Uncategorized


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang,
Piagam ini dari Muhammad saw, berlaku bagi golongan mukminin dan muslimin dari etnis Quraisy dan Yatsrib serta kelompok-kelompok yang turut bekerja sama dan berjuang bersama-sama mereka.
1. Bahwa mereka adalah bangsa (umat) yang satu dari umat manusia;
2. Golongan migran dari etnis Quraisy sesuai adat kebiasaan mereka, saling bahu-membahu membayar diat di kalangan mereka serta membayar tebusan tawanan secara baik dan adil di antara mukminin;
3. Bani ‘Auf sesuai adat kebiasaan mereka, saling bahu-membahu membayar diat di kalangan mereka serta membayar tebusan tawanan secara baik dan adil di antara mukminin;
4. Bani Sa’idah sesuai adat kebiasaan mereka, saling bahu-membahu membayar diat di kalangan mereka serta membayar tebusan tawanan secara baik dan adil di antara mukminin;
5. Banu Harits sesuai adat kebiasaan mereka, saling bahu-membahu membayar diat di kalangan mereka serta membayar tebusan tawanan secara baik dan adil di antara mukminin;
6. Banu Jusyam sesuai adat kebiasaan mereka, saling bahu-membahu membayar diat di kalangan mereka serta membayar tebusan tawanan secara baik dan adil di antara mukminin;
7. Banu Najjar sesuai adat kebiasaan mereka, saling bahu-membahu membayar diat di kalangan mereka serta membayar tebusan tawanan secara baik dan adil di antara mukminin;
8. Banu ‘Amr ibn ‘Auf sesuai adat kebiasaan mereka, saling bahu-membahu membayar diat di kalangan mereka serta membayar tebusan tawanan secara baik dan adil di antara mukminin;
9. Banu Nabit sesuai adat kebiasaan mereka, saling bahu-membahu membayar diat di kalangan mereka serta membayar tebusan tawanan secara baik dan adil di antara mukminin;
10. Banu ‘Aus sesuai adat kebiasaan mereka, saling bahu-membahu membayar diat di kalangan mereka serta membayar tebusan tawanan secara baik dan adil di antara mukminin;
11. Orang-orang beriman tidak boleh membiarkan seseorang di antara mereka yang tengah berat menanggung beban utang dan beban keluarga yang harus diberi nafkah, namun hendaknya mambantu secara baik penyelesaian tebusan atau diat;
12. Seorang beriman tidak boleh membuat persekutuan atau aliansi dengan keluarga mukmin lainnya, tanpa persetujuan yang lainnya;
13. Orang-orang yang beriman yang komitmen dengan keimanannya (taqwa) harus menentang orang di antara mereka yang mencari atau menuntut sesuatu secara dzalim, jahat, melakukan permusuhan atau kerusakan di kalangan orang-orang beriman. Kekuatan mereka bersama-sama dalam melawannya, sekalipun ia adalah keluarga di antara mereka;
14. Orang yang beriman tidak boleh membunuh orang beriman lainnya karena (alasan telah membunuh)orang kafir. Ia juga tidak boleh membantu orang kafir untuk (melawan) orang beriman;
15. Perlindungan atau jaminan Allah itu satu, yakni terhadap sesama tetangga dekat dan orang-orang yang lemah di antara mereka. karena orang-orang beriman adalah penolong atau pembela terhadap sesama;
16. Orang-orang Yahudi beserta pemeluknya berhak mendapat pertolongan dan santunan tanpa ada penganiayaan, sepanjang tidak berbuat zalim atau menentang komitmen;
17. Perdamaian orang-orang beriman adalah satu. Seorang di antara mereka tidak boleh membuat perdamaian tanpa ikut serta yang lainnya di dalam suatu pertempuran (jihad) fi sabilillah, kecuali atas dasar kesamaan dan keadilan di antara mereka;
18. Setiap pasukan yang berperang dalam barisan kita harus saling bekerja sama satu dengan yang lainnya;
19. Orang-orang beriman membalas pembunuh orang beriman lain dalam pertempuran fi sabilillah. Orang-orang beriman yang selalu komitmen dengan keimanan(taqwa)nya berada pada petunjuk yang terbaik dan lurus;
20. Bahwasanya orang musyrik Madinah, dilarang melindungi harta dan jiwa orang musyrik Quraisy serta tidak boleh bercampur tangan melawan orang-orang beriman;
21. Bahwasanya siapa yang membunuh orang beriman dengan cukup bukti atas perbuatannya, harus dihukum bunuh, kecuali wali si terbunuh rela –menerima diat–. Semua orang beriman harus bersatu dalam menghukumnya;
