keagamaan


masjidannabawiHidup selaras dengan kehendak Allah itu ialah hidup yang penuh dengan ikhlas dan ihsan, tampil apa adanya, tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain, memiliki integritas serta menerima kenyataan yang telah ada, sekaligus berjuang penuh semangat meraih masa depan yang lebih baik. Saya menemukan, paling tidak, ada lima model pilihan hidup yang selaras dengan kehendak Allah. Kelima pilihan hidup ini terlahir dari pribadi utuh, yang telah menyeimbangkan kecerdasan jasmani (phisic quotient), kecerdasan rasio (intellectual quotient), kecerdasan emosi (emotional intelligence) dan kecerdasan spiritual (spiritual intelligence). Artinya, pribadi ini tidak lagi mementingkan pembinaan hanya salah satu dari fisik, pikiran, hati dan jiwa, melainkan keseluruhannya. Empat kemampuan manusia itu—fisik, pikiran, hati dan jiwa—pada saat puasa ini secara paralel dan simultan sedang menjalani pelatihan. Dengan puasa, fisik kita menjadi disiplin, pikiran kita menjadi bervisi, hati kita penuh rasa cinta dan jiwa kita menjadi bernurani. Inilah pribadi utuh yang saya menyebutnya ”insan shalih” (”manusia yang relevan”). Shalih bagi kehidupan di dunia ini, juga shalih bagi kehidupan di akhirat kelak. Shalih bagi kondisi tradisional, juga shalih bagi kemoderenan. Shalih ketika ia menjadi bawahan, juga shalih ketika menjadi bos. Shalih ketika ia menjadi gubernur, dan shalih ketika ia menjadi ibu tangga. Pendek kata, insan shalih adalah insan yang unggul di segala tempat dan zaman. Berdasarkan pribadi yang insan shalih itulah saya menemukan adanya lima pilihan hidup berikut ini.

Pertama, hidup yang mengalir berdasarkan ”suara hati” yang apa adanya, berdasarkan pengetahuan yang juga apa adanya. Alkisah Musa a.s. bertemu seorang penggembala yang sedang berdo’a: “Ya Allah, yang memilih siapa yang Kau kehendaki, di manakah Engkau supaya aku dapat menjadi hamba-Mu dan menjahit sepatumu dan menyisir rambut-Mu, supaya aku dapat mencuci baju-Mu dan membunuh kutu-Mu dan membawakan susu untuk-Mu, ya Allah, supaya aku dapat mencium tangan kecil-Mu dan memijat kaki kecil-Mu dan pada waktu tidur, menyapu kamar-Mu!” Saat si penggembala mengucapkan kata-kata cinta yang terdengar konyol itu, Musa mendengarnya. Lalu Musa bertanya, ”Kau  sedang berbicara dengan siapa?” Si penggembala menjawab, ”Yang menciptakan kita untuk menyaksikan bumi dan langit ini.” ”Apa!”, bentak Musa. ”Kamu begitu bejat. Kamu berbicara seperti orang kafir. Ocehan macam apa itu? Hujatan dan bid’ah! Jejali mulutmu dengan kapas”, lanjut Musa.

            Si penggembala merasa malu dan berkata, ”Hai Musa, kamu telah menutup mulutku dan telah membakar jiwaku dengan tobat.” Ia merobek bajunya dan menghela nafas panjang dan berjalan ke arah padang pasir melanjutkan perjalanan.       Tiba-tiba wahyu turun kepada Musa, dan Allah berkata, ”Musa, Aku mengutusmu untuk mempersatukan umat, bukan untuk memecah-belah. Kamu telah mengusir hamb-Ku dari-Ku. Sedapat mungkin, janganlah kamu memecah-belah. Hal yang paling Ku-benci adalah perceraian. Aku memberi cara bertindak yang khusus untuk setiap orang. Aku memberi cara pengungkapan yang unik untuk setiap orang. Aku tidak disucikan oleh pujian. Merekalah yang disucikan. Aku tidak melihat bahasa  atau perkataan. Aku melihat ruh batin dan perasaan. Aku memandang ke dalam hati untuk melihat betapa ucapan sederhana tidaklah rendah nilainya. Aku ingin menyala, menyala. Bergaulah dengan nyala itu. Sulutlah api cinta dalam jiwamu. Bakarlah pikiran dan ungkapan.”

