profesi


Ini tentang keluhan kelakuan oknum wartawan (OJ) yang saya denger langsung dari seorang guru pesantren. Kata guru ini, sangat menyesakkan ada wartawan yang meminta duit untuk kerja liputan kepada salah satu narasumber di salah satu institusi negara. “Persis di depan saya, si wartawan meminta ongkos kepada narasumber. Katanya buat liputan dan buat teman-temannya yang sudah menungu di luar,” ujar guru ini saat menceritakan kejadian itu kepada saya.

Narasumber yang terus diteken akhirnya memberikan amplop kepada si wartawan. Tapi si wartawan ini langsung marah-marah dan minta duit lagi sebab saat dia membuka amplopnya di depan narasumber, isinya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kontan saja narasumber kelabakan. Lalu dia memberikan tambahan lagi kepada si wartawan ini. Setelah merasa puas, si oknum pergi meninggalkan narasumber dengan senang.

“Saya heran, kok wartawan seperti itu,” ujar guru pesantren. Buru-buru saya membantah. “Itu bukan wartawan. Itu adalah oknum yang mengaku-mengaku sebagai wartawan,” ujar saya tanpa bermaksud membela korps wartawan. Sebab bagi saya, tanpa dibela pun korps wartawan tetap ada dan bersih. Sebab saya meyakini bahwa masyarakat dan sebagian pejabat sudah dapat membedakan mana wartawan yang benar dan mana oknum yang mengaku-ngaku sebagai wartawan. Yang saya maksud wartawan yang benar itu adalah wartawan yang bekerja di media dengan skala penerbitan yang jelas dan teratur.

“Oh gitu, ya,” kata guru pesantren ini mengercitkan dahi. “Perilaku mereka yang mengaku-ngaku sebagai wartawan itu yang membuat wartawan tercoreng. Bahkan ada wartawan senior yang mengaku risih dengan polah mereka,” kata saya lagi.

—-

Apa yang dialami narasumber dan guru pesantren di atas adalah realitas kekinian. Praktik pemerasan yang dilakukan oleh oknum wartawan sudah bukan barang baru lagi. Kita bahkan setiap hari selalu mendengar ada kepala sekolah, kades, lurah, camat, kepala dinas, anggota dewan yang “diperas” oleh oknum wartawan.

Lalu kenapa, pemerasan itu tidak bisa dihentikan? Setidaknya ada beberapa faktor. Pertama karena si narasumber secara tidak langsung ‘memelihara’ oknum wartawan. Itu karena mereka (para pejabat dan narasumber lainnya) tidak berani mengatakan, “Tidak untuk tidak memberikan amplop”.  Sebab semakin narasumber memenuhi keinginan si oknum wartawabn, maka semakin enak saja si oknum untuk menjadikan narasumber sebagai salah satu ATM-nya tiap minggu. Kalau sudah begitu, maka sangat sulit untuk memberangus oknum wartawan dari peredaran. Malah semakin subur karena terus dipupuk dengan pupuk yang bagus.

Pertanyaan berikutnya lagi, kenapa si narasumber tidak berani untuk tidak memberikan amplop. Ini pun sangat rumit dan absurd. Sebab kadangkala mereka berdalih, kasihan dan sebagainya. Tapi menurutku, narasumber sering memberikan amplop atau memelihara oknum karena jangan-jangan narasumber takut belangnya dibongkar oleh para oknum wartawan sebab bisa jadi oknum wartawan ini memegang ‘kartu’ si narasumber. Misalnya, si oknum memiliki bukti-bukti korupsi si narasumber sehingga bila narasumber tidak memberikan amplop, si oknum wartawan menggertak akan memberitakan di medianya. Meski hanya gertakan, tapi kebanyakan narasumber takut dan lebih memilih memberikan amplop untuk menjaga nama baiknya di depan publik. Praktik itulah yang menyuburkan wartawan tanpa surat kabar.