22. Bahwasanya, tidak diperkenankan bagi orang yang beriman yang mengakui Piagam (shahi‘fat) ini dan beriman kepada Allah dan hari akhir, menolong pelaku kejahatan dan tidak pula membelanya. Siapa yang memberi bantuan atau menyediakan tempat tinggal bagi para pelanggar itu, mendapat kutukan dan kemurkaan Allah di hari kiamat dan tidak ada suatu penyesalan dan tebusan yang dapat diterima dari padanya;
23. Apabila kamu sekalian berselisih tentang suatu perkara, penyelesaiannya dikembalikan kepada Allah swt dan Muhammad saw;
24. Yahudi bersama-sama dengan kaum muslimin memikul biaya selama mereka mengadakan pertempuran;
25. Yahudi Banu ‘Auf sebangsa dengan orang-orang beriman. Bagi Yahudi agama mereka, bagi muslimin demikian juga. Kebebasan semacam ini juga bagi para pengikut mereka, kecuali bagi yang dzalim dan jahat. Hal yang demikian yang akan merusak diri dan keluarganya;
26. Yahudi Bani Najjar diperlakukan sebagimana Bani ‘Auf;
27. Yahudi Bani Harits juga diperlakukan sebagimana Bani ‘Auf;
28. Yahudi Bani Sa’idah juga diperlakukan sebagimana Bani ‘Auf;
29. Yahudi Bani Jusyam juga diperlakukan sebagimana Bani ‘Auf;
30. Yahudi Bani ‘Aus juga diperlakukan sebagimana Bani ‘Auf;
31. Yahudi Bani Sa’labah juga diperlakukan sebagimana Bani ‘Auf, kecuali jika mereka dzalim dan khianat, maka hukumannya hanya berlaku bagi dirinya beserta keluarganya;
32. Etnis Jafnah dari Tsa’labah diperlakukan sama sebagimana Bani Tsa’labah;
33. Bani Syuthaibah diperlakukan sama dengan Bani ’Auf. Kebaikan itu tidak sama dengan kejahatan;
34. Para pengikut Tsa’labah diperlakukan sama seperti Tsa’labah;
35. Kerabat Yahudi di luar Madinah diperlakukan sama seperti mereka yang ada di Madinah;
36. Bahwasanya tidak dibenarkan seorangpun ke luar (untuk berperang), kecuali seizin Muhammad saw. Ia tidak boleh dihalangi (menuntut balas) atas luka (yang dibuat orang lain). Siapa yang berbuat jahat, balasan kejahatan itu menimpa diri dan kelaurganya, kecuali jika ia teraniaya. Sungguh Allah telah membenarkan (ketentuan) ini;
37. Orang Yahudi ada biaya, begitu pula kaum muslimin. Mereka saling bantu membantu dalam menghadapi musuh masyarakat di bawah Piagam (shahifat) ini. Mereka saling memberi saran/nasehat serta memenuhi janji lawan. Seseorang tidak menanggung hukuman atas kesalahan sekuktunya, sehingga pembelaan diberikan kepada pihat teraniaya;
38. Orang-orang Yahudi bersama-sama kaum muslimin memikul biaya selama pertempuran;
39. Kota Yatsrib (Madinah) merupakan tanah “haram” (suci yang dihormati) bagi warga di bawah panji piagam ini;
40. Orang-orang yang mendapat jaminan diperlakukan seperti diri penjamin, sepanjang tidak bertindak merugikan dan tidak berkhianat;
41. Jaminan hanya bisa diberikan atas se-izin ahlinya;
42. Jika terdapat perselisihan di antara komponen pengikut Piagam ini yang dikhawatirkan menimbulkan bahaya, penyelesaiannya dikembalikan kepada Allah swt. Allah Tuhan Yang Maha memelihara dan memendang baik isi Piagam ini;
43. Bahwasanya tidak ada jaminan (perlindungan) bagi Quraisy Makkah beserta pengikutnya;
44. Para pendukung Piagam ini saling bantu membantu dalam menghadapi penyerangan atas tanah Yatsrib (Madinah);
45. Jika para pendukung Piagam ini diajak damai, kemudian memenuhi perdamaian serta melaksanakannya, maka perdamaian itu harus dijunjung tinggi. Karena itu, jika orang-orang beriman diajak damai seperti itu, wajib dipenuhi, kecuali terhadap oarang yang menyerang agama. Setiap orang wajib menunaikan tugas dan kewajiban masing-masing;
46. Yahudi Bani ‘Aus beserta pengikutnya memiliki hak dan kewajiban seperti komponen lain pendukukng Piagam ini. Kebaikan itu tidak sama dengan kejahatan. Setiap person bertanggung jawab atas tindakannya. Allah membenarkan dan memandang baik atas Piagam ini;
47. Piagam ini tidak diproyeksikan untuk membela orang yang dzalim dan khianat. Semua orang bisa bepergian (keluar rumah) secara aman serta berdomisili di kota Yatsrib (Madinah) secara damai pula. Hal ini, terkecuali bagi mereka yang dzlim dan khianat. Allah swt-lah pelindung orang yang berbuat kebajikan dan taqwa.

