sosial kemasyarakatan


Pengalaman pertama masuk sekolah merupakan kenangan yang tidak akan terlupakan dalam hidup saya. Kali pertama saya masuk sekolah ke MI Daarul Ma’arif, Kampung Gondrong Petir, Kelurahan Petir, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, ada beberapa kenangan manis yang sampai saat ini masih terekam baik di ingatan saya. Dan saya tidak mungkin melupakan pengalaman itu. Kenangan pertama, saya kenal baik dengan semua guru yang saya anggap menginspirasi perjalanan hidup saya berikutnya. Mereka antara lain Ahmad Chotib, Mukhtarom, Asnawi, Bu Kamal, H Samlawi, H Abdul Majid, H Saduni (kepala sekolah).

Hanya saja memang, ada kenangan yang mendalam terhadap pribadi Pak Ahmad Chotib dan Mukhtarom. Dua guru ini yang paling berkesan karena keduanya sangat baik. Hampir mata pelajaran yang dipegang oleh dua guru ini, nilai saya selalu memuaskan. Itu karena mungkin, saya menyenangi mata pelajaran yang mereka ajarkan. Atau memang karena saya senang dengan gaya belajar mereka. Entahlah. Yang jelas, saat saya belajar dengan keduanya, enjoy saja. Yang juga tak bisa saya lupakan kenangan dengan Pak Muhktarom adalah, beliau sangat pandai membuat gambar-gambar (karikatur). Setiap kali, beliau membuat karikatur itu, saya sangat menikmati coretan pulpennya di atas kertas.

Guru lain yang layak saya sebutkan karena keteladanannya adalah H Samlawi. Meski sudah tua saat itu, guru yang satu ini tetap bersemangat untuk mengajar kelas kami. Dan kenangan yang paling saya ingat bersama Samlawi adalah ciri khasnya yaitu mendongeng di kelas. Kalau guru yang satu ini kedapatan giliran masuk kelas siang hari dan siswa sudah mengantuk, maka Samlawi menggantikan pelajarannya dengan mendongeng. Dia akan mendongeng dengan lugas sambil duduk di atas kursi. Saat mendongeng, meski mimik wajahnya terlihat kelelahan, namun suaranya tetap terdengar. Kami sekelas pun sangat menikmati aluran cerita yang disampaikan guru yang selalu berpeci hitam ini.

Dongeng yang diceritakan adalah dongeng seputar sejarah nabi, rasul, serta sahabat. Kami sebagai siswanya selalu senang mendengarkan dongeng sang guru ini. Kami sekelas tdak pernah bosan untuk mendengarkan dongengnya. Setiap kali, setiap masuk, kami memang memimpikan diajarkan oleh beliau. Tentu saja untuk mendengarkan dongeng. Dan setahu saya, dari sekian guru di MI Daarul Ma’arif, hanya Samlawi satu-satunya guru yang bisa mendongeng. Tidak aneh bila kala itu, beliau dikenal sebagai guru pendongeng yang amat masyhur.

Kenangan lain yang saat ini saya ingat adalah beliau setiap kali mengajar selalu menggunakan sepeda besar (ontel). Sepeda itu dikayuhnya dari tempat tinggalnya di Kampung Gondrong Udik ke Petir-kira-kira 5 kiloan lebih. Setibanya di sekolah, ontel itu disandarkan di bawah pohon yang berada di halaman sekolah. Kami yang berada di kelas, selalu memerhatikan kehadiran H Samlawi dengan senang. Hati saya pun selalu bergetar, betapa ikhlas dan sederhananya guru satu ini.

Oha ya, tak lupa setelah mendongeng, di antara kami ada satu siswa yang berkeliling untuk memungut uang seikhlasnya kepada kami. Kami pun dengan senang hati memberikan uang tersebut. Ada yang Rp 50 perak, Rp 100 perak, dan Rp 500 perak. Saat itu, jumlah itu sudah cukup besar. Uang itu pun kami berikan kepada guru pendongeng ini. Tenti kami sangat ikhlas, senang, dan tidak terbebani. Bahkan-kalaupun ada uang lebih-kami selalu sempatkan untuk membantu guru yang satu ini.

