April 2009


INGIN JADI NARASUMBER

Sebuah lembaga pendidikan di Serang mengadakan seminar regional dengan menghadirkan pembicara dari kalangan pemerintah, DPRD, dan pengamat politik setempat di hotel bintang empat. Agar dketahui oleh masyarakat luas maka panitia memasang iklan pengumuman di media.
Satu hari menjelang pelaksanaan panitia seminar dibuat kelimpungan. Mereka kedatangan salah satu tokoh yang menurut panitia dikenal sebagai jawara beserta pengawalnya. Kedatangan jawara kita ini tidak pernah diduga sebelumnya oleh para panitia yang terdiri dari kalangan kampus. ”Kami sangat terkejut dengan kedatangan dia (jawara-red),” kata salah satu panitia.
Belum kaget keterkejutan panitia, jawara kita ini yang juga seorang pengusaha meminta dijadikan sebagai salah satu pembicara yang bergandengan dengan pembicara lain. Sontak, permintaan jawara kita ini membuat panitia kelabakan. ”Saat itu kita berpikir bagaimana bila dia menjadi pembicara padahal dalam undangan dan iklan yang sudah disebar tidak menyebutkan dia sebagai pembicara,” tandas panitia.
Sempat terjadi dialog antara jawara kita ini dengan panitia. Jawara kita ngotot agar dijadikan sebagai narasumber karena berhak untuk ngomong tema yang diusung oleh panitia. Sementara panitia tetap bertahan tidak menyertakan jawara dalam seminar tersebut. Namun entah karena apa, akhirnya permintaan jawara kita ini dikabulkan oleh panitia. ”Daripada jadi repot, ya sudah kita biarkan dia jadi pembicara,” kata panitia dengan enteng.

—-

KETIKA JADI NARASUMBER
Bagaimana ketika jawara kita ini menjadi narasumber dalam forum resmi yang dihadiri oleh kalangan akademisi, LSM, tokoh masyarakat, dan pers. Tentu banyak cerita unik dan menggelitik. Menjadi narasumber dalam forum ilmiah mungkin suatu kebanggaan bagi jawara kita ini. Oleh karena itu, kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh jawara kita ini. Dia datang tepat waktu namun dengan penampilan yang berbeda dengan pembicara lain.
Kalau pembicara lain datang dengan pakaian biasa dan tanpa pengawal, maka jawara kita yang satu ini datang dengan pakaian keren dan tentu saja dikawal. Pakaiannya necis dan berdasi. Tidak lupa di tangan kanan memegang map. Penampilannya saat itu mirip dengan sosok pejabat yang ingin memberikan sambutan resmi. Penampilan jawara kita ini membuat para peserta seminar terbelalak. ”Kayak udah jadi walikota saja,” celetuk salah satu wartawan lokal yang kebetulan meliput acara.
Memang pas. Tema yang dibicarakan dalam seminar itu memang terkait dengan pembentukan Kota Serang yang terpisah dengan Kabupaten Serang. Meski masih lama, namun sejumlah orang sudah mulai bergerilya mencari simpati. Barangkali itu yang membuat jawara kita ini juga memanfaatkan momen seminar untuk mencari hati karena disebut-sebut jawara kita ini juga ngebet ingin jadi walikota.
Saat giliran ngomong dalam forum, jawara kita ini malah mengenalkan satu per satu pembicara yang berada di sebelah kanan dan kirinya. ”Inilah dia tokoh-tokoh pembentukan kota Serang, silakan berdiri,” ujar jawara.
Para pembicara yang berada di depan tidak menyangka akan mendapat ’instruksi’ mendadak. Dengan mesem-mesem malu, satu per satu pembicara berdiri di hadapan peserta seminar mengikuti apa yang dikatakan jawara kita ini. Sementara peserta diskusi juga geleng-geleng kepala sambil menahan mesem.
————-

TERLALU MENGGEBU-GEBU

H Sagaf Usman dikenal sebagai tokoh masyarakat Banten yang disegani. Banyak orang menyebut beliau sebagai jawara karena sikap dan pendiriannya yang tegas. Ngomongnya pun blak-blakan tanpa tedeng aling-aling. Kalau sudah mengeritik, langsung kepada sasaran tembaknya. ”Beliau adalah potret orang Banten asli,” komentar salah satu wartawan senior di Banten.
Sebagai salah satu tokoh yang juga anggota DPD, Sagaf seringkali mendapat undangan untuk menjadi pembicara baik dalam forum ilmiah maupun dalam forum informal. Dalam forum-forum itu, ’kejawaraan’ Sagaf selalu tampak. Bicaranya menggebu-gebu dan memompa semangat peserta.
Suatu ketika Sagaf menjadi pembicara seminar tentang Kota Serang. Selain Sagaf, pembicara lainnya adalah mantan Menko Perekonomian yang asli wong Banten, Dorodjatun Kuntjojakti dan Rektor Untirta Prof Yoyo Mulyana. Dalam forum itu, Sagaf banyak mengemukakan berbagai kebijakan pemerintah pusat yang tidak berpihak kepada Banten, salah satunya soal sodetan Kali Ciliwung-Cisadane. ”Kalau sodetan itu terealisir, maka Banten akan tenggelam. Karena itu sejak awal saya sudah menolak,” terangnya.
Kritikannya tidak hanya sampai di situ. Mantan Ketua PCNU Tangerang ini juga mengupas berbagai kebijakan lain yang dinilai kurang cocok. Bicaranya keras dan menggebu-gebu sehingga seringkali mendapat tepuk tangan dari para peserta forum. Ketika pukul menunjukkan sekira pukul 11.45, tiba-tiba Sagaf langsung terdiam. Tubuhnya lunglai. Mik yang dipegangnya jatuh ke lantai. Para pembicara dan moderator memberikan pertolongan dengan cara memijit-mijit sekujur tubuh Sagaf. Setelah itu panitia membawa Sagaf ke rumah sakit terdekat. Namun terlambat, sebelum sampai ke rumah sakit Sagaf sudah meninggal. ”Kita kehilangan tokoh Banten yang kharismatik,” begitu komentar para kepala daerah di Banten.

