Pemilu 2009, sama dengan pemilu-pemilu sebelumnya, memang banyak melahirkan distorsi keterwakilan. Caleg mewakili siapa tidak jelas. Masyarakat diwakili oleh siapa pun menjadi absurd. Kali ini, distorsi keterwakilan begitu kental mewarnai pesta demokrasi lima tahunan. Hal itu terjadi karena keterwakilan yang seolah-olah ini dapat diatur dengan mudah bila memiliki kekuatan finansial oleh sang calon.
Ambil contoh begini. Ada seorang pengusaha ternama di Jakarta. Dia sudah sangat kaya raya karena penghasilannya sangat melimpah. Bahkan ada gurauan, kalau si pengusaha nasional ini mau membeli tanah seluas Kecamatan Serang, dia sangat mudah untuk mendapatkannya dengan kekuatan uangnya. Meski kekayaannya sangat melimpah, si pengusaha ini masih saja tertarik menjadi wakil rakyat. Padahal gaji menjadi wakil rakyat bila dibandingkan dengan gajinya di berbagai perusahaan itu tidak ada apa-apanya.
Tapi apa lacur. Si tokoh ini tetap menjadi caleg untuk mewakili masyarakat Banten lewat jalur parpol besar. Si pengusaha nasional ini pun berada di nomor urut pertama, yang mengalahkan calon lain. Meski nomor urut sudah tidak lagi berpengaruh terhadap caleg terpilih namun nomor urut tetap menjadi gengsi politik. Bila suaranya signifikan, si tokoh ini diprediksi mulus melenggang ke parlemen.
Saya pesimis bahwa si pengusaha nasional ini mengenal ruh daerah yang akan diwakilinya. Sebab memang, si pengusaha ini sebelumnya tidak pernah bergelut dengan kehidupan masyarakat yang akan diwakilinya. Meskipun dia mengenal daerah yang akan diwakilinya lewat observasi kecil-kecilan, namun dipastikan hanya mengenal daerah yang diwakilinya itu dari sisi teritori dan geografis saja. Dia tidak dapat mengenal dengan baik daerah yang akan diwakilinya dalam pengertian yang sangat substansial. Begitu juga sebaliknya, masyarakat pun tidak akrab dengan ide, gagasan, dan pemikiran sang tokoh karena tidak ada transfer keilmuan secara sosiologis
Contoh lainnya masih ada. Memang si tokoh nasional ini putera asli daerah yang akan diwakilinya. Namun dia sudah kadung lebih banyak beraktivitas di luar daerah yang akan diwakilinya karena tidak pernah pulang ke kampung halamannya. Selama perantauannya itu, si tokoh ini sudah tenar karena menjadi artis yang sering muncul di televise swasta. Nah, saat pemilu legislatif digelar 9 April lalu, si artis ini pun tiba-tiba balik kandang, pulang ke kampung halamannya. Tidak sebagai artis namun menjadi caleg untuk mewakili tanah kelahirannya lewat parpol. Diprediksi kuat, si artis ini akan melenggang ke parlemen dengan mudah karena perolehan suaranya sangat signifikan.
Masih ada lagi kasus lain. Si caleg ini dulunya adalah anggota dewan dari parpol besar. Namun dia dipecat karena sesuatu alasan mendasar. Di Pemilu 2009 ini, si tokoh yang berasal dari Jakarta ini menjadi caleg nomor urut satu lewat parpol lain. Sama dengan si pengusaha di atas, si tokoh ini pun tidak mengenal baik daerah yang akan diwakilinya.
Itu contoh-contoh kecil yang ditemukan dalam pemilu kali ini. Tentu masih banyak contoh kasus serupa-yang juga mungkin terjadi di daerah lain. Andai mereka benar-benar terpilih menjadi wakil rakyat di parlemen, apakah ada jaminan bahwa mereka akan memperjuangkan aspirasi masyarakat yang diwakilinya sementara dia sendiri ‘asing’? Tentu, tidak ada yang dapat memastikan.
Fenomena itu menggambarkan bahwa keterwakilan benar-benar menjadi tidak berarti karena memang dapat diatur dengan segenap kekuasaan yang dimiliki, ketenaran, dan kekuatan uang. Keterwakilan menjadi absurd karena tidak jelasnya “siapa” mewakili “siapa” dan untuk “apa”.
Jadinya, spirit demokrasi yang diejawantahkan lewat pemilihan umum hanya menjadi ‘ladang bisnis’ untuk berebut kekuasaan di parlemen. Tidak aneh bila kemudian parlemen pun kerap dicap sebagai lembaga yang ekslusif, lembaga yang jauh dengan rakyat, dan lembaga yang juga asing bagi rakyat. Hal itu itu terjadi karena memang sebelumnya wakil rakyat yang dipilih adalah calon yang asing bagi rakyat di masing-masing daerah pemilihan.
Distorsi keterwakilan itu yang membuat keterwakilan dalam pemilu menjadi tidak relevan karena tidak menemukan titik temu yang baik. Keterwakilan hanya menjadi gincu pemanis dalam momen-momen berdemokrasi saja. Wallahualamu bis showab.