Selain H Samlawi, masih ada lagi guru yang juga layak disebut karena kepahlawannya mengajar yakni H Abdul Majid. Hanya saja, saya tidak terlalu diajar oleh Abdul Majid sehingga tidak ada kenangan yang membekas. Hanya kenangan yang saya kenang terhadap pribadi H Abdul Majid ini, adalah pribadinya yang sangat sederhana dan penyabar. Setiap mengajar, bapak ini senantiasa sangat telaten dan sabar walaupun kami sekelas sangat gaduh. Hingga kini (2009) yang saya dengar, bapak ini masih tetap mengajar meski usianya sudah tidak muda lagi, sekitar 70 tahun lebih.

Serang, 6/3/2009

Tidak susah untuk mencari duit di Serang, Provinsi Banten. Anda cukup bermodalkan pluit dan modal nekat, maka Anda sudah dapat meraih rupiah dengan gampangnya. Tidak perlu ijazah, tidak perlu tampang keren, dan tidak perlu rapi apalagi dandan necis.

Modalnya ya cuma itu saja, pluit dan nekat. Anda tentu sudah mengira-ngira, pekerjaan apa dengan modal yang sangat minim ini. Ya, benar pekerjaan ini adalah tukang parkir. Gara-gara modal sederhana itu, akhirnya tukang parkir liar menjamur di antero Serang. Hamper di setiap sudut kota Serang, ada tukang parkir yang jumlahnya antara 1-2 orang. Karena itu kalau Anda ke Serang jangan kaget bila menemukan banyak tukang parkir.

Anda juga tidak usah kaget, bila Anda menyimpan motor untuk membeli makan atau rokok di warung meski hanya sekitar lima menitan, motor Anda akan ditempel kertas oleh si tukang parkir. Ujung-ujungnya Anda harus mengeluarkan uang Rp 1.000 kepada si pemilik kertas ini, yaitu si tukang parkir. Biasanya si tukang parker kalau tidak menempelkan kertas di atas motor Anda,si tukang parker menggunakan karton besar ntuk menutupi motor Anda.

Bila tidak memberi  uang sebagai balasan layanan jasa mereka, Anda tentu akan kena semprot. Kalau kebetulan Anda, orang yang emosional dan pemarah, sudah dapat dibayangkan apa yang akan terjadi. Tentu keributan. Kalau sudah begitu, jangan harap Anda akan dibantu. Malah sebaliknya, Anda akan dikeroyok karena biasanya mereka bergerombol. Nah, daripada pulang babak belur, lebih baik member meski dengan nada gundah. Inilah potret Serang. Potret wajah kita sendiri.

Sebagai orang yang sudah menetap di Serang hampir 8 tahun (saya asli Cipondoh, Kota Tangerang,karena keperluan tugas saya dipindah ke Serang), saya hampir setiap hari harus mengeluarkan uang untuk si tukang parkir. Kalau dihitung-hitung se hari, bisa mencapai Rp 10.000!  Saat saya membeli lauk pauk di rumah apa pun, saat saya membeli martabak di pinggir jalan, saat saya berbelanja di warung, saat saya belanja di ritel, saat saya makan bubur di pinggir jalan, saya harus mengeluarkan uang untuk jasa parkir. Padahal saya memarkir motor persis berada di depan atau di samping saya makan. Tapi tetap saja, si tukang parkir-rata-rata sih masih muda- mengenakan biaya parkir. Saya mau kesal, tidak bisa karena takut bentrok.  Kita ini dipaksa untuk menerima realitas yang kita sendiri tidak tahu sejak kapan realitas ini berlangsung.  Sebelumnya, fenomena ini tidak pernah saya dapati di Kota Tangerang.

 

Saya-juga kalau Anda mengalami sendiri-tentu sangat kesal  dengan fenomena banjirnya tukang parkir l ini. Ada kesan mereka ingin mencari uang tanpa harus capek-capek bekerja seharian penuh. Padahal kita mencari uang harus banting tulang sampai malam. Sampai-sampai sakit demam! Sementara si tukang parker, cukup dengan pluit, sudah mendapatkan uang dalam jumlah lumayan per hari.