—————

INGATKAN KPU
Sama halnya H Sagaf Usman, KH Muhtadi Dimyati juga dikenal sebagai salah satu tokoh masyarakat Banten yang dihormati. Keilmuannya tidak diragukan lagi. Murid-muridnya tersebar di berbagai pelosok Banten. Lantaran kharismatiknya itu, KH Muhtadi menduduki sebagai ketua dewan syuro DPW PKB Banten.
Pada saat Pilkada Gubernur/Wakil Gubernur Banten 2006, KH Muhtadi menjadi salah satu tokoh penting. Saat itu, anak Abuya Dimyati ini, mati-matian membela Muhtar Mandala agar diusung sebagai calon gubernur dari PKB karena sudah melalai mekanisme penjaringan di PKB. Saat mendaftar pasangan calon gubernur-wakil gubernur di KPU Banten, KH Muhtadi pun mengantarkan pasangan Muhtar Mandala-Suryana. Namun, belakangan KPU Banten malah menetapkan pasangan yang sah diusung oleh PKB adalah pasangan Irsjad Djuwaeli-Mas A Daniri. Keputusan KPU berdasarkan keputusan dari DPP PKB yang memutuskan pasangan calon gubernur/wakil gubernur dari PKB adalah Irsjad-Daniri.
Merasa dizolimi, beberapa kali KH Muhtadi dan para pendukungnya menggelar aksi unjuk rasa di KPU Banten. Dalam orasinya, KH Muhtadi meminta agar KPU taat kepada aturan dan mengesahkan pasangan Muhtar-Suryana. KPU bergeming, dan tidak mengindahkan pernyataan KH Muhtadi.
Suatu saat, KH Muhtadi dan massanya datang lagi ke KPU. Setelah berorasi, KH Muhtadi dan beberapa orang dipersilakan menghadap KPU. Saat itulah, ’kejawaraann’ Muhtadi keluar. DI hadapan para anggota KPU, KH Muhtadi menggertak. Ngomongannya keras dan menyitir beberapa ayat al quran. Suasana di dalam ruangan KPU yang juga disaksikan pers mendadak hening. Tidak ada satu pun suara yang keluar kecuali suara KH Muhtadi. Suaranya lantang dan keras sehingga orang yang mendengarkan saat itu, merasa tidak sanggup membantah apalagi menyetop ucapan kiai kita ini. Setelah puas menumpahkan unek-uneknya, KH Muhtadi langsung ngeloyor pulang yang diikuti para pendukungnya dengan santai. Sementara di dalam ruangan KPU masih terasa mencekam. ”Wah itu sih tadi macan-nya yang keluar,” komentar wartwan lokal yang menyaksikan adegan itu.

—————-
TAK MAU SERAHKAN STNK

Sejak mal berdiri di kota Serang, saat itu masyarakat berduyun-duyun datang. Ada yang sekadar jalan-jalan, belanja, atau cuma ingin tahu yang namanya mal. Maklum, mal yang dibangun di atas lahan bangunan bersejarah ini, satu-satunya pusat perbelanjaan lengkap di Serang.
Tak terkecuali jawara. Jawara kita pun rupanya ingin mencicipi yang namanya mal. Seperti pengunjung lainnya, jawara kita ini membawa anaknya. Setelah berjam-jam di mal, saatnya jawara kita ini pulang.
Saat melintasi pintu parkir yang dikelola Secure Parking, jawara kita diminta agar menunjukkan karcis dan STNK motornya oleh penjaga parkir. Namun jawara kita ini hanya menyerahkan karcis tanpa STNK.. ”Masa sih mesti menyerahkan STNK,” ucapnya lantang. Sementara si penjaga parkir tetap ngotot agar STNK ditunjukan. ”Saya hanya menjalankan tugas,” begitu katanya.
Sempat terjadi perdebatan sengit antara keduanya yang menyebabkan antrean motor di belakang makin panjang. Lantaran terus didesak, akhirnya jawara kita ini mau juga menyerahkan STNK-nya dengan cara membanting ke meja si tukang parkir. Si tukang parkir hanya diam. Setelah mengambil kembali STNK-nya, jawara kita ini langsung pulang dengan terus menggerutu. Sementara anaknya yang dibonceng di belakang hanya tersenyum.

——————-

NYEROBOT ANTREAN

Suatu ketika terjadi antrean panjang motor di salah satu POM Bensin di bilangan Ciracas, Serang. Para pengendara antre sebab bensin saat itu langka. Di tengah antrean itu, tiba-tiba salah satu pengunjung langsung mendekati petugas SPBU dan meminta agar motornya diisi bensin. Si penjaga SPBU meminta agar pengunjung yang satu ini antre. Namun si pengunjung ini tidak mau dan tetap agar dilayani duluan.
Karena tidak mau ada keributan, akhirnya si penjaga SPBU melayani permintaan pengunjung yang satu ini. Sementara di belakang antrean, warga hanya bisa bersungut-sungut. ”Mentang-mentang jawara maunya enak sendiri, ”kata salah satu pengendara yang sedang antre. ”Biarin sajalah,” timpal temannya.

—————

GAK BISA BACA
Alangkah senangnya jawara kita masuk koran, sebab baru kali ini masuk koran. Yang terpampang di koran bukan hanya kegiatan si jawara saja, namun juga foto jawara kita ini dipasang. Sehingga, kampung halamannya geger karena ada orang kampung yang masuk koran.
Saking senangnya, si jawara kita ini ingin berbagi kebahagiaan dengan sopir pribadinya yang juga dikenal sebagai jawara. Badannya tinggi tegap. ”Tuh, urang masuk koran. Baca tah (Tuh, saya masuk koran, baca tuh-red),” kata jawara kita kepada sopirnya sambil memberikan koran.
Tidak mau malu-maluin, juragannya si sopir langsung mengambil koran tersebut. Namun hanya bisa memelototnya saja. ”Urang teu bisa baca bah (saya tidak bisa baca, Pak-red),” kata si sopir dengan polos. Mendapat jawaban seperti itu, jawara kita tersenyumm saja. ”Uh, maneh mah badan doang badag tapi teu bisa baca (Kamu maha badan saja besar tapi gak bisa baca-red),” kata si jawara sambil berlalu.

