Pengalaman pertama masuk sekolah merupakan kenangan yang tidak akan terlupakan dalam hidup saya. Kali pertama saya masuk sekolah ke MI Daarul Ma’arif, Kampung Gondrong Petir, Kelurahan Petir, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, ada beberapa kenangan manis yang sampai saat ini masih terekam baik di ingatan saya. Dan saya tidak mungkin melupakan pengalaman itu. Kenangan pertama, saya kenal baik dengan semua guru yang saya anggap menginspirasi perjalanan hidup saya berikutnya. Mereka antara lain Ahmad Chotib, Mukhtarom, Asnawi, Bu Kamal, H Samlawi, H Abdul Majid, H Saduni (kepala sekolah).

Hanya saja memang, ada kenangan yang mendalam terhadap pribadi Pak Ahmad Chotib dan Mukhtarom. Dua guru ini yang paling berkesan karena keduanya sangat baik. Hampir mata pelajaran yang dipegang oleh dua guru ini, nilai saya selalu memuaskan. Itu karena mungkin, saya menyenangi mata pelajaran yang mereka ajarkan. Atau memang karena saya senang dengan gaya belajar mereka. Entahlah. Yang jelas, saat saya belajar dengan keduanya, enjoy saja. Yang juga tak bisa saya lupakan kenangan dengan Pak Muhktarom adalah, beliau sangat pandai membuat gambar-gambar (karikatur). Setiap kali, beliau membuat karikatur itu, saya sangat menikmati coretan pulpennya di atas kertas.

Guru lain yang layak saya sebutkan karena keteladanannya adalah H Samlawi. Meski sudah tua saat itu, guru yang satu ini tetap bersemangat untuk mengajar kelas kami. Dan kenangan yang paling saya ingat bersama Samlawi adalah ciri khasnya yaitu mendongeng di kelas. Kalau guru yang satu ini kedapatan giliran masuk kelas siang hari dan siswa sudah mengantuk, maka Samlawi menggantikan pelajarannya dengan mendongeng. Dia akan mendongeng dengan lugas sambil duduk di atas kursi. Saat mendongeng, meski mimik wajahnya terlihat kelelahan, namun suaranya tetap terdengar. Kami sekelas pun sangat menikmati aluran cerita yang disampaikan guru yang selalu berpeci hitam ini.

Dongeng yang diceritakan adalah dongeng seputar sejarah nabi, rasul, serta sahabat. Kami sebagai siswanya selalu senang mendengarkan dongeng sang guru ini. Kami sekelas tdak pernah bosan untuk mendengarkan dongengnya. Setiap kali, setiap masuk, kami memang memimpikan diajarkan oleh beliau. Tentu saja untuk mendengarkan dongeng. Dan setahu saya, dari sekian guru di MI Daarul Ma’arif, hanya Samlawi satu-satunya guru yang bisa mendongeng. Tidak aneh bila kala itu, beliau dikenal sebagai guru pendongeng yang amat masyhur.

Kenangan lain yang saat ini saya ingat adalah beliau setiap kali mengajar selalu menggunakan sepeda besar (ontel). Sepeda itu dikayuhnya dari tempat tinggalnya di Kampung Gondrong Udik ke Petir-kira-kira 5 kiloan lebih. Setibanya di sekolah, ontel itu disandarkan di bawah pohon yang berada di halaman sekolah. Kami yang berada di kelas, selalu memerhatikan kehadiran H Samlawi dengan senang. Hati saya pun selalu bergetar, betapa ikhlas dan sederhananya guru satu ini.

Oha ya, tak lupa setelah mendongeng, di antara kami ada satu siswa yang berkeliling untuk memungut uang seikhlasnya kepada kami. Kami pun dengan senang hati memberikan uang tersebut. Ada yang Rp 50 perak, Rp 100 perak, dan Rp 500 perak. Saat itu, jumlah itu sudah cukup besar. Uang itu pun kami berikan kepada guru pendongeng ini. Tenti kami sangat ikhlas, senang, dan tidak terbebani. Bahkan-kalaupun ada uang lebih-kami selalu sempatkan untuk membantu guru yang satu ini.

Selain H Samlawi, masih ada lagi guru yang juga layak disebut karena kepahlawannya mengajar yakni H Abdul Majid. Hanya saja, saya tidak terlalu diajar oleh Abdul Majid sehingga tidak ada kenangan yang membekas. Hanya kenangan yang saya kenang terhadap pribadi H Abdul Majid ini, adalah pribadinya yang sangat sederhana dan penyabar. Setiap mengajar, bapak ini senantiasa sangat telaten dan sabar walaupun kami sekelas sangat gaduh. Hingga kini (2009) yang saya dengar, bapak ini masih tetap mengajar meski usianya sudah tidak muda lagi, sekitar 70 tahun lebih.

Serang, 6/3/2009