Mengenang masa kanak-kanak di kampung halaman bukanlah pikiran yang sia-sia. Bernostalgia dengan masa lalu itu bukan untuk mengenang kisah yang meninabobokan kita terjerambab karena tidak mau bergerak lantaran saking asiknya menikmati kenangan masa kecil yang indah. Sebaliknya, masa anak-anak yang riang di kampung itu dapat menyadarkan kita tentang ‘akar’, dari mana kita berpijak sebelumnya.
Mengenang dan belajar pada masa lalu itu yang dicoba dieksplorasi oleh Akhmad Fikri dalam buku terbarunya, “Negeri Kong Draman (Cerita-cerita Puitis Kampung Halaman untuk Indonesia)” yang diterbitkan Matapena (grup LKiS Jogjakarta) bekerja sama dengan Bale Sastra Kecapi, Jakarta. Buku yang berupa kumpulan puisi ini (ada 72 puisi) ditulis dengan latar belakang masa kanak-kanak penulis di sebuah kampung di pinggiran Betawi, Kampung Gondrong Petir, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang. Hampir 99 persen, puisi ini ditulis Fikri sepanjang 2009. Mungkin ini salah satu buku kumpulan puisi yang ditulis dengan latar belakang empirik kehidupan Betawi dengan bahasa yang lugas dan renyah dalam waktu yang singkat.
Meski berlatar belakang masa anak-anak bukan berarti puisi yang ditulis Fikri kekanak-kanakan dan kehilangan pesan-pesan universalnya. Pesan-pesan universal itu tetap sangat menonjol dalam setiap puisi Fikri di dalam buku ini, misalnya agar kita mencintai ibu, menghormati orangtua, rajin belajar, rajin mengaji, berbaikan dengan tetangga, tidak iri dengan tetangga, dan sebagainya.
Buku ini ingin mengajak dan menyadarkan kita semua untuk kembali kepada ‘akar’ tradisi tempat di mana kita awalnya berada. Fikri memandang pentingnya pencarian ‘akar’ tradisi ini untuk dapat diolah menjadi sebuah ciri khas yang dapat menopang sebuah bangsa dengan multikulturisme. Tanpa ‘akar’ bagaimana mungkin sebuah bangsa dapat berdiri dengan tegak dan bermartabat.
Dengan puitis, Fikri mengilustrasikan filsafat akar. Akarlah yang mengantarkan saripati yang dibutuhkan pohon untuk tumbuh, berbunga dan brbuah. Akar pula yang memperkokoh pohon agar tidak mudah goyah diterjang badai angin. Semakin kuat akar menjalar mencari dan menemukan saripati bumi, semakin kokoh pula pohon menyembulkan batang dan lekukan rantingnya. Pohon tanpa akar akan kesulitan bertahan hidup. Seperti pohon benalu, penumpang gelap yang hidup dari kerja keras pohon induk namun nasibnya tetap saja sebagai benalu. Ia hidup dari mencuri saripati sebelum akhirnya disingkirkan petani. (hlm vii)
Di banyak halaman buku ini Fikri-yang juga Direktur LKiS Jogjakarta- memang lebih banyak mengisahkan masa kecil penulis di kampung halamannya. Ingatan Fikri tentang masa kanak-kanak-sebagaimana tercermin dalam setiap puisinya ini- di kampung halamannya masih direkam kuat dalam benak sanubari. Setiap puisi yang ditulis tentang kampung halamannya memiliki ruh ‘keakaran’ yang dapat membuat kita terdecak. Radhar Panca Dahana, dalam epilognya, menyebut, Fikri seakan-akan membuat sebuah tangga yang menjorok ke bawah, kita diajak turun untuk mendapatkan dunia di mana manusia bukan cuma bertetangga dengan alam, tapi hidup bersama bahkan menyatukan iramanya. Tidak ada ketegangan antara pikiran, hati, dan nafsu manusia dengan semua fenomena dan isi alam; dengan bebek, sawah, lumpur, hingga kontol moneng, atau itil layu.
Jangan berprasangka buruk dulu. Di negeri engkong Draman, biji buah (jambu mete) yang nongol dan enak kalau digoreng atau dibakar itu namanya kontol moneng. Sedang itil layu sebenarnya hanya nama lain dari daun putri malu yang bila disentil layu. (hal. 87)
Lebih dari itu, salah satu kekhasan buku ini, ditulis dengan alur bahasa yang familiar di telinga masyarakat Betawi. Membaca buku ini, kadang-kadang membuat kita tersenyum lebar (kalau yang tidak kuat bisa tertawa menahan geli) karena di dalamnya ada kekonyolan, keluguan, dan kecerdikan masyarakat Betawi.
Fikri, mungkin salah satu penyair, yang tidak bermazhab karena puisinya mengalir apa adanya, tanpa mau terikat dengan diksi kesusastraan modern. Sebaliknya, di buku ini, Fikri banyak menggunakan diksi kebetawian yang hampir punah. Misalnya, dia menulis tentang itil layu, kontol moneng, peler kejepit, uluk-uluk, dibel, belok, dan sebagainya.
Membaca buku ini, kita juga diajak untuk menyelami dunia betawi yang tragis seperti salahsatu pantun yang ditulis Fikri,
zaman sekarang orang betawi
makin ke pinggir kecebur kali
tanah sepetak jadi rebutan
salah siapa kurang didikan

Kemudian ada puisi yang berjudul betawi punya nasib,

seperti kubilang pada abang
berbilang-bilang sawah berganti rumah
beberapa dari mereka pindah-pindah
makin minggir terus ke pinggir dulunya di tengah

Selain kisah tragik tentang Betawi, di dalam buku ini kita juga menemukan banyak permainan tradisional Betawi yang dieksplor penulis seperti petak umpat, main pletokan, tendang sambuk, tradisi ngubek, dan sebagainya. Jadi, membaca buku ini seakan-akan kita kembali kepada masa Betawi yang adem, tentram, dan riang. Sebuah masa di mana, masyarakatnya masih guyub, egaliter, dalam nuansa kampong.
Di atas kelebihannya itu, tentu saja buku ini juga menyimpan beberapa kelemahan. Meski demikian, kelemahan ini tidak mengurangi rasa nikmat saat membaca buku ini apalagi bagi pembaca yang punya pengalaman bersama penulis saat kecil lalu di sebuah kampung halaman.

——-

Judul Buku : Negeri Kong Draman (Cerita-cerita Puitis Kampung
Halaman untuk Indonesia)
Penulis : Akhmad Fikri AF
Penerbit : Matapena (LKiS) bekerjasama dengan Bale Sastra Kecapi
Halaman : 96 hlm (+ xiii)
Cetakan : I, Mei 2009
Harga : Rp 16.500