Tidak susah untuk mencari duit di Serang, Provinsi Banten. Anda cukup bermodalkan pluit dan modal nekat, maka Anda sudah dapat meraih rupiah dengan gampangnya. Tidak perlu ijazah, tidak perlu tampang keren, dan tidak perlu rapi apalagi dandan necis.

Modalnya ya cuma itu saja, pluit dan nekat. Anda tentu sudah mengira-ngira, pekerjaan apa dengan modal yang sangat minim ini. Ya, benar pekerjaan ini adalah tukang parkir. Gara-gara modal sederhana itu, akhirnya tukang parkir liar menjamur di antero Serang. Hamper di setiap sudut kota Serang, ada tukang parkir yang jumlahnya antara 1-2 orang. Karena itu kalau Anda ke Serang jangan kaget bila menemukan banyak tukang parkir.

Anda juga tidak usah kaget, bila Anda menyimpan motor untuk membeli makan atau rokok di warung meski hanya sekitar lima menitan, motor Anda akan ditempel kertas oleh si tukang parkir. Ujung-ujungnya Anda harus mengeluarkan uang Rp 1.000 kepada si pemilik kertas ini, yaitu si tukang parkir. Biasanya si tukang parker kalau tidak menempelkan kertas di atas motor Anda,si tukang parker menggunakan karton besar ntuk menutupi motor Anda.

Bila tidak memberi  uang sebagai balasan layanan jasa mereka, Anda tentu akan kena semprot. Kalau kebetulan Anda, orang yang emosional dan pemarah, sudah dapat dibayangkan apa yang akan terjadi. Tentu keributan. Kalau sudah begitu, jangan harap Anda akan dibantu. Malah sebaliknya, Anda akan dikeroyok karena biasanya mereka bergerombol. Nah, daripada pulang babak belur, lebih baik member meski dengan nada gundah. Inilah potret Serang. Potret wajah kita sendiri.

Sebagai orang yang sudah menetap di Serang hampir 8 tahun (saya asli Cipondoh, Kota Tangerang,karena keperluan tugas saya dipindah ke Serang), saya hampir setiap hari harus mengeluarkan uang untuk si tukang parkir. Kalau dihitung-hitung se hari, bisa mencapai Rp 10.000!  Saat saya membeli lauk pauk di rumah apa pun, saat saya membeli martabak di pinggir jalan, saat saya berbelanja di warung, saat saya belanja di ritel, saat saya makan bubur di pinggir jalan, saya harus mengeluarkan uang untuk jasa parkir. Padahal saya memarkir motor persis berada di depan atau di samping saya makan. Tapi tetap saja, si tukang parkir-rata-rata sih masih muda- mengenakan biaya parkir. Saya mau kesal, tidak bisa karena takut bentrok.  Kita ini dipaksa untuk menerima realitas yang kita sendiri tidak tahu sejak kapan realitas ini berlangsung.  Sebelumnya, fenomena ini tidak pernah saya dapati di Kota Tangerang.

 

Saya-juga kalau Anda mengalami sendiri-tentu sangat kesal  dengan fenomena banjirnya tukang parkir l ini. Ada kesan mereka ingin mencari uang tanpa harus capek-capek bekerja seharian penuh. Padahal kita mencari uang harus banting tulang sampai malam. Sampai-sampai sakit demam! Sementara si tukang parker, cukup dengan pluit, sudah mendapatkan uang dalam jumlah lumayan per hari.

Saya sempat mengobrol dengan beberapa tukang parkir yang sudah bekerja puluhan tahun. Dalam setengah sehari saja, mereka bisa mengantongi uang sampai Rp 30.000-60.000. Itu baru setengah hari saja, jadi sudah dapat dibayangkan berapa uang yang mereka kumpulkan selama sebulan. Bahkan mereka juga bisa menghidupi keluarga dari profesi tukang parkir ini.

———

KEGAGALAN PEMERINTAH

Kita boleh saja kesal dengan si tukang parker. Kita boleh saja mencaci mereka. Tapi itu percuma saja. Sebab mereka menjadi tukang parkir karena alasan klise. Tidak ada pekerjaan lain. Mereka juga sering berdalih, “daripada merampok lebih baik jadi tukang parkir. Biar kecil tapi halal.” Begitu dalil yang mereka pegang untuk membenarkan profesi mereka.

Di balik fenomena membanjirnya tukang parkir ini, sebenarnya Tuhan ingin memperlihatkan bahwa pemerintahan kita gagal membangun kesejahteraan rakyatnya. Mungkin pemerintah baru berhasil membuat orang kaya segelintir orang saja. Orang-orang itu adalah orang-orang yang punya link dengan kekuasaan.

Pemerintah gagal  menciptakan lapangan pekerjaan baru yang permanen bagi rakyatnya. Pemerintah benar-benar belum tuntas mengentaskan garis kemiskinan di antero daerah Kegagalan ini juga menunjukkan bahwa pemerintah belum cukup menjadi khalifah fil ardh sebagaimana amanat Allah yang maha perkasa.

Lalu bagaimana agar menjadi khalifah fil ardh? Tidak terlalu sulit. Untuk menjadi khalifah fil ardh, para pemimpin bangsa ini tidak perlu belajar jauh-jauh. Cukup mereka mempelajari atau meneladani Rasulullah SAW, khalifah yang empat (khulafaurrasyidin), para sahabat, dan para tabiin-tabiit. Dari mereka, pemimpin bangsa ini dapat belajar bagaimana menjadi pemimpin yang baik, belajar pemimpin yang peduli kepada rakyat, belajar menjadi pemimpin yang amanah, dan belajar menjadi pemimpin yang ikhlas hatinya untuk kepentingan rakyat dan bangsanya. Hanya pertanyaannya, maukah pemimpin bangsa ini belajar dari mereka?

 

Serang, 1/3/2009