            Kedua, menjalani hidup yang merupakan hasil integrasi antara pengetahuan yang dmilikinya dengan amal-praktek kesehariannya. Hampir semua dari kita melakukan perbuatan yang salah bukan karena kita tidak/belum mengetahuinya. Perbuatan-perbuatan salah dan melanggar yang kita lakukan, disadari oleh kita sendiri dan diketahui oleh kita sendiri bahwa perbuatan tersebut memang salah. Tetapi kenapa kita cenderung untuk terus melakukan dan mengulangi perbuatan salah tersebut? Di sinilah karenanya setiap kita perlu berjuang. Berjuang melawan keinginan diri sendiri yang cenderung salah dan melanggar itu. Pada saat kita telah bertekad akan hanya melakukan perbuatan yang benar dan lurus, ada bagian dari diri kita yang juga mengajak kita untuk melakukan yang sebaliknya. Pada saat semacam itulah hati dan akal kita mesti difungsikan. Akal telah mengetahui bahwa perbuatan itu salah dan melanggar, lalu apa gunanya pengetahuan akal jika perbuatan yang diketahui salah dan melanggar itu tetap diperbuat oleh diri kita. ”Tidaklah seseorang disebut âlim (cendekiawan) hingga ia melaksanakan pengetahuan yang dimilikinya”, tegas Imam al-Ghazali.

Hidup selaras dengan kehendak Allah adalah hidup yang dijalani sesuai dengan apa yang diketahui sebagai baik, maka kita melakukannya, dan apa yang diketahui sebagai buruk, maka kita menghindarinya. Terlebih apabila kita telah mengajak orang lain untuk melakukan perbuatan baik, tapi kita sendiri tidak melakukannya, maka kekuatan pengubah bagi orang lain nyaris tidak ada. Bahkan orang lain yang menjadi objek ajakan kita lambat-laun akan mengejek dan mengembalikan ajakan baik itu kepada kita sendiri. Ajakan (dakwah) yang efektif justru dengan cara melakukan perbuatan baik, sebelum—tanpa—mengajak orang lain berbuat baik. Perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang merupakan perintah yang tak terbantahkan bagi orang lain yang terkait dengannya. Karena itu, jika Anda ingin mengubah orang lain agar berbuat baik, maka lakukanlah oleh diri Anda dahulu, niscaya orang lain pun akan dengan mudah mengubah perilakunya. Inilah cara hidup yang disebut ”from inside to outside” (”dari dalam ke luar”). Cara hidup inilah yang dikategorikan hidup sejati, terhindar dari kepalsuan, dan omong kosong.

Ketiga, menjalani hidup yang menghindari dan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang jelas-jelas tidak ada manfaatnya bagi diri kita dan juga bagi siapa pun. Kita mesti bisa memilih—karena ini bagian dari kebebasan yang diberkati oleh Tuhan kepada kita—tindakan apa yang mendatangkan manfaat bagi kita, dan tindakan apa yang samasekali tidak bermanfaat bagi kita dan orang lain. Setiap perbuatan yang akan kita lakukan hendaknya dipertanyakan secara memadai akan manfaat yang dihasilkan, baik secara pribadi, sosial maupun spiritual. Jika dimungkinkan akan adanya manfaat yang bisa diperoleh dari perbuatan yang akan kita lakukan itu, maka lakukanlah. Salah satu ciri yang mudah ditangkap, apakah perbuatan tersebut merusak perjalanan kecerdasan emosi dan spiritual kita atau tidak, adalah adanya penyesalan yang kita rasakan setelah melakukan perbuatan-perbuatan tersebut. Misalnya, penyesalan akan telah terbuangnya waktu dan energi, penyesalan yang mendatangkan akan adanya rasa takut terhadap akibat buruk dari yang kita lakukan, juga penyesalan akan adanya penilaian buruk orang lain terhadap kita. Karena itu, hindarilah perbuatan-perbuatan yang tidak memberikan manfaat bagi keberadaan hidup kita. Sikap dan perilaku semacam ini sekaligus juga akan memberikan ketenangan batin dan kesehatan jasmani.

