Mei 2009


Partai Demokrat dapat dipastikan akan menguasai kursi di DPRD Banten. Dari 85 kursi di DPRD Banten, Partai Demokrat merebut 18 kursi. Perolehan kursi hasil Pemilu 2009 ini melonjak tajam bila dibandingkan perolehan kursi Pemilu 2004 yang hanya 8 kursi. Posisi kedua ditempati Partai Golkar yang meraih 13 kursi. Jumlah ini tentu merosot dibandingkan dengan perolehan kursi hasil Pemilu 2004 lalu sebanyak 16 kursi. Sementara PKS berada di urutan ketiga dengan perolehan 11 kursi (sama dengan hasil Pemilu 2004), disusul PDIP 10 kursi (naik satu kursi dibandingkan Pemilu 2004 yang 9 kursi), Hanura 6 kursi (pendatang baru), Gerindra 5 kursi (pendatang baru), PPP 5 kursi (merosot dari kursi hasil Pemilu 2004 yang berjumlah 8), PKB 5 kursi (sama dengan hasil Pemilu 2004), PBB 3 kursi (sama dengan hasil Pemilu 2004). Lalu ada PKPB 2 kursi, PAN 2 kursi (merosot dari hasil Pemilu 2004 yang berjumlah 4 kursi), PBR 1 kursi, PDS 1 kursi (turun dari kursi hasil Pemilu 2004 yang 2 kursi), PKNU 1 kursi (pendatang baru), PPNUI 1 kursi (sama dengan hasil Pemilu 2004), dan PPD 1 kursi. Partai Demokrat meraih kursi terbanyak di dapil Banten III (Kabupaten Tangerang). Di dapil ini, partai yang didirikan SBY ini menggondol 8 kursi, PKS 4 kursi, PDIP 4 kursi, Golkar 3 kursi, Hanura dan Gerindra masing-masing dua kursi. Sementara PPP, PAN, PKPB, PKB, PBB, PDS, PPNUI, dan PKNU masing-masing 1 kursi. Selain di Kabupaten Tangerang, Demokrat juga meraih kursi terbanyak di dapil Banten IV (Kota Tangerang) sebanyak 3 kursi yang mengalahkan perolehan kursi PKS, Golkar (masing-masing 2 kursi). Di dapil Banten I (Kota dan Kabupaten Serang) Demokrat juga meraih 3 kursi. Di dapil ini, Golkar juga menyabet 3 kursi. Di dapil Banten V (Lebak) Demokrat menyabet 2 kursi serta di dapil Banten III (Cilegon) dan Banten VI (Pandeglang) masing-masing 1 kursi. Sementara Partai Golkar menyabet kursi terbanyak di dapil Banten I (Kabupaten/Kota Serang) sebanyak 3 kursi. Sementara di Dapil Banten III (Kabupaten Tangerang) 3 kursi, dapil Banten IV (Kota Tangerang) sebanyak 2 kursi, dapil Banten V (Lebak) 2 kursi, dapil Banten VI (Pandeglang) 2 kursi, dan dapil Banten II (Cilegon) satu kursi. (selengkapnya lihat grafis). Sama dengan komposisi DPRD kabupaten/kota, wajah-wajah baru juga akan menghiasi wajah DPRD Banten (meskipun ada sebagian dari mereka sebelumnya anggota DPRD di kabupaten/kota). Dari 85 kursi, hampir 80 persen adalah wajah-wajah baru. Wajah-wajah baru ini ada yang berasal dari kalangan pengusaha, ketua parpol, mantan Ketua Panwaslu Banten, dan sebagainya. Yang mengejutkan juga, terdakwa dugaan suap pinjaman daerah Pemkab Pandeglang HM Acang dari PPP juga dipastikan lolos. Acang berhasil meraih suara signifikan di dapil Banten VI (Pandeglang). Selain terdakwa dugaan korupsi lolos, ada kakak beradik yang juga lolos meski beda partai. Mereka adalah Rahmat Syis Abdulgani (PKB) dan Ali Nurdin (PKNU), keduanya berasal dari Tangerang. Sementara caleg dari keluarga Gubernur Ratu Atut Chosiyah yang lolos adalah Ratu Tatu Chasanah. (*)