—————
LIGAINDONESIA

Seperti mayoritas orang Indonesia, jawara juga senang dengan liga Indonesia. Hampir tipa hari, jawara kita ini tidak melewatkan pertandingan Liga Indonesia. Namun, entah kenapa pada suatu ketika jawara kita ini tidak sempat nonton. Karena penasaran, kahirnya si jawara kita ini mencari informasi kepada tetangganya yang kebetulan melihat pertandingan antara Persib Bandung dengan Persija. ”Tadi bola apa lawsan apa,” kata jawara kita. Jawab temannya, ”Persib Bandung lawan Persija.” ”Oh….” timpal jawara kita. ”Terus mana yang menang Persib atau Bandung,” tanya jawara kita dengan rasa penasaran. Temannya ini hanya melotot dan geleng-geleng kepala saja.

—————

INGIN NGOMONG
Siapa bilang jawara tidak berani tampil di forum ilmiah bersama dengan tokoh sekaliber dirut PT Krakatau Steel. Fakta membuktikan dalam forum diskusi yang digagas oleh salah satu media lokal, beberapa jawara berebutan ingin tampil mengemukakan pertanyaan dan pernyataan dalam sesi tanya jawab. Hal ini tentu saja membuat moderator bingung. ”Pertanyaan langsung saja, tak usah bertele-tele,” ujar moderator mengingatkan para penanya.
Namun, imbanuan moderator tidak digubrir. Para penanya tetap mengeluarkan pernyataan ;panjang-panjang sehingga watktu diskusi tinngal menghitung menit. ”Waktu diskusi kita tinggal lima belas menit lagi,” ucap moderator. Meski demikian, jawara kita tetap ingin mengajukan pertanyaan kepada dirut Krakatau Steel dan Ketua Dewan Pengembangan Sumber Daya Manusia Banten yang menjadi pembicara tanpa menghiraukan waktu yang tersisa. Sementara dirut KS dan para pembicara yang lain hanya tersenyum simpul saja mendapati berbagai pertanyaan dari peserta. ”Waktu kita sudah habis, tapi kita persilakan pembicara untuk menanggapi,” kata moderator. Tidak kurang dari beberapa menit saja, para pembicara menjawab pertanyaan. ”Walah-walah pertanyan panjang sekali kok jawabnya sedikit ya,” sahut jawara kita.

——————
KELUARKAN JURUS
Jawara kita yang satu ini lain dari yang lain. Selain memiliki kanuragan, yang diperolehnya sejak kecil, jawara kita ini juga mengabdi pada salah satu perguruan tinggi di Serang. Jawara kita ini mampu menunjukkan dirinya sebagai salah satu akademikus yang berhasil.
Mengobrol dengan jawara kita ini tentu banyak pengetahuan yang didapat. Tidak aneh, bila banyak orang yang ingin mengobrol dengannya. Namun bagi yang pertama ingin mengobrol dengan jawara kita ini, pasti punya pengalaman menarik. Salah satunya, Kang Hafidz.
Suatu ketika Kang Hafid ingin menemui jawara kita ini sedang ngobrol dengan orang lain. Kang Hafid ingin ikut nimbrung karena sudah lama ingin ketemu dengan jawara kita ini. Ketika sedang mengobrol itu, bahu jawara kita ini dicolek oleh Hafid yang datang dari arah belakang. Maksud Kang Hafid inging bersalaman dan cepat akrab. Saat itu juga, jawara kita langsung mengeluarkan jurus. Kang Hafid bengong dan tidak tahu harus berbuat apa. ”Eittthh…saha iue,” kata jawara kita dengan repleks.

——————–

DEMO

Pada saat pelaksanaan Pemilu 2004, suhu politik lokal meningkat naik. Kantor KPU Serang menjdi salah satu tempat langganan pendemo. Suatu waktu, lembaga penyelenggara pemilu itu didemo oleh salah satu massa pendukung parpol karena tidak puas dengan keputusan KPU. Massa terus merangsek memasuki ruangan KPU.
Salah satu perwakilan massa yang juga dikenal dengan jawara langsung nyerocos di hadapan anggota KPU yang bersedia menemui pendemo. ”Mana nu namanya Arief (M Arief Ikbal, salah satu anggota KPU Serang), urang pengin ketemu,” katanya dengan nada lantang di hadapan anggota KPU salah satunya Arief Ikbal. Mendapati itu, Arief hanya tersenyum. Setelah itu, perwakilan massa dipersilakan masuk untuk menyampaikan aspirasi
Saat dialog itu, ketua KPU Serang menyilakan Arief untuk ngomong. Si jawara yang tadi ngomong lantang di hadapan Arief tersentak. Ternyata yang namanya Arief-Ketua Pokja Pencalonan- adalah orang yang tadi diluar dicari-carinya. Jawara kita ini hanya tahu bahwa Arief itu adalah Oboy, karena panggilan sehari-hari Arief adalam Oboy.

——————-

TAKUT DENGAN PHOTO

Pada Pilkada Serang 2005, rumah Ketua Pokja Pencalonan M Arief Ikbal didatangi para pendukung salah satu kandidat. Di antara tamu tak diundang itu ada sebagian jawara. Arief yang kebetulan berada di rumah mempersilakan tamu masuk ke dalam ruangan. Sementara istri Arief tampak khawatir.
Dialog antara Arief dengan para pendukung berlangsung sengit dan panas hingga beberapa menit. Ketika sedang memanas itu, mata salah satu jawara melirik photo yang terpampang di dinding ruangan tamu Arief. ”Eta photo saha,” kata jawara. Arief menjawab, ’bapak urang.” Mengetahui bahwa photo yang tertempel adalah photo bapaknya Arief, omongoan jawara mulai pelan dan mulai sopan. ”Oh, bapak tah. Ustad kite kuh,” kata jawara. Arief memang anak salah satu tokoh masyarakat Banten yang juga Ketua Umum MUI Banten, Prof KH Wahab Afif yang giat berdakwah.

———————

DISAMAKAN

Salah satu universitas di Serang statusnya meningkat menjadi disamakan. Para pimpinanan universitas, akademisi, merayakan peningkatan status itu dengan cara menggelar syukuran. Dalam acara itu juga dihadiri oleh ketua kurator (dewan penyantun). Kebetulan saat itu ketua kuratornya adalah salah satu tokoh jawara.
Rangkaian acara dimulai dengan diawali oleh kata sambutan oleh salah satu petinggi universitas. ”Saat ini adalah hari yang paling berbahagia karena status universitas kita sudah disamakan, kta bangga dengan status disamakan ini,” katanya dengan bangga. Peserta yang hadir sesekali tepuk tangan.
Setelah pimpinan universitas selesai memberikan sambutan, tiba saatnya ketua kurator memberikan sambutan. Dengan nada lantang, jawara ini berujar, ”Naon-naonan dia, universitas disamakeun pake bangga sagala. Emang teu aya kursi tah. Sono cokot kursi di rumah urang, loba. (apa-apan kamu, universitas pakai samak [tikar pandan] bangga. Emangnya tidak ada kursi. Sana, ambil kursi di rumah saya, banyak),” katanya. Peserta yang hadir terdiam.