            Keempat, hidup selaras dengan kehendak Allah itu adalah hidup yang tidak mengambil keuntungan dari kelemahan, keburukan dan musibah yang menimpa orang lain. Kita menghindari sikap dan perilaku yang mengambil keuntungan dari kesalahan orang lain, selama kesalahan itu bersifat manusiawi. Pedoman yang kita anut adalah, tidak ada satu pun manusia yang serba hebat di segala bidang. Karena itu, kesalahan dan kelemahan yang sifatnya manusiawi, mestinya semua orang memaafkannya, karena hal itu bisa terjadi pada semua orang. Artinya, kesalahan dan kelemahan manusiawi itu juga sangat mungkin terjadi pada kita. Maka, janganlah senang, apalagi mem-blow up dan menggembar-gemborkan kepada setiap orang jika ditemukan kesalahan dan kelemahan manusiawi pada orang lain. Orang yang hidup selaras dengan kehendak Allah tidak akan merasa hebat dan unggul jika menemukan kesalahan dan kelemahan yang sifatnya manusiawi pada orang lain. Demikian juga, ia tidak akan merasa sangat bersalah dan menyesali secara berlebihan jika dirinya terperosok ke dalam kesalahan dan kelemahan yang sifatnya manusiawi.

            Kelima, menjalani hidup yang menerima kenyataan yang telah terjadi (taqdîr) dan mengusahakan yang lebih baik terhadap sesuatu yang akan datang (ikhtiyâr). Inilah sikap hidup yang, di satu sisi, menerima ketentuan Allah, dan di sisi lain, menjalankan kebebasan pribadi yang telah diberkati Allah kepada kita. Sikap menerima taqdir adalah salah satu sikap dan perilaku yang sangat bermanfaat bagi pengembangan kehidupan ke depan—selain juga sebagai bagian dari keimanan yang kita anut. Di sinilah kita bisa memulai perjalanan menempuh proses menjadi cerdas emosi dan spiritual. Start-nya bermula dari kekuatan dan keadaan yang telah ada. Dan ke depan misi kita adalah mencari sesuatu yang lebih baik dari yang pernah kita peroleh.

            Lima pilihan hidup di atas itulah yang bisa saya tafsirkan sebagai hidup selaras dengan kehendak Allah, dan menjadi karakter bagi seorang insan shalih. Seseorang yang telah memilih dan menentukan kelima pilihan hidupnya itu, maka ia telah meretas dari kualitas insan shalih menuju kualitas insan kamil. Kualitas insan kamil adalah kualitas pribadi yang telah menyelesaikan persoalan dirinya dengan dirinya sendiri, persoalan dirinya dengan diri orang lain, dan persoalan dirinya dengan Tuhannya. Wallahu a’lam.

 

Sumber; Hasil Wawancara dengan M Wahyuni Nafis, MA (dosen Univ Paramadina)

 

