Wawancara Imajiner dengan Sultan Ageng Tirtayasa

 

Perubahan Tidak Ditentukan Oleh Muda Atau Tua

 

Pengantar:

Hari pencontrengan Pemilu 2009 sudah di depan mata. Terhitung sejak Jumat (20/3), hari pencontrengan 9 April 2009, tinggal 20 hari lagi. Nah, sambil menunggu hari bersejarah itu, saya berhasil menemui salah satu sultan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa. Saya pun melakukan wawancara imajiner. Berikut petikannya:

 

Bagaimana prediksi Sultan di hari pencontrengan nanti?

Sultan: Bagaimanapun juga pesta demokrasi lima tahunan itu harus berlangsung aman, jujur, dan demokratis. Nah, saya kira di Banten, pemilu dapat berlangsung sukses. Sebab masyarakat di sini sudah pada dewasa dan tidak terlalu pusing dengan siapa pemenangnya. Yang penting bagi masyarakat, datang ke TPS, dan contreng. Siapa yang mereka pilih, mereka yang punya pilihan. Dan itu alamiah.

 

Sultan yakin pemilu berlangsung demokratis di Banten?

Sultan: Harus itu. KPU sebagai penyelenggara pemilu harus dapat menjamin bahwa pelaksanaan pemilu di Banten berlangsung aman dan jujur. Itu tanggung jawab KPU. Jangan sampai KPU-lantaran ditekan kekuasaan-mau memanipulasi dan menggelembungkan suara untuk memenangkan salah satu atau beberapa calon gara-gara yang bersangkutan dekat dengan kekuasaan atau famili dari penguasa. Jika itu yang terjadi, jelas bahwa KPU mencederai demokrasi.

Islam sudah sangat jelas mengajarkan kepada kita semua agar kita dapat berbuat adil kepada semua orang, termasuk kepada calon. Jadi, berbuat adillah kepada semua orang agar tidak ada yang disakiti. Kepada lima orang KPU provinsi dan KPU kabupaten/kota, saya titip kepada anda semua agar dapat melaksanakan pemilu dengan adil, jujur, dan demokratis.

 

Bagaimana dengan wajah-wajah calon (caleg dan calon anggota DPD asal Banten),Sultan punya tanggapan?

Sultan: Sangat variatif. Calon itu ada yang masih muda, segar-segar, dan tampak polos. Tapi ada juga yang muka-muka lama (yang pernah menjabat anggota dewan-red). Nah muka-muka lama ini yang masih ingin menjadi wakil rakyat. Mereka seharusnya sih ngaca dulu, apakah pada periode sebelumnya sudah melakukan perbaikan terhadap kehidupan dan perekonomian rakyat. Kalau tidak, kan lebih baik tidak mencalonkan diri lagi. Harus legawa mundur karena telah gagal mengemban amanah. Tapi kenyataannya mereka masih tetap saja nyalon tanpa ada evaluasi diri, ya saya tidak dapat mencegahnya. Itu hak politik mereka yang juga harus saya hormati. Biarkan saja rakyat yang menentukan. Toh, rakyat Banten sekarang sudah melek, sudah pada tahu, siapa yang layak dipilih dan mana yang tidak. Pilihan cerdas ini yang akan menentukan nasib Banten ke depan.

Sementara kepada calon-calon yang masih muda, energik, saya kira ini hal yang bagus. Mereka sudah berani untuk mencalonkan diri dan bertarung di kelas pemilu. Sebuah pertarungan yang sengit dan tentu saja sarat dengan intrik. Tapi ingat, jangan gara-gara muda, lalu Anda percaya dapat membawa perubahan bagi Banten. Tidak semudah itu. Perubahan tidak ditentukan oleh muda atau tua. Perubahan di Banten harus dilaksanakan secara simultan dan berproses. Oleh karena itu calon-calon muda, Anda tetap saja harus lebih banyak belajar lagi. Belajar mengenai kearifan, belajar mengenai tatakrama, dan belajar bagaimana caranya mensejahterakan rakyat. Anda dapat belajar dari mana saja, termasuk dari para pemimpin kebantenan masa lalu. Bukankah, sejarah itu dapat menjadi tempat berkaca untuk menata langkah lebih efisien dan berarti.

 

Sultan yakin, mereka mampu membawa perubahan?

