berita politik


Partai Demokrat dapat dipastikan akan menguasai kursi di DPRD Banten. Dari 85 kursi di DPRD Banten, Partai Demokrat merebut 18 kursi. Perolehan kursi hasil Pemilu 2009 ini melonjak tajam bila dibandingkan perolehan kursi Pemilu 2004 yang hanya 8 kursi. Posisi kedua ditempati Partai Golkar yang meraih 13 kursi. Jumlah ini tentu merosot dibandingkan dengan perolehan kursi hasil Pemilu 2004 lalu sebanyak 16 kursi. Sementara PKS berada di urutan ketiga dengan perolehan 11 kursi (sama dengan hasil Pemilu 2004), disusul PDIP 10 kursi (naik satu kursi dibandingkan Pemilu 2004 yang 9 kursi), Hanura 6 kursi (pendatang baru), Gerindra 5 kursi (pendatang baru), PPP 5 kursi (merosot dari kursi hasil Pemilu 2004 yang berjumlah 8), PKB 5 kursi (sama dengan hasil Pemilu 2004), PBB 3 kursi (sama dengan hasil Pemilu 2004). Lalu ada PKPB 2 kursi, PAN 2 kursi (merosot dari hasil Pemilu 2004 yang berjumlah 4 kursi), PBR 1 kursi, PDS 1 kursi (turun dari kursi hasil Pemilu 2004 yang 2 kursi), PKNU 1 kursi (pendatang baru), PPNUI 1 kursi (sama dengan hasil Pemilu 2004), dan PPD 1 kursi. Partai Demokrat meraih kursi terbanyak di dapil Banten III (Kabupaten Tangerang). Di dapil ini, partai yang didirikan SBY ini menggondol 8 kursi, PKS 4 kursi, PDIP 4 kursi, Golkar 3 kursi, Hanura dan Gerindra masing-masing dua kursi. Sementara PPP, PAN, PKPB, PKB, PBB, PDS, PPNUI, dan PKNU masing-masing 1 kursi. Selain di Kabupaten Tangerang, Demokrat juga meraih kursi terbanyak di dapil Banten IV (Kota Tangerang) sebanyak 3 kursi yang mengalahkan perolehan kursi PKS, Golkar (masing-masing 2 kursi). Di dapil Banten I (Kota dan Kabupaten Serang) Demokrat juga meraih 3 kursi. Di dapil ini, Golkar juga menyabet 3 kursi. Di dapil Banten V (Lebak) Demokrat menyabet 2 kursi serta di dapil Banten III (Cilegon) dan Banten VI (Pandeglang) masing-masing 1 kursi. Sementara Partai Golkar menyabet kursi terbanyak di dapil Banten I (Kabupaten/Kota Serang) sebanyak 3 kursi. Sementara di Dapil Banten III (Kabupaten Tangerang) 3 kursi, dapil Banten IV (Kota Tangerang) sebanyak 2 kursi, dapil Banten V (Lebak) 2 kursi, dapil Banten VI (Pandeglang) 2 kursi, dan dapil Banten II (Cilegon) satu kursi. (selengkapnya lihat grafis). Sama dengan komposisi DPRD kabupaten/kota, wajah-wajah baru juga akan menghiasi wajah DPRD Banten (meskipun ada sebagian dari mereka sebelumnya anggota DPRD di kabupaten/kota). Dari 85 kursi, hampir 80 persen adalah wajah-wajah baru. Wajah-wajah baru ini ada yang berasal dari kalangan pengusaha, ketua parpol, mantan Ketua Panwaslu Banten, dan sebagainya. Yang mengejutkan juga, terdakwa dugaan suap pinjaman daerah Pemkab Pandeglang HM Acang dari PPP juga dipastikan lolos. Acang berhasil meraih suara signifikan di dapil Banten VI (Pandeglang). Selain terdakwa dugaan korupsi lolos, ada kakak beradik yang juga lolos meski beda partai. Mereka adalah Rahmat Syis Abdulgani (PKB) dan Ali Nurdin (PKNU), keduanya berasal dari Tangerang. Sementara caleg dari keluarga Gubernur Ratu Atut Chosiyah yang lolos adalah Ratu Tatu Chasanah. (*)