;serang, 24 april 2009

Iklan

JANJI MENGUBAH UU PEMDA

Perebutan kursi DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) Banten I tidak kalah sengitnya dengan dapil Banten II. Pertarungan wajah-wajah lama dengan wajah baru tetap terjadi.

—-

Dapil Banten I meliputi Kabupaten Lebak dan Pandeglang dengan kuota 6 kursi. Di dapil ini, sejumlah caleg anak pejabat, istri pejabat, artis, dan anggota dewan ikut bertarung. Mereka memperebutkan jatah 6 kursi di DPR RI.
Dari kalangan anak pejabat, ada Iti Octavia Jayabaya yang mencalonkan diri dari Partai Demokrat. Iti berada di nomor urut dua setelah Ratu Siti Romlah. Meski berada di nomor urut dua, namun Iti mampu memperoleh suara sementara terbesar yaitu 4.650, sementara Ratu Siti Romlah meraih 3.062.
Selain Iti, ada Irna Narulita, istri Bupati Pandeglang Dimyati Natakusumah. Irna maju dari PPP di nomor urut satu dan memperoleh suara sementara sangat fantastis yaitu 12.023. Perolehan suara perempuan berjilbab itu merupakan suara terbesar semua caleg yang bertarung di Dapil Banten I ini. Setelah Irna, Nuraeni Bachrudin (nomor urut tiga) juga memperoleh cukup besar yaitu 1.167. Bila PPP dapat dua kursi dari dapil Banten I ini, kemungkinan yang melenggang masuk adalah Irna dan Nuraeni. Sementara suaminya Irna yaitu Dimyati Natakusumah hanya meraih suara 952.
Dari kalangan artis, ada dua yang bertarung dan merebut simpatik. Mereka adalah Dedi Suwandi Gumelar (akrab disapa Miing Bagito) dan Ahmad Zulfikar Fawzi, yang beken dengan nama Ikang Fawzi. Miing maju dari PDIP sementara Ikang Fawzi dan PAN. Hingga tadi malam pukul 20.00 WIB, Miing memperolah suara cukup signifikan yaitu 2.485 yang membuka peluang dirinya melenggang ke Senayan. Perolehan suara Miing ini mengalahkan suara Tumbu Saraswati (anggota DPR dari PDIP) yang juga maju sebagai caleg PDIP yang hanya memperoleh 689.
Sedangkan Ikang Fawzi baru memperoleh suara sementara 704. Perolehan suara suami artis Marissa Haque itu di kalangan internal PAN sendiri merupakan suara tertinggi.
Selain dari anak pejabat dan artis, politikus berpengalaman juga ikut mencari peruntungan di dapil Banten I ini. Mereka antara lain Syamsu Hilal, Yayat Suhartono (keduanya dari PKS), Mamat Rahayu Abdullah, Ace Hasan Syadzilyi (keduanya dari Golkar). Dari PKB ada KH Manarul Hidayah.
Namun perolehan suara politikus ini kalah jauh dengan perolehan suara caleg artis dan anak pejabat. Syamsu Hilal, caleg nomor urut 1 dari PKS, hanya meraih suara 1.512 dan Yayat Suhartono (anggota DPRD Banten) hanya 383.
Begitupun dengan Mamat Rahayu Abdullah dan Ace Hasan. Dua caleg Partai Golkar ini masing-masing memperoleh suara 2.790 dan 2.072. Sementara KH Manarul Hidayah (anggota DPR dari PKB) hanya meraih 930. Suara yang sangat minim ini, memungkinan Manarul tidak akan terpilih lagi menjadi wakil rakyat di DPR RI.