;serang, april 2009

Pemilu 2009, sama dengan pemilu-pemilu sebelumnya, memang banyak melahirkan distorsi keterwakilan. Caleg mewakili siapa tidak jelas. Masyarakat diwakili oleh siapa pun menjadi absurd. Kali ini, distorsi keterwakilan begitu kental mewarnai pesta demokrasi lima tahunan. Hal itu terjadi karena keterwakilan yang seolah-olah ini dapat diatur dengan mudah bila memiliki kekuatan finansial oleh sang calon.
Ambil contoh begini. Ada seorang pengusaha ternama di Jakarta. Dia sudah sangat kaya raya karena penghasilannya sangat melimpah. Bahkan ada gurauan, kalau si pengusaha nasional ini mau membeli tanah seluas Kecamatan Serang, dia sangat mudah untuk mendapatkannya dengan kekuatan uangnya. Meski kekayaannya sangat melimpah, si pengusaha ini masih saja tertarik menjadi wakil rakyat. Padahal gaji menjadi wakil rakyat bila dibandingkan dengan gajinya di berbagai perusahaan itu tidak ada apa-apanya.
Tapi apa lacur. Si tokoh ini tetap menjadi caleg untuk mewakili masyarakat Banten lewat jalur parpol besar. Si pengusaha nasional ini pun berada di nomor urut pertama, yang mengalahkan calon lain. Meski nomor urut sudah tidak lagi berpengaruh terhadap caleg terpilih namun nomor urut tetap menjadi gengsi politik. Bila suaranya signifikan, si tokoh ini diprediksi mulus melenggang ke parlemen.
Saya pesimis bahwa si pengusaha nasional ini mengenal ruh daerah yang akan diwakilinya. Sebab memang, si pengusaha ini sebelumnya tidak pernah bergelut dengan kehidupan masyarakat yang akan diwakilinya. Meskipun dia mengenal daerah yang akan diwakilinya lewat observasi kecil-kecilan, namun dipastikan hanya mengenal daerah yang diwakilinya itu dari sisi teritori dan geografis saja. Dia tidak dapat mengenal dengan baik daerah yang akan diwakilinya dalam pengertian yang sangat substansial. Begitu juga sebaliknya, masyarakat pun tidak akrab dengan ide, gagasan, dan pemikiran sang tokoh karena tidak ada transfer keilmuan secara sosiologis
Contoh lainnya masih ada. Memang si tokoh nasional ini putera asli daerah yang akan diwakilinya. Namun dia sudah kadung lebih banyak beraktivitas di luar daerah yang akan diwakilinya karena tidak pernah pulang ke kampung halamannya. Selama perantauannya itu, si tokoh ini sudah tenar karena menjadi artis yang sering muncul di televise swasta. Nah, saat pemilu legislatif digelar 9 April lalu, si artis ini pun tiba-tiba balik kandang, pulang ke kampung halamannya. Tidak sebagai artis namun menjadi caleg untuk mewakili tanah kelahirannya lewat parpol. Diprediksi kuat, si artis ini akan melenggang ke parlemen dengan mudah karena perolehan suaranya sangat signifikan.
Masih ada lagi kasus lain. Si caleg ini dulunya adalah anggota dewan dari parpol besar. Namun dia dipecat karena sesuatu alasan mendasar. Di Pemilu 2009 ini, si tokoh yang berasal dari Jakarta ini menjadi caleg nomor urut satu lewat parpol lain. Sama dengan si pengusaha di atas, si tokoh ini pun tidak mengenal baik daerah yang akan diwakilinya.
Itu contoh-contoh kecil yang ditemukan dalam pemilu kali ini. Tentu masih banyak contoh kasus serupa-yang juga mungkin terjadi di daerah lain. Andai mereka benar-benar terpilih menjadi wakil rakyat di parlemen, apakah ada jaminan bahwa mereka akan memperjuangkan aspirasi masyarakat yang diwakilinya sementara dia sendiri ‘asing’? Tentu, tidak ada yang dapat memastikan.
Fenomena itu menggambarkan bahwa keterwakilan benar-benar menjadi tidak berarti karena memang dapat diatur dengan segenap kekuasaan yang dimiliki, ketenaran, dan kekuatan uang. Keterwakilan menjadi absurd karena tidak jelasnya “siapa” mewakili “siapa” dan untuk “apa”.
Jadinya, spirit demokrasi yang diejawantahkan lewat pemilihan umum hanya menjadi ‘ladang bisnis’ untuk berebut kekuasaan di parlemen. Tidak aneh bila kemudian parlemen pun kerap dicap sebagai lembaga yang ekslusif, lembaga yang jauh dengan rakyat, dan lembaga yang juga asing bagi rakyat. Hal itu itu terjadi karena memang sebelumnya wakil rakyat yang dipilih adalah calon yang asing bagi rakyat di masing-masing daerah pemilihan.
Distorsi keterwakilan itu yang membuat keterwakilan dalam pemilu menjadi tidak relevan karena tidak menemukan titik temu yang baik. Keterwakilan hanya menjadi gincu pemanis dalam momen-momen berdemokrasi saja. Wallahualamu bis showab.

;serang, 24 april 2009

JANJI MENGUBAH UU PEMDA

Perebutan kursi DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) Banten I tidak kalah sengitnya dengan dapil Banten II. Pertarungan wajah-wajah lama dengan wajah baru tetap terjadi.