Iklan

Wajah DPRD Banten hasil pemilu 2009 memang diwarnai wajah-wajah baru. Mereka sebagian besar pengusaha. Hanya sebagian kecil yang benar-benar politikus ulung. Berdasarkan data yang dihimpun Radar Banten, dari 85 anggota DPRD Banten terpilih itu hampir setengahnya (50%) adalah para pengusaha di berbagai bidang, namun lebih banyak kontraktor. Mereka ikut terpilih dalam pemilu 2009, karena memang sebelumnya sudah diprediksi. Sebagai pengusaha, mereka umumnya menempati posisi strategis antara lain direktur dan direktur utama. Nama-nama mereka pun sebagian sudah akrab di telinga masyarakat.
Sementara dari sisi gender, dari 85 anggota dewan terpilih itu, sebanyak 15 berjenis kelamin perempuan. Jumlah ini mengalami kenaikan fantastis dari pemilu 2004 yang hanya mengantarakan 5 perempuan di DPRD Banten. Dari 15 perempuan itu, paling banyak disumbang oleh Partai Demokrat sebanyak 4 orang yakni, Inayah (Kota Cilegon), Sherisada Manaf (Kabupaten Tangerang), Rina BP Rachmadi (Kabupaten Tangerang), dan Herdayanti (Kota Tangerang). Perwakilan dari Partai Golkar yakni Else Atmasari (Serang) dan Ratu Tatu Chasanah (Pandeglang). Dari PDIP ada dua, Indah Rusmiati (Kabupaten Tangerang) dan Sri Hartati (Kota Tangerang), di PKS ada Ei Nurul Khotimah (Serang) dan Siti Saidah Silalahi (Kabupaten Tangerang). Sementara di PPP ada juga 2 perwakilan perempuan yakni Muflikhah (Serang) dan Tati Hartati (Lebak), PAN ada Elis Susilawati (Serang)), Partai Hanura ada Suprapti (Kabupaten Tangerang).
Sedangkan dari jenjang pendidikan, 85 anggota DPRD Banten terpilih ini umumnya memang sarjana (SI) dan pascasarjana (S2). Bahkan ada satu-tiga yang lulusan dari kampus di luar negeri. Hanya sebagian kecil saja di antara mereka yang tamatan SLTA dan sederajat. Namun tingginya jenjang pendidikan mereka tidak membuat jaminan bahwa mereka mampu untuk berbuat. Pendidikan itu tidak selamanya menjadi jaminan.

TERDAKWA TERPILIH
Salah satu yang unik dari komposisi keanggotaan DPRD Banten kelak adalah terpilihnya salah satu terdakwa dugaan suap pinjaman daerah Pemkab Pandeglang, HM Acang (Golkar). Acang yang saat ini sudah divonis bebas dan sempat mendekam di tahanan meraih suara signifikan dan dipastikan melenggang mulus ke parlemen.
Selain terdakwa yang lolos, ada juga anggota dewan terpilih yang sebelumnya hanya ibu rumah tangga biasa. Di ranah ini, ada Elis S (PAN). Elis adalah istri Ade Muchlas Syarief (anggota DPRD Banten periode 2004-2009 dari PAN). Ade pada pemilu 2009 tidak mencalonkan diri lagi, hanya istrinya yang ikut mencalonkan diri dan terpilih. Selama ini, Elis memang ibu rumah tangga. Selain Elis, ada Herdayanti, istri Herri Rumawantine, anggota DPRD Kota Tangerang. Sama dengan Elis, aktivitas keseharian Herdayanti juga adalah ibu rumah tangga.(*)

