kpu2Bila Anda, kebetulan lewat di jalur-jalur protokol di Kota Serang, Provinsi Banten (tulisan ini dibuat pada 9 Maret 2009 atau 31 hari menjelang pemilu 2009) Anda akan menemukan sesuatu yang baru. Baliho caleg DPR RI dari Golkar yang juga suami Gubernur Atut Chosiyah, Hikmat Tomet dan anaknya, Andika Hazrumy, tidak lagi sendirian. Setidaknya, Hikmat dan Andika tidak lagi kesepian karena ada ‘teman baru’ yang menemaninya di jalur protokol.

Baliho Hikmat dan Andika, kini sudah ditemani oleh baliho raksasa bergambar Darmayanto (caleg DPR RI dari PAN nomor urut 4) dan baliho raksasa Ketua Umum DPP Golkar Jusuf Kalla. Baliho raksasa milik Darmayanto dan Jusuf Kalla ini, baru dipasang beberapa hari lalu, namun keduanya sudah mampu menyedot perhatian publik Banten. Tentu saja, target mereka secara politis agar menjadi perhatian publik, sudah kesampaian. Misi itu telah benar-benar berhasil.

Boleh jadi, munculnya dua baliho raksasa itu makin menegaskan bahwa surat edaran KPU Banten yang menegaskan bahwa jalur protokol dilarang ada atribut kampanye benar-benar diabaikan. SE KPU Banten itu benar-benar dianggap angin lalu dan dianggap tidak ada artinya apa-apa. Padahal sangat jelas, SE itu ditujukan kepada semua peserta pemilu agar tidak memasang media kampanye di jalur protokol. Jadi, Betapa ruginya menjadi anggota KPU Banten yang kebijakannya sama sekali tidak dihormati oleh peserta pemilu 2009. Tragis memang….

Atribut kampanye bergambar Darmayanto dipasang di Jalan Jenderal Ahmad Yani, dekat perempatan Ciceri, yang juga tidak jauh terdapat baliho raksasa milik Hikmat Tomet dan Andika.  Sementara atribut kampanye bergambar Jusuf Kalla tiba-tiba muncul di Jalan Veteran, dekat Kantor BNI cabang Serang, yang juga tidak jauh dari baliho raksasa Hikmat Tomet.

Selain di jalur protokol, ternyata di sepanjang pohon di Alun-alun Serang juga mulai bermunculan kembali atribut kampanye dengan ukuran kecil. Atribut itu dipasang dengan cara dipaku di pohon-pohon yang mengelilingi Alun-alun. Sementara atribut kampanye bergambar Toyib Fanani (PAN) dipasang di tanah bahu jalan dengan menggunakan kayu pendek.

Sebelumnya, Panwaslu Banten dan Satpol PP Banten telah melakukan penertiban semua jenis atribut kampanye di jalur protokol. Namun penertiban kali pertama itu, memang tidak menyentuh semua atribut kampanye. Saat penertiban itu berlangsung, atribut milik Hikmat Tomet  dan Andika Hazrumy (calon Dewan Perwakilan Daerah [DPD]) tidak turut ditertibkan. Dua baliho yang jelas-jelas berada di jalur protokol ini, sama sekali tidak disentuh oleh Panwaslu dan Satpol PP. Takut? Saya tidak tahu jawabannya.

Nah, mungkin karena itu, akhirnya caleg lain (seperti Darmayanto-mungkin juga akan disusul oleh caleg lainnya), berani memasang baliho raksasa di jalur terlarang. Itu karena mereka bisa berdalih, “Tuh, baliho Hikmat dan Andika aja tidak ditertibkan kok.”

 

KETIDAKTEGASAN

Fenomena kembali maraknya atribut kampanye di jalur protokol Kota Serang dipicu oleh satu hal saja. Yaitu tidak ada ketegasan dari pihak berwajib-Panwaslu dan Satpol PP-untuk mengambil langkah tegas mengamankan SE KPU Banten. Panwaslu dan Satpol PP terkesan diskriminatif dalam melakukan penertiban media kampanye sehingga memunculkan ketidakpercayaan publik dan juga caleg.

Diskriminasi sikap itu yang menjadikan, caleg lain juga punya pikiran nakal. “Saya akan memasang baliho raksasa di jalur protokol karena letaknya sangat strategis. Pasti baliho saya tidak akan diturunkan. Kalau memang diturunkan, saya akan protes keras kalau bisa lapor polisi bahwa saya diperlakukan tidak adil. Nyatanya ada baliho Hikmat dan Andika yang juga tidak ditertibkan dari dulu.” Begitu kira-kira dalih para caleg yang memasang atribut kampanye di jalur protokol.

Kalau seandainya, Panwaslu dan Satpol PP tegas sejak awal SE KPU Banten diteken (dalam arti kata menertibkan semua atribut kampanye) tentu tidak ada lagi yang berani memasang media kampanye di zona terlarang.

Jadi ke depan, kita tentu akan masih menyaksikan makin banyak caleg lain yang akan memasang baliho di jalur terlarang yang ujung-ujungnya Kota Serang akan terlihat sumpek dan kumuh. Ke depan kita juga akan menyaksikan bahwa yang kuat itu benar-benar dapat menaklukkan rimba perpolitikan local. Dan,  kita juga akan menyaksikan bahwa Panwaslu makin tidak bertaring lagi.. Wallahualamu bis showab.

 

 

Serang, 9/3/2009.pukul 23.45 wib