Saya sempat mengobrol dengan beberapa tukang parkir yang sudah bekerja puluhan tahun. Dalam setengah sehari saja, mereka bisa mengantongi uang sampai Rp 30.000-60.000. Itu baru setengah hari saja, jadi sudah dapat dibayangkan berapa uang yang mereka kumpulkan selama sebulan. Bahkan mereka juga bisa menghidupi keluarga dari profesi tukang parkir ini.

———

KEGAGALAN PEMERINTAH

Kita boleh saja kesal dengan si tukang parker. Kita boleh saja mencaci mereka. Tapi itu percuma saja. Sebab mereka menjadi tukang parkir karena alasan klise. Tidak ada pekerjaan lain. Mereka juga sering berdalih, “daripada merampok lebih baik jadi tukang parkir. Biar kecil tapi halal.” Begitu dalil yang mereka pegang untuk membenarkan profesi mereka.

Di balik fenomena membanjirnya tukang parkir ini, sebenarnya Tuhan ingin memperlihatkan bahwa pemerintahan kita gagal membangun kesejahteraan rakyatnya. Mungkin pemerintah baru berhasil membuat orang kaya segelintir orang saja. Orang-orang itu adalah orang-orang yang punya link dengan kekuasaan.

Pemerintah gagal  menciptakan lapangan pekerjaan baru yang permanen bagi rakyatnya. Pemerintah benar-benar belum tuntas mengentaskan garis kemiskinan di antero daerah Kegagalan ini juga menunjukkan bahwa pemerintah belum cukup menjadi khalifah fil ardh sebagaimana amanat Allah yang maha perkasa.

Lalu bagaimana agar menjadi khalifah fil ardh? Tidak terlalu sulit. Untuk menjadi khalifah fil ardh, para pemimpin bangsa ini tidak perlu belajar jauh-jauh. Cukup mereka mempelajari atau meneladani Rasulullah SAW, khalifah yang empat (khulafaurrasyidin), para sahabat, dan para tabiin-tabiit. Dari mereka, pemimpin bangsa ini dapat belajar bagaimana menjadi pemimpin yang baik, belajar pemimpin yang peduli kepada rakyat, belajar menjadi pemimpin yang amanah, dan belajar menjadi pemimpin yang ikhlas hatinya untuk kepentingan rakyat dan bangsanya. Hanya pertanyaannya, maukah pemimpin bangsa ini belajar dari mereka?

 

Serang, 1/3/2009

1-perdagangan-wanita-8-okeeeeeeeeeLagi-lagi Banten punya cerita hot! Setelah di Cilegon ada penari striptis di sebuah tempat hiburan malam yang melibatkan anak baru gede (ABG), kini giliran Kota Serang yang digegerkan dengan jaringan prostitusi yang melibatkan para pelajar putri. Jaringan ini membidik berbagai kalangan sebagai pelanggan tetap. Pelanggannya tidak hanya masyarakat umum tapi juga kalangan lain yang memiliki banyak duit.

Tarifnya memang lumayan agak mahal. Sekali kencan, pelanggan harus merogoh kocek sebesar Rp 500 ribu-1 juta selama kencan setengah jam. Jaringan ini dikoordinatori oleh seorang mami, yang bernama Mami Yeti Nurhayati, yang masih belia karena masih berumur 21 tahun. Weleh-weleh, kecil-kecil ternyata sudah jadi germo!

Beruntung jaringan seks ini akhirnya tebongkar pada Selasa (23/2) lalu. Polres Serang, Banten, berhasil mengamankan sang germo yang masih belia dan tiga pelajar yang menjadi pekerja seks komersial (PSK) yang melayani para pelanggan. Para pelajar ini ada yang masih duduk di bangku SLTP ada juga yang duduk di bangku SLTA.

Menurut penuturan sang mami di hadapan penyidik polres Serang, para pelanggan dapat memesan ABG hanya lewat handphone. Bila disepakati, sang mami akan mengantarkan beberapa ABG untuk dipilih sang pelanggan. Tapi sebelum itu, pelanggan harus membayar booking dulu sebagai tanda jadi berkencan. Kata mami, sudah melakoni bisnis esek-esek ini selama dua bulan lebih. Dia terpaksa menjalani bisnis basah ini untuk menghidupi keluarga.