Pemilu 2009, sama dengan pemilu-pemilu sebelumnya, memang banyak melahirkan distorsi keterwakilan. Caleg mewakili siapa tidak jelas. Masyarakat diwakili oleh siapa pun menjadi absurd. Kali ini, distorsi keterwakilan begitu kental mewarnai pesta demokrasi lima tahunan. Hal itu terjadi karena keterwakilan yang seolah-olah ini dapat diatur dengan mudah bila memiliki kekuatan finansial oleh sang calon.
Ambil contoh begini. Ada seorang pengusaha ternama di Jakarta. Dia sudah sangat kaya raya karena penghasilannya sangat melimpah. Bahkan ada gurauan, kalau si pengusaha nasional ini mau membeli tanah seluas Kecamatan Serang, dia sangat mudah untuk mendapatkannya dengan kekuatan uangnya. Meski kekayaannya sangat melimpah, si pengusaha ini masih saja tertarik menjadi wakil rakyat. Padahal gaji menjadi wakil rakyat bila dibandingkan dengan gajinya di berbagai perusahaan itu tidak ada apa-apanya.
Tapi apa lacur. Si tokoh ini tetap menjadi caleg untuk mewakili masyarakat Banten lewat jalur parpol besar. Si pengusaha nasional ini pun berada di nomor urut pertama, yang mengalahkan calon lain. Meski nomor urut sudah tidak lagi berpengaruh terhadap caleg terpilih namun nomor urut tetap menjadi gengsi politik. Bila suaranya signifikan, si tokoh ini diprediksi mulus melenggang ke parlemen.
Saya pesimis bahwa si pengusaha nasional ini mengenal ruh daerah yang akan diwakilinya. Sebab memang, si pengusaha ini sebelumnya tidak pernah bergelut dengan kehidupan masyarakat yang akan diwakilinya. Meskipun dia mengenal daerah yang akan diwakilinya lewat observasi kecil-kecilan, namun dipastikan hanya mengenal daerah yang diwakilinya itu dari sisi teritori dan geografis saja. Dia tidak dapat mengenal dengan baik daerah yang akan diwakilinya dalam pengertian yang sangat substansial. Begitu juga sebaliknya, masyarakat pun tidak akrab dengan ide, gagasan, dan pemikiran sang tokoh karena tidak ada transfer keilmuan secara sosiologis
Contoh lainnya masih ada. Memang si tokoh nasional ini putera asli daerah yang akan diwakilinya. Namun dia sudah kadung lebih banyak beraktivitas di luar daerah yang akan diwakilinya karena tidak pernah pulang ke kampung halamannya. Selama perantauannya itu, si tokoh ini sudah tenar karena menjadi artis yang sering muncul di televise swasta. Nah, saat pemilu legislatif digelar 9 April lalu, si artis ini pun tiba-tiba balik kandang, pulang ke kampung halamannya. Tidak sebagai artis namun menjadi caleg untuk mewakili tanah kelahirannya lewat parpol. Diprediksi kuat, si artis ini akan melenggang ke parlemen dengan mudah karena perolehan suaranya sangat signifikan.
Masih ada lagi kasus lain. Si caleg ini dulunya adalah anggota dewan dari parpol besar. Namun dia dipecat karena sesuatu alasan mendasar. Di Pemilu 2009 ini, si tokoh yang berasal dari Jakarta ini menjadi caleg nomor urut satu lewat parpol lain. Sama dengan si pengusaha di atas, si tokoh ini pun tidak mengenal baik daerah yang akan diwakilinya.
Itu contoh-contoh kecil yang ditemukan dalam pemilu kali ini. Tentu masih banyak contoh kasus serupa-yang juga mungkin terjadi di daerah lain. Andai mereka benar-benar terpilih menjadi wakil rakyat di parlemen, apakah ada jaminan bahwa mereka akan memperjuangkan aspirasi masyarakat yang diwakilinya sementara dia sendiri ‘asing’? Tentu, tidak ada yang dapat memastikan.
Fenomena itu menggambarkan bahwa keterwakilan benar-benar menjadi tidak berarti karena memang dapat diatur dengan segenap kekuasaan yang dimiliki, ketenaran, dan kekuatan uang. Keterwakilan menjadi absurd karena tidak jelasnya “siapa” mewakili “siapa” dan untuk “apa”.
Jadinya, spirit demokrasi yang diejawantahkan lewat pemilihan umum hanya menjadi ‘ladang bisnis’ untuk berebut kekuasaan di parlemen. Tidak aneh bila kemudian parlemen pun kerap dicap sebagai lembaga yang ekslusif, lembaga yang jauh dengan rakyat, dan lembaga yang juga asing bagi rakyat. Hal itu itu terjadi karena memang sebelumnya wakil rakyat yang dipilih adalah calon yang asing bagi rakyat di masing-masing daerah pemilihan.
Distorsi keterwakilan itu yang membuat keterwakilan dalam pemilu menjadi tidak relevan karena tidak menemukan titik temu yang baik. Keterwakilan hanya menjadi gincu pemanis dalam momen-momen berdemokrasi saja. Wallahualamu bis showab.

;serang, 24 april 2009

JANJI MENGUBAH UU PEMDA

Perebutan kursi DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) Banten I tidak kalah sengitnya dengan dapil Banten II. Pertarungan wajah-wajah lama dengan wajah baru tetap terjadi.