Faktor lainnya karena organisasi resmi wartawan, semodal PWI, belum menjalankan fungsinya dengan maksimal. PWI belum berani melakukan penertiban besar-besaran terhadap oknum wartawan yang meresahkan itu. Sebagai organisasi wartawan yang diakui pemerintah, kenapa PWI tidak melakukan penertiban? Pertanyaan itu layak dikemukakan, karena seharusnya PWI melakukan pembenahan internal dan memberikan sanksi tegas terhadap ulah yang mencoreng korps wartawan. Tapi pada kenyatanntya kenapa PWI diam dan tidak bergerak? Silakan Anda tanyakan langsung kepada PWI! Ada apa ini?

Selain PWI, memang ada organisasi wartawan idealis, yakni AJI. ALiansi Jurnalis Independen (AJI) ini sudah melakukan usaha-usaha untuk meredam amplopisasi. Salah satunya dengan mengampanyekan anti amplop bagi wartawan. Solusinya, AJI selalu mengeluarkan pernyataan sikap agar perusahaan media terus meningkatkan kesejahteraan wartawan sehingga wartawan tidak bergantung kepada amplop. Sebab bila kesejahteraan wartawan sudah terjamin, diyakini praktik amplop dapat diminimalisasi-meski masih sulit diberantas hilang.

Selain itu, suburnya oknum wartawan juga karena sulitnya mencari pekerjaan tetap. Nah mereka-mereka yang tidak memiliki skills untuk bekerja di berbagai perusahaan, akhirnya memilih menjadi wartawan jadi-jadian. Apalagi saat ini, untuk membuat kartu pers sangat mudah. Mudah sekali karena siapapun bisa membuat kartu pers.

Serang, 20/11/09

Iklan

 imag0117Pada, Selasa (17/3), Himpaudi Kabupaten Serang kerja bareng dengan Mizan, Dar!Mizan, Rumah Buku Lutfi, Alfamart, dan Radar Banten menggelar seminar nasional, “Menjadi Guru Kreatif,” di Gedung PSBB MAN 2 Serang. Acara diikuti-berdasarkan data yang masuk-sekitar 684 guru yang berasal dari Serang, Cipocok Jaya, Cilegon, Menes, Malingping, Rangkasbitung, Tangerang. Bahkan ada dua peserta yang berasal dari Jakarta. Mereka adalah guru PAUD, TK, SLTP, SLTA, dan mahasiswa. Dari ratusan peserta itu, tampak juga hadir Anizir Ali Murad, SE, MM, purek III Universitas Serang, sebagai peserta. “Saya memang tertarik dengan seminar ini,” ujar Anizir saat mendaftar.

Seminar ini menghadirkan pembicara Andi Yudha Asfandiyar (Picupacu Kreativitas dan penulis buku anak-anak) serta Siti Ma’rifah, MM (praktisi pendidikan). Andi membuat ratusan tenaga pendidik yang hadir di aula PSBB MAN 2 Serang itu terpukau. Para peserta tidak mau meninggalkan bangku meski sempat mati lampu. Andi mampu ‘menyihir’ peserta dengan keahliannya memberikan materi tanpa membosankan dan tidak menjenuhkan. Dalam paparannya itu, Andi juga banyak menyelipkan adegan mendongeng yang membuat peserta geer-geeran. Dalam paparannya, Andi banyak mengupas tentang kreativitas anak dan pentingnya kreativitas guru dan orangtua.

Nah, bagi guru yang kebetulan tidak sempat hadir, berikut ini saya cuplikan materi Andi Yudha. Semoga bermanfaat.

 

————-

Ingin jadi idola anak?

 Berkomunikasilah dengan “dunia”

 Anak-Anak Kita

 

 :Andi Yudha Asfandiyar

 

Bismillahirrahmanirrahim

 

Sampai detik ini komunikasi merupakan kebutuhan manusia untuk mempertahankan eksistensinya. Segala informasi, ilmu, hikmah, penemuan dan sebagainya, menjadi bermakna serta bermanfaat setelah dikomunikasikan.