Muhammad Saw

Catatan: saya berterimakasih kepada Prof Dr Afif Muhammad (UIN Bandung) yang telah menerjemahkan teks piagam ini secara utuh dan mengizinkan untuk mengkopinya.

Iklan

Waktu aku duduk di bangku MI Daarul Ma’arif Kampung Gondrong Petir, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, aku diajar oleh sosok guru yang sangat bersahaja. Namanya H Syamlawi.

Meski sudah tua, guru yang satu ini tetap bersemangat untuk mengajar kelas kami (ada sekitar 30 siswa). Kenangan yang paling aku ingat bersama beliau adalah ciri khasnya yaitu mendongeng di kelas. Kalau beliau kedapatan giliran masuk kelas siang hari dan siswa sudah mengantuk, maka beliau menggantikan pelajarannya dengan mendongeng. Beliau akan mendongeng dengan lugas sambil duduk di atas kursi dengan bahasa betawi yang kental. Saat mendongeng, meski mimik wajahnya terlihat kelelahan, namun suaranya tetap terdengar. Kami sekelas pun menikmati aluran cerita yang disampaikan guru yang selalu berpeci hitam ini.

Dongeng yang diceritakan adalah seputar sejarah nabi, rasul, sahabat, tentang surga dan tentang neraka. Kami sebagai siswanya selalu senang mendengarkan dongeng sang guru ini. Kami sekelas tdak pernah bosan untuk mendengarkan dongengnya. Setiap kali, setiap masuk, kami memang memimpikan diajarkan oleh beliau. Tentu saja untuk mendengarkan dongeng. Dan setahuku, dari sekian guru di MI Daarul Ma’arif, hanya beliau satu-satunya guru yang pandai bercerita. Tidak aneh bila kala itu, beliau dikenal sebagai guru pendongeng yang amat masyhur di kampung kami.

Kenangan lain yang saat ini masih aku ingat adalah beliau setiap kali mengajar selalu menggunakan sepeda besar (ontel). Sepeda itu dikayuhnya dari tempat tinggalnya di Kampung Gondrong Udik ke Petir-kira-kira 10 kiloan lebih. Setibanya di sekolah, ontel itu disandarkan di bawah pohon yang berada di halaman sekolah. Kami yang berada di kelas, selalu memerhatikan kehadiran beliau dengan hati gembira. Hatiku pun selalu bergetar, betapa ikhlas dan sederhananya guru yang satu ini.