Lalu bagaimana dengan sang pelajar yang menjadi jaringan sang mami? Kata mami, biasanya mereka menggunakan uang hasil kencannya itu untuk bersenang-senang. “Ya dipake jajan dan belanja,” ujar mami di hadapan penyidik polres Serang.

 

 

 

PELANGGAN ANGGOTA DEWAN

Tiga pelajar yang menjadi PSK yang masuk jaringan Mami Yeti adalah HS (18), IS (17), dan EN (14). Ketiganya juga memiliki pacar. Tapi keluarga maupun pacar tidak mengetahui profesi sampingan ketiganya.

Menurut keterangan Satuan Reserse Polres Serang, penjual ABG-ABG itu, Yeti Nurhayati (21) tinggal di Krramatwatu, Kabupaten Serang. Dia baru menjalankan perannya sebagai “Mami” ABG-ABG ini sejak dua bulan lalu.

Yeti meneruskan bisnis suaminya, Cecep alias Iwan, asal kawasan Benggala Masjid, Kelurahan Cipare, Kota Serang, yang telah berlangsung tahunan. Cecep alias Iwan telah ditangkap Polda Metro Jaya. Dia menjadi tersangka kasus perdagangan manusia untuk dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial (PSK) di kawasan Kalijodo, Jakarta Utara. 

Diperkirakan, Papi Iwan memiliki anak asuh berjumlah puluhan. Usianya, mulai dari anak-anak yang masih duduk di bangku SMP sampai anak kuliahan di wilayah Serang.

Diperkuat penuturan anggota Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Serang yang melakukan penyamaran ketika kasus ini terungkap pada Selasa (24/2). “Waktu saya transaksi dengan Mami lewat SMS (sort massage service), dia mengaku bisa menyediakan anak-anak ABG sampai kuliahan. Tapi saya minta yang usia SMP dan SMA,” katanya yang enggan namanya dikorankan.

Mengingat Mami Yeti memiliki anak usia 1,5 tahun dan 5 bulan, dia menjalankan kembali bisnis suaminya untuk mencukupi kebutuhan hidup. Mami Yeti tidak sulit memperdagangkan ABG untuk dijadikan PSK lantaran mereka saling kenal ketika Papi Iwan belum dipenjara.

Aturan yang diterapkan Mami Yeti tak beda jauh dengan Papi Iwan. Bagi anak-anak asuhnya yang masih duduk di bangku SMP dan SMA, “jam kerja” diberlakukan mulai pukul 15.00 hingga pukul 21.00. “Ya, biar orangtuanya tidak tahu,” kata Mami Yeti di ruang PPA Satreskrim Polres Serang.

Semenjak ditahan di sel Mapolres Serang, pada Jumat (27/2), Mami Yeti masih diperkenankan menyusui anaknya. Ini memang atas izin Kasat Reskrim Polres Serang Ajun Komisaris Polisi Sofwan Hermanto. Dia memberikan waktu untuk menyusui anaknya mulai pukul 11.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB.

Jam kerja bagi anak-anak SMP dan SMA yang diasuh Mami Yeti itu berlaku pula bagi pelanggannya. Pria hidung belang yang tidak hanya dari masyarakat biasa tidak bisa membooking mereka sebelum kewajibannya sebagai siswi-siswi SMP dan SMA selesai dilakukan.

Jam kerja sejak pukul 15.00 hingga pukul 21.00 itu juga untuk mengelabui pacar-pacar mereka yang tidak mengetahui jika ABG-ABG itu telah diperdagangkan oleh Mami Yeti untuk melayani pria hidung belang.

Hal itu berdasarkan pengakuan EN (14) yang masih tercatat sebagai siswi sebuah SMP swasta di Kota Serang, IS (17) yang masih menjadi siswi sebuah SMA swasta di Kota Serang, dan HS (18), juga siswi SMA swasta di Serang, kepada penyidik.

“Ketika diperiksa, mereka bekerja mulai jam tiga sore setelah pulang sekolah, sampai jam sembian malam agar tidak dicurigai orangtuanya. Mereka juga punya pacar, tapi (pacarnya- red) tidak tahu kalau mereka menjadi PSK,” kata Inspektur Polisi Dua Herlia Hartarani, Kanit PPA Satreskrim Polres Serang. Dikatakannya, EN, IS, dan HS telah dipulangkan ke rumah orangtua mereka masing-masing.