Dalam pendidikan anak-anak, faktor yang satu ini (komunikasi) amat berpengaruh. Mengapa  demikian? karena  pola pikir, pengalaman, cara pandang anak amat berbeda dengan kita orang dewasa. Banyak sekali orang dewasa kesulitan untuk bisa masuk “dunia” mereka.

“Rasul diutus dengan “bahasa” kaumnya… (QS. Ibrahim: 4)

“Kumudahkan Al-Quran dengan “bahasa” mu… agar mudah dimengerti/diterima. (QS. Ad-Dukhan:58)

 

 

Fakta-Fakta Menarik

* Usia 0-12 tahun, merupakan usia perkembangan otak anak yang penting, bahkan mencapai 80% (Benjamin Spock)

* Usia anak 0-12 tahun perlu intensif dirangsang otaknya, baik otak kiri maupun otak kanannya.

* Usia 0-12 tahun tersebut, merupakan masa penentu kepribadian anak.

* 60-90% potensi kreatif terdapat dan digunakan optimal pada usia tersebut.

* Curiousity (keingintahuan) anak-anak itu tinggi.

* Anak-anak cenderung belajar dari apa yang dilihat, diraba, didengar, dilakukan dan sebagainya.

* Cara anak-anak belajar biasanya efektif melalui pendekatan VISUAL (gambar), AUDITORIAL (Pendengaran), dan KINESTETIKAL (gerak).

* Anak-anak cenderung aktif, dinamis, imajinatif, kreatif, dan ekspresif.

* Dunia anak-anak berbeda dengan dunia orang dewasa.

* Each  one is different, each one is special, each  one is beautiful.

* “Didiklah anak-anakmu karena mereka dilahirkan untuk satu waktu yang  bukan waktumu” (HR. Bukhari-Muslim)

* Pendidikan paling efektif adalah melalui CONTOH/USWAH/TELADAN.

 

 “Tuhanku, karuniakanlah kepadaku anak

yang termasuk orang-orang yang shalih” (QS 26:83)

 

———-

 

                          Bagaimana sih Berkomunikasi dengan Anak Itu?

 

1. Berbicara dengan sepenuh hati dan jelas.

2. Fokuskan perhatian anda pada anak tersebut (tentang keinginannya, problemnya, perasaannya dan lain-lain.

3. Bersikaplah ramah dan bersahabat (untuk memperoleh kepercayaan).

4. Hindari prasangka negatif pada anak tersebut.

5. Hindari memotong pembicaraan.

6. Dengarlah secara aktif (not only hearing, but also listening).

7. Berikan informasi yang benar (tak dibuat-buat, dilebih-lebihkan infonya) tetapi cara menyajikannya boleh dilebih-lebihkan.

8. Perhatikan  isyarat non-verbal mereka (bahasa tubuh, mimik muka dsb).

9. Berbuatlah jujur terhadap anak.

10. Hargai apa yang ia perbuat walaupun remeh atau kecil.

11. Dongeng/Cerita tentang sebuah kisah (apapun itu), dan ceritakan dengan sungguh-sungguh pasti menarik perhatian mereka.

12. Berbicaralah dengan mereka secara sederhana dan tidak berbelit-belit dan sesuai kemampuan akalnya.

13. Perhatikan bahwa setiap anak itu berbeda-beda karakternya.

14. Betutur kata lemah-lembut penuh kasih sayang.

15. Ajari dan latih mereka dengan contoh-contoh praktis (bukan teori dan verbal saja).

16. Berkomunikasilah dengan mereka seperti teman.

17. Berikan pujian walaupun hanya sekadar perbuatan sepele.

18. Ketika bertemu tampakkanlah wajah yang ramah dan hangat.

19. Jangan segan-segan memberi usapan dan elusan di kepala mereka

20. Berlakulah seperti anak-anak ketika bermain bersama-sama.

21. Usahakan memberi dorongan semangat kepada anak untuk maju.

22. Bersabarlah dengan tingkah laku mereka, pertanyaan-pertanyaan aneh mereka, celetukan mereka dll.

23. Ketika bertemu, sapalah mereka lebih dahulu.

24. Hindari hukuman yang bersifat fisik.

25. Apabila terpaksa harus menghukum, usahakan tidak disertai rasa marah dan pukulan  hanya sebagai peringatan serta bagian tubuh yang tidak membahayakan.