Iklan

Wajah DPRD Banten hasil pemilu 2009 memang diwarnai wajah-wajah baru. Mereka sebagian besar pengusaha. Hanya sebagian kecil yang benar-benar politikus ulung. Berdasarkan data yang dihimpun Radar Banten, dari 85 anggota DPRD Banten terpilih itu hampir setengahnya (50%) adalah para pengusaha di berbagai bidang, namun lebih banyak kontraktor. Mereka ikut terpilih dalam pemilu 2009, karena memang sebelumnya sudah diprediksi. Sebagai pengusaha, mereka umumnya menempati posisi strategis antara lain direktur dan direktur utama. Nama-nama mereka pun sebagian sudah akrab di telinga masyarakat.
Sementara dari sisi gender, dari 85 anggota dewan terpilih itu, sebanyak 15 berjenis kelamin perempuan. Jumlah ini mengalami kenaikan fantastis dari pemilu 2004 yang hanya mengantarakan 5 perempuan di DPRD Banten. Dari 15 perempuan itu, paling banyak disumbang oleh Partai Demokrat sebanyak 4 orang yakni, Inayah (Kota Cilegon), Sherisada Manaf (Kabupaten Tangerang), Rina BP Rachmadi (Kabupaten Tangerang), dan Herdayanti (Kota Tangerang). Perwakilan dari Partai Golkar yakni Else Atmasari (Serang) dan Ratu Tatu Chasanah (Pandeglang). Dari PDIP ada dua, Indah Rusmiati (Kabupaten Tangerang) dan Sri Hartati (Kota Tangerang), di PKS ada Ei Nurul Khotimah (Serang) dan Siti Saidah Silalahi (Kabupaten Tangerang). Sementara di PPP ada juga 2 perwakilan perempuan yakni Muflikhah (Serang) dan Tati Hartati (Lebak), PAN ada Elis Susilawati (Serang)), Partai Hanura ada Suprapti (Kabupaten Tangerang).
Sedangkan dari jenjang pendidikan, 85 anggota DPRD Banten terpilih ini umumnya memang sarjana (SI) dan pascasarjana (S2). Bahkan ada satu-tiga yang lulusan dari kampus di luar negeri. Hanya sebagian kecil saja di antara mereka yang tamatan SLTA dan sederajat. Namun tingginya jenjang pendidikan mereka tidak membuat jaminan bahwa mereka mampu untuk berbuat. Pendidikan itu tidak selamanya menjadi jaminan.

TERDAKWA TERPILIH
Salah satu yang unik dari komposisi keanggotaan DPRD Banten kelak adalah terpilihnya salah satu terdakwa dugaan suap pinjaman daerah Pemkab Pandeglang, HM Acang (Golkar). Acang yang saat ini sudah divonis bebas dan sempat mendekam di tahanan meraih suara signifikan dan dipastikan melenggang mulus ke parlemen.
Selain terdakwa yang lolos, ada juga anggota dewan terpilih yang sebelumnya hanya ibu rumah tangga biasa. Di ranah ini, ada Elis S (PAN). Elis adalah istri Ade Muchlas Syarief (anggota DPRD Banten periode 2004-2009 dari PAN). Ade pada pemilu 2009 tidak mencalonkan diri lagi, hanya istrinya yang ikut mencalonkan diri dan terpilih. Selama ini, Elis memang ibu rumah tangga. Selain Elis, ada Herdayanti, istri Herri Rumawantine, anggota DPRD Kota Tangerang. Sama dengan Elis, aktivitas keseharian Herdayanti juga adalah ibu rumah tangga.(*)