JANJI CALEG
Bagaimana tanggapan mereka yang diprediksi lolos ke Senayan? Iti Octavia Jayabaya berjanji akan memperjuangkan beberapa kebutuhan di daerah pemilihannya. “Ada beberapa program prioritas yang akan saya perjuangkan, tentunya bersama-sama rekan-rekan (caleg dari partai lain-red). Selain berusaha memperjuangkan regulasi perpanjangan undang-undang tentang pengangkatan guru honorer, juga akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari dana di pusat bagi Banten, khususnya untuk Lebak dan Pandeglang,” ujar Iti, Jumat (17/4) siang.
Iti menilai, Lebak dan Pandeglang membutuhkan kucuran dana yang lebih besar untuk mengejar ketertinggalan dari daerah-daerah lain. “Dan untuk mencari dana tersebut, jelas butuh lobi-lobi dari anggota DPR. Karenanya, kalau saya sekarang sudah diminta berandai-andai lolos ke Senayan, lobi dana adalah menjadi agenda utama saya,” ujarnya diiringi tawa.
Kata Iti, Lebak yang sedang giat-giatnya berbenah membutuhkan dukungan dari semua pihak, tak terkecuali anggota DPR RI yang mewakili daerah ini. “Siapa pun yang maju ke Senayan, memang harus mencari solusi agar dana dari pusat bisa lebih besar lagi turun ke Lebak,” tambahnya.
Di lain tempat, Deddy Suwandi Gumelar alian Miing Bagito mengungkapkan, tugas wakil rakyat yang ada di Senayan bukan hanya melakukan lobi-lobi mencari dana. “Menurut saya, kalau satu daerah memiliki ketergantungan yang kuat dengan APBN, justru bukan mendidik. Apalagi, daerah itu memiliki potensi yang melimpah, tapi tak bisa dimanfaatkan oleh pemimpinnya,” ujar Miing.
“Contohnya Pandeglang, PAD-nya sangat kecil padahal potensi daerahnya besar. Karena itu, di daerah dibutuhkan juga pemimpin (bupati) yang memiliki nalar dan terobosan untuk mengangkat PAD. Jangan hanya bergantung ke pusat, nanti malah tak maju-maju,” lanjut Miing.
Miing juga menilai, ada salah satu tugas penting yang juga menjadi agenda utamanya yaitu memperbaiki UU No 32 tentang Pemerintah Daerah. Menurut Miing, undang undang tersebut memiliki kelemahan yakni tak bisanya gubernur memberikan punishment (hukuman) terhadap bupati.
“Dan yang terjadi sekarang, sangat jarang seorang bupati/walikota mau hadir saat diundang gubernur untuk rapat. Paling-paling yang diutus hanya kepala dinas. Padahal, rapat bersama ini memiliki fungsi strategis untuk membangun daerah secara bersama-sama. Makanya, kalau saya lolos ke Senayan, saya berharap bisa masuk ke komisi II (bidang pemerintahan),” ujar Miing.
Bagaimana dengan Irna Narulita? Saat ditemui di pendopo Pemkab Pandeglang, Irna belum mau sesumbar karena belum ada ketetapan dari KPU. “Ibu tidak mau mendahului instansi terkait (KPU-red) karena belum ada ketetapan. Tetapi yang jelas perolehan suara ibu cukup besar. Ibu serahkan kepada Allah soal perolehan suara ini,” ujar Irna.
Bila benar nanti dipercaya duduk di DPR, Irna mengaku akan mengemban amanat dari rakyat yang memilihnya karena ia tidak mau mengecewakan konstituennya. Yang pertama akan dilakukan adalah bagaimana kesetaraan gender itu dilakukan.
“Saat ini masih ada perempuan dipandang sebelah mata sehingga masih marak kasus kekerasan dalam rumah tangga. Ini yang harus ditangani agar tidak terjadi lagi. Perempuan jangan hanya berkutat di dapur, sumur dan kasur saja, tetapi melakukan advokasi atau pendidikan yang baik kepada masyarakat,” katanya.
Irna juga mengaku, kiprahnya nanti di Senayan akan memperjuangkan budgeting (anggaran) agar lebih banyak lagi anggaran dari pusat mengalir ke Pandeglang-Lebak. Selama ini ia hanya sebagai istri bupati yang setia mendampingi suaminya tetapi tidak punya kekuatan untuk menggolkan anggaran dari pusat. “Ekonomi kerakyatan harus terus diperjuangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena dengan ekonomi kerakyatan menjadikan masyarakat semakin berdaya,” paparnya. (*)

tulisan ini dilengkapi juga dari radarbanten, edisi sabtu (18/4)

DIDOMINASI PENGUSAHA

Hasil pemilu legislatif, 9 April lalu, memang belum ditetapkan. Namun sejumlah nama beken diprediksi melenggang ke Senayan. Siapa saja mereka?

—–

Rekapitulasi penghitungan suara parpol dan masing-masing caleg hingga kemarin masih berlangsung di panitia pemilihan kecamatan (PPK). Namun beberapa nama caleg DPR RI diprediksi akan melenggang mulus ke Senayan karena perolehan suara sementara mereka hingga tadi malam sangat signifikan. Bahkan ada tren terus bertambah meninggalkan

caleg-caleg lain.

Di daerah pemilihan (dapil) Banten II yang meliputi Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon, suami Gubernur Ratu Atut Chosiyah, Hikmat Tomet, diprediksi kuat dapat meraih kursi. Hingga tadi malam pukul 20.00 WIB, Hikmat Tomet meraih suara sementara 21.380 yang merupakan perolehan suara tertinggi meski dibandingkan dengan caleg di dapil lainnya.