26. Anggap apa yang mereka ucapkan dan ungkapkan seperti apa yang kita terima dari orang dewasa.

27. Hindari sikap menilai dahulu segala yang dilakukan anak, tetapi amati dan perhatikan dahulu dengan cermat.

28. Apabila ada pertanyaan mereka yang belum bisa kita jawab, jangan berpura-pura tahu atau berbohong, lebih baik berjanji untuk mencari tahu.

29. Seringlah mengajak anak-anak ke tempat yang banyak orang (pasar,pameran, pengajian dll).

30. Sering-seringlah mengucap kalimat-kalimat thoyyibah dalam kegiatan sehari-hari, lebih-lebih bila di depan mereka.

31. Kenalkan sejak dini, mereka dengan kesenian walaupun kita bukan seniman.

32. Kenalilah siapa teman-teman anak-anak itu.

33. Jangan terlalu sayang bila ingin memberi mereka hadiah (bukan harganya tapi nilai hubungan batinnya).

34. Biasakan kepada anak-anak untuk bertanya (budaya bertanya).

35. Berkomunikasilah kepada mereka melalui frame mereka (anak-anak) bukan frame kita (orang dewasa).

36. Jangan segan-segan memaafkan kekhilafan mereka, tapi juga jangan membiarkan mereka seenaknya.

37. Kenalilah dan pahami hobi, kesukaan, apa yang ia tonton, dengar, baca dan lain-lain agar kita lebih mudah “masuk” ke dunia mereka.

38. Jangan segan-segan minta maaf pada mereka ketika lupa, bersalah dsb.

39. Biasakan memberi mereka hadiah yang tak berbentuk materi. (uang, makanan, dsb).

40. Tak ada cara lain kita harus sabar disertai doa dalam mendidik anak-anak.

 

 

                                                                                             

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                            

teacherIni kabar baik bagi para guru di Banten dan juga di daerah lainnya. Saya bekerjasama dengan penerbit Mizan, Himpaudi Kota/Kabupaten Serang, dan Radar Banten akan menyelenggarakan seminar nasional, “Menjadi Guru Kreatif,” pada Selasa (17, Maret, 2009) pukul 10.00-12.00 WIB  bertempat di aula PSBB MAN 2 Kota Serang Jalan Ciwaru, Cipocok Jaya, Kota Serang. Acara ini akan menampilkan pembicara Bapak Andi Yudha Asfandiyar, dari Bandung, Jawa Barat.

Di kalangan pendidik, nama Kak Andi Yudha-demikian sapaan akrab pembicara ini-sudah tidak asing lagi. Kak Andi Yudha dikenal sebagai penulis produktif. Buku-bukunya terkonsentrasi pada tema-tema pendidikan. Mulai dari pendidikan anak-anak hingga dewasa. Bisa dikatakan, Kak Andi Yudha merupakan sosok pendidik yang memiliki terobosan baru dalam dunia pendidikan. Dia juga ingin agar guru, kreatif. Pikiran-pikiran Kak Andi, layak kita cerna untuk didiskusikan bersama. Nah, di sinilah urgennya seminar nasional ini.

Bagi guru atau penikmat pendidikan di mana saja, dapat menghadiri seminar nasional ini. Biayanya cuma 50 ribu rupiah. Fasilitas yang didapatkan setiap peserta antara lain, buku, “Kenapa Guru Harus Kreatif?” karangan Andi Yudha Asfandiyar (penerbit Mizan, 2009), sertifikat, dan snack. Peminat dapat menghubungi kami di email, lut_syawla@yahoo.com.

Oh ya, pendaftaran ditutup pada Senin (16 Maret 2009). Ayo, kita menjadi guru kreatif dengan menghadiri seminar ini. Jadi, selamat mengikuti dan berbahagia.