—-

Dapil Banten I meliputi Kabupaten Lebak dan Pandeglang dengan kuota 6 kursi. Di dapil ini, sejumlah caleg anak pejabat, istri pejabat, artis, dan anggota dewan ikut bertarung. Mereka memperebutkan jatah 6 kursi di DPR RI.
Dari kalangan anak pejabat, ada Iti Octavia Jayabaya yang mencalonkan diri dari Partai Demokrat. Iti berada di nomor urut dua setelah Ratu Siti Romlah. Meski berada di nomor urut dua, namun Iti mampu memperoleh suara sementara terbesar yaitu 4.650, sementara Ratu Siti Romlah meraih 3.062.
Selain Iti, ada Irna Narulita, istri Bupati Pandeglang Dimyati Natakusumah. Irna maju dari PPP di nomor urut satu dan memperoleh suara sementara sangat fantastis yaitu 12.023. Perolehan suara perempuan berjilbab itu merupakan suara terbesar semua caleg yang bertarung di Dapil Banten I ini. Setelah Irna, Nuraeni Bachrudin (nomor urut tiga) juga memperoleh cukup besar yaitu 1.167. Bila PPP dapat dua kursi dari dapil Banten I ini, kemungkinan yang melenggang masuk adalah Irna dan Nuraeni. Sementara suaminya Irna yaitu Dimyati Natakusumah hanya meraih suara 952.
Dari kalangan artis, ada dua yang bertarung dan merebut simpatik. Mereka adalah Dedi Suwandi Gumelar (akrab disapa Miing Bagito) dan Ahmad Zulfikar Fawzi, yang beken dengan nama Ikang Fawzi. Miing maju dari PDIP sementara Ikang Fawzi dan PAN. Hingga tadi malam pukul 20.00 WIB, Miing memperolah suara cukup signifikan yaitu 2.485 yang membuka peluang dirinya melenggang ke Senayan. Perolehan suara Miing ini mengalahkan suara Tumbu Saraswati (anggota DPR dari PDIP) yang juga maju sebagai caleg PDIP yang hanya memperoleh 689.
Sedangkan Ikang Fawzi baru memperoleh suara sementara 704. Perolehan suara suami artis Marissa Haque itu di kalangan internal PAN sendiri merupakan suara tertinggi.
Selain dari anak pejabat dan artis, politikus berpengalaman juga ikut mencari peruntungan di dapil Banten I ini. Mereka antara lain Syamsu Hilal, Yayat Suhartono (keduanya dari PKS), Mamat Rahayu Abdullah, Ace Hasan Syadzilyi (keduanya dari Golkar). Dari PKB ada KH Manarul Hidayah.
Namun perolehan suara politikus ini kalah jauh dengan perolehan suara caleg artis dan anak pejabat. Syamsu Hilal, caleg nomor urut 1 dari PKS, hanya meraih suara 1.512 dan Yayat Suhartono (anggota DPRD Banten) hanya 383.
Begitupun dengan Mamat Rahayu Abdullah dan Ace Hasan. Dua caleg Partai Golkar ini masing-masing memperoleh suara 2.790 dan 2.072. Sementara KH Manarul Hidayah (anggota DPR dari PKB) hanya meraih 930. Suara yang sangat minim ini, memungkinan Manarul tidak akan terpilih lagi menjadi wakil rakyat di DPR RI.

JANJI CALEG
Bagaimana tanggapan mereka yang diprediksi lolos ke Senayan? Iti Octavia Jayabaya berjanji akan memperjuangkan beberapa kebutuhan di daerah pemilihannya. “Ada beberapa program prioritas yang akan saya perjuangkan, tentunya bersama-sama rekan-rekan (caleg dari partai lain-red). Selain berusaha memperjuangkan regulasi perpanjangan undang-undang tentang pengangkatan guru honorer, juga akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari dana di pusat bagi Banten, khususnya untuk Lebak dan Pandeglang,” ujar Iti, Jumat (17/4) siang.
Iti menilai, Lebak dan Pandeglang membutuhkan kucuran dana yang lebih besar untuk mengejar ketertinggalan dari daerah-daerah lain. “Dan untuk mencari dana tersebut, jelas butuh lobi-lobi dari anggota DPR. Karenanya, kalau saya sekarang sudah diminta berandai-andai lolos ke Senayan, lobi dana adalah menjadi agenda utama saya,” ujarnya diiringi tawa.
Kata Iti, Lebak yang sedang giat-giatnya berbenah membutuhkan dukungan dari semua pihak, tak terkecuali anggota DPR RI yang mewakili daerah ini. “Siapa pun yang maju ke Senayan, memang harus mencari solusi agar dana dari pusat bisa lebih besar lagi turun ke Lebak,” tambahnya.
Di lain tempat, Deddy Suwandi Gumelar alian Miing Bagito mengungkapkan, tugas wakil rakyat yang ada di Senayan bukan hanya melakukan lobi-lobi mencari dana. “Menurut saya, kalau satu daerah memiliki ketergantungan yang kuat dengan APBN, justru bukan mendidik. Apalagi, daerah itu memiliki potensi yang melimpah, tapi tak bisa dimanfaatkan oleh pemimpinnya,” ujar Miing.
“Contohnya Pandeglang, PAD-nya sangat kecil padahal potensi daerahnya besar. Karena itu, di daerah dibutuhkan juga pemimpin (bupati) yang memiliki nalar dan terobosan untuk mengangkat PAD. Jangan hanya bergantung ke pusat, nanti malah tak maju-maju,” lanjut Miing.
Miing juga menilai, ada salah satu tugas penting yang juga menjadi agenda utamanya yaitu memperbaiki UU No 32 tentang Pemerintah Daerah. Menurut Miing, undang undang tersebut memiliki kelemahan yakni tak bisanya gubernur memberikan punishment (hukuman) terhadap bupati.
“Dan yang terjadi sekarang, sangat jarang seorang bupati/walikota mau hadir saat diundang gubernur untuk rapat. Paling-paling yang diutus hanya kepala dinas. Padahal, rapat bersama ini memiliki fungsi strategis untuk membangun daerah secara bersama-sama. Makanya, kalau saya lolos ke Senayan, saya berharap bisa masuk ke komisi II (bidang pemerintahan),” ujar Miing.
Bagaimana dengan Irna Narulita? Saat ditemui di pendopo Pemkab Pandeglang, Irna belum mau sesumbar karena belum ada ketetapan dari KPU. “Ibu tidak mau mendahului instansi terkait (KPU-red) karena belum ada ketetapan. Tetapi yang jelas perolehan suara ibu cukup besar. Ibu serahkan kepada Allah soal perolehan suara ini,” ujar Irna.
Bila benar nanti dipercaya duduk di DPR, Irna mengaku akan mengemban amanat dari rakyat yang memilihnya karena ia tidak mau mengecewakan konstituennya. Yang pertama akan dilakukan adalah bagaimana kesetaraan gender itu dilakukan.
“Saat ini masih ada perempuan dipandang sebelah mata sehingga masih marak kasus kekerasan dalam rumah tangga. Ini yang harus ditangani agar tidak terjadi lagi. Perempuan jangan hanya berkutat di dapur, sumur dan kasur saja, tetapi melakukan advokasi atau pendidikan yang baik kepada masyarakat,” katanya.
Irna juga mengaku, kiprahnya nanti di Senayan akan memperjuangkan budgeting (anggaran) agar lebih banyak lagi anggaran dari pusat mengalir ke Pandeglang-Lebak. Selama ini ia hanya sebagai istri bupati yang setia mendampingi suaminya tetapi tidak punya kekuatan untuk menggolkan anggaran dari pusat. “Ekonomi kerakyatan harus terus diperjuangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena dengan ekonomi kerakyatan menjadikan masyarakat semakin berdaya,” paparnya. (*)

