JANJI MENGUBAH UU PEMDA

Perebutan kursi DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) Banten I tidak kalah sengitnya dengan dapil Banten II. Pertarungan wajah-wajah lama dengan wajah baru tetap terjadi.

—-

Dapil Banten I meliputi Kabupaten Lebak dan Pandeglang dengan kuota 6 kursi. Di dapil ini, sejumlah caleg anak pejabat, istri pejabat, artis, dan anggota dewan ikut bertarung. Mereka memperebutkan jatah 6 kursi di DPR RI.
Dari kalangan anak pejabat, ada Iti Octavia Jayabaya yang mencalonkan diri dari Partai Demokrat. Iti berada di nomor urut dua setelah Ratu Siti Romlah. Meski berada di nomor urut dua, namun Iti mampu memperoleh suara sementara terbesar yaitu 4.650, sementara Ratu Siti Romlah meraih 3.062.
Selain Iti, ada Irna Narulita, istri Bupati Pandeglang Dimyati Natakusumah. Irna maju dari PPP di nomor urut satu dan memperoleh suara sementara sangat fantastis yaitu 12.023. Perolehan suara perempuan berjilbab itu merupakan suara terbesar semua caleg yang bertarung di Dapil Banten I ini. Setelah Irna, Nuraeni Bachrudin (nomor urut tiga) juga memperoleh cukup besar yaitu 1.167. Bila PPP dapat dua kursi dari dapil Banten I ini, kemungkinan yang melenggang masuk adalah Irna dan Nuraeni. Sementara suaminya Irna yaitu Dimyati Natakusumah hanya meraih suara 952.
Dari kalangan artis, ada dua yang bertarung dan merebut simpatik. Mereka adalah Dedi Suwandi Gumelar (akrab disapa Miing Bagito) dan Ahmad Zulfikar Fawzi, yang beken dengan nama Ikang Fawzi. Miing maju dari PDIP sementara Ikang Fawzi dan PAN. Hingga tadi malam pukul 20.00 WIB, Miing memperolah suara cukup signifikan yaitu 2.485 yang membuka peluang dirinya melenggang ke Senayan. Perolehan suara Miing ini mengalahkan suara Tumbu Saraswati (anggota DPR dari PDIP) yang juga maju sebagai caleg PDIP yang hanya memperoleh 689.
Sedangkan Ikang Fawzi baru memperoleh suara sementara 704. Perolehan suara suami artis Marissa Haque itu di kalangan internal PAN sendiri merupakan suara tertinggi.
Selain dari anak pejabat dan artis, politikus berpengalaman juga ikut mencari peruntungan di dapil Banten I ini. Mereka antara lain Syamsu Hilal, Yayat Suhartono (keduanya dari PKS), Mamat Rahayu Abdullah, Ace Hasan Syadzilyi (keduanya dari Golkar). Dari PKB ada KH Manarul Hidayah.
Namun perolehan suara politikus ini kalah jauh dengan perolehan suara caleg artis dan anak pejabat. Syamsu Hilal, caleg nomor urut 1 dari PKS, hanya meraih suara 1.512 dan Yayat Suhartono (anggota DPRD Banten) hanya 383.
Begitupun dengan Mamat Rahayu Abdullah dan Ace Hasan. Dua caleg Partai Golkar ini masing-masing memperoleh suara 2.790 dan 2.072. Sementara KH Manarul Hidayah (anggota DPR dari PKB) hanya meraih 930. Suara yang sangat minim ini, memungkinan Manarul tidak akan terpilih lagi menjadi wakil rakyat di DPR RI.