Di dapil Banten II ini, Hikmat bersaing dengan caleg Golkar yang berada di urutan dua yakni Tb Iman Ariyadi. Hingga pukul 20.00 WIB, putra Walikota Cilegon Tb Aat Syafa’at itu meraih suara sementara 18.307. Sementara Aly Yahya (anggota DPR dari Golkar) hanya meraih 1.426 yang mengancam dirinya tidak akan lolos ke parlemen. Bahkan suara Aly Yahya juga kalah jauh dengan caleg Golkar nomor urut 4 yaitu Humaedi yang memperoleh 3.917. Kalaupun memang Golkar di dapil Banten II dapat tiga kursi, maka yang menempati adalah Hikmat Tomet, Iman Ariyadi, dan Humaedi.

Caleg di luar Partai Golkar yang mampu menyaingi perolehan suara Hikmat dan Iman Ariyadi adalah Zulkieflimansyah (caleg nomor urut 1 dari PKS). Zulkieflimansyah hingga tadi malam pukul 20.00 WIB sudah mengumpulkan suara 15.582. Diprediksi, Zulkieflimansyah juga akan mulus melenggang ke Senayan dengan mudah. Bila PKS dapat dua kursi dari dapil Banten II ini, kemungkinan besar Zulkieflimansyah akan didampingi oleh Sadeli Karim (Wakil Ketua DPRD Banten) yang hingga tadi malam memperoleh suara sementara 1.866.

Di Partai Demokrat ada nama Adiyarman Amis Saputra dan Ahmad Rifai Suftyadi yang diprediksi lolos. Adiyarman memperoleh 5.815 dan Rifai 4.690. Bila suara Partai Demokrat besar, dan dapat dua kursi, maka kedua nama ini yang berpeluang besar untuk mendampingi caleg terpilih lainnya dari parpol berbeda.

Nasib kurang beruntung memang dialami Ketua DPW PAN Banten Rusli Ridwan. Rusli yang juga Wakil Walikota Cilegon hingga tadi malam hanya meraih 3.289. Perolehan suara yang masih kecil itu mengancam Rusli gagal melenggang ke Senayan.

Begitupun dengan Murdaya Widyawimarta Poo, caleg nomor urut satu dari PDIP. Posisi Murdaya memang belum aman benar. Sebab hingga tadi malam Murdaya baru meraih suara sementara 4.081. Namun nasib Murdaya akan berbeda bila perolehan suaranya terus merangkak naik dan perolehan suara PDIP juga signifikan.

BANGUN BANTEN

Dihubungi terpisah, Hikmat Tomet mengatakan, sebelumnya dirinya tidak tertarik menjadi caleg karena sudah enjoy menjadi pengusaha nasional. “Sebetulnya saya tidak terpikir untuk menjadi caleg karena sudah aman menjadi pengusaha. Tapi karena ibu (istrinya, Atut Chosiyah-red) memegang amanah menjadi gubernur, maka perlu dukungan terutama untuk mempercepat akselerasi pembangunan di Banten,” katanya.

Kata Hikmat, salah satu sumbangsih yang akan dilakukan untuk membantu istrinya itu adalah mempercepat dana-dana dekonsentrasi turun ke Banten. “Di pusat dana-dana itu banyak. Namun selalu turun ke provinsi lain. Sementara yang turun ke Banten masih sedikit karena kita kalah lobi. Oleh karena itulah, bila saya diberi amanah duduk di DPR RI, akan memperjuangkan dana-dana dari pusat turun ke Banten. Dan saya siap melobi, karena sudah paham betul dengan lobi-lobian selama menjadi pengusaha,” ujarnya.

Dana-dana dekonsentrasi dari pusat itu akan digunakan untuk memperbaiki infrastruktur, pembinaan masyarakat, dan kegiatan lainnya yang mendukung program Pemprov Banten. “Di provinsi lain, infrastruktur sudah bagus, guru-guru ngaji sudah dapat honor. Di Banten kan belum ada, hal itu yang akan menjadi konsentrasi kami di Senayan kelak,” ujarnya seraya mengatakan, siap bekerjasama dengan caleg lain yang terpilih di dapil Banten II ini untuk jalan bersama.

Begitu juga kata Zulkieflimansyah. Kata dia, perolehan suara belum final sehingga masih memungkinkan akan terus berubah. Meski demikian, Zulkieflimansyah meyakini bahwa PKS di dapil Banten II akan meraih kursi ke Senayan.

Terkait bila dirinya terpilih kelak menjadi wakil rakyat lagi, Zulkieflimansyah mengatakan, bersama dengan wakil rakyat dari dapil Banten II terpilih akan membantu percepatan pembangunan di Banten. “Kami sudah mengobrol dengan caleg dari Golkar dan Demokrat untuk bersama-sama membangun Banten,” ujarnya. Kata Zul, peningkatan pembangunan yang harus terus digalakkan di Banten adalah peningkatan sumber daya manusia (SDM) lewat pendidikan serta penggalian sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat.