tulisan ini dilengkapi juga dari radarbanten, edisi sabtu (18/4)

DIDOMINASI PENGUSAHA

Hasil pemilu legislatif, 9 April lalu, memang belum ditetapkan. Namun sejumlah nama beken diprediksi melenggang ke Senayan. Siapa saja mereka?

—–

Rekapitulasi penghitungan suara parpol dan masing-masing caleg hingga kemarin masih berlangsung di panitia pemilihan kecamatan (PPK). Namun beberapa nama caleg DPR RI diprediksi akan melenggang mulus ke Senayan karena perolehan suara sementara mereka hingga tadi malam sangat signifikan. Bahkan ada tren terus bertambah meninggalkan

caleg-caleg lain.

Di daerah pemilihan (dapil) Banten II yang meliputi Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon, suami Gubernur Ratu Atut Chosiyah, Hikmat Tomet, diprediksi kuat dapat meraih kursi. Hingga tadi malam pukul 20.00 WIB, Hikmat Tomet meraih suara sementara 21.380 yang merupakan perolehan suara tertinggi meski dibandingkan dengan caleg di dapil lainnya.

Di dapil Banten II ini, Hikmat bersaing dengan caleg Golkar yang berada di urutan dua yakni Tb Iman Ariyadi. Hingga pukul 20.00 WIB, putra Walikota Cilegon Tb Aat Syafa’at itu meraih suara sementara 18.307. Sementara Aly Yahya (anggota DPR dari Golkar) hanya meraih 1.426 yang mengancam dirinya tidak akan lolos ke parlemen. Bahkan suara Aly Yahya juga kalah jauh dengan caleg Golkar nomor urut 4 yaitu Humaedi yang memperoleh 3.917. Kalaupun memang Golkar di dapil Banten II dapat tiga kursi, maka yang menempati adalah Hikmat Tomet, Iman Ariyadi, dan Humaedi.

Caleg di luar Partai Golkar yang mampu menyaingi perolehan suara Hikmat dan Iman Ariyadi adalah Zulkieflimansyah (caleg nomor urut 1 dari PKS). Zulkieflimansyah hingga tadi malam pukul 20.00 WIB sudah mengumpulkan suara 15.582. Diprediksi, Zulkieflimansyah juga akan mulus melenggang ke Senayan dengan mudah. Bila PKS dapat dua kursi dari dapil Banten II ini, kemungkinan besar Zulkieflimansyah akan didampingi oleh Sadeli Karim (Wakil Ketua DPRD Banten) yang hingga tadi malam memperoleh suara sementara 1.866.

Di Partai Demokrat ada nama Adiyarman Amis Saputra dan Ahmad Rifai Suftyadi yang diprediksi lolos. Adiyarman memperoleh 5.815 dan Rifai 4.690. Bila suara Partai Demokrat besar, dan dapat dua kursi, maka kedua nama ini yang berpeluang besar untuk mendampingi caleg terpilih lainnya dari parpol berbeda.