Anda gemar mengayunkan stik golf di lapangan? Ada baiknya lebih berhati-hati. Hasil penelitian dokter di Inggris, olahraga kaum berduit ini bisa merusakkan fungsi indera pendengaran. Jadi, waspadalah!

Khususnya bagi pemakai stik titanium generasi baru berpermukaan tipis. Stik berjenis seperti itu bila dipukulkan pada bola golf menghasilkan bunyi yang lebih keras dibanding stik standar. Bila terus-menerus, sangat berbahaya bagi gendang telinga. Sebagai langkah antisipasi, dokter menyarankan para golfer menggunakan penyumbat telinga sebelum turun lapangan. ’’Penelitian kami menunjukkan pukulan dari stik titanium bepermukaan tipis menghasilkan bunyi lebih melengking yang menyebabkan kerusakan gendang telinga temporer bahkan permanen,’’ kata ketua tim peneliti, dr Malcom Buchanan, spesialis THT.

Riset pengaruh bunyi pukulan stik terhadap indera pendengaran itu bermula ketika dia menangani kasus yang menimpa pegolf berusia 55 tahun. Pria itu biasanya bermain menggunakan stik titanium King Cobra LD tiga kali seminggu selama 18 bulan terakhir. Kepada dokter, pria itu bercerita tentang bunyi memekakkan ketika stiknya memukul bola. ’’Seperti suara letusan senjata,’’ katanya.

Tim dokter lalu meneliti sejumlah pegolf profesional. Mereka diminta memukul bola golf dengan stik King Cobra, Callaway, Nike, dan Mizuno. Semua stik keluaran produk tersebut ternyata menghasilkan bunyi lebih keras dibandingkan stik-stik standar. Yang paling berbahaya adalah stik Ping G10, menghasilkan bunyi di atas 130 desibel. (*)

 sumber: radarbanten, rabu (7/1)

Secara umum wartawan dapat diartikan sebagai  pemberita atau orang yang memberi kabar berita kepada khalayak ramai. Berita yang dikabarkan tentu saja peristiwa yang layak diketahui publik lewat media massa cetak maupun elektronik

Dalam dunia Islam, sebetulnya dunia kewartawanan sudah tidak asing lagi. Sebab dalam Islam, spirit dunia kewartawanan sudah dikenal sebelum dunia barat mengenal seluk beluk dunia kewartawanan. Mau buktinya? Ini dia faktanya, bahwa dalam diri setiap rasul yang kita kenal itu ada spirit kewartawanan. Sebab tugas utama rasul sebagai penyampai kabar (baca: wahyu Allah) kepada manusia. Tugas ini yang menyerupai  tugas wartawan yang menyamapaikan berita kepada khalayak. Hanya saja teknis dan metodenya yang berbeda. Dengan demikian, ada benang merah antara tugas kerasulan dengan dunia wartawan.

Dalam sejarah dunia Islam klasik, juga ada sahabat yang bernama Zaid bin Tsabit. Zaid adalah seorang tokoh yang diangkat menjadi sekretaris Nabi Muhammad SAW. Saat itu, tugas utama Zaid adalah menulis wahyu di pelepah kurma, di bekas tulang-tulang hewan, bebatuan, dan berbagai benda tumpul yang dapat ditulis. Zaid diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk menulis wahyu (baca; Alquran) karena banyak penghafal Alquran yang gugur di medan pertempuran saat berjihad melawan kaum Quraisy. Dikhawatirkan bila wahyu tidak ditulis, Alquran akan lenyap dalam pandangan kasat mata kaum muslim. Meski Allah sudah secara tegas akan menjaga Alquran namun usaha menuliskan wahyu merupakan ijtihad yang luar biasa pada saat itu.

Kegiatan tulis menulis Zaid bin Tsabit adalah kegiatan jurnalistik karena terkait dengan dunia tulis-menulis. Dunia tulis-menulis tentu saja dekat dengan dunia kewartawanan. Kepandaian yang dimiliki Zaid seharusnya dapat dijadikan modal dasar bagi kita yang ingin menggeluti dunia wartawan.