JANJI CALEG
Bagaimana tanggapan mereka yang diprediksi lolos ke Senayan? Iti Octavia Jayabaya berjanji akan memperjuangkan beberapa kebutuhan di daerah pemilihannya. “Ada beberapa program prioritas yang akan saya perjuangkan, tentunya bersama-sama rekan-rekan (caleg dari partai lain-red). Selain berusaha memperjuangkan regulasi perpanjangan undang-undang tentang pengangkatan guru honorer, juga akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari dana di pusat bagi Banten, khususnya untuk Lebak dan Pandeglang,” ujar Iti, Jumat (17/4) siang.
Iti menilai, Lebak dan Pandeglang membutuhkan kucuran dana yang lebih besar untuk mengejar ketertinggalan dari daerah-daerah lain. “Dan untuk mencari dana tersebut, jelas butuh lobi-lobi dari anggota DPR. Karenanya, kalau saya sekarang sudah diminta berandai-andai lolos ke Senayan, lobi dana adalah menjadi agenda utama saya,” ujarnya diiringi tawa.
Kata Iti, Lebak yang sedang giat-giatnya berbenah membutuhkan dukungan dari semua pihak, tak terkecuali anggota DPR RI yang mewakili daerah ini. “Siapa pun yang maju ke Senayan, memang harus mencari solusi agar dana dari pusat bisa lebih besar lagi turun ke Lebak,” tambahnya.
Di lain tempat, Deddy Suwandi Gumelar alian Miing Bagito mengungkapkan, tugas wakil rakyat yang ada di Senayan bukan hanya melakukan lobi-lobi mencari dana. “Menurut saya, kalau satu daerah memiliki ketergantungan yang kuat dengan APBN, justru bukan mendidik. Apalagi, daerah itu memiliki potensi yang melimpah, tapi tak bisa dimanfaatkan oleh pemimpinnya,” ujar Miing.
“Contohnya Pandeglang, PAD-nya sangat kecil padahal potensi daerahnya besar. Karena itu, di daerah dibutuhkan juga pemimpin (bupati) yang memiliki nalar dan terobosan untuk mengangkat PAD. Jangan hanya bergantung ke pusat, nanti malah tak maju-maju,” lanjut Miing.
Miing juga menilai, ada salah satu tugas penting yang juga menjadi agenda utamanya yaitu memperbaiki UU No 32 tentang Pemerintah Daerah. Menurut Miing, undang undang tersebut memiliki kelemahan yakni tak bisanya gubernur memberikan punishment (hukuman) terhadap bupati.
“Dan yang terjadi sekarang, sangat jarang seorang bupati/walikota mau hadir saat diundang gubernur untuk rapat. Paling-paling yang diutus hanya kepala dinas. Padahal, rapat bersama ini memiliki fungsi strategis untuk membangun daerah secara bersama-sama. Makanya, kalau saya lolos ke Senayan, saya berharap bisa masuk ke komisi II (bidang pemerintahan),” ujar Miing.
Bagaimana dengan Irna Narulita? Saat ditemui di pendopo Pemkab Pandeglang, Irna belum mau sesumbar karena belum ada ketetapan dari KPU. “Ibu tidak mau mendahului instansi terkait (KPU-red) karena belum ada ketetapan. Tetapi yang jelas perolehan suara ibu cukup besar. Ibu serahkan kepada Allah soal perolehan suara ini,” ujar Irna.
Bila benar nanti dipercaya duduk di DPR, Irna mengaku akan mengemban amanat dari rakyat yang memilihnya karena ia tidak mau mengecewakan konstituennya. Yang pertama akan dilakukan adalah bagaimana kesetaraan gender itu dilakukan.
“Saat ini masih ada perempuan dipandang sebelah mata sehingga masih marak kasus kekerasan dalam rumah tangga. Ini yang harus ditangani agar tidak terjadi lagi. Perempuan jangan hanya berkutat di dapur, sumur dan kasur saja, tetapi melakukan advokasi atau pendidikan yang baik kepada masyarakat,” katanya.
Irna juga mengaku, kiprahnya nanti di Senayan akan memperjuangkan budgeting (anggaran) agar lebih banyak lagi anggaran dari pusat mengalir ke Pandeglang-Lebak. Selama ini ia hanya sebagai istri bupati yang setia mendampingi suaminya tetapi tidak punya kekuatan untuk menggolkan anggaran dari pusat. “Ekonomi kerakyatan harus terus diperjuangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena dengan ekonomi kerakyatan menjadikan masyarakat semakin berdaya,” paparnya. (*)

tulisan ini dilengkapi juga dari radarbanten, edisi sabtu (18/4)