Setelah mendongeng, di antara kami ada satu siswa yang berkeliling untuk memungut uang seikhlasnya kepada kami. Kami pun dengan senang hati memberikan uang tersebut. Ada yang Rp 50 perak, Rp 100 perak, dan Rp 150 perak. Saat itu, jumlah itu sudah cukup besar. Setelah uang terkumpul lalu kami berikan kepada guru pendongeng ini untuk membeli rokok dan kopi. Tentu kami sangat ikhlas, senang, dan tidak terbebani. Bahkan-kalaupun ada uang lebih-kami selalu sempatkan untuk membantu beliau.

Selama mengajar, beliau tidak pernah mengeluh dan tidak pernah merasa capek. Hatinya selalu riang dan tersenyum saat menyapa kelas kami. Beliau adalah sosok guru yang sangat ikhlas karena sudah mengabdi lebih dari 20 tahun di sekolah kami dengan gaji yang enggak naik-naik.

Beliau tinggal di rumah yang sangat sederhana namun sangat adem dan sejuk. Rumahnya tidak terlalu besar dan berdinding triplek setengah batu. Di sekitar rumahnya, tumbuh pohon rambutan, pohon jamblang, dan poho mangga.

Kini, orang-orang sekampung kami kehilangan setelah beliau pergi untuk selamanya. Aku pun sangat menyesal karena saat beliau pergi untuk selamanya aku masih di rantau. Aku tidak kesampaian untuk menjenguk di kala beliau sakit dan bertakziah. Sesalku seumur hidup.

Selamat jalan guru pendongeng. Doaku terus mengalir bak samudra.

*mengenang almarhum H Syamlawi.

Gondrong petir, 2009

Badai Petir LagiPetir, menunjukkan kemahaperkasaan Sang Pencipta, yang tidak ada bandingannya.

Petir, menunjukkan bahwa kita makhluk yang tidak ada apa-apanya.

Sebab, kita memang diberi ilmu sangat sedikit, seperti setetes air di lautan.

Pantaskah kita menyombongkan diri gara-gara kita bersilatlidah bahwa  kita lebih dari mereka??

 

Serang, 13/2/2009

hpPembantu sekarang, sangat berbeda dengan pembantu  dulu. Pembantu sekarang sudah makin gaya dan tidak kalah dengan anak sang majikan. Pembantu sekarang juga sudah berani tampil beda. Mereka kerap kali mendandani penampilan  dengan modis, bahkan lebih modis daripada anak sang majikan.
Bila dulu mereka gagap menggunakan handphone, kini sudah tidak lagi. Mereka sudah tidak asing lagi dengan kecanggihan telepon genggam. Mereka sudah sangat mahir memencet nomor-nomor di handphone. Mereka juga sudah piawai bermain games di handphone mereka masing-masing. Mungkin bagi mereka, menjadi pembantu bukan berarti harus kuno dan gagap teknologi. Sebaliknya menjadi pembantu juga bisa berpenampilan sama dengan majikan atau anak majikan. Bahkan kalau bisa lebih modis dan lebih keren.
Kamis (5/2/2009), saya baru saja mendapatkan pembantu baru setelah pembantu lama saya tidak lagi bekerja. Pembantu baru saya ini, asli orang Serang yang berasal dari Kecamatan Taktakan. Dia tinggal di sebuah desa yang sangat jauh dari pusat kota. Desanya berada menjorok ke dalam. Perlu waktu lama untuk sampai ke desanya karena menempuh jalan-jalan sempit.
Kali pertama masuk, saya menyangka bahwa pembantu saya yang bernama Yati ini, sama dengan pembantu saya  sebelumnya yang berpenampilan biasa-biasa dan tidak memiliki handphone. Hingga pukul 10.00 WIB,  dugaan saya masih benar karena tidak ada tanda-tanda ‘aneh’ pada pembantu baru saya ini. Namun sekira pukul 14.00 WIB, saya dibuat lumayan terkejut. Tiba-tiba ada handphone berdering dengan nada dering sebuah lagu pop. Suaranya sangat merdu karena menggunakan polyponic.
Setelah saya cari-cari, ternyata deringnya bukan  berasal dari handphone  istri saya.  Aha,  ternyata suara dering itu berasal dari saku celana pembantu saya. Dia pun langsung mengambil  handphone di balik saku celananya tidak jauh istri saya duduk. Selanjutnya bisa ditebak. Pembantu saya ini pun langsung mengobrol  dengan ‘lawan mainnya’ di balik telepon genggamnya. Tampak sekali, pembantu saya ini tidak lagi canggung-canggung menggunakan handphone. Bahkan dia  sangat asik dan menikmati pembicaraan di handphone. Selain itu, sambil menelepon sang pembantu saya ini juga terus melanjutkan menyapu lantai ruang tamu. Jadinya, dia menyapu sambil bertelepon ria. Dia juga tidak memerhatikan pekerjaannya karena terlihat konsen sekali menelepon. Entah siapa yang menelepon. Tapi perkiraan saya, pastinya pacarnya. Sebab dari nada bicaranya, pelan dan sangat ramah, seolah-olah tidak mau menyakiti.  Saya hanya geleng-geleng kepala saja. “Luar biasa,” ujar bathin saya.
————-