Di tempat terpisah, Ahmad Rifai Suftyadi menambahkan, salah satu amanah yang akan diemban bila kelak menjadi wakil rakyat di Senayan adalah memperjuangkan kesejahteraan bagi masyarakat Banten. “Penguatan UKM dan pembinaan keterampilan akan tetap difokuskan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat,” tandasnya.

Kata Rifai yang akrab disapa Anton ini, siap bekerjasama dengan caleg terpilih lainnya untuk membangun Banten. Kata dia, tidak mungkin ada akselerasi pembangunan di Banten bila tidak ada kerja sama antar wakil rakyat asal Banten di parlemen. “Kita, bila memang benar-benar terpilih, akan menjalankan amanah ini dengan baik untuk membangun Banten lebih baik,” ujarnya.

Dari nama-nama caleg di dapil Banten II yang diprediksi ini memang lebih banyak berlatar belakang pengusaha. Hikmat Tomet, Murdaya Widyawimarta Poo, Iman Ariyadi, Ahmad Rifai Suftyadi, adalah sederetan pengusaha sukses. Murdaya misalnya. Dia adalah pengusaha yang sudah menasional bahkan -internasional. Suami dari Siti Hartati Murdaya ini merupakan salah satu pengusaha sukses Indonesia yang memiliki kekayaan melimpah. (*)

:serang, 18 april 2009

pemilu 2009 banyak menyisakan kenangan:

ada bang jon, yang utangnya menumpuk, di mana-mana

ada kong duloh, yang mulai gelisah

mang lis, tenang-tenang aja; keliatan pasrah sekali

di lain tempat, ada bang imat yang mulai senang setengah mati

ada andi, yang juga senang bukan main

ada risi, yang juga mulai berharap senyum

ternyata keluarganya pun tidak sia-sia membantu

lagi, pemilu 2009, memang menaburkan warna-warni

manis, pait, adem, juga gak berasa

eh tunggu.

di pojok sana juga ada… bang malas; kok ngomong sendirian

suaranya parau, nyaris tak terdengar, karena udah kecapean

udah seminggu, dia ngoceh sendirian

istri dan anaknya tidak bisa berbuat apa-apa,

tetangganya pun terheran-heran

tapi bang malas lagi-lagi tertawa sendirian, di keheningan

kasian….

:

Serang, 14 april atau lima hari setelah pencontrengan 9 april 2009

contreng di bilik kardusPerebutan kursi DPR dari daerah pemilihan Banten I (Lebak dan Pandeglang), Banten II (Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Cilegon), dan Banten III (Kabupaten/Kota Tangerang) didominasi wajah-wajah lama. Berdasarkan perolehan suara sementara di KPU Banten hingga Senin (13/4) pukul 17.30, mereka masih mengungguli caleg-caleg pendatang baru.

Di daerah pemilihan Banten I, Mamat Rahayu dan Tb Ace Hasan S (Partai Golkar) unggul dengan perolehan suara 1.323 dan 922. Keduanya unggul sementara dari caleg Golkar lainnya di dapil ini. Sementara dari PKS, ada nama Syamsu Hilal dan Oke Setiadi yang memimpin perolehan suara sementara.

Yang unik terjadi di PPP. Pasangan suami istri Dimyati Natakusumah (Bupati Pandeglang)-Irna Narulita juga diprediksi lolos karena keduanya meraih suara signifikan. Irna Narulita memperoleh 3.799 dan Dimyati Natakusumah 714. Caleg PDIP yang mendapatkan suara terbanyak sementara adalah Tb Dedi S Gumelar 924 dan Suparwanto 315. Sedangkan di Partai Demokrat, Iti Octavia Jayabaya (anak Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya) mendapatkan suara terbesar 2.583 dan Rt Siti Romlah 959.

Sementara di daerah pemilihan Banten II, sejumlah nama beken juga diprediksi lolos ke Senayan. Mereka antara lain Hikmat Tomet (suami Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah) dan Tb Iman Ariyadi (anak Walikota Cilegon Tb Aat Syafaat) yang memperoleh suara 10.474 dan 9.112. Hikmat dan Iman maju dari Partai Golkar. Di PKS, nama Zukieflimansyah yang juga diprediksi lolos karena meraih suara terbanyak sementara dengan suara 7.114 disusul Sadeli Karim sebanyak 867. Di PPP ada Dimyati Abu Bakar dengan perolehan suara sementara 1.354 dan Endin AJ Soefihara 848. Di Partai Demokrat ada Adiyaman Amir Saputra 2.133, Ahmad Riva’i Sufiadi 1.575, Gerindra ada Idin Rosidin 913 dan Herijanto 487.