Nasib kurang beruntung memang dialami Ketua DPW PAN Banten Rusli Ridwan. Rusli yang juga Wakil Walikota Cilegon hingga tadi malam hanya meraih 3.289. Perolehan suara yang masih kecil itu mengancam Rusli gagal melenggang ke Senayan.

Begitupun dengan Murdaya Widyawimarta Poo, caleg nomor urut satu dari PDIP. Posisi Murdaya memang belum aman benar. Sebab hingga tadi malam Murdaya baru meraih suara sementara 4.081. Namun nasib Murdaya akan berbeda bila perolehan suaranya terus merangkak naik dan perolehan suara PDIP juga signifikan.

BANGUN BANTEN

Dihubungi terpisah, Hikmat Tomet mengatakan, sebelumnya dirinya tidak tertarik menjadi caleg karena sudah enjoy menjadi pengusaha nasional. “Sebetulnya saya tidak terpikir untuk menjadi caleg karena sudah aman menjadi pengusaha. Tapi karena ibu (istrinya, Atut Chosiyah-red) memegang amanah menjadi gubernur, maka perlu dukungan terutama untuk mempercepat akselerasi pembangunan di Banten,” katanya.

Kata Hikmat, salah satu sumbangsih yang akan dilakukan untuk membantu istrinya itu adalah mempercepat dana-dana dekonsentrasi turun ke Banten. “Di pusat dana-dana itu banyak. Namun selalu turun ke provinsi lain. Sementara yang turun ke Banten masih sedikit karena kita kalah lobi. Oleh karena itulah, bila saya diberi amanah duduk di DPR RI, akan memperjuangkan dana-dana dari pusat turun ke Banten. Dan saya siap melobi, karena sudah paham betul dengan lobi-lobian selama menjadi pengusaha,” ujarnya.

Dana-dana dekonsentrasi dari pusat itu akan digunakan untuk memperbaiki infrastruktur, pembinaan masyarakat, dan kegiatan lainnya yang mendukung program Pemprov Banten. “Di provinsi lain, infrastruktur sudah bagus, guru-guru ngaji sudah dapat honor. Di Banten kan belum ada, hal itu yang akan menjadi konsentrasi kami di Senayan kelak,” ujarnya seraya mengatakan, siap bekerjasama dengan caleg lain yang terpilih di dapil Banten II ini untuk jalan bersama.

Begitu juga kata Zulkieflimansyah. Kata dia, perolehan suara belum final sehingga masih memungkinkan akan terus berubah. Meski demikian, Zulkieflimansyah meyakini bahwa PKS di dapil Banten II akan meraih kursi ke Senayan.

Terkait bila dirinya terpilih kelak menjadi wakil rakyat lagi, Zulkieflimansyah mengatakan, bersama dengan wakil rakyat dari dapil Banten II terpilih akan membantu percepatan pembangunan di Banten. “Kami sudah mengobrol dengan caleg dari Golkar dan Demokrat untuk bersama-sama membangun Banten,” ujarnya. Kata Zul, peningkatan pembangunan yang harus terus digalakkan di Banten adalah peningkatan sumber daya manusia (SDM) lewat pendidikan serta penggalian sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat.

Di tempat terpisah, Ahmad Rifai Suftyadi menambahkan, salah satu amanah yang akan diemban bila kelak menjadi wakil rakyat di Senayan adalah memperjuangkan kesejahteraan bagi masyarakat Banten. “Penguatan UKM dan pembinaan keterampilan akan tetap difokuskan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat,” tandasnya.

Kata Rifai yang akrab disapa Anton ini, siap bekerjasama dengan caleg terpilih lainnya untuk membangun Banten. Kata dia, tidak mungkin ada akselerasi pembangunan di Banten bila tidak ada kerja sama antar wakil rakyat asal Banten di parlemen. “Kita, bila memang benar-benar terpilih, akan menjalankan amanah ini dengan baik untuk membangun Banten lebih baik,” ujarnya.

Dari nama-nama caleg di dapil Banten II yang diprediksi ini memang lebih banyak berlatar belakang pengusaha. Hikmat Tomet, Murdaya Widyawimarta Poo, Iman Ariyadi, Ahmad Rifai Suftyadi, adalah sederetan pengusaha sukses. Murdaya misalnya. Dia adalah pengusaha yang sudah menasional bahkan -internasional. Suami dari Siti Hartati Murdaya ini merupakan salah satu pengusaha sukses Indonesia yang memiliki kekayaan melimpah. (*)

:serang, 18 april 2009

contreng di bilik kardusPerebutan kursi DPR dari daerah pemilihan Banten I (Lebak dan Pandeglang), Banten II (Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Cilegon), dan Banten III (Kabupaten/Kota Tangerang) didominasi wajah-wajah lama. Berdasarkan perolehan suara sementara di KPU Banten hingga Senin (13/4) pukul 17.30, mereka masih mengungguli caleg-caleg pendatang baru.