Iklan

Sebagai salah satu negeri tempat lahirnya peradaban besar tertua di dunia, Mesir mempunyai banyak situs bersejarah. Hampir di setiap kota di negara berpenduduk 75 juta jiwa itu mempunyai peninggalan peradaban kuno
   Mesir sangat beruntung mempunyai banyak tempat eksotik yang selalu jadi jujukan para pelancong. Tak perlu jauh-jauh. Di Kairo, ibu kota Mesir, banyak terdapat situs menarik. Untuk wisata religi, misalnya, peziarah bisa berkunjung ke kawasan Hay Syafey, bagian kota lama Kairo. Di sana ada makam Imam Syafi’i, imam besar yang menjadi mazhab bagi banyak umat Islam di Indonesia, bahkan kawasan Asia Tenggara.
   Di dalam kompleks makam, ada sebuah cetakan tapak kaki di batu yang dipercaya merupakan tapak kaki Rasulullah Muhammad. Cetakan ini didatangkan langsung dari Arab Saudi. ’’Memang tidak bisa dipastikan, namun dipercaya merupakan jejak Rasul,’’ kata  Syamsul Alam, staf Kedutaan Besar RI di Kairo.
   Suasana makam Imam Syafi’i itu mirip kompleks makam Sunan Ampel Surabaya. Kendati tak dipungut biaya sama sekali, peziarah harus siap membawa uang receh dalam jumlah banyak. Sebab, di sana banyak pedagang kaki lima, pengemis, serta juru kunci makam yang selalu mensyaratkan sedekah bagi pengunjung. Paling tidak, harus menyiapkan pecahan kecil sekitar 20 pound (sekitar Rp 50 ribu).
    Tak jauh dari makam Imam Syafi’i, ada lagi tempat menarik. Yakni Qal’ah Salahudin atau Salahudin Citadel (Benteng Salahudin). Benteng ini didirikan oleh Sultan Saladin, salah satu sultan besar di era Perang Salib. Kabarnya, Saladin memilih sebuah gunung, membelah, memotong, dan mendirikan benteng seluas 10 hektare  di atasnya pada 1183.
    Benteng ini letaknya sangat strategis. Dari tempat ketinggiannya, seluruh Kairo dapat terlihat. Saat ini, di dalam kompleks benteng juga terdapat dua masjid besar, bekas istana kerajaan, dan pusat pemerintahan. Selain itu juga monumen militer Mesir untuk mengenang kemenangan perang melawan Israel pada 1973.
  Tidak tanggung-tanggung, Mesir memajang semua arsenalnya ketika berupaya merebut kembali Gurun Sinai tersebut. Jadi, di dalam monumen (dalam benteng), dipajang pula empat pesawat Sukhoi, empat pesawat pemburu, kapal amfibi, dan puluhan artileri yang dipakai dalam perang Yom Kippur atau juga disebut Perang Ramadan itu. Bisa dibayangkan betapa luasnya benteng tersebut.
    Selain itu, benteng tersebut juga pernah menjadi pusat pemerintahan dan pusat kerajaan. Raja Faruk, raja terakhir Mesir yang digulingkan oleh Gamal Abdul Nasser pada 1952, juga mempunyai istana di dalam benteng. Selain monumen militer, yang menarik adalah masjid Mohamad Ali. Semua tembok dan lantainya dilapisi oleh alabaster, sejenis marmer. Berkonstruksi model Ottoman (Turki), masjid yang dibangun pada 1830 tersebut dibuat sangat megah dan tinggi. Tinggi bangunannya saja 52 meter, sementara kedua menaranya menjulang setinggi 84 meter. 
   Karena benteng tempat masjid itu berdiri sudah setinggi 30 meter, maka  dari seluruh penjuru Kairo, masjid dan menaranya pasti terlihat. Bagian yang paling mencuri perhatian dari bagunan itu adalah sekujur marmer yang menempel di tembok.. ’’Ada yang bilang bahwa marmer tersebut dicungkil oleh Mohammad Ali dari Piramida Chevren. Terus marmernya ditempelkan di sekujur tembok masjid,’’ kata Syamsul Alam.
   Cerita pembangunan masjid itu juga menarik. Pada 1825, Mohammad Ali, raja Mesir saat itu, merasa terancam dengan banyaknya kepala suku di negaranya. Ali khawatir sewaktu-waktu suku-suku tersebut bisa memberontak. Karena itu, berdalih menggelar jamuan makan malam, Mohammad Ali mengundang 520 kepala suku tersebut. Usai makan, mereka dibiarkan pulang. Namun, menjelang keluar benteng, pintunya ditutup, dan ratusan penembak jitu keluar dari atas genteng dan membunuh ke 520 kepala suku tersebut.
   Setelah peristiwa yang dikenal sebagai “pembantaian di dalam benteng” itu, Mohammad Ali merasa menyesal. Maka, untuk mengurangi beban dosanya, Mohammad Ali membangun masjid megah tersebut.
   Untruk mengelilingi benteng Salahudin, sebaiknya pelancong menyediakan hari khusus. Mengelilingi lahan seluas 10 hektare tentu saja membuat kaki pegel. Namun, tetap saja benteng Salahudin menjadi tempat yang paling banyak dikunjungi setelah piramid.   ’’Yang paling banyak adalah wisatawan asing, terutama dari Asia. Jumlahnya 2 juta orang per tahun,’’ tutur Nasheem.
    Namun, bukan berarti berwisata di Benteng Salahudin itu tak ada kekurangannya. Kesan Jawa Pos, petugas Mesir yang berjaga di benteng itu lebih banyak melarang daripada memberikan informasi atau saran. Selain itu, para petugasnya lebih suka memasang tampang seram daripada senyum ramah. ’’La, la, la, No photo,’’ bentak seorang petugas yang berdiri di istana kerajaan di dalam benteng saat tahu Jawa Pos membawea kamera.
    Begitu pula di museum militer. Para petugas di sana lebih sibuk melarang ini-itu, kemudian berdiri memelototi pengunjung, ketimbang memberikan penjelasan dengan ramah. Terkesan, petugas di sana memandang wisatawan lebih sebagai orang yang akan merusak barang-barang di museum. Bukan tamu yang harus dilayani. Memotret boleh, tapi untuk masuk dengan membawa kamera ke dalam areal museum harus membayar lagi lima pound (Rp 10 ribu).
    Ketika saya tanyakan Nasheem, kenapa sudah bayar di pintu masuk benteng tapi harus bayar lagi bila bawa kamera ke museum, Nasheem hanya tertawa. ’’Itu memang sudah aturannya,’’ ucapnya. Rupanya, Nasheem sendiri juga tak mengetahui kenapa aturan itu dibuat.
   Soal ticketing pun juga agak janggal. Perbedaan harga tiket masuk antara orang Mesir dan orang asing pun juga mencolok. Ada tiga harga tiket. Untuk orang Mesir cukup bayar dua pound (sekitar Rp 4 ribu), pelajar asing dibanderol 30 pound (Rp 60 ribu), sedang turis asing ditarik 60 pound (Rp 120 ribu).
   Nasheem mengakui, pemerintahnya sengaja membuat regulasi seperti itu sebagai bagian dari peningkatan kesejahteraan. ’’Anda tahu sendiri kan, bahwa gaji pegawai negeri di sini sangat terbatas,’’ tuturnya. Standar gaji pegawai di Mesir memang kecil. Antara 500 pound sampai dengan 1.500 pound per bulan. Makanya, tak heran apabila sopir taksi di sini sebagian besar merupakan pekerjaan sambilan. Tak jarang, orang bergelar S2 pun menjadi sopir taksi, karena pendapatan dari pekerjaannya terlalu mepet.
  Namun, saya tetap kurang bisa menerima perbedaan tarif semencolok seperti saat masuk Benteng Salahuddn. Antara Rp 4 ribu dengan Rp 120 ribu. Bangsa Mesir terkesan lebih memprioritaskan bangsanya sendiri dibandingkan orang asing. Di restoran, misalnya, beberapa kali saya yang pesan dulu harus “kalah cepat” dengan tamu orang Mesir yang datang  belakangan. (*)