Selepas magrib, istri saya mendekati saya. “Yah, si Yati itu handphone- nya bagus lo. Seperti punya Adul (adik istri-red),” ujar istri saya. Saya hanya tersenyum saja. “Masa sih mah”.  Dalam hati, ternyata bukan saya saja yang memerhatikan perilaku pembantu saya ini. Istri saya juga diam-diam tampaknya memerhatikan juga tingkah pembantu barunya ini.
Handphone yang dimiliki Adul bermerek Nokia dengan harga di atas Rp 1 jutaan lebih. Berarti, handphone yang  digenggam pembantu saya juga seharga Rp 1 jutaan lebih. Tentu harga ini,  jauh lebih mahal dari hanphone yang dimiliki  istri saya. Sebab istri saya hanya memegang handphone Esia dengan harga Rp 500.000. Istri saya kemudian melanjutkan, “Hebat ya sekarang. Pembantu sudah punya hape.” Lagi-lagi saya mengangguk. “Yah, begitulah,” ujar saya.
Saya memang belum ngomong langsung dengan para pembantu ini, mengenai kegemaran mereka mengoleksi handphone. Apakah karena ingin mengikuti tren agar tampil lebih modis atau karena handphone sudah bukan barang mewah  lagi. Artinya, siapa pun dapat memiliki barang ini yang sebelumnya dianggap sangat luks (mewah) sehingga orang berpikir ulang untuk memilikinya karena harganya selangit.

—-

Pembantu yang punya handphone ternyata tidak hanya berlaku pada pembantu saya saja. Pembantu-pembantu  tetangga saya dan warga di komplek saya tinggal pun (di Jalan Lingkar Selatan, Ciracas, Kota Serang) ternyata semuanya sudah memiliki handphone dengan berbagai merek. Ada Nokia, Sony Ericsson, Samsung, LG, dan sebagainya. Hal itu saya buktikan dengan mata saya sendiri. Sebab kalau saya sedang jalan sore-sore bersama dengan anak pertama saya, Syawla, saya menemukan ‘gerombolan’ pembantu sedang memamerkan handphone mereka. Satu sama lain, saling menunjukkan barang bawaan mereka. Meski tiap hari, namun mereka tidak bosan-bosan untuk saling ‘unjuk  gigi.’ Mereka memamerkan kepunyaanmya itu  pada saat mereka sedang berkumpul sambil mengajak main anak majikan yang masih kecil.  Kalau sudah berkumpul, biasanya mereka lupa dengan tugas mereka yang tengah menjaga anak. Nyatanya, saat si pembantu sedang asik bermain handphone, si anak majikan malah sudah kemana tahu perginya. Kalau sudah begini, biasanya si pembantu yang nantinya kelabakan mencari anak asuhnya ini.
Oh ya,  kalau sudah menelepon, mereka sampai menghabiskan waktu berjam-jam lo. Maklum saja, saat ini sudah ada tarif menelepon murah hingga berjam-jam. Paket hemat ini yang benar-benar dimanfatkan para pembantu rumah tangga.
Mengenai hal ini, tetangga saya sempat gusar karena menemukan pembantunya menelepon hingga berjam-jam lamanya dan mengabaikan tugas. Tetangga saya ini, tampaknya merasa tidak enak dengan warga lainnya karena pembantunya menelepon dengan suara keras hingga waktu lama. Si tetangga saya ini hanya bersungut-sungut saja. Mungkin itu yang bisa dilakukan tuan rumah, saat menyaksikan sang pembantu menikmati telepon genggam. Kalau dimarahi, biasanya si pembantu akan ngambek. Ujung-ujungnya  tidak akan masuk kerja dan akhirnya berhenti. Daripada berhenti, ya sudah lebih baik dibiarkan saja. Sebab sangat sulit untuk mencari pembantu yang benar-benar bisa cocok.
Sekarang kita balik. Bagaimana bila kita yang menjadi pembantu? Apakah kita akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan pembantu-pembantu sekarang?