—-

Dapil Banten I meliputi Kabupaten Lebak dan Pandeglang dengan kuota 6 kursi. Di dapil ini, sejumlah caleg anak pejabat, istri pejabat, artis, dan anggota dewan ikut bertarung. Mereka memperebutkan jatah 6 kursi di DPR RI.
Dari kalangan anak pejabat, ada Iti Octavia Jayabaya yang mencalonkan diri dari Partai Demokrat. Iti berada di nomor urut dua setelah Ratu Siti Romlah. Meski berada di nomor urut dua, namun Iti mampu memperoleh suara sementara terbesar yaitu 4.650, sementara Ratu Siti Romlah meraih 3.062.
Selain Iti, ada Irna Narulita, istri Bupati Pandeglang Dimyati Natakusumah. Irna maju dari PPP di nomor urut satu dan memperoleh suara sementara sangat fantastis yaitu 12.023. Perolehan suara perempuan berjilbab itu merupakan suara terbesar semua caleg yang bertarung di Dapil Banten I ini. Setelah Irna, Nuraeni Bachrudin (nomor urut tiga) juga memperoleh cukup besar yaitu 1.167. Bila PPP dapat dua kursi dari dapil Banten I ini, kemungkinan yang melenggang masuk adalah Irna dan Nuraeni. Sementara suaminya Irna yaitu Dimyati Natakusumah hanya meraih suara 952.
Dari kalangan artis, ada dua yang bertarung dan merebut simpatik. Mereka adalah Dedi Suwandi Gumelar (akrab disapa Miing Bagito) dan Ahmad Zulfikar Fawzi, yang beken dengan nama Ikang Fawzi. Miing maju dari PDIP sementara Ikang Fawzi dan PAN. Hingga tadi malam pukul 20.00 WIB, Miing memperolah suara cukup signifikan yaitu 2.485 yang membuka peluang dirinya melenggang ke Senayan. Perolehan suara Miing ini mengalahkan suara Tumbu Saraswati (anggota DPR dari PDIP) yang juga maju sebagai caleg PDIP yang hanya memperoleh 689.
Sedangkan Ikang Fawzi baru memperoleh suara sementara 704. Perolehan suara suami artis Marissa Haque itu di kalangan internal PAN sendiri merupakan suara tertinggi.
Selain dari anak pejabat dan artis, politikus berpengalaman juga ikut mencari peruntungan di dapil Banten I ini. Mereka antara lain Syamsu Hilal, Yayat Suhartono (keduanya dari PKS), Mamat Rahayu Abdullah, Ace Hasan Syadzilyi (keduanya dari Golkar). Dari PKB ada KH Manarul Hidayah.
Namun perolehan suara politikus ini kalah jauh dengan perolehan suara caleg artis dan anak pejabat. Syamsu Hilal, caleg nomor urut 1 dari PKS, hanya meraih suara 1.512 dan Yayat Suhartono (anggota DPRD Banten) hanya 383.
Begitupun dengan Mamat Rahayu Abdullah dan Ace Hasan. Dua caleg Partai Golkar ini masing-masing memperoleh suara 2.790 dan 2.072. Sementara KH Manarul Hidayah (anggota DPR dari PKB) hanya meraih 930. Suara yang sangat minim ini, memungkinan Manarul tidak akan terpilih lagi menjadi wakil rakyat di DPR RI.

JANJI CALEG
Bagaimana tanggapan mereka yang diprediksi lolos ke Senayan? Iti Octavia Jayabaya berjanji akan memperjuangkan beberapa kebutuhan di daerah pemilihannya. “Ada beberapa program prioritas yang akan saya perjuangkan, tentunya bersama-sama rekan-rekan (caleg dari partai lain-red). Selain berusaha memperjuangkan regulasi perpanjangan undang-undang tentang pengangkatan guru honorer, juga akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari dana di pusat bagi Banten, khususnya untuk Lebak dan Pandeglang,” ujar Iti, Jumat (17/4) siang.
Iti menilai, Lebak dan Pandeglang membutuhkan kucuran dana yang lebih besar untuk mengejar ketertinggalan dari daerah-daerah lain. “Dan untuk mencari dana tersebut, jelas butuh lobi-lobi dari anggota DPR. Karenanya, kalau saya sekarang sudah diminta berandai-andai lolos ke Senayan, lobi dana adalah menjadi agenda utama saya,” ujarnya diiringi tawa.
Kata Iti, Lebak yang sedang giat-giatnya berbenah membutuhkan dukungan dari semua pihak, tak terkecuali anggota DPR RI yang mewakili daerah ini. “Siapa pun yang maju ke Senayan, memang harus mencari solusi agar dana dari pusat bisa lebih besar lagi turun ke Lebak,” tambahnya.
Di lain tempat, Deddy Suwandi Gumelar alian Miing Bagito mengungkapkan, tugas wakil rakyat yang ada di Senayan bukan hanya melakukan lobi-lobi mencari dana. “Menurut saya, kalau satu daerah memiliki ketergantungan yang kuat dengan APBN, justru bukan mendidik. Apalagi, daerah itu memiliki potensi yang melimpah, tapi tak bisa dimanfaatkan oleh pemimpinnya,” ujar Miing.
“Contohnya Pandeglang, PAD-nya sangat kecil padahal potensi daerahnya besar. Karena itu, di daerah dibutuhkan juga pemimpin (bupati) yang memiliki nalar dan terobosan untuk mengangkat PAD. Jangan hanya bergantung ke pusat, nanti malah tak maju-maju,” lanjut Miing.
Miing juga menilai, ada salah satu tugas penting yang juga menjadi agenda utamanya yaitu memperbaiki UU No 32 tentang Pemerintah Daerah. Menurut Miing, undang undang tersebut memiliki kelemahan yakni tak bisanya gubernur memberikan punishment (hukuman) terhadap bupati.
“Dan yang terjadi sekarang, sangat jarang seorang bupati/walikota mau hadir saat diundang gubernur untuk rapat. Paling-paling yang diutus hanya kepala dinas. Padahal, rapat bersama ini memiliki fungsi strategis untuk membangun daerah secara bersama-sama. Makanya, kalau saya lolos ke Senayan, saya berharap bisa masuk ke komisi II (bidang pemerintahan),” ujar Miing.
Bagaimana dengan Irna Narulita? Saat ditemui di pendopo Pemkab Pandeglang, Irna belum mau sesumbar karena belum ada ketetapan dari KPU. “Ibu tidak mau mendahului instansi terkait (KPU-red) karena belum ada ketetapan. Tetapi yang jelas perolehan suara ibu cukup besar. Ibu serahkan kepada Allah soal perolehan suara ini,” ujar Irna.
Bila benar nanti dipercaya duduk di DPR, Irna mengaku akan mengemban amanat dari rakyat yang memilihnya karena ia tidak mau mengecewakan konstituennya. Yang pertama akan dilakukan adalah bagaimana kesetaraan gender itu dilakukan.
“Saat ini masih ada perempuan dipandang sebelah mata sehingga masih marak kasus kekerasan dalam rumah tangga. Ini yang harus ditangani agar tidak terjadi lagi. Perempuan jangan hanya berkutat di dapur, sumur dan kasur saja, tetapi melakukan advokasi atau pendidikan yang baik kepada masyarakat,” katanya.
Irna juga mengaku, kiprahnya nanti di Senayan akan memperjuangkan budgeting (anggaran) agar lebih banyak lagi anggaran dari pusat mengalir ke Pandeglang-Lebak. Selama ini ia hanya sebagai istri bupati yang setia mendampingi suaminya tetapi tidak punya kekuatan untuk menggolkan anggaran dari pusat. “Ekonomi kerakyatan harus terus diperjuangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena dengan ekonomi kerakyatan menjadikan masyarakat semakin berdaya,” paparnya. (*)