sumber Jawa Pos, Jumat (6/2)

Sepanjang Jumat (31/1) saya menemukan satu fenomena yang saling terkait satu sama lain mengenai pluralisme dan indahnya kebersamaan. Yang pertama pada pukul 09.30 WIB, saya dan anak saya, Syawla, tengah berteduh di halte bus yang berada di depan pusat perbelanjaan terbesar di Kota Serang. Selama 15 menit berteduh, mata saya langsung tertuju pada dua bangunan gereja besar yang letaknya persis sekali di samping pusat perbelanjaan ini. Selama saya memandangi tempat ibadah itu, pikiran saya langsung menarik kesimpulan. Inilah pluralisme yang sesungguhnya!

Dari fakta itu, harus diakui bahwa pluralisme ternyata sudah bersemayam dalam kehidupan warga masyarakat Kota Serang. Mereka sudah dapat hidup untuk saling menghargai perbedaan. Betapa tidak, tidak jauh dari dua bangunan gereja yang letaknya di pusat kota ini, ada Masjid Agung Serang, yang namanya Masjid Agung As-Tsauroh. Letaknya pun sekira 100 meter dari dua bangunan gereja ini. Sama dengan dua gereja ini, masjid agung Serang pun merupakan bangunan tua yang memiliki seni arsitektur.

Selain itu, berdekatan dengan masjid agung ini masih ada lagi satu bangunan gereja yaitu gereja yang letaknya hanya lima meter dari halaman masjid agung. Gereja ini pun terbilang sangat besar dan selalu ramai pada saat perayaan Natal. Masyarakat Kota Serang tidak merasa terusik apalagi terganggu dengan berdekatannya bangunan tempat-tempat ibadah tersebut.