CALEG ALMARHUM

Di daerah pemilihan Banten III tampaknya ada kejutan. Sebab caleg Sutradara Gintings (PDIP) yang sudah meninggal mendapatkan perolehan suara sementara terbanyak dengan perolehan suara 905 dan disusul Malawati 745. Terpilihnya Sutradara Gintings ini tentu sangat mengejutkan karena kemungkinan suaranya akan terus bertambah mengingat sampai kemarin (Selasa, 14/4/2009) rekapitulasi penghitungan suara masih berlangsung.

Di PKS, Jazuli Jazuli Juwaeni berpeluang kembali ke senayan karena mendapatkan suara terbanyak yaitu 1.983 dan diikuti Yoyoh Yusroh 1.200 (keduanya saat ini masih menjabat sebagai anggota DPR).

Di Partai Golkar, anak Bupati Tangerang Ismet Iskandar yaitu Ahmed Zaki Iskandar mendapatkan suara sementara 1.781 dan Ebrown Lubuk 1.120. Sementara PPP, menempatkan Irgan Chairul Mahfiz mendulang suara sementara 1.002 dan Dedi Kurniadi 429. Sedangkan Partai Demokrat yang berpeluag lolos adalah Haryanto Edhie Wibowo dengan perolehan suara sementara 2.568 dan Ferari Romawi 1.354.(*)

Dilengkapi dari sumber radar banten, edisi 14/4/2009

Setelah didesak, akhirnya Komisi Pemilihan Umum atau KPU berjanji akan mencetak ulang empat jenis formulir berita acara penghitungan suara calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Banten yang salah cetak. Janji ini langsung diucapkan oleh Ketua Divisi Logistik KPU Pusat Abdul Aziz di hadapan ketua KPU kabupaten/kota se-Banten yang menemui Aziz di KPU Pusat, Kamis (2/4).

Abdul Aziz menjanjikan bahwa perusahaan pemenang tender percetakan formulir berita acara penghitungan suara DPD Banten ini akan mencetak ulang hari ini. Pada Sabtu (4/4), formulir berita acara hasil cetak ulang itu akan dikirimkan kepada KPU kabupaten/kota di Banten.

Ketua KPU Kabupaten Serang Lutfi Nuriman membenarkan. Kata dia, KPU Pusat memberikan jaminan bahwa empat jenis berita acara penghitungan suara (C1, C2 plano, DA-1 dan DA-B) akan dicetak ulang. “Kami merespons baik atas keinginan KPU Pusat untuk mencetak ulang formulir bermasalah ini,” katanya.

Diakui Lutfi, KPU Pusat mau mencetak ulang formulir berita acara bermasalah itu setelah mendengarkan masukan dari KPU kabupaten/kota di Banten. “Kami memang menginginkan agar ada cetak ulang untuk menjaga Banten tetap kondusif. Sebab kalau kesalahan nomor urut DPD di empat jenis berita acara direvisi dengan cara manual (tulis tangan-red) justru akan merepotkan. Dan ternyata keinginan itu disanggupi KPU Pusat,” ujarnya.

Ketua KPU Cilegon Syaeful Bahri juga mengatakan hal serupa. Kata dia, KPU Pusat siap untuk menarik empat jenis berita acara penghitungan suara DPD yang salah cetak. “Kita menyambut baik keinginan KPU Pusat itu,” ujarnya. Kata Syaeful, setelah selesai dicetak, formulir berita acara itu akan langsung dikirim ke KPU kabupaten/kota di Banten untuk mengejar waktu distribusi ke masing-masing panitia pemilihan kecamatan (PPK).

Kedatangan ketua KPU kabupaten/kota ke KPU Pusat karena mereka kurang puas terhadap Surat Edaran (SE) KPU Pusat Nomor 627/KPU/III/2009 tertanggal 31 Maret 2009. SE itu berisi bahwa kesalahan cetak nomor urut calon anggota DPD RI dari nomor urut 17-53 tidak memengaruhi fungsi formulir tersebut. Selain itu, KPU kabupaten/kota diminta untuk membetulkan nomor urut calon DPD berdasarkan nomor urut daftar calon tetap (DCT) dan surat suara, serta membuat surat edaran kepada PPK, PPS, dan KPPS tentang formulir yang salah cetak tersebut.

Mereka yang mendatangi KPU Pusat kemarin adalah Ketua KPU Kabupaten Serang Lutfi Nuriman, Ketua KPU Kota Serang M Arif Ikbal, Ketua KPU Kota Cilegon Syaeful Bahri, Ketua KPU Lebak Agus Sutisna, dan Ketua KPU Kota Tangerang Imron Khamami. Sementara Ketua KPU Pandeglang dan Kabupaten Tangerang diwakili oleh anggotanya. Mereka tiba di KPU Pusat sekira pukul 10.00 WIB. Namun baru diterima oleh anggota Abdul Aziz sekira pukul 15.30 WIB setelah sebelumnya sempat juga diterima oleh anggota KPU Pusat lainnya, I Gede Putu.