tulisan ini dilengkapi juga dari radarbanten, edisi sabtu (18/4)

DIDOMINASI PENGUSAHA

Hasil pemilu legislatif, 9 April lalu, memang belum ditetapkan. Namun sejumlah nama beken diprediksi melenggang ke Senayan. Siapa saja mereka?

—–

Rekapitulasi penghitungan suara parpol dan masing-masing caleg hingga kemarin masih berlangsung di panitia pemilihan kecamatan (PPK). Namun beberapa nama caleg DPR RI diprediksi akan melenggang mulus ke Senayan karena perolehan suara sementara mereka hingga tadi malam sangat signifikan. Bahkan ada tren terus bertambah meninggalkan

caleg-caleg lain.

Di daerah pemilihan (dapil) Banten II yang meliputi Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon, suami Gubernur Ratu Atut Chosiyah, Hikmat Tomet, diprediksi kuat dapat meraih kursi. Hingga tadi malam pukul 20.00 WIB, Hikmat Tomet meraih suara sementara 21.380 yang merupakan perolehan suara tertinggi meski dibandingkan dengan caleg di dapil lainnya.

Di dapil Banten II ini, Hikmat bersaing dengan caleg Golkar yang berada di urutan dua yakni Tb Iman Ariyadi. Hingga pukul 20.00 WIB, putra Walikota Cilegon Tb Aat Syafa’at itu meraih suara sementara 18.307. Sementara Aly Yahya (anggota DPR dari Golkar) hanya meraih 1.426 yang mengancam dirinya tidak akan lolos ke parlemen. Bahkan suara Aly Yahya juga kalah jauh dengan caleg Golkar nomor urut 4 yaitu Humaedi yang memperoleh 3.917. Kalaupun memang Golkar di dapil Banten II dapat tiga kursi, maka yang menempati adalah Hikmat Tomet, Iman Ariyadi, dan Humaedi.

Caleg di luar Partai Golkar yang mampu menyaingi perolehan suara Hikmat dan Iman Ariyadi adalah Zulkieflimansyah (caleg nomor urut 1 dari PKS). Zulkieflimansyah hingga tadi malam pukul 20.00 WIB sudah mengumpulkan suara 15.582. Diprediksi, Zulkieflimansyah juga akan mulus melenggang ke Senayan dengan mudah. Bila PKS dapat dua kursi dari dapil Banten II ini, kemungkinan besar Zulkieflimansyah akan didampingi oleh Sadeli Karim (Wakil Ketua DPRD Banten) yang hingga tadi malam memperoleh suara sementara 1.866.

Di Partai Demokrat ada nama Adiyarman Amis Saputra dan Ahmad Rifai Suftyadi yang diprediksi lolos. Adiyarman memperoleh 5.815 dan Rifai 4.690. Bila suara Partai Demokrat besar, dan dapat dua kursi, maka kedua nama ini yang berpeluang besar untuk mendampingi caleg terpilih lainnya dari parpol berbeda.

Nasib kurang beruntung memang dialami Ketua DPW PAN Banten Rusli Ridwan. Rusli yang juga Wakil Walikota Cilegon hingga tadi malam hanya meraih 3.289. Perolehan suara yang masih kecil itu mengancam Rusli gagal melenggang ke Senayan.

Begitupun dengan Murdaya Widyawimarta Poo, caleg nomor urut satu dari PDIP. Posisi Murdaya memang belum aman benar. Sebab hingga tadi malam Murdaya baru meraih suara sementara 4.081. Namun nasib Murdaya akan berbeda bila perolehan suaranya terus merangkak naik dan perolehan suara PDIP juga signifikan.

BANGUN BANTEN

Dihubungi terpisah, Hikmat Tomet mengatakan, sebelumnya dirinya tidak tertarik menjadi caleg karena sudah enjoy menjadi pengusaha nasional. “Sebetulnya saya tidak terpikir untuk menjadi caleg karena sudah aman menjadi pengusaha. Tapi karena ibu (istrinya, Atut Chosiyah-red) memegang amanah menjadi gubernur, maka perlu dukungan terutama untuk mempercepat akselerasi pembangunan di Banten,” katanya.

Kata Hikmat, salah satu sumbangsih yang akan dilakukan untuk membantu istrinya itu adalah mempercepat dana-dana dekonsentrasi turun ke Banten. “Di pusat dana-dana itu banyak. Namun selalu turun ke provinsi lain. Sementara yang turun ke Banten masih sedikit karena kita kalah lobi. Oleh karena itulah, bila saya diberi amanah duduk di DPR RI, akan memperjuangkan dana-dana dari pusat turun ke Banten. Dan saya siap melobi, karena sudah paham betul dengan lobi-lobian selama menjadi pengusaha,” ujarnya.

Dana-dana dekonsentrasi dari pusat itu akan digunakan untuk memperbaiki infrastruktur, pembinaan masyarakat, dan kegiatan lainnya yang mendukung program Pemprov Banten. “Di provinsi lain, infrastruktur sudah bagus, guru-guru ngaji sudah dapat honor. Di Banten kan belum ada, hal itu yang akan menjadi konsentrasi kami di Senayan kelak,” ujarnya seraya mengatakan, siap bekerjasama dengan caleg lain yang terpilih di dapil Banten II ini untuk jalan bersama.