Usai dari halte, saya berangkat ke took pakaian anak-anak di bilangan Royal, Kota Serang, untuk membeli popok dan bantal buat anak kedua saya, Kafa. Saat mau pulang setelah usai berbelanja, saya juga menyaksikan fenomena yang sama maknanya dengan  yang pertama. Di depan, toko pakaian anak-anak ini saya melihat pemandangan yang sangat teduh dan menyejukkan hati. Seorang ibu yang memakai busana muslimah (kerudung dan pakaian lengan panjang) menyapa sang pemilik toko pakaian yang saya yakini bukan beragam Islam. Sebab pemilik toko ini adalah pasangan suami istri yang bermata sipit (china). Dan setiap saya berbelanja di took ini pada pagi hari, saya selalu  masih mencium aroma kemenyan seperti yang dibakar di vihara-vihara. “Mau kemana ci,” kata ibu berkerudung ini dengan sopan kepada si pemilik toko yang kelihatan menggandeng anak perempuan sekira umur 9 tahunan. “Iya, nih mau ke sekolah,” kata si enci dengan tidak kalah sopannya. Setelah saling sapa, keduanya terlibat obrolan hangat. Saya melihat  keduanya tampak akrab dan sesekali melemparkan senyum selama perbincangan berlangsung. Perkiraan saya, mereka mengobrol lebih dari 10 menitan. “Saya mengantar anak dulu ya Bu, sudah siang nih,” kata si enci kepada ibu berkerudung ini lagi. Tidak lama kemudian si enci dan anaknya pun naik becak untuk menuju sekolah anaknya, SD Penabur.

Kejadian ketiga yang juga terkait dengan kejadian pertama dan kedua adalah saat saya tengah berada di rumah sekira pukul 13.00 WIB. Saat itu, datang tukang service AC, sebut saja namanya Ahong. Sama dengan si enci, si Ahong inipun saya yakini bukan pemeluk Islam. Sebab si Ahong juga memiliki mata yang sipit dan berkulit putih kekuning-kuningan. Ternyata benar tebakan saya, si Ahong memang mengaku beragama Konghutcu. Saya menyilakan si Ahong dan anak buahnya datang ke rumah saya saat dua hari yang lalu, saya ketemu Ahong usai membersihkan AC kantor tempat saya bekerja.

Di rumah saya, si Ahong mengenakan pakaian sederhana. Saat anak buahnya-yang rata-rata pribumi Serang-mengerjakan perbaikan AC kamar tidur saya, saya mengobrol dengan si Ahong di ruang tamu. Saat saya menanyakan ‘usia’ menjalani bisnis servis AC, dia menjawab sudah hampir 30 tahun. “Kita sudah menjalani bisnis ini sejak 1976,” tandasnya.

Waktu 30 tahun bukan waktu yang pendek. Itu adalah waktu yang sangat panjang. Selama itu, si Ahong mengaku tidak pernah mengalami kesulitan ataupun hambatan menjalani roda bisnisnya. Dia juga mengaku tidak pernah menerima intimidasi dari kelompok pribumi, yang tentu mayoritas beragama Islam. “Hampir semua pelanggan kita beragama Islam kok. Mulai dari Rangkas, Pandeglang, Cilegon, Tangerang, dan Serang sendiri,” imbuhnya. Selama mengobrol itu, Ahong menggunakan kata-kata, ‘kita’ untuk menyebut dirinya.

 

——

 

Kejadian-kejadian yang saya alami itu makin meyakinkan saya bahwa kita bisa hidup bersama. Kita dapat menciptakan kedamaian di bumi ini meski kita berbeda keyakinan, berbeda ras, dan berbeda warna kulit. Kita dapat menghadirkan agama yang sejuk di tengah kehidupan kita tanpa harus saling mencaci maki. Kita juga dapat menghadirkan sikap yang ramah dan toleran dengan orang yang berbeda keyakinan dengan kita tanpa harus ikut membakar tempat ibadah yang kita anggap salah.

Hidup bersama itu memang benar-benar indah. Tidak ada kekerasan. Tidak ada diskriminasi dan tidak ada pelecehan atas nama agama. Juga tidak ada kecurigaan. Yang ada hanyalah saling sapa, saling berbagi, dan saling menghormati satu sama lain. Inilah potret sosial yang sebenarnya diajarkan Islam kepada kita semua. Saya dapat membayangkan kalau kita dapat hidup bersama, alangkah indahnya menjalani kehidupan ini dengan menembus batas-batas keagamaan karena merasa terjamin. Peace.