Dari ketiga korban ini, EN merupakan anak asuh Mami Yeti yang paling gress. Di tangan Mami Yeti, EN baru melayani 3 pelanggannya.

Seperti HS yang sedikit lebih lama menjadi PSK ABG, EN nekat terjun ke dunia prostitusi karena didorong faktor ekonomi keluarganya. Anak seusianya yang ingin memakai pakaian, sepatu, dan handphone bagus dan mahal tidak menolak ketika diajak IS dan HS untuk menjadi PSK. Terlebih, keperawanan EN telah direnggut pacarnya.

“Jadi, perekrutannya tidak langsung dilakukan Mami Yeti. EN diajak IS. Kata IS, daripada melayani pacar dan tidak dapat duit, tidak ada salahnya melayani orang lain tapi dapat duit,” terang Herlia.

Menurut Herlia, di antara 3 anak buah Mami Yeti itu, IS yang paling banyak jam terbangnya. Merasakan enaknya uang, membuat siswi kelas 2 SMA ini beberapa minggu tidak masuk sekolah.

Dengan pelayanannya yang lebih dibanding HS dan EN, IS kerap mendapatkan tarif tambahan dari pelanggannya yang tak jarang dari kalangan anggota dewan.

“Dia pernah diajak ke Jakarta oleh anggota dewan, kami tidak tahu dari dewan mana. IS bisa dapat tarif tambahan di luar tarif yang ditentukan Mami Yeti sebesar Rp 500 ribu kalau pelanggannya puas,” ujar Herlia.

Dari penuturan IS, pilihan hidupnya itu didasari oleh kondisi keluarganya. IS merupakan anak pertama dari 3 bersaudara dari sebuah keluarga broken home.

Bapak-ibunya telah bercerai. IS dan kedua adiknya ikut orangtua laki-laki yang pengangguran, sementara ibu kandungnya telah dinikahi oleh seorang pria yang juga pengangguran. Karenanya, IS menjadi tulang punggung bapak dan kedua adik kandungnya. Untuk melancarkan profesi gandanya, IS hidup seorang diri dengan menyewa sebuah kamar kos di Lingkungan Rau, Kota Serang.

 

(tulisan ini dilengkapi dari Radar Banten edisi cetak, 28 Februari 2009)

Foto-foto: Yan Cikal/Radar Banten

 

 

 

          

 

 