Begitu juga kata Zulkieflimansyah. Kata dia, perolehan suara belum final sehingga masih memungkinkan akan terus berubah. Meski demikian, Zulkieflimansyah meyakini bahwa PKS di dapil Banten II akan meraih kursi ke Senayan.

Terkait bila dirinya terpilih kelak menjadi wakil rakyat lagi, Zulkieflimansyah mengatakan, bersama dengan wakil rakyat dari dapil Banten II terpilih akan membantu percepatan pembangunan di Banten. “Kami sudah mengobrol dengan caleg dari Golkar dan Demokrat untuk bersama-sama membangun Banten,” ujarnya. Kata Zul, peningkatan pembangunan yang harus terus digalakkan di Banten adalah peningkatan sumber daya manusia (SDM) lewat pendidikan serta penggalian sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat.

Di tempat terpisah, Ahmad Rifai Suftyadi menambahkan, salah satu amanah yang akan diemban bila kelak menjadi wakil rakyat di Senayan adalah memperjuangkan kesejahteraan bagi masyarakat Banten. “Penguatan UKM dan pembinaan keterampilan akan tetap difokuskan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat,” tandasnya.

Kata Rifai yang akrab disapa Anton ini, siap bekerjasama dengan caleg terpilih lainnya untuk membangun Banten. Kata dia, tidak mungkin ada akselerasi pembangunan di Banten bila tidak ada kerja sama antar wakil rakyat asal Banten di parlemen. “Kita, bila memang benar-benar terpilih, akan menjalankan amanah ini dengan baik untuk membangun Banten lebih baik,” ujarnya.

Dari nama-nama caleg di dapil Banten II yang diprediksi ini memang lebih banyak berlatar belakang pengusaha. Hikmat Tomet, Murdaya Widyawimarta Poo, Iman Ariyadi, Ahmad Rifai Suftyadi, adalah sederetan pengusaha sukses. Murdaya misalnya. Dia adalah pengusaha yang sudah menasional bahkan -internasional. Suami dari Siti Hartati Murdaya ini merupakan salah satu pengusaha sukses Indonesia yang memiliki kekayaan melimpah. (*)

:serang, 18 april 2009

pemilu 2009 banyak menyisakan kenangan:

ada bang jon, yang utangnya menumpuk, di mana-mana

ada kong duloh, yang mulai gelisah

mang lis, tenang-tenang aja; keliatan pasrah sekali

di lain tempat, ada bang imat yang mulai senang setengah mati

ada andi, yang juga senang bukan main

ada risi, yang juga mulai berharap senyum

ternyata keluarganya pun tidak sia-sia membantu

lagi, pemilu 2009, memang menaburkan warna-warni

manis, pait, adem, juga gak berasa

eh tunggu.

di pojok sana juga ada… bang malas; kok ngomong sendirian

suaranya parau, nyaris tak terdengar, karena udah kecapean

udah seminggu, dia ngoceh sendirian

istri dan anaknya tidak bisa berbuat apa-apa,

tetangganya pun terheran-heran

tapi bang malas lagi-lagi tertawa sendirian, di keheningan

kasian….

:

Serang, 14 april atau lima hari setelah pencontrengan 9 april 2009

contreng di bilik kardusPerebutan kursi DPR dari daerah pemilihan Banten I (Lebak dan Pandeglang), Banten II (Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Cilegon), dan Banten III (Kabupaten/Kota Tangerang) didominasi wajah-wajah lama. Berdasarkan perolehan suara sementara di KPU Banten hingga Senin (13/4) pukul 17.30, mereka masih mengungguli caleg-caleg pendatang baru.

Di daerah pemilihan Banten I, Mamat Rahayu dan Tb Ace Hasan S (Partai Golkar) unggul dengan perolehan suara 1.323 dan 922. Keduanya unggul sementara dari caleg Golkar lainnya di dapil ini. Sementara dari PKS, ada nama Syamsu Hilal dan Oke Setiadi yang memimpin perolehan suara sementara.

Yang unik terjadi di PPP. Pasangan suami istri Dimyati Natakusumah (Bupati Pandeglang)-Irna Narulita juga diprediksi lolos karena keduanya meraih suara signifikan. Irna Narulita memperoleh 3.799 dan Dimyati Natakusumah 714. Caleg PDIP yang mendapatkan suara terbanyak sementara adalah Tb Dedi S Gumelar 924 dan Suparwanto 315. Sedangkan di Partai Demokrat, Iti Octavia Jayabaya (anak Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya) mendapatkan suara terbesar 2.583 dan Rt Siti Romlah 959.

Sementara di daerah pemilihan Banten II, sejumlah nama beken juga diprediksi lolos ke Senayan. Mereka antara lain Hikmat Tomet (suami Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah) dan Tb Iman Ariyadi (anak Walikota Cilegon Tb Aat Syafaat) yang memperoleh suara 10.474 dan 9.112. Hikmat dan Iman maju dari Partai Golkar. Di PKS, nama Zukieflimansyah yang juga diprediksi lolos karena meraih suara terbanyak sementara dengan suara 7.114 disusul Sadeli Karim sebanyak 867. Di PPP ada Dimyati Abu Bakar dengan perolehan suara sementara 1.354 dan Endin AJ Soefihara 848. Di Partai Demokrat ada Adiyaman Amir Saputra 2.133, Ahmad Riva’i Sufiadi 1.575, Gerindra ada Idin Rosidin 913 dan Herijanto 487.

CALEG ALMARHUM

Di daerah pemilihan Banten III tampaknya ada kejutan. Sebab caleg Sutradara Gintings (PDIP) yang sudah meninggal mendapatkan perolehan suara sementara terbanyak dengan perolehan suara 905 dan disusul Malawati 745. Terpilihnya Sutradara Gintings ini tentu sangat mengejutkan karena kemungkinan suaranya akan terus bertambah mengingat sampai kemarin (Selasa, 14/4/2009) rekapitulasi penghitungan suara masih berlangsung.

Di PKS, Jazuli Jazuli Juwaeni berpeluang kembali ke senayan karena mendapatkan suara terbanyak yaitu 1.983 dan diikuti Yoyoh Yusroh 1.200 (keduanya saat ini masih menjabat sebagai anggota DPR).

