imag0117Pada, Selasa (17/3), Himpaudi Kabupaten Serang kerja bareng dengan Mizan, Dar!Mizan, Rumah Buku Lutfi, Alfamart, dan Radar Banten menggelar seminar nasional, “Menjadi Guru Kreatif,” di Gedung PSBB MAN 2 Serang. Acara diikuti-berdasarkan data yang masuk-sekitar 684 guru yang berasal dari Serang, Cipocok Jaya, Cilegon, Menes, Malingping, Rangkasbitung, Tangerang. Bahkan ada dua peserta yang berasal dari Jakarta. Mereka adalah guru PAUD, TK, SLTP, SLTA, dan mahasiswa. Dari ratusan peserta itu, tampak juga hadir Anizir Ali Murad, SE, MM, purek III Universitas Serang, sebagai peserta. “Saya memang tertarik dengan seminar ini,” ujar Anizir saat mendaftar.

Seminar ini menghadirkan pembicara Andi Yudha Asfandiyar (Picupacu Kreativitas dan penulis buku anak-anak) serta Siti Ma’rifah, MM (praktisi pendidikan). Andi membuat ratusan tenaga pendidik yang hadir di aula PSBB MAN 2 Serang itu terpukau. Para peserta tidak mau meninggalkan bangku meski sempat mati lampu. Andi mampu ‘menyihir’ peserta dengan keahliannya memberikan materi tanpa membosankan dan tidak menjenuhkan. Dalam paparannya itu, Andi juga banyak menyelipkan adegan mendongeng yang membuat peserta geer-geeran. Dalam paparannya, Andi banyak mengupas tentang kreativitas anak dan pentingnya kreativitas guru dan orangtua.

Nah, bagi guru yang kebetulan tidak sempat hadir, berikut ini saya cuplikan materi Andi Yudha. Semoga bermanfaat.

 

————-

Ingin jadi idola anak?

 Berkomunikasilah dengan “dunia”

 Anak-Anak Kita

 

 :Andi Yudha Asfandiyar

 

Bismillahirrahmanirrahim

 

Sampai detik ini komunikasi merupakan kebutuhan manusia untuk mempertahankan eksistensinya. Segala informasi, ilmu, hikmah, penemuan dan sebagainya, menjadi bermakna serta bermanfaat setelah dikomunikasikan.

Dalam pendidikan anak-anak, faktor yang satu ini (komunikasi) amat berpengaruh. Mengapa  demikian? karena  pola pikir, pengalaman, cara pandang anak amat berbeda dengan kita orang dewasa. Banyak sekali orang dewasa kesulitan untuk bisa masuk “dunia” mereka.

“Rasul diutus dengan “bahasa” kaumnya… (QS. Ibrahim: 4)

“Kumudahkan Al-Quran dengan “bahasa” mu… agar mudah dimengerti/diterima. (QS. Ad-Dukhan:58)

 

 

Fakta-Fakta Menarik

* Usia 0-12 tahun, merupakan usia perkembangan otak anak yang penting, bahkan mencapai 80% (Benjamin Spock)

* Usia anak 0-12 tahun perlu intensif dirangsang otaknya, baik otak kiri maupun otak kanannya.

* Usia 0-12 tahun tersebut, merupakan masa penentu kepribadian anak.

* 60-90% potensi kreatif terdapat dan digunakan optimal pada usia tersebut.

* Curiousity (keingintahuan) anak-anak itu tinggi.

* Anak-anak cenderung belajar dari apa yang dilihat, diraba, didengar, dilakukan dan sebagainya.

* Cara anak-anak belajar biasanya efektif melalui pendekatan VISUAL (gambar), AUDITORIAL (Pendengaran), dan KINESTETIKAL (gerak).

* Anak-anak cenderung aktif, dinamis, imajinatif, kreatif, dan ekspresif.

* Dunia anak-anak berbeda dengan dunia orang dewasa.

* Each  one is different, each one is special, each  one is beautiful.

* “Didiklah anak-anakmu karena mereka dilahirkan untuk satu waktu yang  bukan waktumu” (HR. Bukhari-Muslim)

* Pendidikan paling efektif adalah melalui CONTOH/USWAH/TELADAN.