Di tempat berbeda, calon anggota DPD Eti Fatiroh mengatakan, sebelum Ketua KPU kabupaten/kota menemui Ketua Divisi Logistik KPU Pusat Abdul Aziz, dirinya sudah menemui Abdul Aziz pada Senin lalu. Dalam pertemuan itu, Abdul Aziz memang menjanjikan akan mencetak ulang berita acara formulir DPD yang salah cetak. Perbincangannya dengan Abdul Aziz ia rekam sebagai bukti. “Kata dia (Abdul Aziz-red), yang sudah didistribusikan harus dimusnahkan,” ujarnya.

Karena itu, Eti sangat terkejut saat KPU Pusat malah mengeluarkan SE yang tidak akan mencetak ulang formulir berita acara penghitungan suara DPD. “SE itu hanya memerintahkan daerah untuk melakukan perbaikan. Ini jelas aneh dan tak sesuai dengan perbincangan saya dengan dia waktu itu,” ungkap mantan anggota KPU Banten ini.

Setelah akhirnya KPU Pusat menjanjikan akan mencetak ulang, Eti juga menyambut baik rencana tersebut. “Itu (cetak ulang-red) lebih baik daripada mengganti dengan cara manual,” ujarnya.

SALAH CETAK

Sebelumnya anggota PPK Pamarayan, Kabupaten Serang, menemukan ada kesalahan cetak nomor urut calon DPD Banten di empat formulir berita acara penghitungan suara DPD. Di berita acara C1, C2, DA-1 dan DA-B, nomor urut calon DPD saling tertukar. Calon DPD yang seharusnya bernomor urut 53 malah tercetak di formulir berita acara nomor urut 17. Begitu juga calon DPD nomor urut 17 malah tercetak nomor urut 18. Calon DPD nomor urut 18 malah salah cetak menjadi nomor urut 19. Begitu seterusnya hingga calon DPD nomor urut 35.

Kesalahan cetak ini sempat membuat calon anngota DPD akan memboikot pemilu di Banten bila tidak ada perbaikan. Sebab mereka merasa dirugikan atas kesalahan cetak nomor urut tersebut. Sementara jumlah calon anggota DPD Banten sebanyak 69. (*)

Serang, 3 april 2009 atau 7 hari lagi pemungutan suara, 9 April 2009.

1-okeee-kampanye-sby-masaAlun-alun Kota Serang, Jumat (27/3/2009), menjadi lautan massa biru. Mereka menyemut hingga ke luar Alun-alun. Sepanjang kemarin juga, lalu lintas Kota Serang nyaris lumpuh oleh lautan biru.

—————

Meski kampanye Partai Demokrat baru dimulai pukul 13.30 WIB, namun gelombang massa sudah mulai berdatangan sejak pukul 11.00 WIB. Mereka datang dengan menggunakan berbagai kendaraan roda empat dan roda dua. Sementara warga sekitar Alun-alun datang dengan berjalan kaki. Di antara massa, banyak ibu-ibu yang membawa serta anak-anaknya yang belum menjadi pemilih dalam pemilu. Anak-anak seumuran sekolah dasar itu pun mengenakan kaos Partai Demokrat sambil memegang atribut partai.

Hingga pukul 14.00 WIB, massa yang terdiri dari ibu-ibu dan kaum muda terus merangsek masuk ke dalam Alun-alun . Meski terik matahari menyengat, namun mereka tetap masuk untuk mendekati arena panggung utama. Saat itu mereka dihibur dengan grup band lokal. Yang menjadi MC kampanye kemarin adalah artis Andhara Early, Edwin dan Jody. Ketiganya tampil cukup baik membawakan acara.

Tiba-tiba, massa histeris sekira pukul 14.13 WIB. Ternyata di atas panggung ada grup band papan atas Indonesia, Ungu. Kehadiran Ungu mampu menyedot ribuan massa untuk tetap bertahan. Di atas panggung Ungu menyanyikan dua lagu hits mereka yang membuat massa berjingkrak-jingkrak. Setelah Ungu, giliran penyanyi dangdut Cici Faramida menghibur massa. Sama dengan Ungu, Cici juga membawakan dua lagu dangdut yang sudah sangat familiar di telinga massa. Ribuan massa langsung bergoyang seiring Cici melantunkan lagu-lagu hits.

Usai Cici, giliran Siti KDI yang tampil di atas panggung. Siti juga mampu membawa ribuan massa biru untuk bergoyang. Terlihat massa sangat menikmati kampanye ini karena bertaburan bintang. Tidak lama kemudian, Dewi Yull juga muncul di atas panggung. Berbeda dengan penyayi sebelumnya, Dewi membawakan ‘sholawat’ yang diikuti massa. Hal ini membuat suasana menjadi lebih teduh karena lantunan suara Dewi Yull yang merdu.