Di daerah pemilihan Banten I, Mamat Rahayu dan Tb Ace Hasan S (Partai Golkar) unggul dengan perolehan suara 1.323 dan 922. Keduanya unggul sementara dari caleg Golkar lainnya di dapil ini. Sementara dari PKS, ada nama Syamsu Hilal dan Oke Setiadi yang memimpin perolehan suara sementara.

Yang unik terjadi di PPP. Pasangan suami istri Dimyati Natakusumah (Bupati Pandeglang)-Irna Narulita juga diprediksi lolos karena keduanya meraih suara signifikan. Irna Narulita memperoleh 3.799 dan Dimyati Natakusumah 714. Caleg PDIP yang mendapatkan suara terbanyak sementara adalah Tb Dedi S Gumelar 924 dan Suparwanto 315. Sedangkan di Partai Demokrat, Iti Octavia Jayabaya (anak Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya) mendapatkan suara terbesar 2.583 dan Rt Siti Romlah 959.

Sementara di daerah pemilihan Banten II, sejumlah nama beken juga diprediksi lolos ke Senayan. Mereka antara lain Hikmat Tomet (suami Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah) dan Tb Iman Ariyadi (anak Walikota Cilegon Tb Aat Syafaat) yang memperoleh suara 10.474 dan 9.112. Hikmat dan Iman maju dari Partai Golkar. Di PKS, nama Zukieflimansyah yang juga diprediksi lolos karena meraih suara terbanyak sementara dengan suara 7.114 disusul Sadeli Karim sebanyak 867. Di PPP ada Dimyati Abu Bakar dengan perolehan suara sementara 1.354 dan Endin AJ Soefihara 848. Di Partai Demokrat ada Adiyaman Amir Saputra 2.133, Ahmad Riva’i Sufiadi 1.575, Gerindra ada Idin Rosidin 913 dan Herijanto 487.

CALEG ALMARHUM

Di daerah pemilihan Banten III tampaknya ada kejutan. Sebab caleg Sutradara Gintings (PDIP) yang sudah meninggal mendapatkan perolehan suara sementara terbanyak dengan perolehan suara 905 dan disusul Malawati 745. Terpilihnya Sutradara Gintings ini tentu sangat mengejutkan karena kemungkinan suaranya akan terus bertambah mengingat sampai kemarin (Selasa, 14/4/2009) rekapitulasi penghitungan suara masih berlangsung.

Di PKS, Jazuli Jazuli Juwaeni berpeluang kembali ke senayan karena mendapatkan suara terbanyak yaitu 1.983 dan diikuti Yoyoh Yusroh 1.200 (keduanya saat ini masih menjabat sebagai anggota DPR).

Di Partai Golkar, anak Bupati Tangerang Ismet Iskandar yaitu Ahmed Zaki Iskandar mendapatkan suara sementara 1.781 dan Ebrown Lubuk 1.120. Sementara PPP, menempatkan Irgan Chairul Mahfiz mendulang suara sementara 1.002 dan Dedi Kurniadi 429. Sedangkan Partai Demokrat yang berpeluag lolos adalah Haryanto Edhie Wibowo dengan perolehan suara sementara 2.568 dan Ferari Romawi 1.354.(*)

Dilengkapi dari sumber radar banten, edisi 14/4/2009

Setelah didesak, akhirnya Komisi Pemilihan Umum atau KPU berjanji akan mencetak ulang empat jenis formulir berita acara penghitungan suara calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Banten yang salah cetak. Janji ini langsung diucapkan oleh Ketua Divisi Logistik KPU Pusat Abdul Aziz di hadapan ketua KPU kabupaten/kota se-Banten yang menemui Aziz di KPU Pusat, Kamis (2/4).

Abdul Aziz menjanjikan bahwa perusahaan pemenang tender percetakan formulir berita acara penghitungan suara DPD Banten ini akan mencetak ulang hari ini. Pada Sabtu (4/4), formulir berita acara hasil cetak ulang itu akan dikirimkan kepada KPU kabupaten/kota di Banten.

Ketua KPU Kabupaten Serang Lutfi Nuriman membenarkan. Kata dia, KPU Pusat memberikan jaminan bahwa empat jenis berita acara penghitungan suara (C1, C2 plano, DA-1 dan DA-B) akan dicetak ulang. “Kami merespons baik atas keinginan KPU Pusat untuk mencetak ulang formulir bermasalah ini,” katanya.

