disebut karena kepahlawannya mengajar yakni H Abdul Majid. Hanya saja, saya tidak terlalu diajar oleh Abdul Majid sehingga tidak ada kenangan yang membekas. Hanya kenangan yang saya kenang terhadap pribadi H Abdul Majid ini, adalah pribadinya yang sangat sederhana dan penyabar. Setiap mengajar, bapak ini senantiasa sangat telaten dan sabar walaupun kami sekelas sangat gaduh. Hingga kini (2009) yang saya dengar, bapak ini masih tetap mengajar meski usianya sudah tidak muda lagi, sekitar 70 tahun lebih.

Serang, 6/3/2009

Laman Berikutnya »