Panggung hiburan tidak berhenti sampai di situ saja. Massa terus disajikan artis-artis ternama. Puncaknya sekira pukul 14.50 WIB, Andra The Backbone muncul. Grup band yang digawangi Andra ini membawakan dua lagi hits mereka yang mampu menghipnotis massa untuk menyanyi bersama. Semua penampilan artis ini dibalut dengan warna biru, warna kebesaran Partai Demokrat.

Tepat pukul 15.00 WIB, mendadak panitia dan aparat keamanan supersibuk. Mereka terus berjaga-jaga di seputar panggung. Ah, ternyata Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat yang juga presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, tiba. SBY didampingi istrinya, Ny Ani Yudhoyono, anaknya, Edie Baskoro, salah satu ketua DPP Partai Demokrat Andi Mallarangeng, Menteri Pariwisata Jero Wecik, dan sejumlah pengurus teras DPP Partai Demokrat lain.

Sesampai di atas panggung, SBY sekira pukul 15.01 WIB, SBY langsung berorasi di hadapan ribuan massa. Sebelum mengucapkan salam, SBY beberapa kali melambaikan tangganya kepada massa yang disebut histeris. “Saya senang dan bangga di sini, karena melihat Serang menjadi menjadi biru yang sangat luas. Ini baik untuk kerja sama membangun bangsa yang lebih baik,” ujar SBY.

Kata SBY, pemerintah akan melanjutkan berbagai program pro rakyat yang sudah dirasakan manfaatnya. “Apakah kalian ingin program pro rakyat dilanjutkan?” tanya SBY. Kontan massa menjawab, “Setuju”. “Alhamdulillah,” sambung SBY. Kemudian massa berteriak, “Lanjutkan..lanjutkan..lanjutkan..” SBY mengangkat dua tangannya untuk meminta massa kembali tenang.

SBY mengatakan, salah satu program pro rakyat itu adalah bantuan langsung tunai (BLT), PNPM, dan program keluarga harapan (PKH). “Itu semua agar rakyat kita tidak susah lagi. Dana PNPM yang berjumlah Rp 322 miliar itu tolong dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk membangun desa,” harapnya.

SBY juga menyambung, “Saat ini kita juga sedang dilanda bencana. Saya baru saja

“Di masa krisis, Indonesia termasuk negara yang kuat karena masih tetap bertahan. Ini semuanya karena semata-mata karena berkat kerja sama kita semua. Selain itu, negara kita juga makin aman karena kerusuhan dapat diminimalisasi. Apakah kalian ingin, keamanan ini dipertahankan,” ucap SBY. Lagi-lagi massa menjawab, “Ya. Lanjutkan.”

SBY juga menyinggung prestasi pemerintahannya dalam memberantas korupsi. Kata SBY, selama pemerintahannya berhasil memberantas kasus-kasus korupsi yang merugikan keuangan negara. “Apakah kalian ingin pemberantasan korupsi dilanjutkan? Ujar SBY. Massa menjawab, “Ya”. “Apakah kalian ingin ekonomi buruk lagi,” Tanya SBY lagi. “Massa menjawab, “tidak”.

PARIWISATA BANTEN

Di akhir orasinya, SBY menyinggung Banten. Kata dia, pariwisata di Banten sangat menjanjikan. “Jumlah wisatawan di Banten dari tahun ke tahun terus meningkat. Ini tentu membanggakan,” ujarnya seraya menyebutkan salah satu tempat wisata di Banten adalah Tanjung Lesung dan Ujung Kulon.

Agar massa tidak jenuh mendengarkan orasi, SBY lalu mengajak Ungu untuk duet menyanyi. “Sekarang kita nyanyi dulu, sebelum orasi saya dilanjutkan,” kata SBY. Saat itu, bersama Ungu, SBY menyanyikan lagu “Demokrat”. Usai nyanyi, SBY melanjutkan orasi politiknya. Sama dengan orasi di awal-awal, SBY lebih banyak memuji keberhasilan pemerintah.

Mendekati berakhirnya waktu kampanye, SBY lalu mengajak Andra The Backbone untuk duet bersama untuk menyanyikan lagu, “Sempurna”. Usai menyanyi itu sekira pukul 15.23 WIB, SBY menyudahi orasi politiknya. “Sekali saya mengucapkan terima kasih. Sampaikan salam saya kepada keluarga di rumah. Sekali lagi saya mengagumi Banten. Terima kasih,” tutup SBY.

Usai pidato, SBY lalu langsung pulang. Massa yang berjubel di Alun-alun pun perlahan-lahan ikut bubar. Massa yang keluar Alun-alun dan menyemut di jalan-jalan utama membuat Kota Serang lumpuh. (*)

Serang, 12 hari lagi pemungutan suara pemilu 2009.

foto: yan cikal/radarbanten