Di Partai Golkar, anak Bupati Tangerang Ismet Iskandar yaitu Ahmed Zaki Iskandar mendapatkan suara sementara 1.781 dan Ebrown Lubuk 1.120. Sementara PPP, menempatkan Irgan Chairul Mahfiz mendulang suara sementara 1.002 dan Dedi Kurniadi 429. Sedangkan Partai Demokrat yang berpeluag lolos adalah Haryanto Edhie Wibowo dengan perolehan suara sementara 2.568 dan Ferari Romawi 1.354.(*)

Dilengkapi dari sumber radar banten, edisi 14/4/2009

Setelah didesak, akhirnya Komisi Pemilihan Umum atau KPU berjanji akan mencetak ulang empat jenis formulir berita acara penghitungan suara calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Banten yang salah cetak. Janji ini langsung diucapkan oleh Ketua Divisi Logistik KPU Pusat Abdul Aziz di hadapan ketua KPU kabupaten/kota se-Banten yang menemui Aziz di KPU Pusat, Kamis (2/4).

Abdul Aziz menjanjikan bahwa perusahaan pemenang tender percetakan formulir berita acara penghitungan suara DPD Banten ini akan mencetak ulang hari ini. Pada Sabtu (4/4), formulir berita acara hasil cetak ulang itu akan dikirimkan kepada KPU kabupaten/kota di Banten.

Ketua KPU Kabupaten Serang Lutfi Nuriman membenarkan. Kata dia, KPU Pusat memberikan jaminan bahwa empat jenis berita acara penghitungan suara (C1, C2 plano, DA-1 dan DA-B) akan dicetak ulang. “Kami merespons baik atas keinginan KPU Pusat untuk mencetak ulang formulir bermasalah ini,” katanya.

Diakui Lutfi, KPU Pusat mau mencetak ulang formulir berita acara bermasalah itu setelah mendengarkan masukan dari KPU kabupaten/kota di Banten. “Kami memang menginginkan agar ada cetak ulang untuk menjaga Banten tetap kondusif. Sebab kalau kesalahan nomor urut DPD di empat jenis berita acara direvisi dengan cara manual (tulis tangan-red) justru akan merepotkan. Dan ternyata keinginan itu disanggupi KPU Pusat,” ujarnya.

Ketua KPU Cilegon Syaeful Bahri juga mengatakan hal serupa. Kata dia, KPU Pusat siap untuk menarik empat jenis berita acara penghitungan suara DPD yang salah cetak. “Kita menyambut baik keinginan KPU Pusat itu,” ujarnya. Kata Syaeful, setelah selesai dicetak, formulir berita acara itu akan langsung dikirim ke KPU kabupaten/kota di Banten untuk mengejar waktu distribusi ke masing-masing panitia pemilihan kecamatan (PPK).

Kedatangan ketua KPU kabupaten/kota ke KPU Pusat karena mereka kurang puas terhadap Surat Edaran (SE) KPU Pusat Nomor 627/KPU/III/2009 tertanggal 31 Maret 2009. SE itu berisi bahwa kesalahan cetak nomor urut calon anggota DPD RI dari nomor urut 17-53 tidak memengaruhi fungsi formulir tersebut. Selain itu, KPU kabupaten/kota diminta untuk membetulkan nomor urut calon DPD berdasarkan nomor urut daftar calon tetap (DCT) dan surat suara, serta membuat surat edaran kepada PPK, PPS, dan KPPS tentang formulir yang salah cetak tersebut.

Mereka yang mendatangi KPU Pusat kemarin adalah Ketua KPU Kabupaten Serang Lutfi Nuriman, Ketua KPU Kota Serang M Arif Ikbal, Ketua KPU Kota Cilegon Syaeful Bahri, Ketua KPU Lebak Agus Sutisna, dan Ketua KPU Kota Tangerang Imron Khamami. Sementara Ketua KPU Pandeglang dan Kabupaten Tangerang diwakili oleh anggotanya. Mereka tiba di KPU Pusat sekira pukul 10.00 WIB. Namun baru diterima oleh anggota Abdul Aziz sekira pukul 15.30 WIB setelah sebelumnya sempat juga diterima oleh anggota KPU Pusat lainnya, I Gede Putu.

Di tempat berbeda, calon anggota DPD Eti Fatiroh mengatakan, sebelum Ketua KPU kabupaten/kota menemui Ketua Divisi Logistik KPU Pusat Abdul Aziz, dirinya sudah menemui Abdul Aziz pada Senin lalu. Dalam pertemuan itu, Abdul Aziz memang menjanjikan akan mencetak ulang berita acara formulir DPD yang salah cetak. Perbincangannya dengan Abdul Aziz ia rekam sebagai bukti. “Kata dia (Abdul Aziz-red), yang sudah didistribusikan harus dimusnahkan,” ujarnya.

Karena itu, Eti sangat terkejut saat KPU Pusat malah mengeluarkan SE yang tidak akan mencetak ulang formulir berita acara penghitungan suara DPD. “SE itu hanya memerintahkan daerah untuk melakukan perbaikan. Ini jelas aneh dan tak sesuai dengan perbincangan saya dengan dia waktu itu,” ungkap mantan anggota KPU Banten ini.

Setelah akhirnya KPU Pusat menjanjikan akan mencetak ulang, Eti juga menyambut baik rencana tersebut. “Itu (cetak ulang-red) lebih baik daripada mengganti dengan cara manual,” ujarnya.

SALAH CETAK

Sebelumnya anggota PPK Pamarayan, Kabupaten Serang, menemukan ada kesalahan cetak nomor urut calon DPD Banten di empat formulir berita acara penghitungan suara DPD. Di berita acara C1, C2, DA-1 dan DA-B, nomor urut calon DPD saling tertukar. Calon DPD yang seharusnya bernomor urut 53 malah tercetak di formulir berita acara nomor urut 17. Begitu juga calon DPD nomor urut 17 malah tercetak nomor urut 18. Calon DPD nomor urut 18 malah salah cetak menjadi nomor urut 19. Begitu seterusnya hingga calon DPD nomor urut 35.

Kesalahan cetak ini sempat membuat calon anngota DPD akan memboikot pemilu di Banten bila tidak ada perbaikan. Sebab mereka merasa dirugikan atas kesalahan cetak nomor urut tersebut. Sementara jumlah calon anggota DPD Banten sebanyak 69. (*)

Serang, 3 april 2009 atau 7 hari lagi pemungutan suara, 9 April 2009.