1-bus-dibakar-masa-17Senin (23/2), dua tragedi maut terjadi dua daerah berbeda. Yang pertama di Kota Serang, Bantan, dan yang kedua Kediri, Jawa Timur. Tragedi di Banten terjadi pukul 14.15 WIB yang menewaskan satu pelajar SMPN 1 Curug dan mencederai satu siswa lagi. Korban meninggal adalah Suci Fadilah (14) dan korban luka adalah Siti Hindun (15). Korban tewas saat berboncengan (menggunakan Honda Vario) dengan Siti Hindun mau memfotocopi tugas dari sekolah mereka di depan Gedung DPRD BAnten di Jalan Syeikh Nawawi, Curug, Kota Serang. Saat di tengah perjalanan itu, tiba-tiba bus Asli Prima dari belakang menabrak kendaraan yang ditumpangi korban hingga terseret puluhan meter dari jalan raya. Korban tewas di lokasi kejadian sementara Siti Hindun saat dibawa ke rumah sakit umum daerah Serang dalam keadaan kritis. Massa yang kesal, membakar bus Arimbi. Beruntung para penumpangnya sudah keluar duluan sebelum terpanggang di bara api. Sementara tragedi kedua terjadi di Kediri, Jawa Timur. Kereta api menabrak kendaraan sarat penumpang dan menewaskan tujuh korban tewas, yang kesemuanya adalah penumpang bus. Sungguh tragis memang maut di Senin siang itu. Tapi itulah kejadiannya yang seharusnya membuat kesadaran baru kita tentang keselamatan berkendaraan di jalanan. — Maut, rezeki, jodoh, memang rahasia Allah SWT, yang maha perkasa. Sebagai manusia kita hanya menjalani hidup di muka bumi dengan pasrah (Islam). Namun demikian, pasrah bukan berarti kita tidak bisa berikhtiar. Pasrah dalam pandangan Islam adalah kepasrahan yang tetap rasional dan butuh kerja keras serta perjuangan. Dalam konteks itulah sebenarnya, sekalipun maut dapat kita hindari meski tetap kuasanya ada di tangan Allah. Salah satu ikhtiar untuk menghindari maut, misalnya, saat berkendaraan di jalanan kita harus menaati rambu lalu lintas dan mengenakan helm keselamatan (bagi pengendara motor). Menjaga keselamatan diri dan keluarga juga salah satu spirit Islam. Kita tidak boleh memasrahkan diri dengan tidak melakukan apa-apa. Sekali lagi, jaga keselamatan diri dengan berbagai upaya yang memungkinkan kita terhindar dari kejadian maut yang berakibat fata. Korban tewas Suci Fadilah (14) dan korban luka Siti Hindun, kecelakaan maut di Serang, saat mengendarai motor memang tidak menggunakan helm dan jaket tebal. Padahal, bila keduanya memakai helm, jaket pengaman, mungkin ceritanya akan berbeda dengan saat kejadian itu. Begitu juga sebaliknya. Bila sopir bus Asli Prima, Ujang MT, tidak membawa kendaraannya ugal-ugalan, mungkin cerita juga akan berbalik. Menurut keterangan warga sekitar lokasi, laju kendaraan yang dikendarai oleh sopir bus memang dalam keadaan ngebut. Padahal kalau sang sopir bus dapat menahan emosi dan tidak ngebut, sekali lagi cerita akan berbeda. Tidak kalah berbeda juga bila sopir angkutan umum dan masinis kereta api dapat menaati rambu lalu lintas masing-masing, kecelakan maut di Kediri saya yakin juga dapat dihindari. Upaya-upaya ihtiar itu yang tidak ada dalam dua peristiwa mengenaskan tersebut. Nah, itulah yang saya maksud bahwa maut sebenarnya dapat dihindari semaksimal mungkin dengan upaya keras. Namun demikian, tetap apa pun keputusannya tetap ada pada keputusan Allah SWT. Kita hanya berusaha, dan Allah jua yang menentukan. Itulah yang saya pahami sebagai ihtiar hidup yang selaras dengan kehendak Sang Pencipta. Tidak ada yang dapat dihindari bila Sang Pencipta sudah berkehendak. Serang, 24/2/2009. Pukul 10.00 WIB

Lagi, Banten digegerkan oleh video mesum. Kali ini, video tarian wanita tanpa busana (striptis) beredar di Kota Cilegon. Penarinya dua wanita di bawah umur yang diduga bekerja di sebuah tempat hiburan malam di kota baja tersebut.

Video berdurasi 1 menit 8 detik itu sejak Kamis (19/2/2009) ternyata sudah dimiliki warga melalui handphone. Berdasarkan gambar itu, dua wanita belia menari tanpa sehelai benang pun. Mereka melenggak-lenggok di atas meja sebuah ruang karaoke diiringi dentuman house musik. Aksi itu tampak disaksikan dan diabadikan menggunakan handphone oleh dua lelaki tak dikenal.

Diduga striptis dilakukan di sebuah ruangan karaoke tempat hiburan malam pada pertengahan Januari 2009 lalu. Penarinya adalah dua bar girl yaitu berinisial Ant (16), warga Kota Cilegon, dan My (15), warga Kabupaten Pandeglang.

Kapolres Cilegon Ajun Komisaris Besar Polisi Dwi Gunawan saat dikonfirmasi pada Kamis (19/2) membenarkan hal itu. Dia bahkan mengatakan, pihaknya telah menangkap dua penari striptis bersama mami bar girl yang menyuruh keduanya menari, Siti Khodijah.

Dikatakannya, karena masih di bawah umur, kedua penari striptis itu kini sudah dilimpahkan ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Banten. “Kalau maminya ditahan di sini (Mapolres Cilegon- red),” ungkap Dwi sebagaimana dikutip Radar Banten, Kamis (19/2).