Tamat sudah ’’karir’’ Samira Ahmed Jassim alias Umm al-Mumineen. Dia tak bisa lagi merekrut kaumnya untuk menjadi sukarelawan bom bunuh diri. Jassim baru-baru ini ditangkap oleh polisi Iraq. Dia mengaku telah  merekrut setidaknya 80 sukarelawan perempuan untuk menjadi eksekutor bom bunuh diri.
Dalam video yang dirilis kepolisian Iraq di Baghdad kemarin (4/2), Jassim membeber strateginya membujuk para mujahid perempuan agar mau menjadi bomber. Dia mengincar yang gampang dirayu. ’’Terutama mereka-mereka yang patah hati, depresi atau diperkosa,’’ ungkap ibu 4 putri dan 2 putra itu seperti dilansir Associated Press.
Soal usia dan latar belakang yang direkrut, sangatlah bervariatif. Satu ketika, Jassim pernah merayu seorang nenek. Setelah berkali-kali berbincang, akhirnya nenek itu bersedia meledakkan dirinya di sebuah terminal bus.
Pernah juga dia mendapatkan ’’mangsa’’ seorang guru yang sedang mendapat tekanan mental karena hubungan dengan suaminya sedang tidak harmonis.
Mereka yang bersedia jadi bomber itu lalu diajak ke sebuah kebun buah-buahan untuk dilatih oleh para militan. Setelah dinyatakan mantap mereka dibawa kembali dan ditunjukkan pada sasaran-sasaran yang hendak diserang. Selain sukses merekrut 80 sukarelawan, beber juru bicara militer Iraq May. Jend. Qassim al-Moussawi, Jassim juga menjadi dalang serangan bom di 28 wilayah berbeda. Namun tak dipaparkan secara rinci waktu dan tempat kejadian serangan tersebut.
Menurut data militer Amerika Serikat di Baghdad, setidaknya terjadi 32 serangan bom bunuh diri oleh pelaku perempuan pada 2008. Itu naik berlipat-lipat dibandingkan 2007 yang hanya 8 insiden.  (jpnn)