Sultan: Ya, itu tadi. Perubahan tidak dapat dilakukan dengan grasak-grusuk. Perubahan dapat dilakukan dengan berproses. Metaformosis itu perlu waktu yang juga tampaknya agak melelahkan. Dan saya berharap perubahan di Banten berjalan normal dan baik sehingga tidak ada rakyat yang dikorbankan.

Harapan saya, caleg-caleg Banten yang manggung untuk DPRD kabupaten/kota, DPRD provinsi, dan DPR RI dapat membawa Banten lebih baik, lebih mencerahkan, dan kalau bisa dapat menjadikan Banten sebagai pusat peradaban dalam berbagai aspek, sebagaimana masa-masa keemasan kesultanan Banten lalu.(*)

wawancara berakhir subuh. Saya lalu mencium tanganya untuk pamit pulang. Saat itu saya mencium aroma harum semerbak. Sultan hanya mengangguk.

(Kesultanan Banten berawal ketika Kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke daerah barat. Pada tahun 1524/1525, Sunan Gunung Jati bersama pasukan Demak merebut pelabuhan Banten dari kerajaan Sunda, dan mendirikan Kesultanan Banten yang berafiliasi ke Demak. Menurut sumber Portugis, sebelumnya Banten merupakan salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda selain pelabuhan Pontang, Cigede, Tamgara (Tangerang), Sunda Kalapa dan Cimanuk.

Anak dari Sunan Gunung Jati (Hasanudin) menikah dengan seorang putri dari Sultan Trenggono dan melahirkan dua orang anak. Anak yang pertama bernama Maulana Yusuf. Sedangkan anak kedua menikah dengan anak dari Ratu Kali Nyamat dan menjadi Penguasa Jepara.

Terjadi perebutan kekuasaan setelah Maulana Yusuf wafat (1570). Pangeran Jepara merasa berkuasa atas Kerajaan Banten daripada anak Maulana Yusuf yang bernama Maulana Muhammad karena Maulana Muhammad masih terlalu muda. Akhirnya Kerajaan Jepara menyerang Kerajaan Banten. Perang ini dimenangkan oleh Kerajaan Banten karena dibantu oleh para ulama.

Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Fatah Abdulfatah atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu Pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat. Wilayah kekuasaannya meliputi sisa kerajaan Sunda yang tidak direbut kesultanan Mataram dan serta wilayah yang sekarang menjadi provinsi Lampung. Piagam Bojong menunjukkan bahwa tahun 1500 hingga 1800 Masehi Lampung dikuasai oleh kesultanan Banten.

 

 

HAPUS

Kesultanan Banten dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. Pada tahun itu, Sultan Muhamad Syafiuddin dilucuti dan dipaksa turun takhta oleh Thomas Stamford Raffles. Tragedi ini menjadi klimaks dari penghancuran Surasowan oleh Gubernur-Jenderal Belanda, Herman William Daendels tahun 1808.

Pemimpin Kesultanan Banten

      Sunan Gunung Jati

      Sultan Maulana Hasanudin 1552 – 1570

      Maulana Yusuf 1570 – 1580

      Maulana Muhammad 1585 – 1590

     

Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir 1605 – 1640 (dianugerahi gelar tersebut pada tahun 1048 H (1638) oleh Syarif Zaid, Syarif Makkah saat itu.

      Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad 1640 – 1650

      Sultan Ageng Tirtayasa 1651-1680

      Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) 1683 – 1687

      Abdul Fadhl / Sultan Yahya (1687-1690)

      Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733)

      Muhammad Syifa Zainul Ar / Sultan Arifin (1750-1752)

      Muhammad Wasi Zainifin (1733-1750)

      Syarifuddin Artu Wakilul Alimin (1752-1753)

      Muhammad Arif Zainul Asyikin (1753-1773)

      Abul Mafakir Muhammad Aliyuddin (1773-1799)

      Muhyiddin Zainush Sholihin (1799-1801)

      Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802)

      Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803)

      Aliyuddin II (1803-1808)

      Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809)

      Muhammad Syafiuddin (1809-1813)

      Muhammad Rafiuddin (1813-1820)

 

 

Tulisan ini dilengkapi dari Harian Kompas, Senin, 22 Desember 2003, “Memimpikan Takhta Kesultanan Banten,” dalam Wikipedia.com