Menurut Dwi, motif kedua pelaku ini karena faktor ekonomi. Di mana, keduanya dibayar sebesar Rp 500 ribu oleh dua orang warga Jakarta yang kini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). “Dua lelaki warga Jakarta bayar kepada Ant dan My Rp 500 ribu untuk menari. Tontonan adegan itu dilakukan atas rujukan Siti Khodijah sang mami bar girl New LM,” tegasnya.

Hingga kini, lanjutnya, pihaknya masih melakukan penyelidikan terhadap para pelaku. Bahkan, dua berkas kasus tersebut sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Cilegon.

Menyoal kasus tersebut, Dwi menduga jika kasus video striptis itu di luar sepengetahuan manajemen New LM karena disinyalir ada orang yang sengaja ingin membuat video ini, namun menggunakan tempat hiburan lain.

 

sumber: Radar Banten

 

Tidak ada yang mudah dalam hidup ini. Semuanya harus jamsostekdiperjuangkan dengan penuh kesabaran, termasuk untuk mendapatkan sekadar rupiah. Banyak pengalaman menegaskan kesabaran itu.

Saya baru saja mengurus klaim Jamsostek di cabang Serang karena istri melahirkan lewat cesar. Untuk mengurus klaim itu, saya ‘dipaksa’ harus bolak-balik ke rumah sakit untuk mengurus persyaratan administrasi. Ceritanya, di hari pertama mengurus klaim, saya mendatangi kantor Jamsostek yang diterima oleh salah satu staf. Oleh staf ini, berkas klaim saya diverifikasi (diteliti) yang akhirnya dinyatakan kurang lengkap karena resume medis dari rumah sakit bersalin-tempat istri saya melahirkan-dianggap tidak jelas. “Bapak harus ke rumah sakit, minta resume medis yang jelas,” kata staf Jamsostek ini. Saya hanya mengangguk karena memang baru kali ini dalam hidup saya mengurus klaim Jamsostek.

Hari itu juga, saya langsung ke rumah sakit bersalin. Saya disuruh menemui dokter yang mengoperasi istri saya untuk meminta penjelasan  mengenai resume medis cesar. Sesampainya di rumah sakit, ternyata saya gagal menemui sang dokter perempuan ini. “Kebetulan dokter tidak ada hari ini. Adanya malam hari. Jadi saya urus resume medis, besok baru dapat diambil,” kata suster  yang menemui saya.

 Esok harinya, saya kembali ke rumah sakit untuk meminta resume medis seperti yang telah dijanjikan suster. Alhamdulillah, resume medis sudah selesai ditandatangai dokter kandungan yang menyesar istri saya. Dengan syukur dalam-dalam, hari itu juga saya bergegas ke kantor Jamsostek lagi untuk mengurus klaim dengan harapan resume medis terpenuhi sebagai persyaratan. Sesampainya di meja staf Jamsostek, lagi-lagi saya disuruh kembali lagi ke rumah sakit. “Waduh, masih kurang jelas nih resume medisnya. Harusnya dijelaskan, kenapa istri bapak dicesar? Apakah emergency atau bukan. Jadi tolong dilengkapi lagi ya,” ujar sang staf Jamsostek sambil  menyodorkan kembali map yang berisi berbagai lembar kertas yang sudah saya susun sebagai persyaratan klaim.

Lantaran agak lelah, saya menunda untuk ke rumah sakit. Saya agak malas untuk mengurus klaim Jamsostek karena memang persyaratannya sangat ketat. Lalu saya bilang ke istri, agar tidak usah mengurus Jamsostek. Istri saya malah bilang harus diusahain. Mendapat sedikit angin motivasi itu, saya kembali untuk mengurus klaim. Lagi-lagi saya harus ke rumah sakit untuk meminta penjelasan resume medis. “Sus, tolong dong resume medisnya yang jelas dan lengkap ya. Sebab resume medis ini ditolak oleh Jamsostek kalau tidak signifikan,” pinta saya saat berada di depan suster rumah sakit yang mengurus resume medis. Sang suster agak bengong atas permintaan saya itu. “Oh gitu, ya sudah nanti saya kasih tau dokternya,” kata suster.