BOKS MESIRKAPAL pesiar MS Aquarium yang kami tumpangi berjalan perlahan menyusuri Sungai Nil yang membelah Kota Kairo. Berangkat sekitar pukul 19.30, dari dek kapal bangunan-bangunan bertingkat modern di tepi sungai itu terlihat indah. Beraneka lampunya memantulkan bayangan di sungai terpanjang di dunia itu (6.650 kilometer).
Suasana di kabin kapal tak kalah meriah. Malam itu, lebih dari setengah jam Fauzi, sang penari di kapal, harus memutar tubuhnya. Rok lebar berangka kayu seberat 40 kilogram berbentuk lingkaran itu seolah bernyawa. Awalnya memang perlahan. Bertumpu pada kaki kanan, dia terus berputar. Bahkan, dalam kecepatan tinggi.
Fauzi kemudian mengangkat satu sisi rok berbentuk lingkaran ke atas. Pemandangan yang tersaji mengundang decak kagum. Seperti manusia yang berputar di antara dua kepungan jamur raksasa. Penonton yang kebanyakan turis dari Jepang pun bertepuk tangan.
Tari At-tanoura (tarian darwish) berputar memang memesona. Melalui gerakannya, Fauzi bercerita tentang perjalanan hidup Maulana Jalaluddin Rumi, sufi besar Turki abad ke-13 yang juga pendiri ordo darwish berputar.
Memulai gerakan memutarnya dengan perlahan, Fauzi bercerita mengenai Rumi yang mula-mula “hanya” seorang ahli hukum fikih di Konya. Fauzi mulai bergerak cepat ketika Rumi bertemu Syams’i Tabriz, seorang mistikus pengembara yang kemudian menjadi “kekasih spiritualnya”.
Dengan indahnya Fauzi menggambarkan saat-saat berkembangnya Rumi menjadi mistikus dengan berputar seraya membawa empat rebana sekaligus. Dengan masih berputar pula, Fauzi memainkan rebana itu seperti sedang trance.
Berpuisi dan menari, itulah hari-hari Jalaluddin Rumi ketika menjadi mistikus. Fauzi kemudian terus berputar lebih cepat, lebih cepat, dengan tangan dan kepala menengadah seperti berdoa, dan dengan sebuah sentakan keras dan irama musik mengentak, Fauzi tiba-tiba berhenti. Penonton juga tersentak. Seperti ikut naik mobil kecepatan tinggi tiba-tiba mobil direm mendadak.
Setelah menari itu, peluh membasahi sekujur tubuh Fauzi. Meski berputar lebih dari setengah jam, kesimbangannya tak terlihat goyah. ’’Kuncinya ada pada poros kaki. Dengan berputar tepat, kepala dan kaki membentuk satu poros, maka tidak akan pusing,’’ ucap Fauzi  ketika ditemui usai pentas.
’’Juga jangan sering-sering berkedip bila menari. Nanti tambah pusing,’’ tambahnya membuka sebagian rahasia bagaimana teknik menari darwish yang baik.
Pertunjukan live show menyusuri Sungai Nil belum berakhir. Yang membuat geleng-geleng kepala, usai tari sufi yang begitu mistis dan menggugah spiritual, pertunjukan selanjutnya malam itu adalah raqsah syarqiyyah. Arti harafiahnya adalah “tari timur”, namun nama populernya adalah tari perut.
Seorang penari bertubuh sintal dengan pakaian minim keluar. Diiringi musik gambus yang mendayu, wanita itu kemudian menggoyangkan bagian perutnya. Meski masih kalah seronok dibanding goyang ngebor atau sederet goyang lain di Indonesia, tari perut adalah tarian yang mengandalkan sensualitas.
Sang penari pun mendatangi penonton dan berharap dapat saweran alias tip. Saya tak habis mengerti, mengapa tari sufi yang suci dan agung disandingkan head to head dengan tari perut. ’’Siapa namanya?’’ bisik saya ke Ahmad, pemain seruling yang kebetulan duduk dekat saya.
’’Randa. Dia sudah janda. Mengapa, tertarik?’’ goda Ahmad. Saya menggeleng dan kemudian tertawa dalam hati mengingat namanya cocok dengan statusnya. Sebab, kalau di Jawa, kata rondo artinya wanita yang sudah janda.
Sejak zaman Fir’aun ribuan tahun lalu, Sungai Nil selalu membawa berkah kepada warga yang menghuni sekitarnya. Kapal pesiar itu menjadi salah satu contohnya. Dengan tiket seharga 100 pound Mesir (sekitar Rp 200 ribu), perjalanan menyusuri sungai sepanjang 10 kilometer dalam waktu dua jam itu tergolong mahal. Fasilitas yang didapat hanya makan malam ala kadarnya dan itu tadi, live show dua sajian tarian “batin” yang berbeda arah tersebut.
Namun, kapal berkapasitas 200 penumpang itu tak pernah sepi. Paling sepi, dua per tiga kursinya selalu terisi. ’’Bahkan, harus reservasi dulu sehari sebelumnya bila pada puncak musim liburan,’’ kata staf bidang penerangan sosial budaya KBRI Mesir Amir Syarif.
Padahal, ada tujuh kapal yang melayani pesiar di Sungai Nil tersebut. Setiap hari kapal itu membuka dua kali pelayaran. Yang pertama pukul 19.30 hingga pukul 21.30. Sedangkan “kloter” berikutnya pukul 22.00 hingga pukul 24.00. Karena hanya berlayar malam hari, konsep hiburan yang diterapkan di kabin kapal memang bersifat “hiburan malam”.
Bagi pelancong yang berkantong tipis, masih ada alternatif. Mereka bisa memilih puluhan kapal kecil yang mau melayani pelayaran selama satu jam dengan tarih 20 pound (sekitar Rp 40 ribu) per orang.
Meski relatif mahal, kapal-kapal pesiar itu selalu menjadi jujukan para turis. Namun, yang terbanyak tentu saja turis asing. Senin (2/2) lalu, saat saya naik kapal tersebut, yang dominan adalah rombongan turis dari Jepang. Mereka menyewa satu lantai khusus di kapal tiga tingkat itu (lantai dua untuk ruang makan dan pertunjukan, sedangkan lantai paling atas adalah dek).
Menurut penuturan seorang staf lokal KBRI, banyak pejabat Indonesia yang saat berkunjung ke Kairo mem-booking kapal tersebut. Seperti pada 2004, seorang menteri membawa rombongan pengusaha dan mem-booking satu kapal.
’’Sebagai tambahan, kalau live show sehari-hari hanya seorang penari, khusus malam itu langsung tiga penari. Sangat meriah suasananya,’’ kata staf lokal yang menolak disebutkan namanya.
Bagi warga Kota Kairo, kawasan sekitar Sungai Nil juga menjadi tempat favorit untuk melepas lelah. Seperti Jalan Garden Hill yang setiap hari menjadi tongkrongan anak muda. Ada yang berfoto-foto di patung singa jembatan Dokki (baca: Do’i). Banyak juga yang sekadar melewatkan malam di sepanjang pinggiran sungai.
Dengan penerangan yang temaram, pinggiran Sungai Nil memang tampak romantis. Memang tak ada kafe seperti di negara-negara maju. Tapi, banyak penjual teh atau kopi “gendong”. Mereka hanya bermodalkan setermos air panas dan teh celup. Untuk seteguk teh harganya satu pound, sementara untuk kopi satu setengah pound.
Meski Mesir agak sekuler, tetap saja ada semacam polisi dari unit susila yang selalu berjaga dan mondar-mandir. Tujuannya memastikan pasangan-pasangan yang ada di sana tidak kebablasan memadu kasih di muka umum.
Penjagaan makin diperketat (terutama di jembatan Dokki) pada saat Juni-Juli. Bahkan, melibatkan tentara. ’’Tepat pada saat pengumuman hasil ujian sekolah,’’ kata Amir Syarif.
Takut ada remaja yang kebablasan merayakan kelulusan? Ternyata bukan. Tapi, karena tiap tahun selalu ada siswa bunuh diri dengan terjun dari jembatan Dokki ke Sungai Nil. Jumlahnya pun tak main-main. Lebih dari 10 kasus tiap tahun. Mereka umumnya para pelajar yang nilai hasil akhir ujiannya jelek. ’’Di Mesir, nilai jelek saat kelas tiga SMA berarti tak bisa kuliah,’’ kata Amir. (*)