Diakui Lutfi, KPU Pusat mau mencetak ulang formulir berita acara bermasalah itu setelah mendengarkan masukan dari KPU kabupaten/kota di Banten. “Kami memang menginginkan agar ada cetak ulang untuk menjaga Banten tetap kondusif. Sebab kalau kesalahan nomor urut DPD di empat jenis berita acara direvisi dengan cara manual (tulis tangan-red) justru akan merepotkan. Dan ternyata keinginan itu disanggupi KPU Pusat,” ujarnya.

Ketua KPU Cilegon Syaeful Bahri juga mengatakan hal serupa. Kata dia, KPU Pusat siap untuk menarik empat jenis berita acara penghitungan suara DPD yang salah cetak. “Kita menyambut baik keinginan KPU Pusat itu,” ujarnya. Kata Syaeful, setelah selesai dicetak, formulir berita acara itu akan langsung dikirim ke KPU kabupaten/kota di Banten untuk mengejar waktu distribusi ke masing-masing panitia pemilihan kecamatan (PPK).

Kedatangan ketua KPU kabupaten/kota ke KPU Pusat karena mereka kurang puas terhadap Surat Edaran (SE) KPU Pusat Nomor 627/KPU/III/2009 tertanggal 31 Maret 2009. SE itu berisi bahwa kesalahan cetak nomor urut calon anggota DPD RI dari nomor urut 17-53 tidak memengaruhi fungsi formulir tersebut. Selain itu, KPU kabupaten/kota diminta untuk membetulkan nomor urut calon DPD berdasarkan nomor urut daftar calon tetap (DCT) dan surat suara, serta membuat surat edaran kepada PPK, PPS, dan KPPS tentang formulir yang salah cetak tersebut.

Mereka yang mendatangi KPU Pusat kemarin adalah Ketua KPU Kabupaten Serang Lutfi Nuriman, Ketua KPU Kota Serang M Arif Ikbal, Ketua KPU Kota Cilegon Syaeful Bahri, Ketua KPU Lebak Agus Sutisna, dan Ketua KPU Kota Tangerang Imron Khamami. Sementara Ketua KPU Pandeglang dan Kabupaten Tangerang diwakili oleh anggotanya. Mereka tiba di KPU Pusat sekira pukul 10.00 WIB. Namun baru diterima oleh anggota Abdul Aziz sekira pukul 15.30 WIB setelah sebelumnya sempat juga diterima oleh anggota KPU Pusat lainnya, I Gede Putu.

Di tempat berbeda, calon anggota DPD Eti Fatiroh mengatakan, sebelum Ketua KPU kabupaten/kota menemui Ketua Divisi Logistik KPU Pusat Abdul Aziz, dirinya sudah menemui Abdul Aziz pada Senin lalu. Dalam pertemuan itu, Abdul Aziz memang menjanjikan akan mencetak ulang berita acara formulir DPD yang salah cetak. Perbincangannya dengan Abdul Aziz ia rekam sebagai bukti. “Kata dia (Abdul Aziz-red), yang sudah didistribusikan harus dimusnahkan,” ujarnya.

Karena itu, Eti sangat terkejut saat KPU Pusat malah mengeluarkan SE yang tidak akan mencetak ulang formulir berita acara penghitungan suara DPD. “SE itu hanya memerintahkan daerah untuk melakukan perbaikan. Ini jelas aneh dan tak sesuai dengan perbincangan saya dengan dia waktu itu,” ungkap mantan anggota KPU Banten ini.

Setelah akhirnya KPU Pusat menjanjikan akan mencetak ulang, Eti juga menyambut baik rencana tersebut. “Itu (cetak ulang-red) lebih baik daripada mengganti dengan cara manual,” ujarnya.

SALAH CETAK

Sebelumnya anggota PPK Pamarayan, Kabupaten Serang, menemukan ada kesalahan cetak nomor urut calon DPD Banten di empat formulir berita acara penghitungan suara DPD. Di berita acara C1, C2, DA-1 dan DA-B, nomor urut calon DPD saling tertukar. Calon DPD yang seharusnya bernomor urut 53 malah tercetak di formulir berita acara nomor urut 17. Begitu juga calon DPD nomor urut 17 malah tercetak nomor urut 18. Calon DPD nomor urut 18 malah salah cetak menjadi nomor urut 19. Begitu seterusnya hingga calon DPD nomor urut 35.

Kesalahan cetak ini sempat membuat calon anngota DPD akan memboikot pemilu di Banten bila tidak ada perbaikan. Sebab mereka merasa dirugikan atas kesalahan cetak nomor urut tersebut. Sementara jumlah calon anggota DPD Banten sebanyak 69. (*)

Serang, 3 april 2009 atau 7 hari lagi pemungutan suara, 9 April 2009.

Laman Berikutnya »