Seperti biasa, sang suster pun bilang resume medisnya tidak dapat langsung selesai. Harus menunggu selama satu hari. Saya pun mengiyakan hal itu. Setelah menunggu satu hari, saya mengambil resume medis di rumah sakit bersalin ini. Setelah itu, langsung saya bawa ke kantor Jamsostek untuk memenuhi persyaratan yang sejak awal masih kurang. Sang staf Jamsostek yang menerima saya, kembali memeriksa resume medis. “Oh…” desisnya. “Ya, sudah sekarang saya buatkan tanda terimanya. Jamsostek hanya bisa bayar Rp 500.000,” jelasnya. Terus terang, saya agak shock mendengar jawaban itu. Sebab selama persalinan istri, saya harus merogoh kocek sendiri sebesar Rp 15.851.000! Saya langsung keluar setelah pamit sebelumnya kepada staf Jamsostek. Keluar dari ruangan Jamsostek, terasa badan yang sudah sangat lelah ini mau jatuh karena lunglai. Saya masih berpikir, apakah akan tetap mencairkan klaim Jamsostek atau tidak. Setelah berpikir seminggu lebih, saya datang lagi ke Jamsostek untuk mengurus kembali surat terima klaim dan pengantar pencairan di bank yang ditunjuk Jamsostek. Saya harus mengantre kurang lebih 1 jam untuk mendapatkan surat ini. Setelah itu saya bergegas ke bank. Di sini ternyata sudah ada 20 orang yang tengah mengantre untuk mencairkan klaim dari Jamsostek. Saya antre sejak pukul 13.35 WIB dan baru dipanggil untuk pencairan pukul 15.15 WIB. Alhamdulillah.

 

Serang, 11/2/2009, pukul 22.35 WIB

 

Militer Israel menuai buah dari sikap brutalnya di Jalur Gaza. Menghabisi nyawa hingga hampir seribu jiwa tanpa pandang bulu, menggunakan cara-cara anarkis dan cuek melanggar hukum perang internasional memancing kedongkolan PBB dan organisasi kemanusiaan dunia. Selasa (13/1), para pejabat senior PBB dan berbagai organisasi kemanusiaan dunia meminta didirikan lembaga independen untuk menyelidiki kasus kejahatan perang internasional yang telah diperbuat serdadu Israel selama invasi ke Gaza.

Salah satu yang paling menyayat hati dari sekian bentuk kebiadaban Israel adalah penembakan terhadap sekitar 110 warga sipil Palestina yang meringkuk dalam satu rumah di Zeitun, dekat Kota Gaza pada 4 Januari lalu. Setidaknya 40 jiwa tewas kala itu. Lainnya, secara brutal, serdadu Israel memberondongkan peluru ke sekolah PBB di Gaza. Sekitar 30 lebih tewas. Kebanyakan anak-anak dan perempuan. ’’Memang seharusnya ada investigasi terhadap setiap tindakan yang melanggar hukum internasional,’’ kata John Ging, kepala badan PBB untuk pengungsi Palestina di Gaza seperti dilansir Guardian.

Beberapa contoh pelanggaran militer Israel di Gaza yang berhasil dipungut sejumlah organisasi kemanusiaan antara lain; menggunakan senjata-senjata berbahaya yang mengancam keamanan warga sipil, menggunakan senjata terlarang seperti bom phosphorus, memasang keluarga Palestina sebagai tameng, menyerang fasilitas medis dan menewaskan setidaknya 12 pegawai ambulans dan membunuh sejumlah besar anggota polisi yang tak punya peran militer.

Amnesty Internasional (AI) mengatakan, memberondongkan senjata ke warga sipil dan dan meledakkan bom di pemukiman penduduk jelas adalah sebuah kejahatan perang paling besar. ’’Mereka secara ekstrim menggunakan peluru canggih yang menembak sasaran dengan tepat dan melemparkan bom ke rumah warga yang mereka tahu didalamnya ada anak-anak dan perempuan. Ini sangat sangat melanggar hukum internasional,’’ kata Donatella Rovera, penyidik AI di Israel.

Bagaimana pendapat kalian?

Laman Berikutnya »