Mengenang masa kanak-kanak di kampung halaman bukanlah pikiran yang sia-sia. Bernostalgia dengan masa lalu itu bukan untuk mengenang kisah yang meninabobokan kita terjerambab karena tidak mau bergerak lantaran saking asiknya menikmati kenangan masa kecil yang indah. Sebaliknya, masa anak-anak yang riang di kampung itu dapat menyadarkan kita tentang ‘akar’, dari mana kita berpijak sebelumnya.
Mengenang dan belajar pada masa lalu itu yang dicoba dieksplorasi oleh Akhmad Fikri dalam buku terbarunya, “Negeri Kong Draman (Cerita-cerita Puitis Kampung Halaman untuk Indonesia)” yang diterbitkan Matapena (grup LKiS Jogjakarta) bekerja sama dengan Bale Sastra Kecapi, Jakarta. Buku yang berupa kumpulan puisi ini (ada 72 puisi) ditulis dengan latar belakang masa kanak-kanak penulis di sebuah kampung di pinggiran Betawi, Kampung Gondrong Petir, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang. Hampir 99 persen, puisi ini ditulis Fikri sepanjang 2009. Mungkin ini salah satu buku kumpulan puisi yang ditulis dengan latar belakang empirik kehidupan Betawi dengan bahasa yang lugas dan renyah dalam waktu yang singkat.
Meski berlatar belakang masa anak-anak bukan berarti puisi yang ditulis Fikri kekanak-kanakan dan kehilangan pesan-pesan universalnya. Pesan-pesan universal itu tetap sangat menonjol dalam setiap puisi Fikri di dalam buku ini, misalnya agar kita mencintai ibu, menghormati orangtua, rajin belajar, rajin mengaji, berbaikan dengan tetangga, tidak iri dengan tetangga, dan sebagainya.
Buku ini ingin mengajak dan menyadarkan kita semua untuk kembali kepada ‘akar’ tradisi tempat di mana kita awalnya berada. Fikri memandang pentingnya pencarian ‘akar’ tradisi ini untuk dapat diolah menjadi sebuah ciri khas yang dapat menopang sebuah bangsa dengan multikulturisme. Tanpa ‘akar’ bagaimana mungkin sebuah bangsa dapat berdiri dengan tegak dan bermartabat.
Dengan puitis, Fikri mengilustrasikan filsafat akar. Akarlah yang mengantarkan saripati yang dibutuhkan pohon untuk tumbuh, berbunga dan brbuah. Akar pula yang memperkokoh pohon agar tidak mudah goyah diterjang badai angin. Semakin kuat akar menjalar mencari dan menemukan saripati bumi, semakin kokoh pula pohon menyembulkan batang dan lekukan rantingnya. Pohon tanpa akar akan kesulitan bertahan hidup. Seperti pohon benalu, penumpang gelap yang hidup dari kerja keras pohon induk namun nasibnya tetap saja sebagai benalu. Ia hidup dari mencuri saripati sebelum akhirnya disingkirkan petani. (hlm vii)
Di banyak halaman buku ini Fikri-yang juga Direktur LKiS Jogjakarta- memang lebih banyak mengisahkan masa kecil penulis di kampung halamannya. Ingatan Fikri tentang masa kanak-kanak-sebagaimana tercermin dalam setiap puisinya ini- di kampung halamannya masih direkam kuat dalam benak sanubari. Setiap puisi yang ditulis tentang kampung halamannya memiliki ruh ‘keakaran’ yang dapat membuat kita terdecak. Radhar Panca Dahana, dalam epilognya, menyebut, Fikri seakan-akan membuat sebuah tangga yang menjorok ke bawah, kita diajak turun untuk mendapatkan dunia di mana manusia bukan cuma bertetangga dengan alam, tapi hidup bersama bahkan menyatukan iramanya. Tidak ada ketegangan antara pikiran, hati, dan nafsu manusia dengan semua fenomena dan isi alam; dengan bebek, sawah, lumpur, hingga kontol moneng, atau itil layu.
Jangan berprasangka buruk dulu. Di negeri engkong Draman, biji buah (jambu mete) yang nongol dan enak kalau digoreng atau dibakar itu namanya kontol moneng. Sedang itil layu sebenarnya hanya nama lain dari daun putri malu yang bila disentil layu. (hal. 87)
Lebih dari itu, salah satu kekhasan buku ini, ditulis dengan alur bahasa yang familiar di telinga masyarakat Betawi. Membaca buku ini, kadang-kadang membuat kita tersenyum lebar (kalau yang tidak kuat bisa tertawa menahan geli) karena di dalamnya ada kekonyolan, keluguan, dan kecerdikan masyarakat Betawi.
Fikri, mungkin salah satu penyair, yang tidak bermazhab karena puisinya mengalir apa adanya, tanpa mau terikat dengan diksi kesusastraan modern. Sebaliknya, di buku ini, Fikri banyak menggunakan diksi kebetawian yang hampir punah. Misalnya, dia menulis tentang itil layu, kontol moneng, peler kejepit, uluk-uluk, dibel, belok, dan sebagainya.
Membaca buku ini, kita juga diajak untuk menyelami dunia betawi yang tragis seperti salahsatu pantun yang ditulis Fikri,
zaman sekarang orang betawi
makin ke pinggir kecebur kali
tanah sepetak jadi rebutan
salah siapa kurang didikan

Kemudian ada puisi yang berjudul betawi punya nasib,

seperti kubilang pada abang
berbilang-bilang sawah berganti rumah
beberapa dari mereka pindah-pindah
makin minggir terus ke pinggir dulunya di tengah

Selain kisah tragik tentang Betawi, di dalam buku ini kita juga menemukan banyak permainan tradisional Betawi yang dieksplor penulis seperti petak umpat, main pletokan, tendang sambuk, tradisi ngubek, dan sebagainya. Jadi, membaca buku ini seakan-akan kita kembali kepada masa Betawi yang adem, tentram, dan riang. Sebuah masa di mana, masyarakatnya masih guyub, egaliter, dalam nuansa kampong.
Di atas kelebihannya itu, tentu saja buku ini juga menyimpan beberapa kelemahan. Meski demikian, kelemahan ini tidak mengurangi rasa nikmat saat membaca buku ini apalagi bagi pembaca yang punya pengalaman bersama penulis saat kecil lalu di sebuah kampung halaman.

——-

Judul Buku : Negeri Kong Draman (Cerita-cerita Puitis Kampung
Halaman untuk Indonesia)
Penulis : Akhmad Fikri AF
Penerbit : Matapena (LKiS) bekerjasama dengan Bale Sastra Kecapi
Halaman : 96 hlm (+ xiii)
Cetakan : I, Mei 2009
Harga : Rp 16.500