 

sumber:Radar Banten

Demo ribuan orang di DPRD Provinsi Sumatera Utara, Medan, Sumut, Selasa (3/2), berakhir tragis. Ketua DPRD Sumur Abdul Aziz Angkat meninggal ditengah kerumunan massa. Diduga dia mengalami penganiayaan oleh demonstran yang bertindak anarkis.
Kita tentu sangat menyayangkan terjadinya demo anarkis yang mengakibatkan nyawa orang melayang. Apa pun dalihnya, demo anarkis sama sekali tidak dapat dibenarkan karena banyak yang dirugikan.
Demo-sebagai salah satu penyampaian aspirasi- sebaiknya dilakukan dengan cara santun. Tidak dengan cara kekerasan dan memaksakan kehendak.

Perkembangan terbaru dari kasus ini adalah merebaknya konflik horisontal antara massa pendukung almarhum Abdul Aziz dengan masa pendukung pembentukan provinsi Tapanuli. Isu ini makin merebak karena massa pendukung Aziz tidak terima dengan perlakuan demonstran yang anarkis. ISi ini pun makin merebak karena ada warna SARA di dalamnya. Bila tidak diantisipasi, kerusuhan tentu akan pecah. Yang rugi tentu masyarakat.dprd- sumut3

Laman Berikutnya »