Waktu aku duduk di bangku MI Daarul Ma’arif Kampung Gondrong Petir, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, aku diajar oleh sosok guru yang sangat bersahaja. Namanya H Syamlawi.

Meski sudah tua, guru yang satu ini tetap bersemangat untuk mengajar kelas kami (ada sekitar 30 siswa). Kenangan yang paling aku ingat bersama beliau adalah ciri khasnya yaitu mendongeng di kelas. Kalau beliau kedapatan giliran masuk kelas siang hari dan siswa sudah mengantuk, maka beliau menggantikan pelajarannya dengan mendongeng. Beliau akan mendongeng dengan lugas sambil duduk di atas kursi dengan bahasa betawi yang kental. Saat mendongeng, meski mimik wajahnya terlihat kelelahan, namun suaranya tetap terdengar. Kami sekelas pun menikmati aluran cerita yang disampaikan guru yang selalu berpeci hitam ini.

Dongeng yang diceritakan adalah seputar sejarah nabi, rasul, sahabat, tentang surga dan tentang neraka. Kami sebagai siswanya selalu senang mendengarkan dongeng sang guru ini. Kami sekelas tdak pernah bosan untuk mendengarkan dongengnya. Setiap kali, setiap masuk, kami memang memimpikan diajarkan oleh beliau. Tentu saja untuk mendengarkan dongeng. Dan setahuku, dari sekian guru di MI Daarul Ma’arif, hanya beliau satu-satunya guru yang pandai bercerita. Tidak aneh bila kala itu, beliau dikenal sebagai guru pendongeng yang amat masyhur di kampung kami.

Kenangan lain yang saat ini masih aku ingat adalah beliau setiap kali mengajar selalu menggunakan sepeda besar (ontel). Sepeda itu dikayuhnya dari tempat tinggalnya di Kampung Gondrong Udik ke Petir-kira-kira 10 kiloan lebih. Setibanya di sekolah, ontel itu disandarkan di bawah pohon yang berada di halaman sekolah. Kami yang berada di kelas, selalu memerhatikan kehadiran beliau dengan hati gembira. Hatiku pun selalu bergetar, betapa ikhlas dan sederhananya guru yang satu ini.

Setelah mendongeng, di antara kami ada satu siswa yang berkeliling untuk memungut uang seikhlasnya kepada kami. Kami pun dengan senang hati memberikan uang tersebut. Ada yang Rp 50 perak, Rp 100 perak, dan Rp 150 perak. Saat itu, jumlah itu sudah cukup besar. Setelah uang terkumpul lalu kami berikan kepada guru pendongeng ini untuk membeli rokok dan kopi. Tentu kami sangat ikhlas, senang, dan tidak terbebani. Bahkan-kalaupun ada uang lebih-kami selalu sempatkan untuk membantu beliau.

Selama mengajar, beliau tidak pernah mengeluh dan tidak pernah merasa capek. Hatinya selalu riang dan tersenyum saat menyapa kelas kami. Beliau adalah sosok guru yang sangat ikhlas karena sudah mengabdi lebih dari 20 tahun di sekolah kami dengan gaji yang enggak naik-naik.

Beliau tinggal di rumah yang sangat sederhana namun sangat adem dan sejuk. Rumahnya tidak terlalu besar dan berdinding triplek setengah batu. Di sekitar rumahnya, tumbuh pohon rambutan, pohon jamblang, dan poho mangga.

Kini, orang-orang sekampung kami kehilangan setelah beliau pergi untuk selamanya. Aku pun sangat menyesal karena saat beliau pergi untuk selamanya aku masih di rantau. Aku tidak kesampaian untuk menjenguk di kala beliau sakit dan bertakziah. Sesalku seumur hidup.

Selamat jalan guru pendongeng. Doaku terus mengalir bak samudra.

*mengenang almarhum H Syamlawi.

Gondrong petir, 2009