 

 “Tuhanku, karuniakanlah kepadaku anak

yang termasuk orang-orang yang shalih” (QS 26:83)

 

———-

 

                          Bagaimana sih Berkomunikasi dengan Anak Itu?

 

1. Berbicara dengan sepenuh hati dan jelas.

2. Fokuskan perhatian anda pada anak tersebut (tentang keinginannya, problemnya, perasaannya dan lain-lain.

3. Bersikaplah ramah dan bersahabat (untuk memperoleh kepercayaan).

4. Hindari prasangka negatif pada anak tersebut.

5. Hindari memotong pembicaraan.

6. Dengarlah secara aktif (not only hearing, but also listening).

7. Berikan informasi yang benar (tak dibuat-buat, dilebih-lebihkan infonya) tetapi cara menyajikannya boleh dilebih-lebihkan.

8. Perhatikan  isyarat non-verbal mereka (bahasa tubuh, mimik muka dsb).

9. Berbuatlah jujur terhadap anak.

10. Hargai apa yang ia perbuat walaupun remeh atau kecil.

11. Dongeng/Cerita tentang sebuah kisah (apapun itu), dan ceritakan dengan sungguh-sungguh pasti menarik perhatian mereka.

12. Berbicaralah dengan mereka secara sederhana dan tidak berbelit-belit dan sesuai kemampuan akalnya.

13. Perhatikan bahwa setiap anak itu berbeda-beda karakternya.

14. Betutur kata lemah-lembut penuh kasih sayang.

15. Ajari dan latih mereka dengan contoh-contoh praktis (bukan teori dan verbal saja).

16. Berkomunikasilah dengan mereka seperti teman.

17. Berikan pujian walaupun hanya sekadar perbuatan sepele.

18. Ketika bertemu tampakkanlah wajah yang ramah dan hangat.

19. Jangan segan-segan memberi usapan dan elusan di kepala mereka

20. Berlakulah seperti anak-anak ketika bermain bersama-sama.

21. Usahakan memberi dorongan semangat kepada anak untuk maju.

22. Bersabarlah dengan tingkah laku mereka, pertanyaan-pertanyaan aneh mereka, celetukan mereka dll.

23. Ketika bertemu, sapalah mereka lebih dahulu.

24. Hindari hukuman yang bersifat fisik.

25. Apabila terpaksa harus menghukum, usahakan tidak disertai rasa marah dan pukulan  hanya sebagai peringatan serta bagian tubuh yang tidak membahayakan.

26. Anggap apa yang mereka ucapkan dan ungkapkan seperti apa yang kita terima dari orang dewasa.

27. Hindari sikap menilai dahulu segala yang dilakukan anak, tetapi amati dan perhatikan dahulu dengan cermat.

28. Apabila ada pertanyaan mereka yang belum bisa kita jawab, jangan berpura-pura tahu atau berbohong, lebih baik berjanji untuk mencari tahu.

29. Seringlah mengajak anak-anak ke tempat yang banyak orang (pasar,pameran, pengajian dll).

30. Sering-seringlah mengucap kalimat-kalimat thoyyibah dalam kegiatan sehari-hari, lebih-lebih bila di depan mereka.

31. Kenalkan sejak dini, mereka dengan kesenian walaupun kita bukan seniman.

32. Kenalilah siapa teman-teman anak-anak itu.

33. Jangan terlalu sayang bila ingin memberi mereka hadiah (bukan harganya tapi nilai hubungan batinnya).

34. Biasakan kepada anak-anak untuk bertanya (budaya bertanya).

35. Berkomunikasilah kepada mereka melalui frame mereka (anak-anak) bukan frame kita (orang dewasa).

36. Jangan segan-segan memaafkan kekhilafan mereka, tapi juga jangan membiarkan mereka seenaknya.

37. Kenalilah dan pahami hobi, kesukaan, apa yang ia tonton, dengar, baca dan lain-lain agar kita lebih mudah “masuk” ke dunia mereka.

38. Jangan segan-segan minta maaf pada mereka ketika lupa, bersalah dsb.

39. Biasakan memberi mereka hadiah yang tak berbentuk materi. (uang, makanan, dsb).

40. Tak ada cara lain kita harus sabar disertai doa dalam mendidik anak-anak.